ZONA DEWASA‼️
Luna seorang mahasiswa yang berkuliah di universitas elite di ibukota menyembunyikan identitasnya yang seorang putri tunggal dari pengusaha yang diambang kebangkrutan, dia pun melarikan diri dari rumahnya karna hendak di jodohkan.
Di kampusnya ia jatuh cinta dengan Adrian Xander Mahasiswa terpopuler di universitas Legacy.
Namun secara tidak sengaja Luna mengalami sebuah peristiwa yang membuatnya terikat dengan Moreno Xander yang juga merupakan saudara tiri Adrian
Apa yang akan terjadi pada kehidupan Luna setelah dia dihadapkan dengan dua Xander bersaudara???
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zaara 26, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33
Adrian mematikan ponselnya, menghela napas panjang seraya menyenderkan punggungnya pada dinding pilar parkiran. Informasi yang baru saja disampaikan oleh orang kepercayaannya melalui telepon benar-benar mengubah peta permainannya.
Menurut laporan tersebut, perusahaan milik Ryan Damaris—ayah Luna—beberapa waktu lalu sempat berada di ambang kebangkrutan akibat timbunan utang yang sangat besar pada holding perusahaan keluarga Adrian. Namun secara mengejutkan, seluruh utang fantastis itu mendadak dilunasi oleh sebuah akun anonim misterius.
Tak berhenti di situ, pada saat yang hampir bersamaan, Ryan Damaris secara sepihak membatalkan rencana perjodohan Luna dengan rekannya, Jatmiko, CEO dari Bintang Group. Sementara itu, kabar mengenai sang ibu menyebutkan bahwa wanita itu kini berada dalam kondisi koma dan sedang menjalani perawatan intensif di salah satu rumah sakit ternama di Singapura.
Adrian memicingkan mata, menyusun kepingan teka-teki itu di dalam kepalanya.
"Jadi itu alasannya..." gumam Adrian pelan dengan senyum tipis yang dingin.
Ia berspekulasi bahwa alasan utama Luna melarikan diri dari rumah tak lain karena menolak perjodohan paksa dengan Jatmiko. Namun, satu hal besar masih mengganjal pikirannya: siapa pihak anonim yang sudah melunasi utang keluarga Damaris??
Mata Adrian perlahan melirik ke arah mobil sport milik Moreno yang masih terparkir tak jauh dari tempatnya berdiri.
Mungkinkah... Moreno ada kaitannya dengan semua ini? pikir Adrian curiga.
Namun, Adrian cepat-cepat menggelengkan kepala, menepis pikiran itu.
"Enggak, enggak mungkin," batinnya skeptis. "Dari mana anak tengil kayak dia punya uang sebanyak itu? Dia hanya suka membuat onar."
Bel berdering nyaring menandakan waktu istirahat tiba. Di koridor kampus yang mulai ramai, Luna merapikan beberapa buku di pelukannya lalu menoleh ke arah sahabatnya, Dita.
"Dit, lo duluan aja ke kantin ya. nanti gue nyusul," ujar Luna. "Gue mau balikin buku ini ke perpustakaan sebentar."
"Oke, jangan lama-lama ya, Lun. Laper nih gue!" balas Dita sebelum melenggang pergi menuju kantin.
Luna pun berbelok arah menuju gedung perpustakaan. Namun, baru beberapa langkah ia menaiki koridor penghubung, tiba-tiba seorang mahasiswa mendadak mencegat jalannya dan menghentikannya.
"Eh, Luna, kan?" tanya mahasiswa itu memastikan.
Luna mengerjap heran. "Iya. Kenapa ya?"
"Lo dipanggil sama Ketua BEM. Disuruh ke ruangannya sekarang," kata mahasiswa itu singkat sebelum berlalu pergi.
Dahi Luna berkerut dalam. Ketua BEM? Bukannya ketuanya Adrian? Kenapa tiba-tiba dia nyariin gue? batin Luna diliputi tanda tanya besar.
Meski ia merasa heran, Luna tetap memutar arah. Langkah kakinya membawanya menuju ruang khusus Ketua BEM yang terletak di sayap utara gedung utama.
Setibanya di depan pintu kayu berukir rapi itu, Luna menarik napas pelan lalu mengetuknya tiga kali.
Tok, tok, tok.
"Masuk," terdengar suara tegas dari dalam.
Luna memutar kenop pintu dan melangkah masuk dengan hati-hati. Di dalam ruangan kerja yang luas dan tertata elegan itu, nampak Adrian sedang duduk bersandar di atas sofa tunggal, jemarinya sibuk mengutak-atik layar tablet di pangkuannya.
Mendengar suara langkah kaki, Adrian mendongak. Sudut bibirnya langsung terangkat membentuk senyuman, meski sorot matanya tampak menyiratkan sesuatu yang sulit ditebak.
"Ah, Luna... lo sudah sudah datang," sapa Adrian ramah. "Duduklah."
Luna menelan ludah, berjalan mendekat dan mendudukkan diri di sofa yang berada tepat di hadapan Adrian. Ia menatap pria itu dengan tatapan waspada.
"Ada perlu apa ya, Kak Adrian, manggil gue ke sini?" tanya Luna langsung pada intinya, berusaha menjaga suaranya tetap tenang.
Adrian meletakkan tablet-nya di atas meja, lalu mengulas senyum tipis.
"Gue mau minta bantuan lo lagi, Lun."
Luna menaikkan sebelah alisnya. "Bantuan apa, Kak?"
Bukannya langsung menjawab, Adrian justru bangkit berdiri. Pria itu berjalan melangkah perlahan mengitari meja kerjanya, lalu mendudukkan diri di pinggiran meja—tepat di hadapan Luna.
Jarak yang mendadak terkikis itu seketika membuat seluruh tubuh Luna menegang kaku.
Tanpa aba-aba, tangan Adrian terulur dan meraih telapak tangan Luna, menggenggamnya hangat.
"Lo ingat, kan, dua hari lagi, itu hari ulang tahun nyokap gue?"
Luna mengerjap, mencoba menarik pelan tangannya meski Adrian menahannya dengan lembut.
"I-iya, gue ingat. Memangnya ada masalah sama acara pestanya, Kak?"
Adrian terkekeh rendah, menggeleng pelan.
"Sama sekali enggak ada masalah sama pestanya. Yang jadi masalah... gue belum punya pasangan buat dampingin gue di sana nanti."
Luna menatap Adrian dengan raut wajah tak percaya.
"Masa iya idola kampus sekelas Kak Adrian enggak ada yang mau jadi pasangannya? Jangan bercanda, Kak."
Adrian kembali tertawa kecil, suara tawanya terdengar tenang namun sarat akan maksud terselubung.
"Seperti kata lo, Lun... yang antre memang banyak. Tapi guenya yang enggak mau sama mereka."
Luna menelan ludah canggung, meremas roknya sendiri.
"Lalu... kenapa Kak Adrian malah ngajak gue?"
Atmosfer di ruangan itu mendadak menghening. Adrian tidak langsung menjawab. Pria itu menatap Luna jauh lebih intens. Tangannya naik, membelai pelan anak rambut yang menjuntai di pipi halus Luna.
Luna makin menegang, merinding oleh sentuhan asing yang terasa sangat berbeda dari cara Moreno menyentuhnya.
"Karena cuma lo..." bisik Adrian rendah dan penuh penekanan, "satu-satunya cewek yang menarik perhatian gue, Luna."
Luna mengerjapkan matanya beberapa kali, berusaha mencerna kalimat yang baru saja keluar dari mulut ketua BEM itu.
Di dalam hatinya, Luna tak menampik kalau ia dulu sempat memuja sosok Adrian yang sempurna.
Namun, makin ke sini ia sadar kalau itu cuma ketertarikan impulsif biasa. Luna tak pernah menyangka apalagi berharap kalau Adrian benar-benar bakal tertarik padanya.
"Gue... cuma perlu nemenin Kak Adrian aja kan di acara itu? Gak ada hal lain?" tanya Luna canggung, mengalihkan pandangan dari tatapan intens Adrian.
"Tentu aja, cuma nemenin gue," jawab Adrian tenang, mengulas senyum manis yang tampak sangat meyakinkan.
Luna mendesah pelan. Mengingat selama ini Adrian selalu bersikap baik dan beberapa kali membantunya, Luna merasa tidak ada salahnya menolong pemuda ini sekali lagi.
Toh cuma datang ke pesta ulang tahun, pikirnya polos tanpa mencium niat terselubung Adrian.
"Oke deh, Kak. Gue mau nemenin Kak Adrian nanti," ucap Luna akhirnya mengangguk menyetujui.
Senyum Adrian makin mengembang lebar.
"Sip. Nanti pas hari H, gue bakal jemput langsung di rumah lo."
Jleg.
Kata "rumah" seketika membuat Luna tersentak kecil, memicu kepanikan halus di dadanya mengingat keberadaannya sekarang yang sama sekali tidak tinggal di rumah orang tuanya.
Luna melangkah keluar dari ruangan BEM dengan wajah keruh dan pikiran berkecamuk. Mau tidak mau, ia harus pulang dan menginap di rumahnya sendiri sebelum hari H acara tersebut, daripada rahasia besarnya terbongkar dan Adrian tahu kalau selama ini ia tinggal di penthouse Moreno.
Luna menghela napas berat. "Siap-siap aja berselisih sama bule tantrum itu nanti", batinnya pasrah membayangkan amukan Moreno jika tahu dirinya minta izin pulang ke rumah.
Sementara itu di tempat lain, Moreno sedang nongkrong santai bersama gengnya di area parkiran kampus. Suara dering nyaring dari dalam saku celananya membuat pria itu merogoh ponselnya.
Begitu melihat nama yang tertera di layar, raut wajah Moreno seketika berubah malas dan datar.
Dimas yang duduk di sebelahnya menaikkan sebelah alis.
"Telepon dari siapa, Ren? Muka lo langsung ditekuk gitu?"
"Bokap gue," jawab Moreno singkat tanpa minat.
Moreno memberi isyarat pada Dimas lalu bangkit berdiri, melangkah agak menjauh dari kebisingan area nongkrong. Ia menggeser tombol hijau di layarnya.
"Ada apa?" sapa Moreno dingin, tanpa basa-basi.
Dari seberang telepon, suara tegas sang ayah terdengar mengingatkan,
"Besok kamu harus pulang ke rumah. Jangan lupa, hari ulang tahun Helena."
Moreno mendengus pelan. Mengingat pesta formal keluarganya yang selalu dipenuhi kepalsuan, Moreno merasa tak bersemangat. Namun karena tak ingin berdebat panjang lebar yang hanya akan membuang energinya, Moreno akhirnya mengalah.
"Iya," jawab Moreno singkat, lalu langsung mematikan sambungan telepon secara sepihak.
Pria itu mendecak kesal, memasukkan kembali ponselnya ke saku seraya bergumam dingin, "Membosankan."
Moreno kembali ke area nongkrong dengan raut wajah yang masih tertekuk. Ia melemparkan tubuhnya ke atas kursi, lalu menyulut sebatang rokok.
Dimas meliriknya penasaran. "Ada apa, Ren?"
"Gue disuruh pulang. Ada acara keluarga," jawab Moreno malas seraya mengembuskan asap rokoknya ke udara.
Dimas yang sudah paham betul bagaimana tidak akurnya hubungan Moreno dengan keluarga besarnya hanya bisa manggut-manggut paham, memilih tak memperpanjang pembahasan sensitif itu.
Tak berapa lama, pandangan Dimas tak sengaja menangkap dua sosok gadis yang berjalan melintasi koridor tak jauh dari area parkiran. Jemari Dimas dengan cepat menyenggol lengan Moreno.
"Ren, lihat deh... tuh ada Luna sama Dita," bisik Dimas seraya mengarahkan dagunya.
"Btw, lo ngerasa gak sih? Si Luna makin hari makin kelihatan menarik."
Moreno refleks mengalihkan pandangannya mengikuti arah tunjuk Dimas. Tatapannya terkunci pada sosok Luna.
Gadis itu tampak sedang tertawa lepas menanggapi celotehan Dita, membuat senyum manis terukir alami di wajah cantiknya di bawah terpaan sinar matahari siang.
Moreno terdiam sejenak. Dada pria itu mendadak berdesir aneh. Tanpa ia sadari, sebuah senyum tipis terbit dari bibirnya seraya bergumam pelan.
"Cantik..."