Zhao Ryn, gadis manis dua puluh tahun menganggap Sian Lee penerus Lee Group adalah cahaya terang dalam gelapnya hidup.
"Bawa dia pergi!" Perintah dingin seorang Sian berhasil meruntuhkan benteng kokoh Ryn.
"Sian, kumohon tolong aku." Ryn memohon belas kasih Sian agar bisa membantunya namun kembali mendapat penolakan darinya.
"Nona Ryn, mohon kerja samanya." Asisten Jun memberi isyarat agar Ryn bergegas meninggalkan klub nomer satu di kota Jasata.
Bisakah Ryn menemukan kebahagiaan hidupnya? Atau dia benar-benar harus bertahan sendirian.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aan Iman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
lmb22
Taichung kota dengan kesibukan nomer dua di Chinland Taipe setelah Kaohsiung. Tak terasa Ryn hampir sebulan tinggal sekaligus bekerja di sana. Cuaca mulai memasuki musim gugur, udara menjadi lebih sejuk dibanding sebelumnya. Daun-daun tua berjatuhan berserak di jalanan.
Ryn baru saja menerima gaji pertamanya sebagai juru masak utama. Kebetulan hari ini ia libur bekerja dan ingin pergi belanja kebutuhan dengan berjalan kaki dari flat ke toko swalayan yang masih satu kawasan dengan restoran. Ryn hanya menginap tiga malam di mes resto dan selama itu ia mencari tempat tinggal sendiri menggunakan uang simpanan.
Selama berhubungan dengan Sian Ryn jarang menggunakan uang pemberian Sian dalam jumlah besar. Bahkan ia meletakkan kartu tanpa batas miliknya di kamar sebelum pergi.
Ryn pandai tidak melakukan transaksi melalui kartu atau menggunakan ponsel demi menjaga persembunyian.
" Terima Ryn, dia hanya ingin kau memenuhi kebutuhanmu." Kemarin selain menerima gaji pertama Ryn juga mendapat amplop berisi gepokan uang dari Lee Tak melalui Fey.
"Tidak bi, aku masih bisa hidup dengan caraku sendiri." Tolak Ryn tegas, menggunakan uang itu berarti dirinya rendahan. Menjauhi Sian hanya karena materi. Menolak segala pemberian Lee Tak adalah satu-satunya bentuk rasa kasih yang Ryn miliki untuk pria itu.
Di perusahaan Jun menemui Sian untuk melaporkan sesuatu. Sian yang sedang malas berpikir tengah asik duduk bersandar memandangi jendela besar di belakang meja kerjanya.
Saat keduanya saling tatap Jun dapat melihat mata pria itu telah kehilangan cahayanya. Tampak lebih kurus dibanding sebelum kepergian Ryn.
"Jangan ganggu aku Junior!" Ucap Sian malas membahas pekerjaan atau meeting sialan.
"Ini mengenai bibi anda tuan. Ada aliran dana masuk ke rekening nyonya Fey dari sekretaris pribadi tuan besar." Sian mendorong kursi untuk mendekati meja. Menerima bukti yang Jun sebutkan Sian membaca alamat dimana Fey sekarang berada.
"Dia menjalankan restoran milik ibuku." Jawab Sian menyimpulkan.
"Tapi rekening restoran bersih tuan." Ungkap Jun berharap Sian segera peka.
"Kita berangkat sekarang." Putus Sian akhirnya memberanikan diri mengambil keputusan.
Sian memasuki restoran mendiang ibunya. Usaha pertama yang di dirikan di luar naungan Lee Group. Kilasan memori masa kanak-kanak Sian muncul di benaknya. Senyum bahagia sang ibu terpancar kala peresmian pembukaan. Bahkan Sian ingat bagaimana rasanya masakan kesukaan keluarga mereka.
"Sian kau datang, kenapa tidak memberi kabar?" Fey menyambut kehadiran Sian ditengah suasana ramainya restoran. Berusaha menutupi keterkejutan, Fey sedikit lega Ryn kebetulan libur hari itu.
"Tidak sengaja mampir bibi. Ada pekerjaan sekitar sini." Dusta Sian tentu harus berpura-pura.
"Duduklah. Bibi siapkan makan siang untuk kalian." Jun mengangguk menuntun jalan. Ini bukan kali pertama dirinya berkunjung ke sana.
"Nyonya Fey gawat,,," Seseorang dari luar berteriak mencari Fey Yang sedang meracik minuman Sian.
"Airyn, dia di ganggu kelompok pria pengangguran." Lanjutnya berteriak memberitahu.
Fey menghela nafas berat. Secepat itu kah Ryn ketahuan oleh Sian? Harus menjelaskan apa Fey pada Lee Tak nanti. Sedangkan Sian mulai tak tenang memikirkan kekasihnya dalam bahaya segera mencari keberadaan Ryn.
Jun mengejar sementara Fey tidak bisa meninggalkan resto begitu saja. Dia menitipkan pada kapten sebentar lalu menyusul Sian.
"Jangan berani menyentuhku! Kau pasti menyesal jika tahu siapa kekasihku. Dia akan menghajar kalian tanpa ampun." Ryn melempari dua pria di hadapannya menggunakan buah apel dan tomat yang sialnya baru ia beli. Padahal Ryn ingin sekali menikmatinya segera.
"Huh coba kau panggil! Kami tidak takut. Lebih baik ikut kami bersenang-senang." Satu pria dengan rambut ikal dikepang berusaha meraih tangan Ryn.
Ryn bukannya tidak mampu kabur namun keduanya mencoba menghadang kemanapun ia melangkah. Jadilah Ryn meladeni perdebatan mereka.
"Dengar! Aku sedang lapar sekarang, aku bisa saja mencincang daging kalian untuk ku makan." Ryn melepas high heels tiga sentinya, memukul lengan keduanya bergantian.
"Rasakan sialan! Berani kau melawan wanita hah? " Merasa sakit dan risih akhirnya membuat mereka menyerah dan berlari kabur.
Ternyata Ryn mampu menjaga diri, Sian hampir tertawa lepas menyaksikan kejadian barusan.
"Akh, aku lapar." Ryn mengeluh memegangi perutnya. Sejak kemarin selera makannya berkurang dan hari ini rencananya Ryn ingin membuat Apple Pie dan sup tomat.
"Malangnya kalian." Ryn menyesal menjadikan bahan makanan sebagai senjata melindungi diri.
Bukannya menghampiri Ryn, Sian memilih berbalik pergi tanpa menyapa atau sekedar menampakkan kehadirannya. Fey menahan Sian, menatapnya tak percaya pria itu mampu menguasai egonya.
"Sian,,, " Panggil Fey, sang keponakan hanya bisa tersenyum getir sebagai jawaban pasti bahwa dia melepaskan Ryn hari ini tapi tiba-tiba,,,
Bruk..
Semua orang terkejut mendengar suara dari arah jalan. Mobil box pengantar paket telah menyerempet Ryn yang saat itu terburu-buru menyebrang jalan demi mengejar Sian.
Sian, Jun serta Fey berlarian ke tengah penuh rasa khawatir akan keadaan Ryn. Wanita itu terduduk di aspal mencoba menetralkan degup jantungnya yang sangat cepat. Ryn seolah sangat dekat dengan kematian.
"Zhao Ryn, bernafas! " Sian memegangi pundak Ryn berusaha menyadarkannya. Syukurnya mobil tidak sampai menabrak Ryn yang tatapannya masih kosong. Barulah tenang ketika Sian memeluknya erat.
"Tenanglah aku disini Zhao Ryn. Kita ke rumah sakit sekarang." Ajak Sian memaksa Ryn berdiri meski kakinya terasa lemas tak berdaya. Sianpun menggendongnya.
****
"Sian aku baik-baik saja tidak perlu di rawat ok?" Ruang gawat darurat menjadi sibuk akibat ulah Sian, dia meminta pemeriksaan menyeluruh terhadap Ryn. Bahkan pria yang sejak tadi menggenggam tangan Ryn memaksa kekasihnya tinggal di rumah sakit. Padahal Ryn hanya mengalami lecet di lutut, sikut dan telapak tangan.
"Tunggu sampai cairan infus habis Zhao Ryn. Menurutlah." Perintah Sian tentunya enggan dibantah.
"Sian maaf aku haus dan lapar, bisakah kau mencarikan aku makanan dan minuman?" Pinta Ryn, tenggorokannya begitu kering bahkan perutnya kembali merasakan lapar luar biasa.
"Aku akan panggilkan Jun, biar dia yang beli." Ryn malah menahan tangan Sian. "Ada apa?" Tanya Sian tak mengerti.
"Apa kau keberatan jika melakukannya sendiri?" Tatapan Ryn memelas sehingga membuat Sian tak tega.
"Baiklah. Tunggu aku, Jun sebentar lagi akan menemanimu." Sebelum pergi Sian mengusap lembut pipi Hana.
Bukan tanpa alasan Hana meminta perhatian Sian, tiba-tiba saja dia ingin. Dan Ryn sedang menunggu salah satu hasil serangkaian tes dirinya.
"Nona Zhao Ryn, mana wali anda?" Dokter jaga mendatangi Ryn.
"Dia sedang membeli makanan. Dokter aku sudah bisa pulang bukan?" Karena Ryn tidak merasakan sakit apapun akibat kecelakaan tadi.
"Nona, hasil tes darah anda menunjukkan kelainan. Sebaiknya aku mengarahkan nona ke bagian obgyn." Dokter menyerahkan secarik kertas berupa surat rekomendasi. Ryn kebingungan menerimanya, ingin bertanya lebih lanjut sang dokter terlanjur meninggalkan dirinya.
"Tidak mungkin,,," Gumam Ryn menyangkal prasangka yang ada di otaknya. Selama ini Ryn tidak pernah sekalipun absen meminum pil pencegah kehamilan.
"Kau kenapa Zhao Ryn?" Ryn terperanjat mendengar suara Sian.
"Aku sudah boleh pulang." Jawab Ryn berbohong.
"Makan dulu baru kita pergi." Ajak Sian menaruh kantung belanjaan diatas nakas.
"Ya Sian." Berusaha bersikap tenang meski perasaannya kalut memikirkan keadaan tubuhnya. Lalu mereka menikmati makan malam dalam keheningan.
Sian mengantar Ryn ke flat miliknya. Berada satu blok dari restoran mendiang sang ibu, Ryn cukup berjalan kaki sekitar sepuluh menit untuk tiba di tempat kerja. Kali ini flat sewaan Ryn cukup bagus dan luas, Sian bernafas lega mengetahuinya.
"Boleh aku masuk?" Ragu-ragu Sian takut Ryn menolaknya.
"Aku sangat lelah dan ingin tidur. Bagaimana kalau kita bicara besok saja?" Sian memperhatikan wajah pucat Ryn, seharusnya dia tidak membiarkan Ryn keluar dari rumah sakit.
"Istirahatlah Zhao Ryn." Ryn mengangguk kemudian menutup pintu menyisakan Sian yang masih betah disana.
Buru-buru Ryn mencari sesuatu di laci samping tempat tidur. Satu bulan ia mematikan ponsel kini Ryn kembali mengaktifkannya. Ryn menghubungi satu kontak hingga tersambung selama beberapa detik.
"Ryn, kaukah itu?" Seakan tak percaya Ryn meneleponnya setelah menghilang cukup lama.
"Dokter Lea ini aku. Maaf membuatmu khawatir." Ucap Ryn tulus takut Lea menganggap dirinya tak tahu diri. Lea selalu menawarkan bantuan padanya namun Ryn malah pergi tanpa pamit.
"Selama kau baik-baik saja aku merasa tenang Ryn. Mari bertemu, ada hal yang perlu kita bicarakan." Sudah seharusnya Lea berkata jujur tentang perbuatannya dan Sian.
"Apa yang dia lakukan pada tubuhku dok, Kenapa kau tega membohongiku?" Ryn terisak menahan tangis menyadari terlambat mempertanyakan semuanya.
"Maafkan aku Ryn, aku tidak bisa membantah keinginan Sian. Mungkinkah kau,,, " Lea menggantung ucapannya menunggu Ryn.
"Aku belum memeriksa hanya menduga. Tolong bantu aku kali ini dokter Lea, jangan katakan apapun pada Sian! Kalaupun dia harus tahu hasilnya aku yang akan memberitahu."
"Tentu Ryn, tenang saja. Kali ini percaya padaku ok?" Lea segera memotong mencoba meyakinkan Ryn.
"Terima kasih Alea." Ucap Ryn sebelum memutus panggilan.
Ryn belum siap menjadi ibu. Apalagi cara Sian menjebaknya sangat keterlaluan. Dia tidak pernah tahu rasa trauma Ryn memiliki ibu seperti Yuni. Ryn takut dia akan mewarisi sikap kasar pada anaknya kelak.