NovelToon NovelToon
SISTEM OF HER HEART

SISTEM OF HER HEART

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Sistem / Cintapertama
Popularitas:927
Nilai: 5
Nama Author: Khusus Game

Satu sengatan listrik tak membunuh Tera, melainkan menanamkan sistem kecerdasan buatan (AI) di otaknya. Berbekal keajaiban ini, ia menyusup ke Vanguard Corp sebagai asisten eksklusif dan menaklukkan Sakti, CEO tampan yang sedingin es. Namun, mampukah Tera terus menyembunyikan rahasia di kepalanya saat sang miliarder mulai jatuh cinta pada "kecerdasannya"?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Khusus Game, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 5: Analisis Mata Merah

​Bintik-bintik merah berkedip mengelilingi area mata dan pelipis Sakti dalam pandangan rahasiaku, menjadi sinyal jelas atas kecemasan dan kelelahan fisik yang menyiksanya.

​Pria itu duduk kaku di balik meja kerja raksasanya yang terbuat dari kayu eboni hitam. Jemarinya terus mengetuk permukaan meja dengan ritme cepat dan tidak teratur.

​Matanya menatap tajam ke arah tiga lapis layar monitor yang menyala terang di depannya. Deretan grafik saham dan laporan pergerakan aset anak perusahaan terus berputar tanpa henti.

​Dari luar, Sakti terlihat seperti mesin tak kenal lelah. Sosok predator puncak yang menguasai seluruh ekosistem Vanguard Corp tanpa cela sedikit pun.

​Namun, antarmuka hijau di dalam retinaku menyajikan realitas yang jauh berbeda.

​[Memindai Subjek Utama: Sakti.]

​[Tingkat Ketegangan Saraf Tepi: 88% (Kritis).]

​[Gejala Fisik Terdeteksi: Migrain Tensi Tinggi, Spasme Otot Mata, dan Penurunan Kualitas Sirkulasi Darah.]

​Teks holografik itu melayang tepat di sebelah wajah Sakti. Angka persentase ketegangannya perlahan merangkak naik menuju sembilan puluh persen.

​Aku berdiri diam di sudut ruangan, berpura-pura menyusun dokumen fisik ke dalam rak arsip. Sesekali aku melirik ke arahnya.

​Sakti memijat pangkal hidungnya dengan keras. Rahangnya mengatup rapat hingga urat di lehernya menonjol keluar. Ia menahan rasa sakit yang luar biasa di dalam kepalanya tanpa mengucapkan sepatah kata pun.

​Sebagai seorang pemimpin dari ribuan karyawan, pria ini menolak menunjukkan kelemahan.

​[Peringatan Sistem: Penurunan Fokus Subjek Akan Terjadi Dalam Waktu 15 Menit. Risiko Kesalahan Pengambilan Keputusan: Sangat Tinggi.]

​Aku menghentikan pergerakan tanganku di rak arsip. Masa depanku, dan nyawa Ibuku, kini bergantung pada kelancaran operasional perusahaan ini. Aku tidak bisa membiarkan sumber penghasilan utamaku tumbang karena kelelahan kronis.

​Tampilan hijau di mataku langsung merespons keinginanku. Baris-baris kode baru bermunculan, menyusun sebuah protokol intervensi fisik.

​[Rekomendasi Tindakan: Turunkan intensitas cahaya ruangan sebesar 40%. Ubah suhu pendingin udara menjadi 24 derajat celcius. Sajikan minuman relaksasi otot dengan suhu penyajian presisi 65 derajat celcius.]

​Aku menutup pintu rak arsip dengan gerakan pelan. Tanpa meminta izin, aku melangkah keluar dari ruang kerja CEO dan menuju area koridor luar.

​❖ ── ✦ ── 『✙』 ── ✦ ── ❖

​Ruang penyimpanan khusus eksekutif di lantai lima puluh lima ini memiliki fasilitas setara hotel berbintang.

​Seorang wanita paruh baya berseragam rapi sedang membersihkan cangkir kristal saat aku melangkah masuk. Ia menunduk hormat melihat kedatanganku. Ia tahu aku adalah asisten baru yang baru saja mempermalukan Silamoy beberapa jam lalu.

​"Ada yang bisa saya bantu, Nona Tera? Bapak Sakti membutuhkan sesuatu?" tanyanya sopan.

​"Biar saya yang menyiapkannya," jawabku lugas, mengambil alih posisinya di depan meja penyeduhan.

​Aku membuka lemari kaca berlapis emas dan memindai deretan kotak minuman. Antarmuka sistemku langsung memberikan sorotan cahaya hijau pada satu kotak spesifik di sudut paling bawah.

​[Pilihan Optimal: Teh Chamomile Ekstrak Murni. Kandungan Apigenin Tinggi Mampu Menurunkan Reseptor Stres di Otak.]

​Aku mengambil kotak itu dan mulai menyeduhnya. Sistem memandu setiap pergerakan tanganku. Takaran air, durasi perendaman daun teh, hingga pengukuran suhu air panas, semuanya kulakukan dengan presisi mesin.

​Wanita pelayan di sebelahku hanya bisa menatap dengan mata melebar. Ia tidak pernah melihat seseorang menyeduh minuman dengan tatapan sekosong dan sefokus itu.

​"Ini sudah cukup," ucapku seraya meletakkan cangkir porselen putih ke atas nampan perak kecil.

​Aku melangkah keluar dari ruangan itu dengan langkah pasti, membawa nampan perak tersebut kembali ke pusat kekuasaan Sakti.

​❖ ── ✦ ── 『✙』 ── ✦ ── ❖

​Pintu ganda ruang kerja Sakti tidak tertutup rapat. Aku mendorongnya masuk secara perlahan agar tidak menimbulkan suara bising.

​Sakti masih berada di posisi yang sama. Kini, ia menopang kepalanya dengan sebelah tangan. Matanya setengah terpejam menghadapi silau layar monitor yang terlampau terang.

​Alih-alih langsung menghampiri mejanya, aku melangkah menuju panel kontrol ruangan yang menempel di dinding dekat pintu masuk.

​Jemariku menari di atas layar sentuh panel tersebut.

​Aku menurunkan tirai otomatis untuk menghalangi silau matahari sore dari dinding kaca. Aku mematikan lampu neon utama di langit-langit, menyisakan lampu pilar berwarna kuning keemasan yang jauh lebih lembut. Suhu ruangan kunaikkan beberapa derajat agar udara dingin tidak menusuk tulang.

​Perubahan suasana ruangan yang drastis itu langsung menyentak kesadaran Sakti.

​Pria itu membuka matanya lebar-lebar. Tubuhnya tegak seketika. Kacamata peraknya memantulkan kilat kemarahan akibat interupsi yang tidak ia minta.

​"Apa yang kamu lakukan?" Suara Sakti menggema berat, memotong keheningan. "Saya tidak pernah menyuruhmu menyentuh panel kontrol ruangan saya."

​Aku tidak menjawab. Aku berjalan mendekatinya dengan langkah tenang, meletakkan nampan perak itu tepat di sisi kanan mejanya yang kosong.

​"Cahaya putih berkekuatan tinggi dari lampu utama memperburuk spasme otot mata Anda, Pak," balasku dengan nada suara netral dan lugas.

​Sakti menatapku tajam. Alis tebalnya berkerut dalam. Ia tidak terbiasa dibantah, apalagi oleh bawahan yang baru bekerja di hari pertama.

​Aku mengambil cangkir porselen itu dan menyodorkannya sedikit lebih dekat ke arah tangannya.

​"Saya menyeduhkan ini untuk Anda. Suhu airnya tepat enam puluh lima derajat celcius. Ini akan melancarkan sirkulasi darah Anda dalam waktu kurang dari sepuluh menit," lanjutku tanpa keraguan sedikit pun.

​Sakti menatap cangkir itu, lalu kembali menatap wajahku. Kilat kemarahan di matanya perlahan berubah menjadi keterkejutan yang sangat ia tutupi.

​[Pemindaian Mikro Ekspresi Subjek: Lonjakan Kewaspadaan. Subjek Mengenali Minuman Tersebut.]

​Tentu saja ia mengenalinya. Sistem A.U.R.A melacak rekam medis rahasia perusahaan dan menemukan bahwa racikan ini adalah resep khusus dari dokter saraf pribadi keluarganya. Resep yang tidak pernah diketahui oleh satu pun karyawan di gedung ini, termasuk Luis.

​Sakti meraih gagang cangkir itu perlahan. Ia tidak langsung meminumnya. Ia menatap cairan keemasan di dalamnya dengan penuh curiga.

​"Siapa yang memberitahumu tentang rutinitasku ini?" selidik Sakti dingin. Matanya menyipit, mencari kebohongan di wajahku. "Luis yang memberimu instruksi?"

​Aku membalas tatapannya dengan berani. "Tidak ada yang memberi saya instruksi apa pun. Luis bahkan tidak ada di tempatnya sejak setengah jam yang lalu."

​"Lalu dari mana kamu tahu?" desak Sakti lebih keras. Ia meletakkan kembali cangkir itu ke atas piringan kecilnya.

​"Saya hanya mengamati, Pak."

​Aku menunjuk pelipisku sendiri dengan jari telunjuk.

​"Ketukan jari Anda di atas meja tidak stabil. Anda memijat pangkal hidung sebanyak tujuh kali dalam sepuluh menit terakhir. Postur tubuh Anda condong ke depan untuk memaksakan fokus penglihatan."

​Aku menjabarkan seluruh hasil analisis sistem seolah itu adalah observasi mataku sendiri.

​"Anda mengalami migrain akibat kelelahan. Sebagai asisten Anda, tugas saya bukan hanya merapikan kertas. Tugas utama saya adalah memastikan otak Anda tetap berfungsi secara maksimal untuk memimpin perusahaan ini."

​❖ ── ✦ ── 『✙』 ── ✦ ── ❖

​Ruangan itu kembali diselimuti keheningan yang panjang.

​Hanya terdengar dengungan pelan dari mesin pendingin udara dan detak jarum jam dinding.

​Sakti terhenyak. Mulutnya terkatup rapat. Pria yang terbiasa memegang kendali atas segalanya ini, kini tampak kehilangan kata-kata di hadapan analisis mentahku.

​Ia menatapku seolah aku adalah sebuah teka-teki paling rumit yang pernah ia temui sepanjang hidupnya. Kepekaanku seolah mampu menguliti isi kepalanya, membaca penderitaan fisiknya yang selalu ia sembunyikan di balik topeng ketangguhan seorang CEO.

​Perlahan, Sakti mengangkat cangkir porselen itu dan meminum isinya.

​Ia memejamkan mata sesaat. Urat-urat tegang di rahang dan pelipisnya mulai mengendur. Ramuan itu bekerja persis seperti kalkulasi sistem.

​Tampilan holografik di mataku kembali berkedip.

​[Analisis Emosi Subjek Sakti: Penurunan Tingkat Stres Sebesar 30%. Relaksasi Saraf Tercapai.]

​Bintik-bintik merah menyala yang sejak tadi mengelilingi area matanya perlahan memudar, berubah menjadi warna kuning pudar yang aman.

​Aku berhasil meredakan bom waktu di dalam kepala pria ini.

​Sakti meletakkan cangkirnya yang kini kosong setengah. Ia menatap lurus ke arahku. Tidak ada lagi kilat kemarahan di sana, melainkan sesuatu yang jauh lebih intens. Sesuatu yang berbahaya.

​"Kamu menyadari bahwa kepekaan berlebihan bisa menjadi ancaman di gedung ini, Tera?" ucap Sakti pelan. Suara baritonnya kini terdengar sedikit lebih serak.

​"Saya lebih suka menyebutnya sebagai efisiensi kerja," balasku cepat.

​Aku menundukkan kepalaku sedikit, memberikan gestur penghormatan formal sebelum mengakhiri percakapan ini. Terlalu lama berinteraksi dengannya dalam jarak sedekat ini membuat jantungku berdetak dalam ritme yang tidak nyaman.

​"Jika tidak ada lagi yang Anda butuhkan, saya akan kembali ke meja saya untuk memilah sisa dokumen evaluasi proyek," ucapku profesional.

​Aku melangkah mundur, memutar tubuhku untuk berjalan menuju pintu ganda yang terbuka.

​Sakti mendadak mencekal pergelangan tanganku saat aku hendak berbalik, menatap mataku dengan tatapan penuh rasa ingin tahu yang pekat.

1
Lilik Sunaryo
TERA OH TERA
TERA itu ......

T = Tidak semudah membalikkan telapak
tangan
E = Emang aku harus bekerja keras
R = Retasan perusahaan sudah aman
A = Apakah Ajkaro akan memecatku Sakti?
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!