NovelToon NovelToon
Ternodainya Kehormatanku Oleh Mayor

Ternodainya Kehormatanku Oleh Mayor

Status: sedang berlangsung
Genre:One Night Stand / Konflik etika / Kehidupan Tentara / Menikahi tentara
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Putri Sabina

Malam yang mengerikan telah menimpa seorang gadis malang bernama Asri Devantara, kesuciannya di renggut oleh Angga Pratama dalam keadaan mabuk. Sejak malam itu Asri berusaha melarikan diri dari masalah sekaligus traumanya, namun takdir selalu punya cara mempertemukannya kembali dengan pria yang sudah merusak masa depannya. Ini bukan suatu kebetulan melainkan sebuah takdir kejam untuk keduanya, takdir yang ditulis semesta agar memang keduanya bersatu. Apa alasan semesta menyatukan keduanya dengan cara kejam dan waktu yang dipaksakan.
"Saya akan nikahi kamu Asri, meski saya tahu kamu masih trauma akan kejadian malam itu." Mayor Angga Pratama.
"Kasih aku waktu, Mas. Aku masih takut melayanimu." Asri Devantara.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Putri Sabina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 22

Di dalam rumah tepat di ruang tamu, suara teriakan Asri terdengar histeris.

Suara teriakan wanita malang itu, memekakkan telinga perlahan-lahan mulai memudar.

Angga berdiri di depannya, kebingungan untuk menenangkan wanita di depannya ini.

"Aaaaaahhhhh! Pergi!!! Jangan sentuh aku! Pergi!!!" teriak Asri histeris masih dengan menutup kedua telinganya.

Pria itu melihat Asri masih meringkuk gemetar di atas ubin dengan menutup kedua telinganya, Angga menyadari jika kata-kata saja tak pernah cukup untuk menenangkan wanita yang tengah mengalami trauma berat di depannya ini.

"Asri, tolong dengarkan saya dulu," desak Angga.

Namun, Asri masih menjerit sembari menutup kedua telinganya----Angga kebingungan bagaimana dirinya menenangkan Asri.

Tiba-tiba sebuah ide muncul di kepalanya, dirinya memiliki ide untuk menenangkan Asri.

Keputusasaan yang mendalam tanpa pikir panjang, mengenai batasan sosial---Angga langsung menjatuhkan lututnya ke lantai.

Pria itu secara refleks langsung memeluk Asri, melingkarkan kedua lengan kokohnya di sekeliling tubuh mungil Asri.

"Asri! tolong tenang dulu!" teriak Angga sambil mendekap Asri dalam pelukannya.

Asri langsung memukul-mukul Angga, namun lama kelamaan Asri terlena akan pelukan hangat Angga yang di dera rasa panik.

"Tolong tenang...kita bisa bicara baik-baik," pinta Angga memeluk Asri.

Dekapan yang secara tiba-tiba itu, mampu membuat tubuh Asri terdiam.

Tangan Angga mengelus-elus pelan bahu Asri, lalu tangannya membelai lembut rambut Asri----Angga menghirupnya perlahan.

"Wangi banget," ucapnya dalam hati.

Perlahan hawa hangat memancar dari tubuh tegap Angga yang tersalur masuk ke dalam tubuh Asri, seolah mengusir dinginnya lantai ubin dan ketakutan yang selama ini membayanginya.

Rupanya pelukan Angga membuat rasa histeris dalam dada Asri perlahan mereda, tubuhnya yang semula gemetar hebat berangsur melemas dan pasrah di pelukan perwira muda itu.

Kedua tangan Asri juga terkulai lemas tanpa ekspresi di atas pangkuan Angga, tidak lagi menutup telinga atau bahkan mendorong tubuh Angga untuk menjauh.

Asri sudah terlalu lelah, karena energinya akhir-akhir ini sudah terkuras habis oleh teriakan dan rasa histeris trauma yang beberapa menit yang sudah berlalu.

Matanya masih sembab, sementara sisa air mata terus mengalir melewati pipinya, dan kini membasahi kaos polo warna biru milik Angga.

Angga secara sadar merapatkan pelukannya dengan penuh kehati-hatian, tangan kananya nampak merengkuh Asri, sementara tangan kirinya mendekap erat pundak Asri.

Entah mengapa Angga merasa nyaman saat mendekap Asri, seolah dekapan fisik ini menjadi pelipur lara akan ingatan buruknya yang telah diciptakan Angga saat di kamar hotel itu.

"Mbak Asri...makasih udah tenang, saya kesini nggak ada niat jahat kok," bisik Angga dengan suara baritonnya.

Ucapan Angga yang lirih di telinga Asri, tak lagi terdengar seperti suara gaunggan komandan di lapangan tempur.

Selain rasa nyaman yang Asri rasakan, ada rasa tulus yang menjalar di hatinya.

"Saya kesini mau minta maaf sama Mbak Asri...," ucapnya lagi sembari mengeratkan pelukannya.

Keduanya berpelukan dengan saksi ruang tamu, yang di belakang mereka nampak sunyi dan hanya terdengar debaran hati keduanya.

"Apa yang sebenarnya kamu mau dari saya?" tanya Asri dengan bibir bergetar, dan air mata yang terus mengalir.

Tubuh Asri sepenuhnya sudah tenang dalam dekapan Angga, namun hal aneh terjadi----hati Angga tiba-tiba bergetar halus, hal yang tak pernah di rasakannya saat bersama Alina.

Bahkan dulu saat dirinya memohon mengejar cinta Alina, hal ini tak pernah di rasakannya.

Asri merasa nyaman, indra penciumannya tak lagi mencium aroma alkohol----melainkan aroma maskulin.

Angga juga mencium aroma parfum hanasui sakura, meski air mata di pipi Asri sudah mengering.

Rasa hangat dari tubuh ramping milik Asri, seolah mengirimkan gelombang aneh terasa asing ke dalam dadanya.

"Saya mau minta maaf, Mbak. Karena kesalahan saya itu...saya merasa bersalah sangat dalam," ungkap Angga dengan lirih.

Ada rasa yang aneh di batin Asri, entah apa itu---sementara Angga merasa ada rasa yang enggan melepaskan wanita ini dari dekapannya, seakan dirinya mau memeluk Asri selamanya.

Kali ini hasrat, rasa penasaran, sekaligus rasa bersalahnya terbayar---noda bercak darah di selimut kamar hotel itu sudah terbayar hari ini---dengan pelukan.

Asri sendiri juga seolah tak mau melepaskan diri dari dekapan Angga, padahal ini pertama kalinya keduanya bertemu secara langsung----dalam keadaan yang bisa di bilang sulit.

Di tengah rasa hancur dan trauma yang mendalam, Asri mendapati dirinya merasakan sebuah kenyamanan yang sangat hangat dan aman di dalam pelukan Angga—sebuah perasaan yang begitu paradoks, membingungkan, dan sulit untuk dijelaskan dengan kata-kata.

"Ya allah apa ini? perasaan apa yang hamba rasakan...kenapa hamba merasa nyaman di pelukan laki-laki yang sudah mengambil kehormatan hamba," ucap Asri dalam batinnya.

Asri memejamkan matanya yang sembap dengan erat, membiarkan kepalanya tetap bersandar di bahu Angga tanpa ekspresi----membiarkan air matanya terus mengalir membasahi kain polo biru milik perwira itu.

"Maafin saya Mbak, maaf saya nggak tahu semalam dalam keadaan ngga sadar udah melakukan tindakan kurang ajar sama kamu," bisik Angga dengan lirih.

Mendengar itu tubuh dan jiwa Asri tanpa sadar merespon hangat, bukan dengan jeritan dan memori malam terkutuk itu.

Namun, Asri merespon dengan rasa nyaman.

Sebuah rasa nyaman yang sulit di jelaskan, dan pertanyaannya----bagaimana korban pelecehan seksual bisa merasa nyaman terhadap pria yang sudah menodainya.

Asri masih terdiam, masih tak tahu harus apa membalas ucapan Angga---lidahnya mendadak kaku dan tenggorokannya mengering.

"Kalo saya belum bertunangan, mungkin saya akan menikahi kamu...," tuturnya dengan nada lirih.

Deg.

Hati Asri tiba-tiba berdebar, bukan rasa takut---melainkan perasaan debar saat seseorang menyatakan cinta.

"Ya allah apa yang terjadi dengan hati hamba....kenapa hati hamba berdebar...," ucapnya dengan lirih.

Asri masih di dalam dekapan Angga, air matanya sudah mengering----tak mengeluarkan air mata lagi, wajahnya juga tanpa ekspresi.

Mereka berdua terdiam membisu di atas lantai dingin, membiarkan keheningan menyelimuti ruangan ini.

Asri membiarkan dirinya sendiri terhanyut sesaat dalam ilusi kedamaian yang semu, mengabaikan fakta kejam bahwa pria yang mendekapnya erat saat ini adalah orang yang telah merusak masa depannya.

*

*

*

*

*

1
Salmah Salmah
bagus sekali
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!