NovelToon NovelToon
Beda Dua Puluh Tahun, Om Bramantyo Memujaku Seorang

Beda Dua Puluh Tahun, Om Bramantyo Memujaku Seorang

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Terlarang / Beda Usia
Popularitas:414
Nilai: 5
Nama Author: Luna Widy

Malam itu, dengan kaki telanjang menembus jalanan Jakarta, Sekar nekat menghentikan sebuah mobil mewah… dan takdirnya berubah selamanya.

**Bramantyo Adiwangsa.** Empat puluh tahun, konglomerat paling disegani di ibu kota. Pria yang dingin pada dunia—tapi memungut gadis malang itu, memberinya rumah, nama, dan perlindungan yang tak pernah ia punya. Bertahun-tahun Om Bram menjaganya seperti harta paling rapuh miliknya.

Sampai gadis kecil itu tumbuh menjadi wanita. Dan berani mengucap kalimat yang mengubah segalanya:

*"Om… aku mencintaimu."*

*"Ini salah,"* tolaknya dingin. *"Om dua puluh tahun lebih tua darimu."*

Tapi bagaimana kalau pria yang paling keras menolaknya… justru pria yang paling tak sanggup melepaskannya?

Di antara gunjingan tetangga, penghinaan karena ia "cuma gadis pungut", mantan yang kembali dari 'kematian' untuk membalas dendam, dan satu kecelakaan yang merenggut sesuatu dari tubuh Om Bram selamanya—cinta mereka harus melewati badai yang tak pernah mereka bayangkan.

Dulu, Om yang menyelamatkannya. Kini, giliran Sekar yang bersumpah menyembuhkan pria itu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Luna Widy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 7

Bab 7

Bukan Seperti yang Kalian Kira

POV Bram

Sekar menatap tanganku cukup lama hingga aku mengira dia akan menolak.

Kemudian jemarinya bergerak. Dingin, gemetar, dan sangat ringan ketika akhirnya menyentuh telapak tanganku.

Aku menggenggam secukupnya lalu membantunya berdiri. Lututnya terluka. Seragamnya lembap oleh angin kanal, dan bibirnya pucat.

“Bisa berjalan?”

Dia mengangguk, tetapi langkah pertamanya goyah.

Aku melepaskan jas dan menyampirkannya ke bahunya. Tidak ada gunanya bertanya mengapa dia lari. Aku sudah tahu jawabannya. Anak ini masih percaya bahwa satu kesalahan cukup untuk membuat semua orang meninggalkannya.

Deni berjalan di belakang kami sambil menelepon sekolah. “Reno sudah dibawa ke rumah sakit, Pak. Dugaan sementara tulang hidung retak dan memar di rusuk. Pihak sekolah minta kita datang malam ini.”

“Katakan besok pagi.”

“Baik, Pak.”

Sekar berhenti. “Aku harus ke polisi?”

“Belum ada laporan polisi.”

“Kalau mereka melapor?”

“Kita hadapi.”

“Om marah?”

Aku melihat wajahnya. Ada goresan tipis di pipi, mungkin terkena kuku saat guru menariknya dari perkelahian.

“Saya marah karena kamu lari tanpa memberi tahu siapa pun.”

Kepalanya langsung tertunduk. “Maaf.”

“Saya belum selesai.”

Dia menegang.

“Saya juga marah kepada orang-orang yang membiarkanmu dihina selama berminggu-minggu sampai kamu merasa satu-satunya jalan adalah memukul.”

Sekar mengangkat wajah perlahan.

Aku membuka pintu belakang mobil untuknya. “Masuk. Kita pulang.”

Sepanjang perjalanan, dia duduk meringkuk di bawah jasku. Lampu jalan bergerak di wajahnya. Beberapa kali aku melihat matanya terpejam, tetapi terbuka lagi setiap mobil berhenti.

Deni mengirimkan tangkapan layar yang diperolehnya dari salah satu murid. Aku membaca kalimat Reno satu per satu.

`Simpanan om-om kaya.`

`Tinggal serumah. Tahu sendiri buat apa.`

Lalu kalimat yang diucapkan di kantin, sebagaimana direkam ponsel salah satu saksi.

`Pelacur kecil om tua.`

Rasa mual naik ke tenggorokanku.

Aku cukup tua untuk menjadi ayahnya. Saat Sekar berdiri di tengah jalan malam itu, yang kulihat hanyalah seorang anak terluka yang membutuhkan pertolongan. Pikiran macam apa yang membuat orang dewasa mendengar itu lalu memilih mempercayai tuduhan kotor?

Aku mengencangkan tangan pada kemudi.

“Om?”

“Ya?”

“Reno bilang aku harusnya ikut mati bersama Ayah dan Ibu.”

Aku menatap jalan di depan. Kalau menjawab saat itu, kemarahanku mungkin terdengar seperti ancaman.

“Dia salah,” kataku setelah napasku teratur. “Kamu berhak hidup.”

Sekar memalingkan wajah ke jendela. Bahunya bergerak sekali. Dia tidak menangis keras.

Aku mengenali cara itu.

Ketika orang tuaku meninggal, aku juga belajar menangis tanpa suara. Tidak ada rumah besar, pegawai, atau nama keluarga yang langsung menyelamatkanku. Semua itu kubangun setelah kehilangan tidak lagi bisa diperbaiki. Aku selalu mengira bertahan sendirian membuat seseorang kuat.

Malam-malam setelah pemakaman, aku sering duduk di lantai dapur karena kamar mereka terlalu sunyi. Kerabat datang membawa nasihat, lalu pulang ke rumah masing-masing. Tak seorang pun bertanya apakah aku bisa tidur. Aku tumbuh dengan keyakinan bahwa kebutuhan yang tidak diucapkan tidak akan merepotkan siapa pun.

Sekar melakukan hal yang sama. Dia menyembunyikan surat skors, menghapus pesan yang hendak dikirim, lalu berlari ke kanal ketika ketakutannya terlalu besar. Bedanya, sekarang ada orang dewasa yang seharusnya menyadari pola itu lebih cepat.

Orang dewasa itu adalah aku.

Sekarang aku melihat akibat dari keyakinan itu pada anak di kursi belakang.

Sekar tidak membutuhkan orang yang hanya membayar tagihan, membelikan seragam, lalu menunggu masalah selesai dengan sendirinya. Selama ini aku menjaga jarak karena tidak ingin dia merasa hidupnya dikendalikan lagi. Namun diamku justru meninggalkannya sendirian di tengah serangan.

Perlindungan yang tidak terlihat tidak cukup bagi anak yang dihina di depan banyak orang.

Besok aku harus berdiri di tempat yang sama tempat dia dipermalukan. Bukan untuk membeli kemenangan, melainkan memastikan bukti yang selama ini diabaikan akhirnya dilihat.

Dan kali ini, Sekar tidak akan berdiri sendirian.

Saat tiba di Puri Cendana, Mbok Nah sudah menunggu di teras.

“Ya Allah, Non Sekar.” Dia segera mengambil kotak obat. “Masuk dulu. Bajunya basah.”

Sekar ragu di samping mobil. “Om, kalau pengadilan tahu aku memukul orang...”

“Besok kita cari tahu seluruh akibatnya.”

“Om tidak akan membatalkan anak angkat?”

Pertanyaan itu menghantam lebih keras daripada laporan Deni.

Aku membungkuk sedikit agar dia tidak perlu mendongak terlalu jauh. “Dengar baik-baik. Kesalahanmu harus dipertanggungjawabkan, tetapi itu tidak menghapus tempatmu di rumah ini.”

“Benar?”

“Benar.”

Mbok Nah merangkul bahunya. “Ayo, Non. Air hangat sudah siap.”

Sekar berjalan masuk bersama Mbok Nah. Di ambang pintu dia menoleh sekali, memastikan aku masih berdiri di tempat yang sama.

Aku menunggu sampai pintu kamarnya tertutup.

“Pak Bram,” kata Deni pelan. “Rumah sakit memastikan Reno tidak dalam kondisi kritis. Tapi pihak keluarganya menuntut Sekar dikeluarkan.”

“Pihak keluarga yang mana?”

“Bu Win masih buron. Reno ditemani salah satu kerabat jauh. Mereka sedang mempertimbangkan laporan.”

“Biarkan Fikri menghubungi mereka. Tawarkan biaya medis yang wajar tanpa mengakui seluruh kesalahan sebelum investigasi.”

Deni mencatat. “Sekolah bilang perkelahian itu bukti Sekar membawa pengaruh buruk.”

“Mereka punya rekaman penghinaan selama berminggu-minggu dan memilih mengabaikannya.”

“Bu Ratna mengaku tidak pernah menerima laporan.”

“Sekar melapor dua kali.”

Deni menghela napas. “Berarti mereka akan saling melempar tanggung jawab.”

“Tidak besok.”

Aku masuk ke ruang kerja. Di meja, surat skors Sekar masih tersimpan di dalam map. Aku membuka kembali berkas pemeriksaan rumah sakit dari Bab awal kasus Bang Jagur, membaca keterangan tentang kurang gizi, luka baru, dan bekas luka lama.

Orang-orang di sekolah itu melihat seorang anak datang dengan mobil mahal. Mereka tidak melihat lima tahun yang membuatnya terbiasa menyimpan kerupuk untuk besok.

Ponselku bergetar. Sebuah pesan dari nomor kepala sekolah meminta pertemuan tertutup agar masalah tidak membesar.

Terlambat.

Masalah ini sudah besar sejak seorang guru menghukum korban demi menjaga nama sekolah.

Mbok Nah mengetuk pintu. “Den Bram, Non Sekar sudah makan sedikit. Sekarang tidur.”

“Lututnya?”

“Cuma lecet. Tapi badannya masih gemetar.”

“Tolong temani sampai dia benar-benar tidur.”

“Nggih, Den.”

Setelah Mbok Nah pergi, aku menelepon Fikri.

Dia menjawab pada dering pertama. “Ya, Pak Bram?”

“Besok pagi, siapkan semua data. Laporan kesehatan Sekar, laporan polisi soal Bang Jagur, tangkapan layar, rekaman kantin, dan saksi yang bersedia bicara.”

“Bapak akan mengirim surat keberatan?”

Aku menatap foto gedung SMA Tunas Bangsa di layar laptop. Lima tahun lalu, yayasan perusahaan kami membiayai perluasan gedung itu agar anak-anak punya tempat belajar yang aman.

“Tidak.”

Aku menutup map di meja.

“Aku sendiri yang akan menemui kepala sekolah itu.”

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!