NovelToon NovelToon
The Heiress'S Scents

The Heiress'S Scents

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Identitas Tersembunyi / Cintapertama
Popularitas:7.5k
Nilai: 5
Nama Author: Daeena

Di balik kemegahan High School Los Angeles, Issabelle Reichenbach menyembunyikan identitasnya sebagai pewaris tunggal klan mafia legendaris.

Demi bertahan hidup, ia menyamar sebagai murid beasiswa miskin yang patuh, sembari menahan penderitaan tinggal bersama ibu kandungnya yang lemah dan ayah tiri yang kasar.

Namun, penyamaran sempurna Issabelle terancam hancur saat ia berhadapan dengan Navarro Von-Riccardo, penguasa sekolah sekaligus pewaris tunggal terkuat di Pantai Barat.

Navarro menyimpan rahasia kelam klan Von-Riccardo: sebuah genetika yang membuatnya kehilangan indra penciuman sejak lahir.

Secara mengejutkan, aroma tubuh dingin menyerupai mawar es milik Issabelle menjadi satu-satunya wewangian yang bisa dicium oleh Navarro setelah 16 tahun hidupnya.

Terpikat oleh takdir yang tak terelakkan, Navarro mulai terobsesi untuk menguak topeng misterius gadis beasiswa tersebut, memicu perang insting yang mematikan di antara dua predator puncak.


Happy reading 🌷

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#7

Ketukan sol sepatu Issabelle di atas lantai menjadi satu-satunya suara yang menemani langkahnya menuju bagian belakang rumah.

Ruang tamu sore itu untungnya sepi; Harrison belum pulang dari bengkel, dan Chloe langsung mengunci diri di kamarnya untuk melakukan siaran langsung di media sosial, sementara Toby entah pergi ke mana dengan sepeda tuanya.

Issabelle memutar knop pintu kamar sempitnya di bawah tangga.

Begitu pintu terbuka, ia sempat menahan langkahnya di ambang pintu.

Sepasang mata abu-abunya menyipit, memindai setiap sudut ruangan dengan saksama.

Gadis itu sedikit terkejut. Kamar yang Pagi tadi ia tinggalkan yang masih tampak seperti gudang pengap berdebu itu kini telah berubah.

Ruangan sempit itu sudah bersih, rapi, dan aroma minyak kayu manis serta lavender yang lembut menguar di udara, mencoba menyamarkan bau kayu lembap khas ruang bawah tanah.

Kasur tipisnya telah dilapisi sprei linen putih yang bersih, meski ada beberapa bagian yang pudar karena bekas cucian.

Issabelle melangkah mendekati lemari pakaian kayu satu-satunya di sudut ruangan—sebuah furnitur tua yang catnya sudah mengelupas parah di bagian bawah dan pintunya agak miring. Ia membukanya.

Seluruh isi kopernya, mulai dari kaus polos, celana denim, hingga beberapa pakaian dalam, telah dicuci, disetrika dengan sangat rapi, dan disusun berdasarkan warna.

Di Jerman, bahkan kamar pelayan paling junior di mansion Reichenbach memiliki fasilitas sepuluh kali lipat lebih layak daripada ini.

Lemari ini bahkan tidak layak disebut sebagai tempat penyimpanan pakaian pembantu.

Namun, bagi Issabelle, hal ini tidak masalah. Ia mengerti situasinya, dan yang paling penting, ia benar-benar tidak peduli pada kemewahan materialistik yang semu selama perlindungan hukumnya terpenuhi.

Ia menutup pintu lemari dengan bunyi berderit pelan, lalu langsung merebahkan tubuhnya di atas ranjang single yang keras. Punggungnya yang tegap sejak pagi akhirnya bisa bersandar sepenuhnya.

Issabelle merosotkan tangannya ke dalam saku rok seragamnya, mengeluarkan ponsel pintar hitam yang telah dimodifikasi dengan sistem keamanan tingkat tinggi.

Dengan gerakan ibu jari yang cepat, ia membuka aplikasi pesan rahasia yang terhubung langsung dengan satelit pribadi klan di Frankfurt.

Ia mengetik beberapa baris pesan untuk Martha: “Bagaimana situasi di mansion? Apakah Daddy aman? Berikan aku laporan terupdate.”

Jemari Issabelle menekan tombol kirim. Tanda centang abu-abu berubah menjadi biru, menandakan pesan itu terkirim ke server pusat.

Namun, menit demi menit berlalu dalam keheningan yang mencekam. Tidak ada balasan.

Status Martha yang biasanya selalu siaga dua puluh empat jam kini mati total.

Keheningan dari seberang Atlantik ini adalah indikator buruk; itu berarti konflik klan di Jerman mungkin telah memasuki fase karantina informasi, atau mansion mereka sedang dalam pengepungan total.

Issabelle menatap layar ponselnya yang meredup dengan pandangan kosong.

Rasa cemas yang dingin sempat menyergap dadanya, namun ia dengan cepat menekannya kembali.

Khawatir dari jarak ribuan mil tidak akan mengubah arah peluru di Frankfurt.

Ayah telah melatihnya untuk selalu memercayai proses, dan tugasnya di sini adalah tetap hidup tanpa menarik perhatian.

Ia meletakkan ponselnya di atas dada, lalu tatapannya beralih pada langit-langit kamar yang menampakkan struktur bawah tangga rumah.

Pikirannya mendadak berputar kembali pada rentetan kalimat ibunya kemarin malam di ruang tamu.

“Dia tidak akan membebanimu. Kau akan bekerja kan nanti sayang? Membantu Ibu?”

Bekerja.

Issabelle mengulang kata itu di dalam benaknya dengan dengusan sinis.

Sloane benar tentang satu hal: ia memang harus memiliki pekerjaan atau setidaknya sumber penghasilan legal yang tampak nyata di mata publik Amerika.

Bukan karena ia membutuhkan uang tunai—rekening rahasianya di Swiss bisa membeli seluruh distrik ini—melainkan agar ia memiliki alasan logis untuk memiliki uang sendiri tanpa perlu meminta atau membebani Harrison, pria sampah yang selalu berteriak tentang anggaran makan di rumah ini.

Pekerjaan juga akan menjadi alibi yang sempurna mengapa seorang murid beasiswa sering pulang larut malam atau memiliki kesibukan di luar sekolah.

Issabelle bangkit dari posisi berbaringnya, duduk di tepi ranjang dengan kedua kaki menjuntai. Ia meraba bagian dalam pergelangan kaki kanannya, menarik sebuah pisau lipat taktis berbahan titanium hitam yang tersembunyi di balik kaus kaki panjangnya.

KLIK.

Mata pisau yang sangat tajam memantulkan cahaya temaram dari lampu bohlam di langit-langit.

Issabelle memutar-mutar pisau itu di antara jari-jarinya dengan kelincahan seorang profesional yang telah menghabiskan ratusan jam di kamp pelatihan tempur.

"Kira-kira apa keahlianku?" gumam Issabelle pada kesunyian kamar, menatap tajam pada mata pisau yang berkilau dingin.

Keahliannya?

Menembak target bergerak dari jarak lima ratus meter dengan senapan runduk.

Mematahkan leher lawan dalam waktu kurang dari empat detik tanpa menimbulkan suara.

Meretas jaringan data perbankan internasional untuk mengalihkan dana tanpa jejak.

Menganalisis pergerakan pasar saham gelap di Eropa.

Ia adalah senjata hidup yang ditempa untuk memimpin klan Reichenbach.

Dan kini, di pinggiran kota Los Angeles yang membosankan ini, ia harus mencari "pekerjaan normal" untuk remaja usia enam belas tahun.

Apakah dia harus menjadi kasir supermarket yang menghitung kembalian uang koin? Atau menjadi pelayan kedai kopi yang tersenyum palsu pada setiap pelanggan?

Membayangkan dirinya mengenakan celemek kain murah sambil menyajikan donat membuat Issabelle tidak bisa menahan diri.

Sebuah tawa rendah, dingin, dan sarat akan ironi lolos dari bibirnya yang tipis. Tawa itu terdengar asing di dalam kamar sekecil ini, bergema pelan sebelum akhirnya lenyap.

TOK! TOK!

Ketukan pelan di pintu kamar seketika menghentikan tawa Issabelle.

Dalam satu gerakan refleks yang luar biasa cepat dan terlatih, ia melipat kembali pisau titaniumnya dan menyembunyikannya di bawah bantal, tepat sebelum pintu kamar yang tidak dikunci itu terdorong terbuka dari luar.

Sloane berdiri di ambang pintu. Wanita itu masih mengenakan pakaian kerjanya dari supermarket, namun celemeknya sudah dilepas.

Tangannya memegang sebuah kain lap bersih, dan ekspresi wajahnya tampak sangat berhati-hati, seolah-olah ia sedang mendekati seekor harimau yang sedang tertidur.

"Bagaimana hari pertama mu di sekolah, sayang?" tanya Sloane dengan suara yang sengaja dilembutkan, mencoba membangun jembatan komunikasi yang memang hancur sebelum dimulainya sejak belasan tahun lalu.

Matanya menatap Issabelle dengan binar kerinduan yang sangat nyata.

Issabelle tidak bergerak dari posisinya di tepi ranjang. Ia menatap ibunya dengan pandangan mata abu-abu yang begitu datar, tanpa ada kehangatan sedikit pun di dalamnya.

Keheningan yang diciptakan Issabelle membuat senyum di wajah Sloane perlahan memudar, digantikan oleh rasa canggung yang mencekat.

"Terima kasih," jawab Issabelle akhirnya.

Suaranya terdengar sangat formal, seperti seorang asing yang sedang berbicara dengan resepsionis hotel. "Tapi, bisakah kau bersikap seperti biasa?"

Sloane mengernyitkan dahinya, tidak mengerti. "Maksudmu, sayang?"

"Menganggap aku telah tiada," ucap Issabelle, singkat, padat, dan tanpa keraguan sedikit pun.

Setiap kata yang keluar dari mulutnya terasa seperti balok es yang dijatuhkan ke atas kepala Sloane. "Bukankah selama bertahun-tahun ini kau memang sudah melupakanku?"

DEG.

Kata-kata itu menghantam dada Sloane dengan telak, membuat wanita itu refleks melangkah mundur satu tapak.

Napasnya tercekat di tenggorokan, dan kain lap di tangannya diremasnya dengan begitu kencang hingga buku-buku jarinya memutih.

Tatapan dingin Issabelle seolah menelanjangi seluruh dosa masa lalunya—dosa karena telah meninggalkan seorang bayi perempuan di Jerman, lalu membangun hidup baru di Amerika dan berpura-pura seolah masa lalu itu tidak pernah ada.

Sloane memang salah. Demi Tuhan, jika saja waktu di dunia ini bisa diulang kembali, ia tidak akan pernah naik ke atas pesawat yang membawanya pergi dari Frankfurt malam itu.

Rasa bersalah yang selama belasan tahun ini ia kubur dalam-dalam di bawah tumpukan tagihan rumah tangga dan makian Harrison, kini membubung ke permukaan, mencabik-cabik hatinya tanpa ampun.

Air mata seketika menggenang di pelupuk mata Sloane, membuat pandangannya kabur.

Bibirnya bergetar hebat, mencoba menyusun kalimat pembelaan diri, namun ia tahu tidak ada satu pun alasan di dunia ini yang bisa membenarkan tindakannya menelantarkan darah dagingnya sendiri.

"Maafkan ibu, nak..." bisik Sloane akhirnya, suaranya pecah oleh tangisan yang tertahan di tenggorokan. Ia tidak berani menatap langsung ke dalam mata abu-abu Issabelle yang begitu mirip dengan pria yang dulu pernah dicintainya di Jerman.

Sloane menyeka ujung matanya dengan tergesa-gesa dengan punggung tangannya, mencoba mengembalikan sisa-sisa ketenangannya yang hancur berantakan.

"Istirahatlah... kau pasti lelah setelah seharian di sekolah baru. Ibu... ibu akan memasak makan malam untukmu. Ibu akan membawakan makananmu ke kamar jika kau tidak ingin makan di meja depan."

Issabelle tidak memberikan respons apa pun. Ia tidak mengangguk, tidak juga menggeleng. Ia hanya terus menatap ibunya dengan tatapan kosong yang mematikan, menanti wanita itu untuk keluar dari ruang pribadinya.

Dengan helaan napas yang sarat akan keputusasaan dan pundak yang merosot layaknya wanita tua yang kehilangan seluruh kekuatannya, Sloane perlahan menarik pintu kamar tersebut hingga tertutup rapat, menyisakan bunyi klik halus yang menandakan keheningan telah kembali menguasai ruangan.

Begitu pintu tertutup, Issabelle kembali merebahkan tubuhnya di atas kasur.

Ia menarik pisau lipatnya dari bawah bantal, menatap langit-langit kamar dengan pikiran yang dingin.

Drama air mata ibunya sama sekali tidak menyentuh nuraninya. Di dunianya, air mata adalah mata uang yang paling tidak berharga.

1
Mia Camelia
aduh isabel kok keras kepala banget sih mpe membenci navaro😔😔😔
gak adil nih klo navaro dan isabel trz salah paham mulu😔
ayolah thor bikin mereka baikan lagi😂😂😂
Game Semut
kaciaaan bngt navvaro
Ros 🌷🦋: huhuhu🥲
total 1 replies
Mia Camelia
semoga isabel cepet muncul lgi thor, kasian navaro jadi patung es bgtu🤣
Ros 🌷🦋: dicairin sama kak reader 🤭🤣🤣
total 1 replies
Mia Camelia
yah kasiah issa ternyata di jebak doang suruh pulang ke jerman😂😂😂😂😂
Ros 🌷🦋: huhuhu😅🤭
total 1 replies
BONBON
aku tunggu kak, 22nya setara dan gk jomplang. bukan kisah Cinderella, mafia x gadis yg dijual oleh keluarganya blabla. 🤣🤣🤭
Ros 🌷🦋: hihi ma'aciww kak atas dukungannya 🫶🥰
total 1 replies
Angela Ghunu
karya kakak bagus skli, semoga semakin maju dan karya " kk makin bnyk🥰🥰
Ros 🌷🦋: Ma'aciww banyak kak🫶🥰
total 1 replies
Mita Paramita
navaro mati rasa sama perempuan 🤨 nunggu Isabella kembali.
Ros 🌷🦋: iyaaa kek nya 😅🤭
total 1 replies
Shusy Bharel
lanjut tho😍😍
Ros 🌷🦋: siap kak🥰
total 1 replies
Mita Paramita
see you again navaro 😘😘😘
Ros 🌷🦋: see you kak reader 🥰
total 1 replies
Mita Paramita
Isabella pecah perawan nya sama navaro 🤣🤣🤣
Ros 🌷🦋: aku malah ngakak loh kak reader 🤭🤣
total 1 replies
Mia Camelia
akhir nya 🥰🥰🥰
Ros 🌷🦋: wkwkw🤭
total 1 replies
Mia Camelia
yah masa baru bucin udah perpisahan aja thor🤣😂😂😂
Ros 🌷🦋: Berpisah dulu biar tau artinya rindu 🤭🤣🤣
total 1 replies
Mia Camelia
yaaah ketauan deh 🤣🤣🤣
Ros 🌷🦋: kwkwk😅
total 1 replies
Mita Paramita
sekarang Isabella punya tempat bersandar walaupun sih navaro plu mines 🤣🤣🤣
Ros 🌷🦋: kesayangan reader 🤣
total 1 replies
Mita Paramita
lanjut Thor 💪💪💪
Ros 🌷🦋: siap kak🫶
total 1 replies
Mita Paramita
navaro diem diem nyelidikin asal usul Isabella 🤣🤣🤣 saking penasarannya
Ros 🌷🦋: kwkwk🤣
total 1 replies
Debu Nakal
lagi.. lagi... lagi... lagi...
Ros 🌷🦋: padahal sudah didraf sampai bab 20 kak😅
total 1 replies
Mia Camelia
wah gak sangka kalo claire pacar nya skylar?? thor ceritaiin dong mereka juga🤔😄
Ros 🌷🦋: author selipin dikit2 nanti mereka 😅
total 1 replies
Mia Camelia
visual nya sempurna banget 🥰🥰👍
Ros 🌷🦋: huhu ma'aciww kak 🥰
total 1 replies
Mita Paramita
bucin akut nih navaro 🤣🤣🤣
Ros 🌷🦋: wkwkw 🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!