Bagi dunia luar, Justin Devano Ardiansyah adalah perwujudan dari malaikat maut. Sebagai pemimpin tertinggi The Ardiansyah Syndicate, dia adalah pria berdarah dingin yang menguasai dunia bawah tanah ibu kota dengan tangan besi. Hidupnya penuh dengan darah, pengkhianatan, dan kemewahan yang hampa. Namun, sebuah konspirasi besar dan pengkhianatan anak buahnya membuat Justin terdesak, terluka parah, dan terdampar di sebuah desa terpencil yang jauh dari peradaban kota.
Di sanalah ia merangkak ke sebuah gubuk bambu milik Kimberly seorang gadis desa yatim piatu yang hidup sederhana sebagai penjual jamu tradisional keliling.
Kimberly tidak tahu siapa pria bertato naga yang sekarat di dapurnya. Yang dia tahu, pria itu membutuhkan pertolongan. Dengan ketulusan dan keberanian yang murni, Kimberly merawat sang mafia, menjahit lukanya dengan alat seadanya, dan memberikan ketenangan yang belum pernah Justin rasakan sepanjang hidupnya. Mata polos dan ketulusan Kimberly berhasil mencairkan gunun
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vinna naa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24. Di Antara Kepulan Sup Buntut
Sinar merah keemasan dari matahari yang mulai tenggelam di ufuk barat memantul anggun pada pilar-pilar marmer teras belakang mansion.
Suasana sore menjelang malam itu terasa sejuk, diiringi helaan angin pelan yang membawa wangi tanah basah dari kebun herbal.
Justin duduk di salah satu kursi kayu jati di teras. Wajah tampannya tetap datar bagai ukiran batu, tanpa ekspresi yang bisa dibaca oleh siapa pun.
Kedua matanya yang tajam menatap lurus ke arah sebuah map tebal berwarna hitam yang diletakkan Marco di atas meja.
Di samping map tersebut, tersaji cangkir porselen putih berisi teh chamomile hangat yang disiapkan Bi Minah beberapa menit lalu.
Marco berdiri dua langkah di samping meja, posisinya sangat tegap dengan sepasang tangan terlipat rapi di belakang punggung.
Pria berjas hitam itu tidak bersuara, menanti tanggapan dari sang atasan.
"Kael sudah melacak siapa yang menahan kargo itu di dermaga tiga?" tanya Justin, suaranya rendah, berat, dan sangat dingin.
Tidak ada sedikit pun nada panik atau terburu-buru dalam intonasinya.
"Sudah, Tuan Besar," jawab Marco dengan nada tak kalah kaku.
"Kael menemukan bahwa penahanan itu bukan atas perintah resmi bea cukai, melainkan permainan dari salah satu faksi lama di distrik utara yang mencoba menaikkan tarif komisi jalur. Mereka memanfaatkan celah pergantian dokumen logistik kemarin sore."
Justin tidak langsung membalas. Tangan kekarnya terulur meraih cangkir teh, menyesapnya sedikit. Udara dingin sore itu tidak sedikit pun mengusik ketenangan refleksnya.
Pria itu meletakkan cangkir porselen itu kembali ke tatakannya tanpa menimbulkan suara berdenting.
"Kirimkan perwakilan legal kita esok pagi jam delapan," perintah Justin datar.
"Berikan mereka pilihan: lepaskan kargo itu sesuai prosedur, atau seluruh izin operasional gudang mereka di distrik utara akan dibekukan oleh bank jaringan Kael dalam waktu dua puluh empat jam."
"Baik, Tuan Besar. Akan saya sampaikan instruksi ini kepada Kael dan Leon malam ini," balas Marco mantap.
Tepat saat instruksi dingin itu usai diucapkan, pintu kaca tebal yang menghubungkan teras dengan area ruang makan dalam bergeser terbuka.
Kimberly melangkah keluar dengan membawa mangkuk porselen besar yang ditutupi penutup keramik.
Asap tipis yang membawa aroma rempah gurih kombinasi wangi pala, kapulaga, dan kaldu daging sapi yang pekat menguar hangat ke udara teras yang dingin.
Gadis desa itu mengenakan pakaian santai bermotif batik halus, rambut hitamnya diikat longgar di belakang leher.
"Mas Justin, Marco, ayo masuk ke ruang makan," sapa Kimberly dengan senyum manisnya yang hangat.
"Sup buntut sapinya sudah matang. Bi Minah juga sudah menggoreng emping dan menyiapkan sambal rawit hijau."
Mendengar suara lembut istrinya, aura mematikan yang sempat membungkus tubuh Justin luntur dalam sekejap.
Pria itu mengalihkan pandangannya dari map hitam di meja, menatap wajah polos Kimberly. Tatapan matanya yang tadi membekukan kini mereda, menjadi tenang meski raut wajahnya tetap terlihat kaku dan datar.
"Masih panas, Kim?" tanya Justin pendek, bangkit berdiri dari kursi jatinya.
"Masih sangat panas, Mas. Makanya harus langsung dimakan supaya gurihnya terasa," jawab Kimberly ramah, dia lalu menoleh pada Marco yang berdiri kaku di samping meja.
"Marco, ikut makan di dalam ya. Tadi aku minta Bi Minah ambilkan mangkuk besar khusus buat kamu."
Marco refleks menundukkan kepalanya sedikit dengan rasa hormat yang mendalam.
"Terima kasih banyak, Nyonya Besar. Tapi tugas saya untuk memverifikasi dokumen ini masih harus diselesaikan malam ini."
Kimberly menatap Marco dengan kening berkerut halus, lalu menggelengkan kepalanya pelan.
"Urusan kertas bisa ditunda setengah jam, Marco. Perut lapar tidak bisa ditunda. Mas Justin saja selalu aku suruh makan tepat waktu, masa kamu tidak? Ayo masuk."
Justin melirik Marco dengan sudut matanya yang dingin, lalu memberi isyarat kepala yang sangat tipis namun jelas.
"Dengarkan Nyonya Besar, Marco."
"Baik, Tuan Besar. Terima kasih," jawab Marco patuh, tak berani membantah perintah ganda dari sang pemilik mansion dan istrinya.
Suasana di ruang makan utama terasa sangat hangat. Lampu gantung kristal di atas meja marmer memancarkan cahaya kekuningan yang lembut.
Di tengah meja, mangkuk besar berisi sup buntut sapi hangat dikelilingi oleh piring-piring berisi emping renyah, potongan jeruk nipis, kecap manis, dan sambal hijau yang menggugah selera.
Justin duduk di ujung meja, posisi kebesarannya sebagai kepala rumah tangga. Pria itu sudah memindahkan berkas-berkas lamanya dari pikiran, fokus menatap Kimberly yang sibuk menyendokkan potongan daging buntut yang empuk dan kuah bening yang kaya rempah ke dalam piringnya.
"Ikan asinnya tidak ada, Kim?" tanya Justin datar, teringat masakan favorit istrinya beberapa waktu lalu.
Kimberly terkekeh kecil sambil menyerahkan mangkuk sup yang sudah terisi penuh ke hadapan suaminya.
"Aduh, Mas... sup buntut itu pasangannya emping dan sambal ijo, bukan ikan asin. Nanti rasanya bertabrakan di lidah. Ini diminum dulu kuahnya hangat-hangat, bagus untuk dada Mas Justin supaya tidak sesak."
Justin tidak membantah. Dia menerima mangkuk tersebut, menggunakan sendok bebek porselen untuk menghirup kuah bening itu perlahan.
Rasa gurih alami dari kaldu sapi yang dimasak berjam-jam, berpadu dengan sensasi hangat rempah tradisional, langsung menjalar di dalam tenggorokannya.
Meskipun ekspresi wajah Justin tetap datar bagai es, gerakannya yang secara konstan kembali menyendok kuah sup tersebut menjadi bukti tak terbantahkan bahwa lidahnya sangat menikmati masakan tersebut.
Di sisi lain meja, Marco makan dengan sangat sopan namun lahap. Kehangatan masakan rumahan di rumah ini selalu menjadi hal yang kontras dengan kehidupan keras yang dijalaninya di luar sana sebagai tangan kanan organisasi.
"Bagaimana, Marco? Empuk kan dagingnya?" tanya Kimberly dari kursinya, menopang dagu dengan satu tangan sambil memperhatikan dua pria di meja makan itu.
"Sangat empuk dan gurih, Nyonya Besar," jawab Marco jujur dengan nada suaranya yang tetap kaku dan formal.
"Dagingnya langsung terlepas dari tulangnya."
Kimberly tersenyum puas, merasa usahanya dan Bi Minah di dapur siang tadi terbayar tuntas. Dia lalu menoleh pada Justin yang sedang memeras sedikit jeruk nipis ke dalam mangkuknya.
"Mas Justin, besok pagi Pakde Darmo mau ke laboratorium utama di pusat kota. Katanya mau menguji ekstrak anggrek hutan untuk penawar racun dosis rendah. Boleh minta Marco temani Pakde?"
Justin meletakkan potongan jeruk nipis di tepi piring. Pandangan matanya menatap Kimberly secara mendalam.
"Pakde Darmo akan dikawal oleh tim pengaman khusus dari distrik tengah, Kim. Marco harus menemaniku memeriksa jalur barat esok hari."
"Oh, begitu ya," Kimberly mengangguk memahami.
"Asalkan Pakde aman di jalan, aku tidak apa-apa."
"Keluargamu adalah tanggung jawabku," ucap Justin singkat dan tegas, suaranya mengandung janji mutlak yang tak perlu diragukan lagi.
Setelah makan malam selesai dan peralatan dapur dibersihkan oleh para pelayan, malam mulai merambat makin larut.
Waktu menunjukkan pukul sembilan malam. Angin malam bertiup makin dingin di luar ditiup dari arah bukit, namun di dalam kamar tidur utama lantai dua, atmosfer terasa hangat dan menenangkan.
Gorden beludru abu-abu tebal sudah ditarik rapat, menutupi pemandangan malam kota di luar jendela. Justin berdiri di dekat meja nakas, mengenakan kaos dalam hitam dan celana kain santai, pria itu sedang menyesap segelas air putih hangat yang disiapkan Kimberly sebelum tidur.
Kimberly keluar dari kamar mandi dengan pakaian tidur lengan panjang kain katun yang lembut.
Rambut hitamnya yang sedikit basah dibiarkan terurai di bahunya. Gadis itu berjalan mendekati kasur king size mereka, lalu duduk di tepian tempat tidur sambil memegangi handuk kecil untuk mengeringkan rambutnya.
Justin meletakkan gelas kosongnya di meja nakas. Pria bertubuh jangkung itu melangkah mendekat, lalu mengambil alih handuk kecil dari tangan Kimberly tanpa bersuara.
"Mas Justin..." gumam Kimberly kaget pelan.
Tanpa membalas dengan kata-kata, Justin berdiri di belakang Kimberly yang sedang duduk di tepi ranjang.
Tangan kekarnya yang biasa menggenggam kekuatan besar itu kini bergerak dengan sangat perlahan dan hati-hati, mengusap dan mengeringkan rambut basah istrinya menggunakan handuk lembut tersebut.
Kimberly membiarkan suaminya melakukan hal itu. Dia menyandarkan punggungnya pelan pada perut tegap Justin yang berdiri di belakangnya, memejamkan mata menikmati perhatian manis yang diberikan oleh pria yang dingin itu.
"Mas," bisik Kimberly pelan di tengah keheningan kamar.
"Ya?" sahut Justin pendek, gerakannya mengeringkan rambut Kimberly tidak berhenti.
"Terima kasih ya... untuk semuanya. Untuk Pakde Darmo, untuk Danu, dan untuk rasa aman yang selalu Mas kasih di rumah ini."
Justin menghentikan gerakan tangannya sejenak. Dia menundukkan kepalanya, meletakkan dagunya di puncak kepala Kimberly yang wangi aroma sampo herbal.
Sepasang matanya menatap pantulan mereka berdua di kaca cermin besar di depan ranjang.
"Aku yang harus berterima kasih, Kim," ucap Justin dengan suara rendah dan amat dalam, datar tanpa nada dramatis, namun sarat akan kejujuran yang murni.
"Duniaku terlalu bising dan gelap. Tapi ruangan ini, dan kau... adalah satu-satunya alasan aku selalu ingin pulang."
Kimberly tersenyum sangat manis di dalam dekapan hangat suaminya. Di luar sana, kegelapan malam mungkin menyimpan ribuan rahasia dan ancaman bagi organisasi suaminya, tetapi di dalam kamar ini, di bawah lindungan pria yang berhati keras namun penuh cinta ini, tidak ada satu pun ketakutan yang mampu menyentuh hidup mereka.