NovelToon NovelToon
Becoming Nyonya Kim

Becoming Nyonya Kim

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / CEO / Selingkuh
Popularitas:430
Nilai: 5
Nama Author: Isaidno

Status calon nyonya Kim yang sudah diketahui seantero kota, seharusnya tinggal menunggu pengesahan sebentar lagi, ketika tiba-tiba terjadi perubahan kandidat.

Bagaimana tidak? Tuan Muda Kim - Alexander Kim, yang sebentar lagi akan menikah, malah terjebak satu malam dengan wanita asing yang berakhir final.

Harga yang sangat mahal yang harus dibayar Alexander, sebagai seorang pria, anak, pengusaha dan calon politikus. Benar-benar mahal dan berat, tapi dia tetap membayar karena tidak ingin menjadi Ayah yang gagal.

Tapi bahkan setelah semua harga mahal itu, Alexander yang sudah berkorban banyak masih harus stress menghadapi Soraya -- wanita malam itu, yang hidup tanpa beban.
•
“Kenapa berpisah dengan tunanganmu? Kenapa tidak kalian saja yang merawat anak kita!?” ujar Soraya, yang sukses membuat Alexander sakit kepala.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Isaidno, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 20.

Mata Hana yang sedari tadi tanpa sorot seketika berubah, seolah hendak menumpahkan seluruh dunia lewat air mata ketika melihat pria yang berdiri di sampingnya.

Pintu mobil terbuka. Hana menyerongkan tubuh, lalu mendongak ke arah wajah Jethro. Bibirnya terbuka, tetapi tak mampu mengeluarkan suara ketika melihat luka-luka parah di wajah pria muda itu.

“Nona, bagaimana kabar Anda? Apa Anda baik-baik saja? Apa terluka? Tunjukkan di mana.”

Kali ini Jethro sudah berjongkok, membuat posisinya lebih rendah dari Hana. Tanpa meminta persetujuan, dia langsung mengambil tangan wanita itu dan memeriksanya. Tidak puas, telapak tangannya kemudian menyentuh pipi, membuat Hana mengernyit menahan sakit.

“Jadi, rambut baru ini untuk menutupi bengkak...” gumamnya lirih, tangannya mengepal.

Hana cukup lama tidak mampu berkata-kata. Pada akhirnya, dia menarik napas panjang.

Dia tidak menanyakan hal yang sama kepada pria itu, karena sudah jelas luka yang yang dia sebabkan.

“Maaf... maafkan aku.”

Jika sebelumnya Rex yang meminta maaf, kini giliran Hana.

Kepalanya tertunduk, tetapi Jethro segera menopang dengan tangan “Jangan meminta maaf, Nona. Jangan pernah. Anda tidak bersalah.”

Hana terkekeh pelan sebelum menggeleng dengan mata berkaca-kaca. “Bagaimana mungkin bukan salahku? Aku yang memaksamu untuk—”

“Ssst!”

Jethro menempelkan telunjuknya pada bibir Hana. Dia tidak akan membiarkan wanita yang terbiasa hidup terhormat itu, merendahkan dirinya sendiri.

“Bukan Anda yang memaksa, melainkan saya yang menginginkannya. Tubuh saya berada di bawah kendali saya sendiri. Jika saya melakukannya, itu adalah kesalahan saya sendiri, bukan kesalahan Nona.”

Untuk sesaat, Hana menelan kembali semua penjelasan yang sempat memenuhi benaknya.

Jethro adalah orang pertama di dunia yang membuatnya merasa seperti ini. Merasa begitu berharga hingga bahkan tidak diperbolehkan menyalahkan diri sendiri.

Karena bukan orang yang suka berbelit-belit, Hana memilih tidak memperdebatkan siapa yang sebenarnya bersalah. Secara refleks, dia langsung membuka tas dan mencari cek serta kartu di dalamnya.

Jethro memperhatikan gerakannya dengan sebelah alis terangkat, tetapi tetap menunggu tanpa bertanya.

“A-apa ini?”

“Kalau tidak cukup, aku akan menambahkan. Ini uang kompensasi atas apa yang terjadi. Maaf karena membuatmu terluka dan kehilangan pekerjaan.”

Jethro menatap nanar benda-benda yang disodorkan kepadanya. Namun, setelah menguasai diri, dia menggeleng.

“Nona salah paham. Ambil kembali.”

Hana mengira dia hanya merasa tidak enak hati. Karena itu, dia kembali mendorong pemberiannya.

Tidak disangka, Jethro justru mengambil semuanya dan meletakkannya dengan kasar di dashboard.

“Sudah cukup, Nona! Anda tidak perlu memberikan apa pun kepada saya. Saya di sini karena mengkhawatirkan Anda. Jadi, Anda tidak perlu melakukan ini kepada saya.”

Hana terdiam.

Situasi seperti ini tidak familiar baginya. Seumur hidup, dia belajar untuk selalu membayar apa pun yang diberikan orang kepadanya. Karena itu, dia tidak mengerti apa yang harus diberikan kepada Jethro jika bukan uang.

“Lalu kamu mau apa? Aku hanya bisa memberikan uang kepadamu.”

Jethro menatap mata Hana yang dipenuhi kebingungan dan kebimbangan. Lalu, dia hanya tersenyum.

“Saya tidak mau apa pun, Nona. Saya sudah mengatakan, saya hanya datang untuk memastikan Anda baik-baik saja. Entah dari ayah Anda ataupun tunangan Anda sendiri.”

DEG.

Hana akhirnya menyadari bahwa mungkin Jethro telah mengikutinya sejak awal, ketika dia hendak bertemu Rex.

Membicarakan pria itu kembali mengingatkannya bahwa Jethro selalu memperhatikannya.

Dan apakah dia baik-baik saja?

Tidak.

Hana sama sekali tidak baik-baik saja setelah mengakhiri hubungan panjang yang selama ini hanya diisi oleh cinta sepihak.

Tangannya terulur untuk memegang kemudi, sebelum akhirnya dia mengangguk.

“Ya, aku baik-baik saja. Semuanya sudah berakhir.”

Mendengar itu, Jethro langsung menyuruhnya bergeser.

“Pindah? Aku pindah ke sana? Untuk apa?” Hana kebingungan.

“Jika Anda turun dari mobil dan keluar, kamera pengawas akan menangkap kita. Lihat posisi kita.”

Hana memperhatikan sekeliling dari dalam mobil. Benar saja, posisi mereka tersudut dan beberapa bagian tidak terjangkau kamera.

Dia tahu maksud Jethro. Pria itu ingin masuk ke mobilnya. Namun, untuk apa?

Apa pun alasannya, pertanyaan itu belum akan terjawab jika dia belum bergeser. Mau tak mau, Hana mengikuti instruksinya.

“Kita mau ke mana?”

“Pulang, tentu saja. Saya tidak ingin Nona mendapat masalah lagi.”

Semakin lama berbicara dengannya, Hana semakin tidak mengerti. Apalagi sekarang mobil sudah mulai berjalan.

“Kamu mau pulang ke mana? Kamu sudah dipecat.”

Jethro tersenyum sambil tetap menatap jalan.

“Iya, saya tahu, Nona. Saya tidak akan menyetir sampai ke rumah Anda. Tapi saya juga tidak akan membiarkan Anda menyetir setelah patah hati. Anda harus aman.”

DEG.

Hana merasa seperti gadis remaja labil ketika menyadari suasana hatinya berubah begitu cepat. Dari sedih, kini wajahnya justru terasa panas karena malu mendengar perkataan Jethro.

Dia buru-buru mengibaskan tangan di depan wajahnya seperti kipas ketika merasa pipinya mulai memerah.

“Nona, apakah Anda sakit?”

•

Apa pun yang baru saja terjadi, Hana tidak bisa menghentikan pandangannya dari sosok Jethro yang kini telah menghilang.

Pria itu berhenti menyetir ketika mereka sudah mendekati rumahnya. Setelah meminta izin untuk turun, dia menghilang di antara jalanan kecil, meninggalkan janji akan bertemu lagi.

Janji kecil itu saja sudah cukup membuat suasana hati Hana kembali cerah.

Itulah sebabnya dia memasuki rumah dengan tawa kecil yang berusaha disembunyikan. Tidak ada lagi raut patah hati di wajahnya sebagai seseorang yang baru saja batal menikah.

Perubahan itu ditangkap oleh Conrad yang berdiri di ujung ruangan.

Sejak tadi, dia memang sengaja menunggu. Melihat senyum putrinya, dia mengira pertemuan itu membawa kabar baik.

Dengan senyum yang sama, dia melangkah menyambutnya.

“Putriku, bagaimana pertemuanmu, hmm?”

DEG.

Langkah Hana terhenti. Dalam sekejap, tubuhnya terasa berat. Kepalanya terangkat hingga mata mereka bertemu.

Dia sempat gugup selama sepersekian detik, tetapi kembali tenang ketika mengingat bahwa bukan hanya dirinya yang bersalah dalam persoalan ini. Hubungannya dengan Rex memang memiliki cukup alasan untuk diakhiri.

Hana menoleh ke kanan dan kiri. Beberapa pelayan masih berlalu-lalang di sekitar mereka.

Karena itu, dia memutuskan mengajak ayahnya ke ruang kerja.

Conrad tidak keberatan. Dia mengikuti dari belakang dengan kedua tangan di saku celana pendeknya.

Sling!

Begitu pintu ruang kerja ditutup, pria itu kembali pada inti pembicaraan.

“Jadi bagaimana? Kapan pernikahan kalian akan dilaksanakan?”

Hana meletakkan tasnya terlebih dahulu, lalu berdiri di hadapannya. Meja kerja menjadi satu-satunya jarak di antara mereka.

“Maaf, Pa. Tapi pernikahan itu harus dibatalkan.”

Conrad yang semula duduk bersandar langsung menegakkan punggung.

Kulit kepalanya terasa mati rasa. Dia membutuhkan beberapa detik untuk mencerna ucapan putrinya.

“Apa maksudmu?”

Hana menarik napas panjang sebelum menjelaskan.

“Alexander telah menghamili wanita lain dalam perjalanan terakhirnya ke Negara T. Itu hubungan satu malam, tetapi wanita itu hamil. Jadi, mau bagaimana lagi... dia harus bertanggung jawab.”

Deg.

Conrad membeku.

Alam bawah sadarnya masih menolak mempercayai apa yang baru saja didengarnya.

Dia bahkan sempat mengira putrinya sedang bermain-main, terlebih karena tadi Hana masuk sambil tertawa.

“Lalu, saat masuk dan tertawa tadi, apa yang kau tertawakan?”

Hana terkejut. Dia sedikit kesulitan menjawab pertanyaan itu.

“A-ah, itu tadi...”

“Hana, kau bercanda, bukan? Lihat aktingmu yang payah!”

Hana mengejapkan mata beberapa kali sebelum menggeleng.

“Tidak, Pa. Itu semua kenyataan. Kami tidak bisa menikah. Alexander telah menghamili wanita lain.”

BRANG!

Sebuah benda dilemparkan ke arahnya, tetapi berhasil dihindari Hana.

Conrad gemetar di tempat duduknya.

“Cecunguk kurang ajar! Mereka pikir siapa mereka sampai membatalkan pernikahan ini sesuka hati? Apa mereka lupa siapa aku? Apa mereka pikir bisa mempermainkan ku, hah?!”

“Papa, ini bukan kesalahan keluarga Kim. Bukan kesalahan Paman dan Bibi. Ini kesalahan Alexander yang harus dia pertanggung jawabkan!”

PLAK!

Hana mengira meja yang lebar mampu melindunginya. Namun, tamparan itu tetap berhasil mengenai pipinya.

Rasa sakit menjalar hingga ke telinga.

“Kesalahan siapa?! Kesalahan siapa, aku tidak peduli!”

Conrad berteriak hingga napasnya memburu.

“Pernikahan ini harus tetap dilaksanakan! Pernikahan ini adalah perjanjian antara kakekmu dan kakek Alexander. Jadi, pernikahan ini harus tetap dilaksanakan!”

Dia menarik napas dalam-dalam.

“Tidak akan kubiarkan mereka mempermalukan keluarga kita dan menurunkan reputasiku. Tidak akan!”

“PAPA!”

Suara Hana meninggi karena tidak percaya pada reaksi ayahnya.

“Pa... semua sudah terlanjur. Mungkin memang aku bukan jodoh Alexander. Aku yakin Paman dan Bibi juga marah atas perbuatannya. Mereka tidak pernah berniat menyakiti atau mempermalukan kita.”

“BODOH!”

Conrad menunjuk wajahnya, lalu menyemburkan ludah ketika berbicara.

“Anak bodoh! Kurang ajar! Kau benar-benar tidak bisa memberikan apa pun kepada Papamu ini sejak dulu. Tidak berguna kau lahir ke dunia!”

DEG.

Rasanya seperti menelan racun mentah-mentah.

Hana tercekik dari dalam. Ada sesuatu yang hancur perlahan di dalam jiwanya.

“Apa kau ingin aku berhenti dari pekerjaanku? Apa kau ingin melihatku mati sebagai pecundang setelah anak kurang ajar seperti dirimu menghancurkan semuanya?!”

Conrad menepuk dadanya dengan penuh emosi.

“Aku ini seorang politikus, Hana! Politikus! Keluarga kita tidak melakukan pernikahan tanpa keuntungan. Kau menikah dengan Alexander untuk menaikkan elektabilitas orang tuamu ini!”

Setiap perkataannya terasa seperti jarum yang menusuk tubuh Hana satu per satu.

Saat itu juga dia sadar, sejak awal dirinya tidak pernah hanya menjadi seorang anak dalam keluarga.

Dirinya adalah transaksi terbesar bagi ayahnya.

Hana sebenarnya tahu bahwa sepanjang hidupnya, dia harus melakukan sesuatu untuk keluarganya. Namun, bukankah selama ini dia sudah melakukan semuanya?

Dia memasuki dunia modeling meskipun tidak menyukainya karena itu adalah keinginan ibunya.

Dia menghabiskan tahun-tahun terbaik hidupnya untuk belajar, mengejar nilai sempurna demi memenuhi keinginan ayahnya.

Dia sudah melakukan semuanya sejak kecil.

Dan dia selalu mengira itu sudah cukup.

Ternyata hari ini dia diberi tahu bahwa semua itu masih belum cukup.

Tapi kenapa?

Pertanyaan itu menggema pahit di dalam kepalanya.

Kenapa dia harus selalu memenuhi ekspektasi orang tuanya?

Dia sudah menjalankan bagiannya sebagai seorang anak. Memberikan masa-masa yang membanggakan mereka. Lalu, kenapa dia harus terus melakukannya?

Apakah selamanya dia harus menjadi seorang anak?

Bukankah setelah menikah, dia akan mengabdikan dirinya sebagai seorang istri dan ibu?

Lalu kenapa bahkan untuk menikah pun dia harus terlebih dahulu menjadi anak yang sempurna?

Dia tidak pernah memilih untuk dilahirkan.

Batin Hana bergejolak.

“Pokoknya, kau bersiap saja. Pernikahanmu dengan Alexander akan tetap dilaksanakan.”

Hana terkekeh.

Awalnya hanya sebuah kekehan kecil, tetapi suara itu perlahan berubah menjadi tawa.

“Pa! Alexander menghamili wanita lain. Meng-ha-mili!”

Dia mengeja setiap suku kata.

“Dia menghamili wanita lain. Jadi, kenapa aku harus menikah dengannya? Aku tidak ingin menikahi pria yang sudah—”

“Memangnya kau suci?”

Hana terdiam.

“Memangnya kau lebih baik daripada Alexander?! Kau juga sama kotornya karena tidur dengan pelayan selama persiapan pernikahan. Kalian berdua sama saja. Jadi pantas untuk bersama.”

Perkataan itu menghantam tepat ke wajahnya.

Hana terdiam.

“Kalau kau berani menolak, bersiaplah. Seseorang yang berani tidur denganmu harus membayar mahal.”

Alis Hana bertaut.

“Apa-apaan ini? Kenapa Jethro harus dilibatkan dalam masalah ini?!”

Conrad tertawa sinis.

“Lihat? Aku hanya memancing, tapi kau langsung bereaksi.”

Dia menyipitkan mata. “Kau bereaksi keras ketika aku membicarakan pelayan itu! Ckckck... kau ternyata tidak mirip Mamamu, Hana. Seleramu terhadap pria ternyata rendahan.”

1
Isaidno
Tolong like atau tinggalkan komentar ya, kalau suka 🥀
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!