NovelToon NovelToon
Kembali Pada Luka Yang Sama

Kembali Pada Luka Yang Sama

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Teen / Mengubah Takdir
Popularitas:470
Nilai: 5
Nama Author: MIKHACINTA

Ada rasa yang tak pernah benar-benar mati, ia hanya bersembunyi di balik nama yang enggan kita sebut lagi.

Sera percaya bahwa pergi adalah satu-satunya cara untuk menyelamatkan sisa jiwanya yang hancur karena Adrian. Ia telah meruntuhkan harapannya dan mengunci rapat pintu perasaannya.

Tetapi benang merah tak pernah bisa dipatahkan.

Ketika waktu membawa Adrian kembali, pria itu tak lagi menawarkan duri. Ia hadir bagai sudut paling aman di tengah bisingnya dunia, menawarkan pulih di atas luka yang pernah ia goreskan sendiri.

Di antara bayang-bayang ragu, riuh penyesalan dari masa lalu, dan kehangatan yang kembali merekah... bisakah Sera mempertaruhkan hatinya sekali lagi?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MIKHACINTA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Teka-teki di Balik Layar

Langkah kakiku terasa teramat berat saat menapaki halaman rumah. Udara sore yang mulai mendingin tak sanggup mengikis rasa panas yang membakar dadaku. Begitu melangkah masuk ke dalam kamar, aku langsung merebahkan tubuhku di atas kasur, membiarkan rasa lelah dan sesak menguasai seluruh ketidakberdayaanku.

Tatapanku menerawang kosong ke langit-langit kamar, hingga akhirnya tertuju pada deretan poster di dinding. Gambar Synyster Gates dengan gitar khasnya dan Slash yang berdiri megah bersama jemari di atas senar... dua gitaris favoritku yang biasanya selalu berhasil meletupkan semangatku. Namun sore ini, ketajaman petikan gitar dalam bayanganku pun tak sanggup mengusir kekosongan yang merayap cepat.

Dengan jemari yang gemetar, aku meraih ponsel di samping bantal. Layarnya kunyalakan. Sepi. Tidak ada satu pun notifikasi dari Adrian.

Aku memejamkan mata rapat-rapat. Tentu saja tidak ada pesan. Dia kan sedang bersama Sabrina. Logikaku menampar keras, menyadarkan betapa bodohnya aku yang sempat mengharapkan kabar dari pria yang hatinya ternyata sudah dimiliki orang lain.

Aku memaksa diri untuk bangkit, meraih handuk, lalu melangkah ke kamar mandi. Kucuran air dingin yang membasahi kepala dan tubuhku setidaknya membantu menyamarkan rasa hangat yang terus mendesak di sudut mataku. Selesai mandi dan berganti pakaian santai, aku mengeringkan rambutku dengan handuk.

"Sera? Sudah mandi, Nak? Ayo keluar, kita makan dulu."

Suara Ibu dari balik pintu kamar membuatku tersentak kaget. Aku buru-buru menoleh ke arah jam dinding. Masih jam enam sore. Biasanya Ibu baru kembali dari toko saat larut malam, tetapi hari ini beliau sudah berdiri di luar kamarku.

Aku membuka pintu kamar dan mendapati Ibu sedang tersenyum lembut seraya menunjuk ke arah meja makan. Bau harum kuah gurih seketika menyeruak di udara.

"Ibu kok udah pulang?" tanyaku menghampiri meja makan.

"Iya, tadi toko diserahin ke Mbak Sri lebih cepat. Ibu mampir beliin Soto Lamongan kesukaanmu tuh, masih hangat. Ayo makan bareng," ajak Ibu seraya merapikan mangkok di atas meja.

Kami berdua duduk berhadapan. Suapan demi suapan soto hangat itu masuk ke tenggorokanku, tetapi rasanya tetap hambar. Pikiranku masih tertinggal di kamar Kania, pada nama 'Sabrina' yang terus berputar bagai kaset rusak.

"Sera," panggil Ibu pelan di sela-sela makannya.

Aku mendongak, menatap wajah lembut Ibu. "Iya, Bu?"

"Ibu mau tanya... lelaki yang malam itu datang ke rumah, yang badannya tinggi itu... siapa?"

Jantungku serasa berhenti berdetak sesaat. Sendok di tanganku mendadak terasa berat. "Oh... itu Mas Adrian, Bu. Kakaknya Kania, temen sekelas Sera."

Ibu mengangguk pelan, menyendok kuah sotonya sebelum kembali menatapku dengan binar penuh rasa ingin tahu. "Kamu sama Ray... sudah putus?"

Pertanyaan Ibu membuatku bungkam seketika. Selama ini Ibu hanya mengenal Ray. Di mata Ibu, Ray adalah sosok anak muda yang sempurna, sopan, tampan, dan pintar. Ibu memang selalu menyukai Ray sejak dulu.

"Iya, Bu... udah lumayan lama," jawabku lirih, menundukkan kepala menatap mangkok soto.

Ibu meletakkan sendoknya perlahan, lalu menatapku dengan raut wajah yang berubah lebih serius dan hati-hati.

"Sera, Ibu cuma mau ngingetin kamu," ucap Ibu lembut, namun menyiratkan ketegasan yang tak bisa dibantah. "Kamu jangan terlalu dekat ya sama lelaki yang semalem itu... Mas Adrian itu. Ibu lihat usianya jauh di atas kamu. Dia pasti sudah kuliah atau kerja, sementara kamu masih SMA. Dunianya beda, Ra."

Kata-kata Ibu menghantam dadaku tanpa ampun, menambahkan retakan baru di atas luka yang belum sempat menyatu. Bukan hanya kenyataan tentang Sabrina yang membentang di antara kami, tetapi kini, restu dan pandangan Ibuku sendiri pun menegaskan batas yang tak mungkin kuseberangi.

Aku hanya bisa mengangguk pelan seraya menelan rasa pahit yang mendalam. "Iya, Bu..."

***

Selesai makan, aku beranjak membantu Ibu membereskan meja. "Biar Sera aja yang cuci piringnya, Bu," tawarku.

"Enggak usah, Nak. Kamu masuk aja ke kamar, belajar," jawab Ibu lembut.

Aku mengangguk lalu bergegas masuk ke dalam kamar. Kududuki kursi belajar, menyibak lembar demi lembar buku pelajaran sekolah hari ini. Tak ada materi yang menyulitkan; otakku masih cukup lancar mencerna semuanya. Namun, fokusku tak bisa bertahan lama. Kututup kembali buku itu dan menumpuknya di sudut meja.

Pikiranku yang riuh membuatku beralih menyalakan laptop. Kutuju laman Facebook, lalu mengetik nama Adrian di kolom pencarian. Nihil. Aku memang tak tahu pasti nama akun Facebook miliknya. Tak kehilangan akal, aku mencoba mencari akun milik Kania dengan harapan bisa menemukan jejak kakaknya di sana. Begitu mengetik nama lengkap Kania, profilnya langsung muncul di urutan paling atas.

Kubuka beranda Facebook Kania lalu mengusap layarnya perlahan. Jemariku terhenti pada sebuah unggahan foto keluarga. Di sana, sosok Adrian berdiri tegap dengan senyum tipisnya. Sebuah penanda akun bertengger di atas fotonya.

"Ketemu!" gumamku pelan dengan sedikit perasaan girang yang menyelinap di antara rasa cemas.

Dengan dada berdebar halus, kuklik nama akun Facebook milik Adrian. Foto profilnya menampilkan dirinya yang sedang berpose santai di atas kursi sembari memegang gitar hitam kesayangannya. Kuscroll terus ke bawah menyisir setiap postingannya. Tak ada foto wanita mana pun, tak ada pula status berpacaran yang tertera di sana.

Namun, saat kubuka kolom komentar di salah satu unggahan fotonya, sebuah nama seketika mencuri perhatianku. Sabrina.

‘Gak pernah gak keren,’  tulis akun itu di kolom komentar.

Apakah ini pacar Mas Adrian yang dimaksud Kania? batinku bertanya-tanya.

Didorong rasa penasaran yang kian membakar, kuklik akun milik Sabrina. Begitu berandanya terbuka, keningku berkerut makin dalam. Wajah wanita di foto profil Sabrina sangat berbeda dengan sosok di foto selipan dompet Adrian yang sempat kulihat kala itu. Sabrina terlihat begitu girly dan modis, dengan rambut lurus panjang serta riasan wajah yang dari fotonya saja aku bisa menebak bahwa ia pandai berdandan. Sementara wanita yang kuperhatikan di dompet Adrian berpenampilan amat santai, tanpa polesan make-up berlebih namun memancarkan kecantikan yang alami.

Jadi... siapa wanita yang ada di foto dompet Mas Adrian? Dan apakah benar Sabrina ini pacarnya? tanyaku pada diri sendiri, makin tenggelam dalam teka-teki yang tak kunjung menemukan jawaban.

Aku menyisir satu per satu unggahan di beranda Facebook Sabrina. Mataku terhenti pada beberapa foto yang menampilkan dirinya bersama Adrian, berdiri berdampingan dalam pose yang cukup mesra.

"Ah, benar... ini pacar Mas Adrian," bisikku pada diri sendiri, mencoba menegaskan kenyataan pahit yang kini berada tepat di depan mata.

Keyakinan itu makin dikuatkan oleh sebuah unggahan status singkat dari Sabrina: ‘I miss U, A.’ Tidak salah lagi, inisial ‘A’ itu pastilah Adrian.

Aku menatap layar laptop dengan dada yang kian bergemuruh. Sabrina terlihat begitu serasi bersanding di sisi Adrian. Wanita itu cantik, dewasa, dan seumuran dengannya. Sementara aku? Aku hanyalah budak sekolah yang masih berseragam putih-abu. Aku tak secantik Sabrina, dan penampilanku pun teramat sederhana.

Pikiranku mendadak melayang pada momen-momen yang kuhabiskan bersama Adrian belakangan ini. aku hanya mengenakan pakaian santai dan riasan seadanya, tanpa polesan berarti. Rasa malu yang luar biasa seketika menyergap dadaku, menyadarkanku betapa jauh perbedaanku dengan wanita yang berdiri di sisinya.

1
wlnnn
gemessss deh adrian😍
wlnnn
gemes deh adrian/Drool/
Sunflower Girl
lanjutkan
Fellyc
unchhh😍
Fellyc
semangat yaa
yaya
ngerasa balik lagi ke masa SMA
Ardianto Nugraha
👍
Ana Maria
seruuu
Andari Nasution
semangat
Sri Wulandari
👍👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!