"minum obat itu cepat!" Elio berkata dingin, sorot matanya tajam, menunjuk benda persegi panjang kecil yang baru saja ia lempar tepat di samping Kaia yang masih berbalut selimut. "Aku tidak ingin memiliki anak dari wanita sepertimu. Dan jika sampai kamu hamil..." Suaranya menurun penuh penekanan. "Aku tidak akan segan-segan menghilangkannya."
Kaia adalah gadis yang baik tapi sayangnya dia kurang kasih sayang dari ayahnya. saat lulus kuliah dia di desak ayahnya harus menjadi pengantin, menggantikan sang kakak yang bernama Kiara yang meninggal dunia akibat kecelakaan. Dengan Elio, seorang dokter kulit, tunangan kakaknya.
Disisi lain, sejak kecil ayahnya yang menyimpan luka selalu menyalakan Kaia sebagai penyebab kematian istrinya.
Lalu bagaimana saat Kaia tiba-tiba mengetahui bahwa dirinya sedang mengandung. Haruskah ia pergi dan menyelamatkan nyawa kecil yang sedang tumbuh dalam rahimnya? Atau justru melenyapkannya?
Ikuti kisah Kaia...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Putri prisella, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2 Tembok kita tinggi banget
"Kaia..." Suara Sean terdengar pelan, nyaris tenggelam oleh debur ombak.
Kaia menoleh, tatapannya langsung bertemu dengan sepasang mata teduh milik pria yang telah mengisi dua tahun perjalanan hidupnya.
Langit jingga keemasan membentuk kilauan yang menari mengikuti gulungan ombak. Angin sore berembus pelan, membawa aroma asin laut sekaligus mengibaskan rambut bob milik Kaia.
Biasanya, mereka akan menghabiskan sore dengan saling bercanda. Sean akan sibuk mengganggu Kaia, sementara gadis itu akan pura-pura kesal lalu mengejarnya di bibir pantai.
Namun sore ini... Tak ada tawa juga canda. Hanya keheningan yang terasa begitu berat di antara keduanya.
"Aku berangkat ke Inggris minggu depan." Kalimat itu akhirnya keluar, yang sejak tadi terasa menggantung di antara mereka.
Sean menundukkan kepala sesaat. "Akhirnya semua beres. Visa, kampus, tempat tinggal, minggu depan aku mulai hidup baru di sana."
Kaia hanya mengangguk pelan. Ia sudah mengetahui kabar itu sejak beberapa hari lalu. Tetapi mendengarnya langsung dari bibir Sean tetap membuat dadanya terasa sesak.
Sebentar lagi... Mereka akan berada di dua negara yang berbeda. Dua zona waktu.
Sean menoleh ke arahnya.
"Kamu sendiri? Kapan berangkat ke Melbourne?"
Kaia menarik napas panjang sebelum menjawab. "Aku masih nunggu Kak Kiara nentuin tanggal nikah." Ia tersenyum kecil. "Habis itu baru berangkat.Kata Nenek, beberapa bulan pertama beliau bakal nemenin aku di sana."
Sean mengembuskan napas lega. "Syukurlah. Aku sempat kepikiran kamu sendirian di sana."
"Bee..." Ia mengangkat tangan, lalu menyelipkan helaian rambut Kaia yang tertiup angin ke belakang telinganya. "Lalu hubungan kita gimana kedepannya. Sesulit apapun kita harus membahasnya?"
Pertanyaan itu membuat senyum Kaia memudar. Ia menatap ke depan, matahari perlahan tenggelam.
Sama seperti harapan yang selama ini mereka pertahankan. Kaia tertawa lirih, tawa yang terdengar lebih mirip helaan napas putus asa.
"Tembok kita tinggi banget ya, Bee... Berlapis pula" Ia menatap laut lepas. "Bahkan rasanya setiap kali kita berhasil melewati satu tembok... selalu ada tembok lain yang lebih tinggi."
Sean ikut memandang ke arah laut. Ia mengerti maksud Kaia. Agama keduanya berbeda, Kaia seorang muslim dan Sean katolik. Sementara secara suku, Kaia berdarah Jawa, Sunda dan Sean Tionghoa.
Meski kedua orang tua Sean baik, namun dari pihak Kaia. Sang ayah menentang. Sejak awal hubungannya dengan Kaia, Fadlan sangat keras menolaknya.Belum lagi mereka akan dipisahkan ribuan kilometer.Semua terasa seperti jalan buntu.
Sean meraih tangan Kaia, menggenggamnya erat. "Kalau.. ." Ia berhenti. Seolah sedang mengumpulkan keberanian. "Kalau aku memilih ikut jalanmu..."
Kaia langsung menoleh dengan tatapan tanda tanya. Sean menatapnya dalam. "Atau.. Kamu yang ikut jalanku. Bagaimana?"
Hening. Hanya suara ombak yang terus datang silih berganti. Kaia menggeleng pelan, matanya mulai berkaca-kaca.
"Aku sayang sama kamu."
Suaranya bergetar. "Banget." Kaia menarik napasnya yang terasa berat. "Tapi aku nggak bisa mencintai seseorang dengan cara meninggalkan keyakinanku."
Ia tersenyum getir. "Dan aku juga nggak mau kamu meninggalkan keyakinanmu hanya demi aku."
Sean menggenggam tangannya erat. "Tapi kalau itu buat kita bersatu...."
"Bukan begitu, Bee..." Kaia memotong lembut. "Kalau suatu hari nanti kamu memilih jalan itu..." Ia mengangkat tangan, menyentuh dada Sean perlahan. "...aku ingin itu karena hati kamu yang memilih. Bukan karena aku."
Sean terdiam. Dadanya terasa sesak. Sudah berkali-kali ia memikirkan kemungkinan itu. Berkali-kali pula ia berharap Kaia mau meminta dirinya berubah.
Karena mungkin... Itu akan membuat semuanya menjadi lebih mudah. Namun perempuan yang dicintainya justru menjaga keyakinannya seperti ia menjaga keyakinannya sendiri.
Sean tertawa pelan namun tawanya terdengar rapuh. "Lucu ya. Dua orang saling cinta." Ia menatap Kaia lama. "Tapi kalah sama tembok yang bahkan nggak bisa kami sentuh."
Kalimat itu membuat air mata Kaia akhirnya jatuh. Ia buru-buru menghapusnya. Namun semakin diusap, semakin deras air mata itu mengalir.
Suara Kaia hampir berubah menjadi isakan. "Aku capek bilang kalau semuanya pasti baik-baik aja."
Kaia tak mampu berkata apa-apa lagi. Ia langsung memeluk Sean erat.
Menyembunyikan wajahnya di dada bidang pria itu. Tangisnya pecah. "Semuanya terasa buntu...." Ia terisak. "Aku nggak tahu harus melangkah ke mana."
Sean memejamkan mata. Tangannya mengusap perlahan punggung Kaia. Mencoba menenangkan perempuan yang begitu dicintainya.
Padahal...Hatinyalah yang sebenarnya lebih dulu hancur. Beberapa menit mereka hanya saling berpelukan. Tak ada yang berbicara.
Hanya suara ombak yang menjadi saksi betapa beratnya sore itu. Sean kemudian mengangkat dagu Kaia perlahan. Jempolnya menghapus sisa air mata di pipi gadis itu.
"Aku mencintaimu, Bee." Suara berat itu terdengar begitu lirih. "Apapun yang terjadi nanti... Terima kasih sudah pernah hadir di hidupku."
Wajahnya mendekat, jarak mereka menipis, hembusan napas hangat Sean menerpa wajah Kaia.
Cup!
Satu kecupan singkat mendarat di bibir Kaia.
Membuat hati yang rapuh itu seketika menghangat.
Tangis Kaia kembali pecah.Ia menggeleng berkali-kali. "Aku juga mencintaimu, Sean. Sangat mencintaimu."
Sean tersenyum tipis. Meski senyum itu dipenuhi luka. Ia mengecup lembut kening Kaia.
Lalu memeluknya erat sekali lagi.Seolah ingin menghentikan waktu yang terus berjalan.
Karena mereka sama-sama tahu... Ada cinta yang sulit berakhir tapi takdir memilih jalan yang berbeda.
Saat matahari hampir tenggelam sepenuhnya, Kaia perlahan melepaskan pelukannya. Ia mengusap sisa air mata di pipi, lalu tanpa sengaja melirik layar ponselnya yang sejak tadi tergeletak di atas pasir, yang sengaja ia atur dalam mode silent.
Layar itu menyala. Terlihat tujuh panggilan tak terjawab.Dua pesan dari Kiara. Wajah Kaia langsung memucat.
"Oh, ya ampun!" Ia menepuk pelan dahinya. "Bee... mati aku."
Sean yang masih duduk di sampingnya langsung menoleh. "Ada apa?"
Kaia buru-buru berdiri. Ia menepuk-nepuk celana jinsnya, berusaha membersihkan pasir yang menempel.
"Malam ini di rumah ada makan malam sama keluarga Kak Elio." Suaranya terdengar panik. "Sekalian nentuin tanggal nikah Kak Kiara."
Ia segera mengenakan sandal. "Aku bener-bener lupa." Jantungnya berdegup semakin cepat. Di kepalanya mulai terbayang wajah dingin Fadlan.
Tatapan tajam itu. Nada suaranya yang selalu meninggi.Kaia masih ingat saat ayahnya pernah membanting vas bunga hanya karena dirinya terlambat pulang dari kampus.
Kalau malam ini ia kembali terlambat... Entah kata-kata apa lagi yang akan diterimanya.
"Papa pasti marah." Bisiknya pelan.
Sean ikut berdiri. "Ayo." Tanpa banyak bicara, ia menggenggam tangan Kaia dan mengajaknya berlari kecil menuju parkiran.
Mobil melaju membelah jalanan yang mulai dipenuhi kendaraan. Langit benar-benar berubah gelap.
Lampu-lampu jalan mulai menyala, memantulkan cahaya kekuningan ke dalam kabin mobil. Tak seperti biasanya... Perjalanan mereka nyaris tanpa percakapan.
Radio hanya memutar lagu pelan. Sean sesekali melirik Kaia. Perempuan itu sejak tadi hanya menatap keluar jendela.
Jarinya saling menggenggam begitu erat hingga buku-buku jarinya memutih. Ia tahu yang ditakuti Kaia bukan terlambat menghadiri makan malam. Melainkan kemarahan ayahnya.
Sean mengulurkan tangan. Mengusap lembut kepala Kaia. "Tenang ya." Suara pria itu terdengar begitu menenangkan. "Kita pasti sampai sebelum acaranya selesai."
Kaia mencoba tersenyum. "Aku nggak takut dimarahin." Ia menunduk. "Aku cuma capek. Rasanya... apa pun yang aku lakukan selalu salah di mata Papa."
Sean tak langsung menjawab. Dadanya ikut terasa sesak. Seandainya saja ia bisa menghapus semua luka itu.
Hingga empat puluh lima menit kemudian... Mobil Sean akhirnya berhenti tepat di depan gerbang rumah keluarga Hadinata.
Rumah besar bergaya modern itu tampak terang oleh lampu-lampu taman. Beberapa mobil sudah terparkir rapi di halaman.
Kaia langsung menahan lengan Sean ketika pria itu hendak mematikan mesin. "Bee. Turunin aku di sini aja."
Sean menoleh. "Kok di sini?"
"Jangan masuk."
Sean mengernyit. "Tapi aku datang ke rumah pacarku, mau nganter pulang. Nggak enak kalau cuma berhenti di depan."
Kaia menggigit bibir bawahnya, teringat tatapan tajam ayahnya. Ia menangkup kedua tangannya memohon. "Please.... Aku nggak mau Papa makin marah. Hari ini ada tamu calon besan. Aku nggak mau bikin acara Kak Kiara jadi berantakan gara-gara aku."
Sean terdiam cukup lama. Tatapannya jatuh pada wajah Kaia yang penuh kecemasan. Akhirnya ia mengembuskan napas pelan. "Oke deh. Tapi suatu hari nanti... aku tetap akan masuk lewat gerbang itu.
Sebagai orang yang datang melamarmu."
Kalimat sederhana itu membuat mata Kaia kembali memanas. Ia mengangguk pelan seolah harapan yang tidak mungkin itu ada, meski hanya seujung jari. "Aku tunggu."
Sean lalu memarkir mobil tepat di depan gerbang.Sedangkan Kaia membuka sabuk pengaman. Namun sabuk itu tersangkut.
"Aduh..." Ia mencoba menariknya beberapa kali.
Tetap tak berhasil."Biar aku." Sean ikut membungkuk. Tangannya bergerak mencari pengait sabuk. Jarak mereka kini begitu dekat. Napas keduanya saling bersentuhan.
Sabuk itu akhirnya terlepas.Namun tak satu pun langsung menjauh. Mereka hanya saling menatap. Seolah sama-sama enggan mengakhiri pertemuan hari itu.
Di saat yang bersamaan...
Elio baru saja keluar dari rumah.Ia berjalan menuju mobilnya yang terparkir di halaman karena ponselnya tertinggal di dalam.
Ketika tanpa sengaja menoleh ke arah gerbang... Pandangannya jatuh pada mobil Sean. Dari kejauhan, ia melihat Sean membungkuk ke arah Kaia.
Wajah mereka sangat dekat.Nyaris saling bersentuhan. Elio terkekeh kecil. "Anak muda...." Sudut bibirnya terangkat tipis.
Tanpa berpikir macam-macam, ia mengira pasangan itu sedang berpamitan dengan ciuman singkat.
Maklum saja, selama tinggal di Korea Selatan, pemandangan seperti itu sudah menjadi hal biasa baginya. Bahkan tidak munafik ia dan Kiara pun melakukannya.
Ia menggeleng kecil sambil tersenyum, lalu kembali masuk ke dalam rumah.
Sementara itu... Kaia akhirnya berhasil membuka pintu mobil. Namun sebelum turun... Ia kembali menoleh.Sean masih memandangnya dengan senyum hangat yang selalu berhasil membuat hatinya tenang. Tiba-tiba tanpa berpikir panjang... Kaia kembali mendekat.
Cup!
Ia mengecup lembut pipi Sean singkat. Namun cukup membuat Sean membeku beberapa detik. "Hati-hati ya." Bisik Kaia pelan. "Dan..." Ia tersenyum tipis. "Terima kasih karena selalu ada buat aku."
Sebelum Sean sempat membalas... Kaia buru-buru keluar dari mobil dengan pipi yang memerah.
Sean menyentuh pipinya yang baru saja dikecup. Senyum kecil tak mampu ia sembunyikan. "Dasar...." gumamnya pelan setengah gemas.
Matanya terus mengikuti langkah Kaia hingga gadis itu benar-benar melewati gerbang rumah. Baru setelah memastikan Kaia masuk dengan selamat, Sean menyalakan kembali mesin mobilnya.
***
Sweet banget, tapi nyesek juga ya pasangan Kaia dan Sean ini.
...****************...
* Bersambung*
* Jangan lupa tinggalkan jejak di kolom komentar*
*Vote, like dan tambahkan favorit/subscribe yaa All juga hadiahnya 💝 *
*Terimakasih🙏*
*Salam manis dari AUTHOR ☺️*
*ig@putri_miceela.*