[Bukan Novel Terjemahan] [Original Karya Penulis]
Seorang mahasiswa melakukan penelitian di hutan, saat dia merasuk lebih dalam ke jantung hutan, dia menemukan sebuah lubang hitam besar. Karena rasa penasaran dia mendekat ke arahnya. Namun, siapa sangka dia akan terseret ke dalam.
Seorang gadis yang dianggap terkenal lemah berencana bunuh diri saat tau akan menggantikan kakak tirinya untuk dinikahkan dengan pangeran yang terkenal gila di seluruh kekaisaran.
***
Bagaimana jika mahasiswa itu menggantikan sang gadis untuk menikah? Akankah mereka berdua bekerja sama untuk balas dendam karena kemiripan wajah mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ANWi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 21 : Rencana
Kepulan asap kehijauan yang tadi membubung pekat perlahan-lahan mulai menipis, menyisakan bau belerang yang menyengat di seluruh sudut aula utama. Di atas lantai batu, belasan pembunuh bayaran elite bergeming tanpa daya. Sebagian besar dari mereka tergeletak lemas sambil mencakar-cakar tanah, merintih kesakitan akibat iritasi parah pada saluran pernapasan dan mata yang terpapar reaksi kimia buatan Fang Hua. Tidak ada satu pun dari mereka yang mampu berdiri, apalagi mengangkat pedang.
Wang Yiche melangkah tenang melewati kepulan asap tipis tersebut. Suara gesekan sepatu botnya di atas lantai batu terdengar begitu tajam di tengah kesunyian yang mencekam. Ia berhenti tepat di hadapan sang pemimpin pembunuh yang sedang terbatuk-batuk darah, mencoba merangkak mundur dengan pandangan kabur.
Dengan gerakan tanpa ampun, Wang Yiche menginjak dada pemimpin pembunuh itu menggunakan ujung sepatu botnya, lalu menempelkan bilah pedang tajam tepat di leher pria berpenutup wajah tersebut.
"Katakan siapa yang mengirim kalian," suara bariton Wang Yiche menggelegar dingin, menembus gendang telinga dengan tekanan membunuh yang luar biasa pekat. "Apakah Permaisuri? Atau ada tikus lain dari istana pusat yang berniat menghabisiku?"
Pemimpin pembunuh itu meringis kesakitan, namun ia tertawa kecil di sela-sela batuknya. Darah segar mengalir dari sudut bibirnya. "Kau... kalian tidak akan pernah menang... Permaisuri dan Perdana Menteri sudah merencanakan semuanya... kematianmu di istana barat ini hanya tinggal... argh!"
Belum sempat kalimat itu diselesaikan, Wang Yiche menekan sedikit bilah pedang di lehernya hingga mengeluarkan sedikit darah segar. "Aku tidak butuh jawaban klise tentang kematian. Aku butuh nama siapa saja yang terlibat di balik layar."
Melihat rekan-rekannya yang sudah tidak berdaya dan nyawanya berada di ujung tanduk, mental pemimpin pembunuh itu akhirnya runtuh. Dengan suara gemetar ketakutan, ia menyebutkan sebuah nama. "K-Kami... kami diperintah oleh Kasim Lu... tangan kanan Selir Qin dari Kediaman Jenderal... mereka bekerja sama dengan faksi Permaisuri..."
Mendengar nama Kasim Lu dan Selir Qin disebut secara langsung, manik mata Wang Yiche di balik topeng peraknya menyipit tajam. Ia melirik sekilas ke arah Fang Hua yang berdiri tidak jauh darinya.
Tebakan mereka selama ini sepenuhnya tepat sasaran. Jenderal Luo dan Selir Qin bukan hanya sekadar membuang Luo Huanran dan mengirim Fang Hua ke tempat kematian, melainkan bersekongkol langsung dengan musuh politik terbesar Wang Yiche di istana pusat untuk melenyapkannya secara permanen.
"Bagus," geram Wang Yiche dingin. Ia menarik pedangnya, lalu mengetukkan gagang pedang itu tepat ke pelipis sang pemimpin pembunuh hingga pria itu jatuh pingsan seketika.
Wang Yiche berbalik badan, menatap Fang Hua dengan sorot mata yang menyala penuh tekad baru. "Kasim Lu adalah anjing peliharaan kesayangan Permaisuri yang juga sering menjadi perantara komunikasi rahasia dengan Kediaman Jenderal. Informasi ini membuka lebar jalan kita untuk menyerang balik."
Luo Huanran yang tadinya tegang perlahan menghela napas lega, meskipun sisa-sisa rasa takut masih jelas tergambar di wajahnya. "Jadi... ayahku dan Selir Qin benar-benar berniat membunuh kita lewat tangan orang lain..."
Fang Hua melangkah mendekat, menyatukan kedua tangannya di depan dada sambil tersenyum tipis. Tidak ada rasa terkejut sama sekali di wajahnya. Sejak awal, ia tahu betul bahwa para penjahat berkedok bangsawan tidak akan pernah berhenti sebelum mangsa mereka benar-benar hancur.
"Mereka mengira kita adalah domba yang dikirim ke sarang serigala," ucap Fang Hua tajam. "Sekarang, giliran kita yang mengirimkan serigala itu langsung ke halaman istana mereka."
Wang Yiche mengangkat sebelah alisnya, tertarik dengan nada bicara penuh keyakinan dari gadis di hadapannya. "Apa maksudmu? Kita tidak mungkin mendatangi istana pusat sekarang dengan kekuatan yang hanya segelintir ini."
"Tentu saja kita tidak akan menyerang secara membabi buta," balas Fang Hua. Ia mengambil secarik kertas perkamen kosong dan sebatang arang dari mejanya, lalu mulai menuliskan sebuah rencana rahasia dengan cepat. "Kita gunakan para pembunuh bayaran ini sebagai alat kirim pesan. Kita biarkan salah satu dari mereka sadar, lalu memulangkannya kembali ke istana pusat dengan membawa 'hadiah' istimewa dari Pangeran Kelima."
Wang Yiche memperhatikan gerak-gerik Fang Hua dengan tatapan penuh kekaguman. Di bawah kepemimpinan dan strategi cemerlang gadis modern itu, Istana Barat yang dulunya dikenal sebagai kuburan sunyi kini berubah menjadi markas komando perlawanan yang sangat berbahaya.
***
Happy Reading 🥰
Mohon dukungan untuk Like, Komen, dan Ikuti Penulis yah, terimakasih ❤️