Bagi Alice Gracellyn, hidup adalah tentang kerja keras dan utang budi. Ia dipaksa menjadi tulang punggung keluarga pamannya yang serakah, dengan dalih membalas jasa karena telah menampungnya sejak yatim piatu. Namun, Alice tidak pernah tahu bahwa paman yang ia hormati adalah dalang di balik kematian orang tuanya demi merebut harta, termasuk rumah yang saat ini mereka tinggali.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon By.DarkRose, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kesepakatan Iblis
Semilir angin subuh yang menerobos masuk lewat kusen pintu yang hancur membawa hawa dingin yang menusuk tulang, tetapi suasana di dalam ruang tamu itu terasa mendidih oleh ketakutan.
Alice masih berlutut, melindungi tubuh gemuk pamannya yang terus bergetar.
Sepasang mata hazelnya yang jernih menatap lurus pada pria di atas sofa, menanti jawaban yang rasanya akan menentukan hidup dan mati keluarga mereka.
Elvano menyesap sisa keheningan itu dengan kepuasan seorang pembunuh.
Tatapan matanya tidak lagi sedingin es yang kosong, kini ada binar kegelapan yang pekat, sebuah gairah berburu yang tertuju pada sosok Alice.
"Kasinomu?" Alice mengulangi kata itu dengan suara berbisik, memecah kesunyian.
Otaknya yang cerdas mencoba merangkai informasi.
"Paman Albert... apa maksud pria ini? Utang apa?"
Albert tidak menjawab. Pria paruh baya itu justru menyembunyikan wajahnya di balik lengan Alice, meratap bagai pecundang.
Melihat reaksi menyedihkan itu, Kaiven yang berdiri di sudut ruangan melangkah maju.
Sisa kerupuk putih di tangannya dilemparkan asal ke dalam toples, lalu ia menepuk-nepuk kedua telapak tangannya untuk membersihkan remah-remah yang menempel di jas abu-abu mahalnya.
"Biar kutembakkan sedikit kenyataan ke dalam kepala polosmu, Nona Manis," cetus Kaiven dengan nada santai yang konyol namun menusuk.
"Pamanmu yang tercinta ini baru saja menyumbangkan uang sebesar empat puluh miliar rupiah ke meja baccarat kami dalam waktu tiga malam. Dan ketika dompetnya kering, dia mencoba menipu kami dengan menjaminkan sertifikat rumah ini yang omong-omong, status hukumnya palsu dan cacat total. Di dunia kami, itu namanya mencari mati."
"Empat... empat puluh miliar?" Alice merasa pasokan oksigen di sekitarnya mendadak hilang.
Jantungnya berdegup begitu kencang hingga dadanya terasa sakit.
Angka itu terlampau mustahil, terlampau besar untuk masuk ke dalam logika seorang pelayan bar yang harus mengorbankan kulit kakinya melepuh setiap malam demi uang ratusan ribu rupiah.
Alice menoleh patah-patah ke arah pamannya.
"Paman... katakan pada Alice kalau itu tidak benar. Paman bilang uang yang Alice kirim kemarin untuk membeli obat dan biaya kuliah Doni... Paman tidak berjudi lagi, kan?"
Albert tetap bungkam, hanya air mata penyesalan semu yang mengalir melewati pipinya yang lebam.
Di sampingnya, Bibi Sarah justru membuang muka, tidak berani menatap keponakan yang selama ini mereka peras tenaganya.
Elvano perlahan menegakkan tubuhnya, melangkah turun dari sofa dengan pesona yang mengintimidasi.
Setiap ketukan sepatu pantofelnya di atas lantai keramik terdengar seperti hitungan mundur menuju eksekusi mati.
Ia berdiri tepat di depan Alice, menjulang tinggi bagai raksasa yang siap menelan mangsanya.
"Aku tidak punya banyak waktu untuk drama keluarga kelas bawah," ucap Elvano, suaranya bariton rendah, bergema tak terbantahkan.
"Aturan dalam bisnisku sangat sederhana, Albert. Utang harus dibayar tunai. Karena sertifikat rumah ini sampah, maka subuh ini juga, aku akan menyita seluruh bangunan ini beserta isinya. Dan untuk dirimu..."
Elvano jeda sejenak, sengaja memberikan tekanan yang menyiksa.
Ia melirik sekilas ke arah Kaiven.
"Kaiven, siapkan satu truk pengaduk semen di gudang pelabuhan," perintah Elvano dingin, tanpa ekspresi, seolah sedang memesan menu kopi.
"Bawa bajingan tua ini ke sana. Ikat kakinya, lalu benamkan tubuhnya ke dalam semen penopang jembatan proyek Salvatore di Teluk Jakarta. Biarkan dia menjadi fondasi permanen di sana."
"Tidaakkk! Jangan, Tuan! Ampun!" Bibi Sarah menjerit histeris, langsung bersujud di kaki celana mahal Elvano, namun salah satu pengawal dengan cepat menarik wanita itu mundur agar tidak menyentuh sang Bos.
Albert yang mendengar vonis mati itu seketika kehilangan akal sehatnya.
Ketakutan akan kematian yang mengerikan membuat seluruh moralitasnya sebagai manusia menguap tanpa sisa.
Dalam rasa paniknya yang memuncak, mata Albert yang merah menangkap arah pandangan Elvano yang sejak tadi tak pernah benar-benar lepas dari tubuh Alice.
Sebagai penjudi ulung, Albert langsung mencium sebuah peluang, sebuah kartu taruhan terakhir yang mungkin bisa menyelamatkan kulitnya dari adukan semen.
Tanpa rasa malu sedikit pun, Albert merangkak maju, melepaskan diri dari perlindungan Alice, lalu berteriak ke arah Elvano dengan suara melengking putus asa.
"Tuan Salvatore! Tunggu! Tolong jangan bunuh saya!" ratap Albert, jarinya yang gemetar menunjuk lurus ke arah Alice.
"Anak ini... Alice! Dia keponakan saya! Dia masih suci, belum pernah disentuh pria mana pun! Lihat wajahnya, dia sangat cantik, kulitnya putih mulus tanpa cela! Ambil dia, Tuan! Bawa dia sebagai jaminan utang saya! Nikmati dia, lakukan apa saja yang Anda mau dengannya di mansion Anda, asal hapus utang saya dan biarkan saya hidup!"
DEG.
Dunia seolah berhenti berputar bagi Alice.
Seluruh aliran darahnya mendadak membeku, menyisakan rasa dingin yang hampa di dalam dadanya.
Ia menatap pamannya dengan sepasang mata hazel yang melebar sempurna, dipenuhi oleh rasa syok dan kehancuran yang teramat sangat.
"Paman... apa yang Paman katakan?" bisik Alice, suaranya bergetar hebat, nyaris tak terdengar.
Air mata yang sejak tadi ditahannya akhirnya tumpah ruah, membasahi pipinya yang pucat.
Hati Alice hancur berkeping-keping menjadi debu.
Pria di depannya ini adalah paman yang ia hormati, keluarga yang selama belasan tahun ini ia nafkahi dengan merelakan masa mudanya habis di lantai bar yang kotor, menahan lecet di kaki dan godaan pria hidung belang demi mengirimkan setiap rupiah gaji ke rumah ini.
Dan subuh ini, di depan segerombolan mafia asing, paman yang sama menumbalkannya begitu saja bagai seonggok daging pemuas nafsu demi melunasi utang judi.
"Paman... tega sekali..." tangis Alice pecah, dadanya sesak hingga ia harus mencengkeram kaos oblongnya sendiri untuk menahan rasa sakit yang teramat dalam.
Ia menoleh ke arah Bibi Sarah, berharap ada secercah pembelaan dari wanita yang mengasuhnya, namun Bibi Sarah justru memalingkan wajah, menyetujui perdagangan manusia terselubung itu demi menyelamatkan nyawa suaminya.
Alice menyadari satu kenyataan pahit, di mata keluarga ini, ia tidak lebih dari sekadar barang yang bisa dijual kapan saja.
Kaiven yang menyaksikan hal itu hanya bersiul pelan, menggeleng-gelengkan kepalanya dengan senyum sinis.
"Wow. Benar-benar kepala keluarga teladan. Menumbalkan keponakan sendiri demi lolos dari adukan semen. Sangat kreatif."
Elvano tidak memedulikan celotehan Kaiven, juga tidak memedulikan tangisan kehancuran Alice.
Fokusnya kini sepenuhnya terkunci pada tawaran Albert.
Seringai tipis yang dingin dan misterius perlahan terukir di sudut bibir tegasnya.
Insting buasnya berteriak puas.
Sifat arogannya yang terbiasa mendapatkan apa pun yang dia inginkan kini berpesta pora.
Gadis bermata hazel yang polos ini akan menjadi miliknya.
Elvano melangkah mendekati Alice yang masih bersimpuh menangis.
Ia membungkuk sedikit, mengulurkan tangannya yang besar dan berkulit kasar, lalu dengan gerakan lembut namun mencengkeram kuat, ujung jarinya menyentuh dagu Alice, memaksa gadis itu mendongak menatap matanya yang gelap gulita.
"Jaminan yang sangat menarik, Albert," ucap Elvano, suaranya terdengar bagai bisikan iblis yang seksi namun mematikan di telinga Alice.
Matanya menyusuri jejak air mata di pipi mulus Alice, merasakan getaran ketakutan gadis itu yang justru semakin membakar gairah tertahannya.
Elvano kembali menegakkan tubuhnya, menatap Albert dengan pandangan meremehkan.
"Kesepakatan diterima. Utang empat puluh miliarmu dianggap lunas untuk sementara waktu selama barang jaminan ini berada di bawah kendaliku. Tapi rumah ini tetap kusita sebagai kompensasi atas kelancanganmu menipuku semalam. Kosongkan tempat ini dalam waktu dua puluh empat kali jam."
"Terima kasih, Tuan Salvatore! Terima kasih banyak!" Albert menangis gembira, bersujud berkali-kali seolah baru saja lolos dari pintu neraka, sama sekali tidak memedulikan keponakannya yang kini menatapnya dengan tatapan benci dan hancur.
"Kaiven, bawa barang jaminanku ke dalam mobil," perintah Elvano dingin sembari berbalik arah, melangkah keluar meninggalkan ruangan tanpa memandang ke belakang lagi.
"Siap, Tuan Besar," sahut Kaiven dengan nada konyol.
Dua pengawal berbadan tegap langsung maju, mencengkeram kedua lengan Alice dengan paksa dan mengangkatnya berdiri.
Alice tidak meronta. Ia sudah kehilangan seluruh kekuatannya.
Jiwanya terasa kosong dan mati rasa.
Sambil diseret melangkah melewati puing-puing pintu rumahnya, matanya terus menatap lurus ke arah paman dan bibinya yang bahkan tidak sudi melihat kepergiannya.
Subuh itu, di bawah langit Jakarta yang perlahan memerah, Alice Gracellyn resmi melangkah masuk ke dalam sangkar milik sang mafia, menjadi tawanan dari sebuah kesepakatan iblis yang akan mengubah seluruh sisa hidupnya.