[ Fantasi Barat+ Misteri+ Sistem+ Ksatria+ Penyihir+ Abad Pertengahan ]
Agus yang terlibat pinjol akhirnya mati karena kecelakaan, jiwanya terseret ke dalam dunia lain dan menjadi Simon Blake di dunia pedang dan sihir, Simon bangkit dari budak bandit hingga menjadi penyihir terkuat, dengan sistem kemahirannya ia akan mencapai puncak!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arya Walker, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rekan Yang Tsundere?
Simon melangkah menyusuri lorong batu barak Baron Brent yang dingin dan lembap. Dindingnya tertutup lumut hijau tua, memancarkan aura sejarah militer yang panjang.
Tak lama kemudian, seorang pria berambut cokelat dengan postur tegap menghampirinya.
"Halo, apakah kau yang bernama Simon?" tanya pria itu dengan nada ramah.
"Iya, ini aku," jawab Simon singkat sembari menatap pria itu dengan tenang.
"Bagus, aku tidak salah orang. Perkenalkan, namaku Tomi," pria itu mengulurkan tangan kepada simon yang segera disambut oleh Simon.
"Aku diperintahkan oleh Kapten Jon untuk memandumu di barak ini. Sebagai rekrutan khusus dengan potensi ksatria, fasilitasmu jelas berbeda dengan infanteri biasa yang ada disini, mari ikuti aku."
Sembari berjalan, Tomi menunjukkan dua area yang kontras. Di satu sisi, terlihat barak prajurit biasa yang sesak dan berbau apek, di mana simon melihat para pria hanya memakan sepotong roti hitam dan sup encer.
Di sisi lain, terdapat lorong menuju area yang lebih bersih dan eksklusif.
"Ini untuk prajurit biasa, dan di depan sana adalah mess untuk Calon Ksatria," Tomi menjelaskan. "Sesuai namanya, prajurit biasa hanyalah manusia fana, sedangkan Calon Ksatria adalah mereka yang telah mempraktikkan teknik pernapasan untuk melampaui batas fisik manusia normal."
Simon menyipitkan matanya, merasa penasaran. "Bagaimana seorang prajurit biasa ini bisa dipromosikan menjadi ksatria di sini?"
Tomi menghela napas panjang, wajahnya menunjukkan realitas pahit dunia ini.
"Tentu saja mereka membutuhkan teknik pernapasan. Namun, teknik tersebut dimonopoli sepenuhnya oleh kaum bangsawan dan Gereja Suci."
"Hal itu hanya bisa diberikan jika seseorang memberikan kontribusi besar yang luar biasa bagi wilayah ini, dan Baron sendiri yang akan menganugerahkannya sebagai hadiah. Selain itu, hampir tidak ada cara lain bagi rakyat jelata untuk naik kelas."
Mendengar itu, Simon merenung dalam diam. Di dunia yang diskriminatif ini, mobilitas sosial hampir mustahil tercapai tanpa kekuatan.
Ia merasa beruntung telah berhasil merampas Pernafasan Ular Hitam dari markas bandit saat itu.
Walaupun teknik itu mungkin berkualitas rendah di mata bangsawan tinggi, bagaimanapun juga, itulah kunci pertamanya untuk merobek takdir sebagai budak.
Segera Tomi membawa Simon masuk ke sebuah ruangan khusus. Ruangannya terlihat jauh lebih rapi dengan lantai batu yang disapu bersih. Di sana, tiga pemuda yang tampak berusia sekitar 16 hingga 18 tahun sedang beristirahat.
"Baiklah semuanya, berhenti berlatih sejenak! Kita kedatangan rekan baru, namanya Simon," ujar Tomi memperkenalkan.
Simon mengangguk tipis. "Halo semuanya, saya Simon Blake, berasal dari wilayah Utara. Salam kenal."
"Haa? Seorang rakyat jelata yang beruntung mendapatkan teknik pernapasan?" Seorang pemuda dengan rambut model mohawk bernama Jack Dawn berdiri dengan tatapan meremehkan.
"Aku berani bertaruh teknik itu didapatkan dari hasil mencuri."
"Hentikan, Jack! Simon adalah saudara seperjuangan kita sekarang, mengapa kau berkata sekasar itu?" tegur pemuda bertubuh agak gemuk, Gogo Stone, dengan nada khawatir.
"Ha! Aku tidak sudi menganggap gelandangan ini sebagai saudaraku," balas Jack sinis.
Sementara itu, pemuda ketiga bernama Shade Flet hanya diam di sudut dan memberikan anggukan kecil yang dingin kepada Simon.
Pandangan Simon yang dingin kini beralih sepenuhnya ke arah Jack. "Aku bukanlah gelandangan. Aku berasal dari keluarga ksatria, namun seperti yang kau tahu, wilayah Utara telah jatuh ke tangan kaum barbar dan keluargaku hancur, meninggalkan aku sendiri."
Mendengar latar belakang "keluarga jatuh" tersebut, suasana menjadi hening sejenak. Namun, Jack tetap menunjukkan wajah tidak percaya.
"Jika kau memang berasal dari keluarga ksatria, bertarunglah denganku! Melalui tinju, aku bisa tahu apakah kau bicara jujur atau hanya membual."
"Hentikan Jack!" Tomi menyela dengan tegas.
"Simon dipilih langsung oleh Kapten Jon. Apakah kau meragukan keputusan Kapten?"
"Kakak senior Tomi, aku tidak meragukan Kapten Jon, aku hanya ingin melihat sendiri kekuatan bocah ini," balas Jack keras kepala.
"Tetap saja—"
"Oke," Simon memotong perkataan Tomi. "Aku menerima tantanganmu, tapi aku punya persyaratan di sini."
Jack menyeringai lebar, merasa umpannya dimakan. "Oke, apa persyaratanmu?"
"5 koin emas," ujar Simon tenang. "Jika aku mengalahkanmu, 5 koin emas itu akan menjadi milikku." Dia akan selalu membutuhkan modal untuk membeli ramuan ksatria di masa depan.
"Hoo? Hanya 5 koin emas? Itu saja?" Jack tertawa meremehkan.
Melihat ini Simon terheran. 'Sial, apakah aku meminta terlalu sedikit? Tahu begitu aku minta 10 koin emas! Nampaknya orang ini cukup kaya.'
"Baiklah, aku terima!" Kata Jack.
"Tapi jika kau kalah, apa yang mau kau pertaruhkan? Jubah dekilmu itu? Heh... Jika kau kalah, kau harus menjadi anjingku selama 5 bulan. Bagaimana?"
"Hahaha! Memang pantas menjadi anjing tuan ini! Apakah kamu setuju!" seru Jack dengan kejam.
Simon menatap Jack lalu berkata " baiklah aku setuju."
"Baguss! Anak pintar" kata jack
Tomi mencoba menahan mereka sekali lagi, namun Gogo menepuk bahunya.
"Biarlah ini terjadi, Senior. Bagaimanapun, pria ksatria berbicara dengan tinjunya." Tomi akhirnya hanya bisa menyerah dan bersiap mengawasi pertempuran tersebut.
Simon dan Jack berdiri berjauhan di tengah ruangan. Simon dengan tenang melepaskan pedangnya dan melemparkannya ke samping. Melihat hal itu, Jack meledak dalam amarah.
"Brengsek! Kenapa tidak pakai senjatamu? Kau meremehkanku?!"
Simon menggelengkan kepalanya pelan, wajah tampannya tetap datar tak berekspresi.
"Tidak perlu menggunakan senjata, Tangan kosong sudah cukup."
"Baiklah! Kau akan menyesalinya, Simon!" Jack menerjang maju dengan tebasan pedang yang cepat.
"Belum tentu benar Jack!" Teriak Simon.
Bagi Simon yang telah melatih Pernafasan Ular Hitam hingga mencapai tingkat Ksatria Magang Tingkat 1, gerakan Jack terasa lambat.
Dengan kelenturan bagai ular, Simon meliukkan tubuhnya menghindari tebasan maut tersebut.
Sshhh...
Dalam satu gerakan halus, Simon melayangkan tendangan tepat ke arah pergelangan tangan Jack yang memegang pedang.
Krak!
Pedang Jack terpental jauh ke atas. Jack terbelalak kaget.
"Apa?!"
Belum sempat ia memulihkan keseimbangannya, Simon menyapu kaki Jack dengan tendangan rendah yang membuatnya jatuh tersungkur di lantai batu. Dengan kecepatan luar biasa, Simon menyambar pedang Jack yang melayang di udara dan menancapkannya tepat di samping telinga pemuda itu.
Bilah pedang yang dingin bergetar hanya beberapa milimeter dari kulit Jack. Simon menunduk, menatap Jack dengan sepasang mata merah yang memancarkan aura predator yang mematikan.
"Apakah aku memang... hanya seorang gelandangan di matamu, Jack?" desis Simon dingin.
Bilah pedang yang tertancap di dekat telinga Jack masih bergetar halus. Jack menatap sepasang mata merah yang seakan menyala hingga menghipnotis jack.
Simon Blake dengan kengeriannya sebelum akhirnya mengembuskan napas panjang, melepaskan ketegangan yang sempat mencekik lehernya.
"Baiklah... kau menang, aku kalah," gumam Jack dengan nada yang jauh lebih rendah dari sebelumnya.
"Lima koin emas akan segera kukirimkan padamu. Aku memegang janjiku"
Simon terkejut melihat sikap Jack. Sebagai seseorang dengan jiwa Agus dari abad ke-21 yang terbiasa dengan drama dan orang-orang yang licik, ia mengira Jack akan mengamuk atau menuntut tanding ulang karena harga dirinya terluka.
'Ini sama sekali tidak tertulis dalam skripnya, bro!' batin Simon heran.
Namun, ia tetap mempertahankan wajah dinginnya dan segera mengulurkan tangan untuk membantu Jack berdiri.
Tomi, Gogo Stone, dan Shade Flet segera menghampiri mereka. Suasana canggung di mess elit tersebut perlahan mencair.
"Ternyata kau benar-benar kuat, Simon! Gerakanmu tadi... seperti ular yang mustahil ditangkap," puji Gogo Stone sembari menepuk-nepuk perut buncitnya dengan takjub.
"Simon," Jack bertanya sambil merapikan pakaiannya yang berdebu, "apakah kau sudah mencapai tingkat ksatria magang yang lebih tinggi? Pukulan dan reflekmu tadi tidak masuk akal"
"Belum. Aku masih Ksatria Magang Tingkat 1," jawab Simon dengan datar.
"Masih jauh untuk mencapai tingkat kedua"
Mendengar hal itu, Jack mendesah menyesal.
"Astaga... padahal kita berada di tingkat yang sama, tapi mengapa kau jauh lebih kuat dariku? Aku sudah melatih teknik pernapasanku sejak kecil di bawah instruktur pribadi".
"Entahlah," Simon menanggapi dengan realistis.
"Mungkin karena pengalaman tempurku jauh lebih banyak ketimbang kamu. Di tempat asalku, jika kau tidak membunuh, kau yang akan dibunuh".
Shade Flet, yang sedari tadi diam, akhirnya membuka suara dengan nada dingin namun penuh rasa hormat. "Pengalaman di medan perang nyata memang berbeda dengan latihan di halaman kastil yang nyaman."
Percakapan pun berlanjut. Dari diskusi panjang tersebut, Simon mulai memahami dinamika sosial di barak elit ini.
Ternyata, mayoritas calon ksatria di sini adalah putra kedua atau ketiga dari keluarga bangsawan.
Di dunia yang menyerupai abad pertengahan ini, hukum primogenitur berlaku sangat ketat: warisan wilayah dan gelar hanya boleh dimiliki oleh putra sulung.
"Kami ini hanya cadangan," curhat Gogo dengan tawa pahit.
"Putra sulung akan menjadi penguasa, sedangkan kami dikirim ke sini agar tidak membebani anggaran keluarga atau menjadi ksatria pengiring bagi bangsawan lain. Jika beruntung, kami bisa mendapatkan wilayah sendiri melalui prestasi militer di bawah Baron Brent"
"Atau dinikahkan untuk memperkuat aliansi politik," tambah Jack sembari menyarungkan pedangnya kembali.
Simon merenungkan informasi tersebut. Baginya, dunia ini benar-benar tidak adil, namun itulah realitas yang harus ia injak untuk naik ke puncak.
Setelah perbincangan selesai, Simon diantar oleh Tomi menuju kamar pribadinya.
Malam harinya, cahaya bulan putih yang indah menyelinap masuk melalui jendela kamar Simon yang sempit.
Meskipun lelah, Simon tidak langsung tidur. Sesuai dengan prinsip hidupnya yang berorientasi pada Sistem Kemahiran, ia segera duduk bersila dan mengatur ritme pernapasannya.
Sshhh...
Simon mulai mempraktikkan dua belas pola gerakan Pernafasan Ular Hitam secara konsisten.
Otot-ototnya yang tadi digunakan bertarung kini berdenyut selaras di bawah kulitnya.
[ Pernafasan Ular Hitam +1 ]
[ Pernafasan Ular Hitam +2 ]
Ia merasa alur ritmenya menjadi jauh lebih mahir dan luwes dibandingkan beberapa hari lalu.
Namun, Simon menyadari sesuatu: tanpa asupan nutrisi khusus seperti Ramuan Ksatria, peningkatan poinnya terasa sangat lambat dan melelahkan.
"Ugh... latihan gila-gilaan ini benar-benar memeras tenaga," gumam Simon dengan keringat yang membanjiri tubuhnya.
Ia terus memaksa tubuhnya hingga mencapai batas limit fisik remajanya.
[ Pernafasan Ular Hitam +1 ]
Simon membuka matanya yang merah, merasa benar-benar terkuras. Ia memanggil panel sistemnya untuk terakhir kali malam itu:
Nama: Simon Blake
Usia: 16 tahun
Pekerjaan: Ksatria Magang Tingkat 1
Keterampilan: Pernafasan Ular Hitam (Dasar): 167/200.
"Tinggal sedikit lagi menuju ambang batas berikutnya," batin Simon puas sebelum merebahkan tubuhnya ke tempat tidur dan jatuh terlelap dalam sekejap.