NovelToon NovelToon
Diremehkan Sebagai Guru Honorer, Aku Punya Penghasilan Yang Fantastis

Diremehkan Sebagai Guru Honorer, Aku Punya Penghasilan Yang Fantastis

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir / Penyesalan Suami
Popularitas:16.8k
Nilai: 5
Nama Author: peony_ha

Menikah dengan Dr. Revan Aditya adalah impian Alya Gumaisya. Namun, sejak hari pertama, Alya sadar bahwa dirinya hanyalah istri pajangan yang dinikahi demi kepentingan keluarga, bukan karena cinta.

Bertahun-tahun hidup dalam pengabaian dan penghinaan, Alya akhirnya memilih pergi dan membangun hidupnya sendiri. Saat ia tak lagi mengharapkan cinta Revan, justru pria itu mulai menyadari bahwa wanita yang selama ini diabaikannya adalah satu-satunya yang benar-benar ia butuhkan.

Sayangnya, penyesalan selalu datang terlambat. Kini, Alya tak lagi ingin menjadi istri yang menunggu, sementara Revan harus berjuang menghadapi balas dendam paling menyakitkan—kehilangan wanita yang pernah mencintainya tanpa syarat.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon peony_ha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Antara Alya dan Aira

Aira masih diam membisu. Sejak tadi ia mengabaikan permintaan maaf yang keluar dari mulutku.

Air mata masih mengalir membasahi pipinya.

"Apa yang harus aku lakukan, Aira, supaya kamu memaafkanku?" ujarku lirih, berusaha sabar menghadapi Aira yang terus mengabaikanku.

"Jika aku memaafkanmu, Revan, apa kamu bisa menjamin tidak akan melakukan hal itu lagi bersama Alya?"

Aku terdiam sejenak. Lidah ini terasa kelu untuk mengucapkan kata tidak.

"Jawab, Revan!" bentak Aira. Wanita itu bahkan sampai menghempaskan tubuhnya ke jok mobil.

Seketika pandanganku beralih pada jalanan kota yang semakin ramai. Teriknya matahari hari ini tidak sebanding dengan rasa panas yang aku rasakan. Apa iya aku bisa berjanji tidak akan menyentuh kembali Alya?

Sedangkan kami tinggal dalam satu atap dan satu ruangan. Satu ranjang, bahkan kami sering tidur di bawah satu selimut bersama. Aku pria yang sangat normal.

Alya halal untuk kusentuh, tapi aku hanya mencintai Aira. Wanita di sampingku yang belum bisa kumiliki.

"Sudah kuduga, kamu tidak akan bisa menjawabnya, Revan. Alya sudah jadi candu bagimu..."

"Aku hanya mencintaimu, Aira... Tolong maafkan aku."

"Tinggalkan wanita itu, menikahlah denganku... Hanya bukti itu yang akan aku percaya sekarang."

Aira mulai membuka pintu mobil, kemudian ia melempar sebuah kertas ke arahku.

"Aku stres dengan sikap kamu, Revan. Makanya aku melampiaskan rasa sakitku dengan ini. Tolong dibayar tagihannya..."

Aira pergi sambil membanting keras pintu mobil.

Aku mengusap wajah, memijat kening yang terasa pegal. Tenggorokanku masih terasa tercekat. Aku belum benar-benar lega dengan masalah ini. Tuntutan dari Aira semakin menghimpit jiwaku.

Aku membuka kertas yang diberikan oleh Aira. Beberapa tagihan belanja dengan nominal yang tidak sedikit. Hampir lima ratus juta Aira habiskan dalam waktu dua minggu.

Aku menarik napas dalam-dalam, kemudian memukul setir mobil sekencang-kencangnya. Ubun-ubunku terasa sangat mendidih.

Bayangan ibu yang tidak ingin melepas Alya, sementara Aira semakin menuntutku untuk segera menceraikan Alya.

Tapi Alya... wanita itu tidak menuntut apa pun dariku. Bahkan ia telah siap jika aku melepasnya.

Aku teringat sesuatu. Aku ingin mendinginkan kepalaku dari semua masalah yang terjadi.

Alya?

Kenapa wanita itu tiba-tiba muncul di benakku tanpa diundang? Hinggap begitu saja.

Aku: Kamu sudah lebih baik hari ini?

Alya: Sudah, Kak. Ada apa?

Aku: Bersiaplah, aku akan menjemputmu di rumah. Setengah jam lagi aku sampai.

Aku membanting setir, menginjak pedal gas sedalam mungkin. Rubicon hitam milikku meliuk membelah kemacetan. Setengah jam, aku harus sudah sampai di rumah.

Tepat, bahkan kurang dari setengah jam, aku sudah sampai di halaman depan rumah. Membuat satpam yang berjaga di pos depan melongo kebingungan saat mobilku berdecit nyaring di hadapannya.

Alya: Sudah sampai, ya, Kak? Aku turun sekarang.

Sekilas aku melihat balasan pesan Alya pada layar ponsel. Tidak ada niatan untuk membukanya.

"Pak dokter, sepertinya sedang terburu-buru. Jika ada perlu, bisa saya bantu?"

Satpam melongo di sampingku.

"Tidak ada, Pak. Saya sedang menunggu Alya."

Pak satpam tiba-tiba nyengir padaku, menampilkan deretan gigi rapinya.

"Oh, lagi nunggu istrinya, toh. Panjang umur. Itu Bu Alya sudah datang. Istri Pak Dokter memang masyaallah sekali. Keteduhannya bagai tetesan bidadari surga."

Aku ikut menolehkan wajah. Alya berjalan dari beranda rumah menuju mobilku. Wanita itu terlihat rapi dengan balutan blouse berwarna biru muda, celana jeans longgar, serta hijab berbunga yang membingkai rapi wajahnya.

Menurutku, penampilan Alya ini selalu rapi. Tidak terlihat kampungan juga.

Tapi kenapa Bude dan Dona selalu melayangkan hinaan kepadanya?

Dan satu lagi, Alya juga tidak kalah cantik dengan wanita kota di sini. Dengan riasan wajahnya yang sederhana, tidak terlalu mencolok atau berlebihan.

"Siang, Non."

"Siang, Pak..." Alya membalas ramah sapaan dari satpam.

"Sudah ditunggu sama Pak Dokter..." Pak satpam menunjukkan keberadaan mobilku.

"Iya, Pak. Ini saya juga lihat."

Alya melanjutkan langkah. Ia melirik kaca samping sekilas.

Alya memasuki mobil tanpa banyak tanya. Wanita itu menyapaku sekilas dengan menampilkan senyum manisnya, kemudian duduk bersandar dengan sabuk pengaman yang sudah terpasang rapi.

Aku mulai menjalankan mobil dengan kecepatan sedang, teringat dengan kondisi Alya yang belum benar-benar pulih.

🌸🌸🌸

Satu jam perjalanan, akhirnya kami sampai di puncak, tepatnya di kafe milik sahabatku.

Tujuanku ke sini selain mengajarkan Alya table manner yang baik untuk pertemuan keluarga besar Mama, juga karena aku ingin mendinginkan kepalaku sejenak.

"Kamu tahu, keluarga besar Mama sikapnya tidak jauh berbeda seperti Bude Arum dan Dona..."

Alya yang sedang mengaduk jus mangga seketika menatapku.

"Tidak masalah, Kak. Aku tahu tujuan Kak Revan mengajakku ke sini. Untuk mengajariku bagaimana bersikap dengan baik saat makan, tata cara makan yang elegan."

Aku memperhatikan Alya yang sedang menyuapkan makanan ke dalam mulutnya. Gerakannya sangat terlatih, tidak ada yang salah. Menurutku, table manner-nya sangat baik. Jadi, tidak perlu dikhawatirkan soal ini.

"Aku hanya mengkhawatirkanmu."

"Terima kasih sudah khawatir, Kak."

"Tapi aku lihat semuanya baik. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Tapi kenapa Bude dan Dona begitu tidak menyukaimu?"

Alya menggeleng pelan.

"Itu di luar kendaliku. Menyukaiku atau tidak itu hak mereka. Aku tidak akan berusaha untuk membuat mereka menyukaiku."

Setelah menghabiskan makanan, kami melangkah menuju tempat yang lebih sejuk. Duduk di bawah pohon sambil memandangi pemandangan pegunungan.

Aku dan Alya duduk bersampingan dengan jarak yang sangat dekat.

"Aira memaksaku untuk segera menikahinya."

Salah besar aku mengatakan ini pada Alya, dengan status Alya sebagai istriku dan wanita ini sudah menaruh hati kepadaku sejak lama.

Alya hanya mengangguk. Senyum samar terlukis pada wajahnya.

Aku bisa melihat betapa sakit hatinya, tapi Alya tetap menutupinya dengan senyum tipis yang selalu terbingkai di wajahnya.

"Sepertinya Ibu juga sudah merestui kalian."

"Lebih tepatnya Ibu terpaksa," aku menyanggah ucapannya.

"Ibu sangat menyayangimu, Alya. Itu yang membuat aku berat untuk melepasmu."

Alya hanya terdiam. Sorot matanya berbinar memandangi keindahan alam di depannya.

"Jika terus dipaksakan seperti ini, aku juga yang sakit, Kak. Aku akan tetap jadi anak Ibu, dan kamu bisa melanjutkan hubungan kalian ke jenjang yang serius."

"Apa kamu membenci Aira?"

Alya tetap diam membisu. Mungkin ia sedang mempersiapkan jawaban yang tepat.

"Menurutmu, Kak? Dia yang hampir menghilangkan nyawaku..."

"Setelah tidak menjadi suamiku, aku boleh menganggapmu sebagai kakak?"

Aku menoleh pada Alya, kemudian merentangkan tangan, mengundang Alya untuk menghambur ke dalam pelukanku.

Aku mendekap erat tubuhnya. Setelah memeluknya, aku merasa ada desiran hangat yang mulai mengalir di dalam dada. Beban berat pada pundakku perlahan hilang begitu saja.

"Maafkan aku, Alya..."

"Sudah berapa kali kamu minta maaf, Kak? Sekarang lakukanlah... Kamu bisa melepasku secepatnya. Aku tidak sedang dalam keadaan hamil, jadi tidak ada yang memberatkan."

Bersambung...

Lanjut ga nih... readers???

1
sunaryati jarum
Terima dengan ikhlas keadaan Alya sekarang Revan jika kau memang mencintainya.Sabar dan berjuanglah itu mungkin karmamu , karena pengkhianatan kamu dengan mantan kekasihmu.
sunaryati jarum
Semoga Alya segera sadar
sunaryati jarum
Kamu harus menerima hukuman dulu jika Alya mau memaafkan kamu.Keenakan kamu, terang - terangan mempercayai fitnah selingkuhan dari pada istri sah.
sunaryati jarum: Dilanjutkan tidak lama banget upnya
total 1 replies
Lembayung Bercerita
sebentar ya kak, author lagi disibukan dengan lain hal 🙏
sunaryati jarum
Ini lanjut nggak , Thoor .Lama tidak up
falea sezi
g sudi lu balik ke ayla🤣🤣
Ma Em
Alya hamil lagi setelah keguguran , bagaimana reaksi Revan setelah tau Alya mengandung anaknya Revan , apakah Alya akan kembali pada Revan .
Tati Yudaningsih
lanjut terus💪
sunaryati jarum
Benar Alya saat pergi sedang hamil,dan ibu Ervan selalu ada untuknya
Ma Em
Revan kamu terlalu cinta pada Aira sehingga membuatmu buta dan bodoh , ada istri yg setia selalu menunggumu pulang dan mengurus semua kebutuhanmu Revan sia siakan , semoga saja Alya tdk akan Sudi lagi kembali padamu Revan lelaki bodoh , selamat menyesal saja seumur hdp mu Revan .
Aretha Shanum
ga usah berbelit belit thor
sunaryati jarum
Kebodohan terbesarmu Revan mengejar ular berbisa dengan mengabaikan bidadari, mungkin jika bertemu akan memaafkan kamu tapi untuk menjadi istrimu semoga tidak bersedia,dia bukan ban serep
Sri Widiyarti
Revan dokter tapi ko bodoh 🤦🤦🤦
mama
alahhhh telat km van,sekarang noh buka matamu lebar2 cwe yg kata ny kakasih km itu adalah iblis..percuma km sekarang nyesel gk ad guna.. semoga aj alya gk mau lgi kembali sm km van.. makany klu ap2 jgn asal ngmbil keputusan,jgn asal njepalak ngusir alya.. selidiki dulu kek bukan ny km org kaya masa byr detektif aj gk mampu🤣
sunaryati jarum
Kau dibutakan oleh cintamu pada Aira,dan sikap manipulatif Aira yang membuat kau menyakiti Alya.Kau tidak pantas menjadi suami Alya.Alya sekarang gajinya lebih besar karena novelnya difilmkan yang sangat laris ditayangkan,dan sepertinya dia mengandung anakmu.Rasain cintamu hanya dimanfaatkan oleh Aira demi mengeruk hartamu
Lembayung Bercerita
kaya flat gitu aja ya kak, kalau gak ada konflik
Rahmawati Amma
ya mudah2 cepat terbongkar kebusukan aira dan kembali bersama alya karna blm ada kata talak dan gugatan cerai 😅
Rahmawati Amma
emang kurang seruh klu ngak ada konflik 😅
sunaryati jarum
Penyesalan kamu akan terasa jika sudah tahu sifat aslinya Aira.
sunaryati jarum
Bangkit dan jangan pernah kembali pada suami yang hatinya mendua
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!