ADELIA YHOSEP yang memiliki wajah yang sangat mirip dengan kakanya ADELIN YHOSEP yang seorang model papan atas. Wajah mereka bak pinang dibelah dua tapi nasip mereka berdua sangatlah jauh berbeda bagaikan langit dan bumi, Adelia selalu jadi nomor dua. Semua orang hanya memuji kakaknya, Adelin—padahal Adelin yang jahat dan sering bikin masalah, tapi Adelia yang harus menanggung salahnya. Saat hari pernikahan Adelin dengan Gyantara—pria paling tampan, kaya, dan terkenal sangat mencintai kakaknya—Adelin malah kabur. Agar keluarga tidak malu, Adelia dipaksa menggantikan posisi kakaknya. Dia harus menikah dengan pria yang hatinya milik orang lain. Bisakah dia menyembunyikan kebenaran selamanya? Dan mungkinkah hati Gyantara yang dingin perlahan berubah pada dirinya? ---
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Binar jingga08, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
.
Malam itu suasana di dalam mobil terasa nyaman dan hangat, namun hati Adelia terasa seperti diikat tali yang semakin lama semakin erat. Di sebelahnya, Gyantara tertidur pulas karena kelelahan seharian bekerja, tangannya masih menggenggam erat tangan Adelia seolah takut kehilangan. Cahaya lampu jalan yang melintas menari di wajahnya, membuat garis wajahnya tampak begitu tenang dan tulus.
Namun setiap kali Adelia menatapnya, rasa bersalah itu kembali menghantam dadanya lebih keras dari sebelumnya. Tadi siang pria itu dengan lantang berkata bahwa ia mencintainya apa adanya, bahwa hatinya sudah berlabuh di sini. Padahal... dasar dari semuanya ini adalah kebohongan. Ia berdiri di tempat yang bukan haknya, memakai identitas yang bukan miliknya, dan menerima cinta yang seharusnya ditujukan untuk orang lain.
Saat mereka tiba di rumah dan Gyantara sudah dibantu masuk ke kamar, Adelia memilih duduk sendirian di beranda belakang. Angin malam berhembus dingin, namun tak sejuk dibandingkan rasa dingin yang menyelimuti hatinya. Ia teringat kembali perkataan insinyur di pabrik tadi—mereka memujinya cerdas, berpengetahuan luas, dan pandai menganalisis masalah. Padahal tidak ada yang tahu betapa beratnya perjuangan ia mendapatkan pengetahuan itu.
Ayahnya memang seorang pengusaha, namun sejak lama bisnisnya mengalami kemunduran tajam dan kini berada di ambang kebangkrutan. Selama ini Adelia hanya diam menyaksikan, tak pernah diberi kesempatan duduk di bangku kuliah seperti kakaknya Adelin. Adelin dikirim ke sekolah terbaik, belajar bisnis dan manajemen, sementara Adelia hanya diperbolehkan membantu pekerjaan rumah. Tapi di rumah itulah ia belajar segalanya: dari Bu Sumi, pembantu yang sudah mengabdi dua puluh tahun di keluarganya, ia belajar memasak, merawat rumah, hingga mendengarkan cerita masa keemasan ayahnya dan masalah teknis usaha yang sering diceritakan ayahnya saat sedang putus asa. Ia diam-diam membaca buku-buku lama di perpustakaan rumah yang tak pernah disentuh kakaknya, memperhatikan cara mengurus catatan keuangan yang berantakan, dan memperbaiki alat-alat rumah tangga yang rusak demi menghemat uang.
Semua hal yang ia kuasai bukan karena kemewahan pendidikan, melainkan karena ia terbiasa berjuang diam-diam di sudut ruangan yang terlupakan. Dan kini, kemampuan yang ia pelajari dengan susah payah itu justru ia gunakan untuk menipu orang yang paling tulus menyayanginya.
"Kamu belum tidur?"
Suara Gyantara terdengar pelan dari belakang. Ia berjalan mendekat dengan selimut di tangan, lalu menyelimutkan bahu Adelia yang menggigil.
"Maaf membangunkanmu," ucap Adelia pelan, menundukkan wajah.
"Aku tidak bisa tidur kalau kamu tidak ada di sebelahku," jawab Gyantara sambil duduk di sampingnya. "Kamu sedih ya? Sejak di pabrik tadi aku melihat matamu berubah. Apa ada yang menyakitimu?"
Pertanyaan sederhana itu membuat pertahanan Adelia runtuh. Air matanya jatuh membasahi pipi. "Mas... aku pembohong. Semua pujian yang orang berikan padaku hari ini... aku tidak pantas menerimanya. Aku tidak pernah bersekolah di tempat bagus, tidak pernah diajari secara khusus. Aku hanya... mencuri waktu untuk belajar dari sisa-sisa yang ada. Dan yang paling buruk... aku membiarkanmu mencintai bayang-bayang yang palsu."
Gyantara diam sejenak, lalu perlahan merangkul bahu Adelia agar gadis itu menyandar di dadanya. "Kamu pikir kemampuan seseorang dinilai dari siapa gurunya atau di mana ia bersekolah? Kamu belajar dari pengalaman hidup, dari kesusahan yang kamu hadapi sendiri, dari ketekunan yang tidak dimiliki orang lain. Itu jauh lebih berharga daripada apa pun yang diajarkan di ruang kelas. Dan soal cinta... cinta itu tidak buta pada nama, tapi buta pada jiwa. Dan jiwamu inilah yang membuatku jatuh hati."
Kata-kata itu seharusnya menenangkan, tapi justru membuat rasa bersalah Adelia semakin meluap. Ia melepaskan pelukan itu, lalu menatap Gyantara dengan mata basah. "Tapi kamu tidak tahu siapa aku sebenarnya! Kamu tidak tahu betapa kejamnya kenyataan ini nanti! Kamu akan membenciku, pasti!"
"Katakanlah sekarang," tantang Gyantara lembut namun tegas. "Aku siap mendengarkan. Aku siap menghadapi apa pun bersama-sama."
Adelia membuka mulutnya, tapi kata-kata itu tersangkut di kerongkongan. Ia teringat ancaman orang tuanya—jika ia bicara, mereka akan menghancurkan hidupnya dan menyalahkannya sepenuhnya. Ia teringat betapa hancurnya hati Gyantara jika mengetahui bahwa wanita yang ia cintai selama ini adalah adik kandung wanita yang dulu ia cintai, dan bahwa ia telah menipu pria itu sejak awal pernikahan.
"Aku belum siap," bisiknya akhirnya, air matanya semakin deras. "Tolong beri aku waktu sedikit lagi. Aku janji akan bicara... tapi belum sekarang."
Gyantara menghela napas panjang, lalu mengusap air mata di pipi Adelia dengan lembut. "Aku tunggu. Selama yang kamu butuhkan. Tapi ingat satu hal: rasa bersalah yang kamu simpan sendirian itu akan menjadi beban yang terlalu berat. Berbagilah denganku, walau belum seluruhnya."
Malam itu berakhir dengan keheningan yang berat. Adelia tahu, semakin lama ia menunda, semakin sakit rasanya nanti. Ia seperti sedang memetik bunga yang indah namun beracun—ia menikmati keindahannya, tapi tahu racun itu perlahan menyebar dan akan melukai dirinya sendiri serta orang yang dicintainya.
Di dalam hati, ia berjanji: ia akan berusaha menebus kesalahannya dengan cara apa pun. Ia akan membantu Gyantara sekuat tenaga, menjaganya dengan segenap jiwanya, dan suatu hari nanti—ketika ia cukup berani—ia akan membuka semuanya. Bahwa ia bukan Adelin yang sempurna, melainkan Adelia yang penuh kekurangan, yang belajar dari kesusahan, dan yang mencintai pria ini dengan tulus lebih dari apa pun di dunia ini.
Namun untuk saat ini, ia hanya bisa memeluk rasa bersalah itu erat-erat, menyimpannya di sudut hati yang paling dalam, dan berharap waktu akan memberinya kekuatan untuk menghadapi kenyataan yang menanti.