Update setiap hari!
Bianca, putus dengan pacarnya yang sudah bertahun-tahun bersama. Namun, setelah putus bukannya asing, mereka justru terus dipertemukan dalam kejadian yang tak terduga.
Entah ini kebetulan? atau memang sengaja di buat oleh Arsen.
"Bagaimana bisa, bos baruku ternyata adalah dia?! Arsenio sialan! Bagaimana caranya kami menjadi mantan jika terus seperti ini?!" geram Biancca yang sudah frustrasi.
"Aghh, dia benar-benar tidak tahu bagaimana caranya menjadi mantan!" --Arsenio Kendrick
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon An_cin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14
Bianca kini turun dari lift bersama dengan Arsenio dan Renzo. Mereka berencana akan pergi ke parkiran untuk mengambil mobil dan langsung pergi ke Bandung. Suasana benar-benar biasa bagi Arsen. Namun tidak bagi Bianca, karena semua tampak canggung baginya.
"Arsen, kita harus bicara! berdua!" ucap Bianca sambil menunjukkan jari berbentuk v.
"O, jadi sekarang kamu juga ingin kita berdua? Ok" Arsen menekan lantai 20.
"Ya baiklah aku rasa aku akan di sini sendiri" ucap Renzo dengan tawanya.
Setelah lift itu terbuka, Arsen pun mendorong Renzo keluar dari lift. "Loh, kok jadi gini. Bukankah seharusnya kalian?" Ucap Renzo dengan wajah yang tampak kebingungan, ia di paksa oleh Arsen untuk keluar saat pintu lift telah terbuka.
"Oh shit, Arsen jangan kau tutup!" Arsen malah melambaikan tangannya ke arah Renzo. Dengan senyuman yang sangat amat lebar, terpampang di wajahnya.
Renzo terus mencoba menekan tombol pintu lift, namun masih tak terbuka. Ia akhirnya berpikir untuk mencoba lift lain, namun hasilnya sama ia tetap harus menunggu.
"Ok, jadi sekarang kamu di sini. Kamu mau kita bicara berdua saja kan" Arsen mendekat ke arah Bianca. Pria itu kini mengunci badan gadis itu, Bianca memejamkan matanya. Ia tak berani menatap wajah Arsen.
"Aish, ini benar-benar sangat menyenangkan" ucapan Arsen benar-benar membuat Bianca merasa tersinggung. Ia bersusah payah menghindarinya, ia tak tahu lagi harus bagaimana menghadapi Arsen. Sedangkan pria itu, kini seperti mengikatnya.
"Apa ini tampak menyenangkan bagimu?" Seru Bianca dan Arsen seketika langsung menghela napas panjang dan mengangguk.
Bianca menatap kiri dan kanan, kedua tangan Arsen telah mengunci pergerakannya. Bahkan jarak wajah Arsen hanya terpaut beberapa cm dari Bianca saat ini.
"Kamu tahu Arsen, aku sudah cukup lelah untuk terus maju. Itulah kenapa aku memilih mundur. Kita sudah putus, tapi kenapa kamu masih seperti ini?" Bianca benar-benar di buat frustasi dengan sikap kekanak-kanakan dari mantannya.
"Sayang, semakin kamu mundur satu langkah. Aku akan semakin maju dua langkah, terus seperti itu sampai kamu lulus dan kita bisa kembali." Bisik Arsen di telinga Bianca, pria itu bahkan mengendus wangi gadis itu yang menurutnya sangatlah harum.
"Cukup Arsen! Kita sudah pernah bahas ini. Kamu, kita, itu sudah tidak punya hubungan lagi. Aku mau hidup tenang, aku tahu. Kamu sebenarnya baik, tapi aku cuma mau ketenangan Arsen, jadi aku mohon padamu. Tolong, ikhlas kan lah aku untuk pergi" Bianca mendorong Arsen menjauh darinya.
Namun Arsen tak tinggal diam, ia kembali memeluk Bianca dari belakang dan memejamkan matanya. "Bianca, aku tidak pernah menginginkan apa pun di dunia ini lebih dari kamu. Kenapa sekarang kita harus berpisah. Karena itu adalah hal yang paling menyakitkan" ucapan Arsen benar-benar menyayat hati Bianca.
“Kita lihat apa kamu akan tetap konsisten atau tidak Bianca.” ujar Arsen dalam hati. Seketika wajah Arsen yang tampak sendu, kini langsung berubah menjadi seringaian senyum.
Pintu lift kini terbuka, Bianca pun langsung lari keluar dari sana. “Ekhem, mau lari kemana Asisten cantik? Bukankah kita harus pergi bisnis sekarang!” Bianca menatap ke belakang, tampak Arsen yang tengah memutar kunci mobilnya di jari tangannya.
Pria itu pun kembali mendekati Bianca, hal itu benar-benar membuat Bianca sangat jengkel. Wajahnya tampak seperti orang marah, namun hal itu malah semakin membuat Arsen ingin menggodanya.
Bianca lalu menoleh, dengan senyuman yanh terpaksa. Ia pun menatap Arsen dengan senyuman yang tampak canggung. “Sial, ini benar-benar membuatku frustrasi,” ujar Bianca sebari menempelkan wajahnya pada tembok di sampingnya.
“Wah, sekarang bahkan aku telah di tinggalkan” gerutu Renzo kepada Arsen yang sempat mendorongnya tadi. Pria itu baru saja datang karena ia harus menunggu lift yang lain.
“Woi Renzo, kita harus pergi Bisnis sekarang. Kenapa kau hanya diam di sana?" ucap Arsen dan hanya di balas anggukan oleh Renzo.
Renzo dan Bianca seketika saling menoleh, dan saat itu juga mereka menarik napas bersamaan, karena telah lelah menghadapi tingkah bosnya.
"Sekarang kau paham kan, bagaimana lelahnya jadi aku Renzo, itu mengapa aku ingin putus." Batin Bianca sambil menatap tajam Renzo.
"Cih, karena asisten baru ini sekarang aku harus lebih ekstra bekerja lagi. Enak sekali jadi kau Bianca." Batin Renzo yang tak kalah melotot tajam pada Bianca.
Arsen merasa sangat tak senang melihat mereka saling menatap, pria itu pun berdiri di tengah-tengah di antara keduanya.
"Ayo Jalan!" Ujar Arsen dengan nada yang datar.
“Ya baiklah”
***
Di Koridor kampus, Lucia terus menghindar dari Axel. “Pak Axel,” ujar Naya, sahabat baik Lucia. Gadis itu kini melambaikan tangan ke arah Axel, dan pria itu pun menanggapinya dengan melambaikan tangan.
“Naya, kau mau kemana?” Lucia menarik tangan Naya saat ia hendak mendekat ke arah Axel.
“Ya mau ketemu pak dosenlah, apa lagi,” ujar Naya yang setelahnya menjadi heran, lantaran melihat wajah Lucia yang seperti orang panik.
“Sial, mengapa dia malah mendekat ke sini si?” Lucia berucap dalam hati, dan tanpa pikir panjang, gadis itu pun langsung menarik lengan tangan Naya dan membawanya lari sepanjang koridor. Axel yang melihat hal itu pun langsung terdiam di tempat sambil kebingungan melihat hal itu.
“Mengapa mereka berlari?"
“Apa aku seseram itu?"
Hal itu benar-benar menimbulkan banyak pertanyaan di benak Axel, namun ia tak ingin mengambil pusing. Ia melihat jam di tangannya, ia pun harus segera pergi karena sebentar lagi akan ada kelas.
Sementara itu, Lucia dan Naya kini tengah terengah-engah akibat berlari.
“Kau ini sebenarnya kenapa si? astaga naga, rumor itu tidak mungkin benar kan.” Naya pun menutup mulutnya dengan kedua tangan, sambil tak percaya menatap Lucia.
“Kau bicara apa si? jangan berpikiran yang aneh-aneh deh”
“Lalu mengapa tadi kau lari darinya jika rumor itu bukan tentang mu?”
Lucia menghembuskan napasnya panjang, dan tersenyum lebar menatap Naya. “Nay Nay ku sayang, apa kamu lupa. Tugas kita belum selesai kau ingat, jika nanti dia marah bagaimana?”
“Ya makanya tadi aku tanya, biar sekalian paham.”
“Sudahlah tidak usah Naya, lagian kalau kamu tanya sekarang sama dia. Apa tidak semakin kena marah, dia hari ini ada jadwal di kelas lain”
“Bagaimana kau bisa tahu?”
“Ya karena,” Lucia langsung membungkam mulutnya, ia memukul kepalnya sendiri sambil berbicara dalam hati. “Kau benar-benar bodoh Lucia”
“Aneh, kenapa hari ini tingkahmu tidak seperti biasanya. Apa ada yang kau sembunyikan dariku?,” tatapan interogasi di tunjukkan oleh Naya, ia menatap Lucia dengan tatapan penuh tanda tanya.
"Hemmmm, kau mencurigakan Luci."
BERSAMBUNG