Selama dua tahun Luna Inara Jasmine hidup dalam kebohongan sang suami, Raka Alvaro Mahendra. Sang suami mengatakan jika dirinya impoten.
Namun suatu hari Luna justru mengetahui kenyataan pahit jika sang suami sebenarnya tidak impoten dan memiliki hubungan bahkan anak dari wanita lain.
Bagaimana kisah mereka? Yuk lanjut baca
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Marica, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pelarian yang Menenangkan
Mentari pagi menyelinap dari celah gorden. Cahayanya jatuh tepat di wajah Luna membuat tidur wanita itu terusik. Luna menggeliat, mengubah posisi tidurnya untuk menghindari cahaya matahari itu.
Perlahan Luna membuka matanya, berkedip beberapa kali agar matanya bisa beradaptasi dengan cahaya yang ada di ruangan itu. Luna memandang sekitar, untuk sesaat ia lupa berada di mana. Namun saat melihat mewahnya ruangan itu dan suara kicauan burung, Luna teringat pada perjalanan malam ke vila.
Luna bangun dan mengambil posisi duduk. Sesekali ia masih menguap, merasa malas untuk meninggalkan kenyamanan itu. Namun rasa lapar memaksanya untuk bangun.
"Kenapa waktu berjalan begitu cepat," gumam Luna.
Ia menyibakkan selimut yang menutupi tubuhnya dan beranjak dari tempat tidur. Luna lebih dulu mendekat ke arah balkon. Ia membuka pintu balkon. Udara pagi yang sejuk menyambut membuatnya menarik napas panjang. Sudah lama ia tidak merasakan ketenangan seperti itu.
Setelahnya, Luna kembali ke kamar lalu pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Beberapa saat kemudian, Luna sudah mandi dan berganti pakaian yang pantas dan nyaman. Dress selutut berwana baby pink, ia juga membiarkan rambutnya terurai.
Luna keluar dari kamar, berjalan pelan di anak tangga sambil melihat sekitar. Suasana vila tak seramai hari sebelumnya. Hanya terlihat beberapa anak buah Bara yang sedang berjaga dan beberapa pelayan sedang membersihkan vila.
Sampai di lantai bawah, aroma makanan langsung menyambutnya. Luna berjalan ke ruang makan. Di sana Bara terlihat tengah duduk sambil memeriksa beberapa dokumen ditemani secangkir kopi hangat. Di sampingnya, Ares berdiri tegap seolah siap untuk menerima perintah dari Bara.
"Selamat pagi," sapa Luna.
Pandangan Bara langsung berubah lalu membalas sapaan Luna. "Pagi."
Ia menutup berkasnya dan langsung memberikannya pada Ares. "Kamu urus semuanya."
Bara juga memberikan isyarat pada Ares untuk pergi. Pandangannya lantas kembali ke arah Luna. "Bagaimana tidurmu? Lebih nyenyak?"
Luna mengangguk. "Lebih baik dari kemarin."
"Baguslah."
"Hmm."
"Duduklah. Kita sarapan bersama."
Luna lantas menarik kursi, duduk bersebrangan langsung dengan Bara. Beberapa pelayan datang dan menyajikan makanan untuk keduanya.
Hening menyelimuti suasana. Hanya terdengar suara sendok dan garpu yang saling beradu. Sesekali pandangan Luna mengarah pada Bara, seakan ada sesuatu yang ingin dia sampaikan.
"Apa hari ini kita akan pulang?" tanya Luna akhirnya.
"Tidak," jawab Bara. "Kita habiskan satu hari lagi di sini. Besok kita baru pulang."
Mata Luna berbinar mendengarnya.
"Benarkah?"
Bara hanya mengangguk pelan.
Bibir Luna langsung melengkung ke atas membentuk sebuah senyuman.
Setelah sarapan selesai, Bara mengajak Luna pergi berjalan-jalan di sekitar vila. Tempat itu ternyata lebih luas daripada yang Luna bayangkan.
Ada kebun bunga, area kuda, taman buah, dan danau kecil yang tidak jauh dari vila utama.
Luna berjalan di jalan batu yang membelah taman dengan tatapan kagum. Seumur hidupnya baru ia melihat tempat yang indah seperti ini. Tak henti-henti Luna tersenyum, bisa berada di tempat yang seindah ini.
"Tempat ini indah sekali," gumam Luna.
"Aku membangunnya bertahun-tahun yang lalu."
"Papa sering ke sini dulu?"
"Ya. Sebelum aku pergi ke luar negeri."
Luna mengangguk pelan. "Tapi tempat ini sangat terawat."
"Aku menyuruh seseorang untuk merawat tempat ini." Bara bicara sambil menatap ke arah pegunungan. "Ayo kita ke danau."
Luna mengangguk lalu melangkah bersama menuju danau.
Menjelang siang, Luna pergi ke taman buah bersama beberapa pelayan. Saat berjalan-jalan ke danau ia sempat melihat buah strawberry yang sudah matang. Tanpa menunda dan izin dari Bara, Luna menggiring dia orang pelayan untuk membantunya.
Para pelayan itu sempat melarang Luna, tetapi wanita itu bersikeras untuk ikut, hingga sang pelayan tak mampu mencegahnya lagi.
"Aku bosan terus duduk, Bi," ucap Luna. "Lagi pula ini bukan pekerjaan yang berat."
Para pelayan hanya bisa mengangguk pelan.
Luna mulai memetik buah strawberry. Matanya berbinar melihat buah-buah itu, besar dan merah. Tidak sabar, Luna langsung mencicipi buah itu.
"Hmmm, manis sekali," gumam Luna. "Buah yang baru dipetik memang rasanya lebih enak."
Tidak berselang lama Bara datang. Pria itu langsung menghampiri Luna.
"Apa yang sedang kamu lakukan?"
Suara itu mengejutkan Luna. Spontan Luna menoleh, mendapati Bara tepat berada di belakangnya.
"Eh, Pa." Suara Luna tidak jelas karena mulutnya sedang mengunyah buah strawberry. Buru-buru Luna menelan sisa buah di mulutnya.
"Tadi aku lihat buah strawberinya sudah masak. Jadi aku memetiknya."
Bara menatap keranjang buah di tangan Luna yang hanya ada beberapa buah strawberi. "Sepertinya lebih banyak buah yang masuk ke mulutmu dari pada ke keranjang."
Luna langsung tertawa malu. "Buahnya enak dan segar. Papa mau coba?"
Luna menyodorkan satu buah strawberi ke mulut Bara. Tanpa banyak bertanya, Bara memakan buah itu. Ia memakan sambil mempertimbangkan rasanya.
"Lumayan," ucap Bara.
"Boleh aku petik beberapa dan membawanya pulang?"
Bara mengangguk pelan. "Petik semua jika kamu suka."
"Benarkah?"
Bara kembali mengangguk. "Ayo, aku akan membantumu."
Luna mengangguk penuh semangat.
"Lain kali pakai topi." Bara memberikan topi yang dikenakannya sebelumnya ke kepala Luna.
"Eh, terima kasih."
-
-
Puas memetik buah strawberi yang cukup banyak, Luna kembali ke vila bersama Bara. Pelayan menyambut mereka dengan segelas air dingin.
"Makan siang sudah siap, Tuan. Mau saya sajikan sekarang?"
"Bawa makannya ke gazebo!"
"Baik, Tuan." Pelayan itu membungkuk hormat lalu pergi.
Sementara Luna dan Bara pergi ke gazebo dekat kolam berenang. Mereka duduk saling berhadapan sambil menunggu makanan datang. Angin sejuk berhembus pelan, membawa ketenangan pada diri Luna.
DRRRT …
Ponsel Luna bergetar. Senyum mulai pudar saat melihat nama Raka muncul di layar ponselnya. Pesan dari Raka.
Aku belum bisa pulang. Masih ada banyak pekerjaan yang harus diurus.
Luna sedikit kesal membaca pesan singkat itu.
Hanya itu pesan dari sang suami?
Taka ada pertanyaan tentang dirinya, tak ada ucapan rindu, dan tak ada perhatian yang selama ini ia harapkan.
Luna lantas mematikan ponselnya dan meletakkan kembali ke atas meja dengan sedikit kasar.
Bara yang duduk di seberangnya menatap perubahan ekpresi Luna.
"Suamimu?"
Luna mengangguk pelan. "Hmmm."
"Kenapa kamu terlihat kesal?"
"Dia mengatakan akan tinggal beberapa hari lagi di sana."
Bara hanya melihat Luna dengan tatapan iba.
"Apa aku sungguh tidak berarti untuknya?"
Bara tidak mengatakan apa pun dan mengalihkan pembicaraan ke topik lain untuk mengalihkan suasana.
"Beberapa minggu lagi akan ada acara fashion show. Bersiaplah untuk melihat karyamu di sana."
Luna tiba-tiba bersemangat, seolah lupa dengan rasa kesal dan perasaan sedih yang sebelumnya ia rasakan.
"Aku takut jika banyak yang tidak suka dengan desainku."
"Luna …" Bara menggenggam tangan Luna. "Percaya dan yakinlah pada dirimu sendiri."
Luna mengangguk. "Terima kasih untuk semua hal baik yang sudah Papa lakukan untukku."
"Kamu pantas mendapatkan semua kebaikan itu, Luna."
Dalam hati, Luna merasakan sebuah perasaan hangat yang sulit untuk dijelaskan. Bukan karena hidupnya yang tiba-tiba menjadi sempurna, tetapi karena untuk pertama kalinya setelah sekian lama ada seseorang yang benar-benar mendengarkan dan mengerti dirinya.
"Pa, bicara tentang desain … aku masih penasaran dengan desain-desainku yang tiba-tiba menghilang tanpa jejak."
emmmm kaya ga deh vanes ga jadi malu secara Raka mana mau lihat orang tersayang tersakiti
OMG kalau terjadi she so dammm sad man