Nial Percy—seorang CEO tampan dengan reputasi dingin, tertutup, dan selalu memegang kendali—tidak pernah melibatkan perasaan dalam hidupnya. Segalanya terukur. Hingga suatu malam, ia meminta satu hal pada orang kepercayaannya: Mencarikan seorang wanita dengan kriteria tertentu. Tanpa ikatan. Tanpa emosi. Untuk memenuhi kebutuhan biologisnya. Namun takdir menyelipkan sesuatu yang tak ia rencanakan. Queen Lexian Arresta—wanita cantik dari keluarga terpandang yang tengah terjebak dalam perjodohan yang menyesakkan—tanpa sengaja mendengar percakapan itu. Dan dalam satu keputusan yang berani sekaligus nekat, ia menawarkan dirinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Noire 23, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31
"Tuan." Panggil Rayden. Di belakangnya, beberapa pria dari tim evakuasi sudah bersiap dengan kapak dan gergaji mesin besar. "Mobilnya sudah siap. Daripada menunggu, bagaimana jika Anda berbalik arah?"
Nial menyipitkan matanya, menatap lurus ke arah batang pohon besar yang melintang menutupi jalan tertutup salju di depan mereka.
Berbalik arah artinya membuang waktu satu jam lebih lama untuk sampai ke tujuan. Dan dalam kamus Nial, mundur bukanlah sebuah pilihan.
"Tidak perlu balik arah," kata Nial, suaranya terdengar rendah dan mutlak. Ia mengeluarkan sebatang rokok lagi, menyalakannya, lalu menghisapnya dalam-dalam. "Potong pohon itu sekarang. Aku ingin tetap berkendara ke depan."
"Baik, Tuan." Rayden segera berbalik, memberi aba-aba kepada tim evakuasi untuk mulai menyalakan gergaji mesin. Suara deru mesin pemotong mulai memecah keheningan hutan salju tersebut.
Dari dalam mobil, Queen memperhatikan punggung tegap Nial melalui celah kaca yang sedikit terbuka. Di luar sangat dingin, dan melihat Nial hanya mengenakan kemeja tipis di tengah terpaan angin malam, ia merasa khawatir.
Tanpa pikir panjang, Queen mendorong pintu mobil dan melangkah keluar ke atas permukaan jalan yang mulai memutih.
Brak.
Suara pintu yang menutup seketika mengalihkan atensi Nial. Pria itu menoleh, dan sepasang mata elangnya langsung menyipit tajam begitu mendapati Queen sudah berdiri di luar.
"Kenapa keluar?" tanya Nial, dengan dahi yang berkerut dalam, menunjukkan ketidaksetujuannya.
"Tidak apa-apa," Queen mencoba memberikan senyuman manis meski tubuhnya langsung refleks sedikit menggigil begitu hawa dingin meraba kulit wajahnya. "Aku hanya bosan di dalam."
Nial tidak membuang waktu lagi. Tanpa memedulikan sisa rokoknya yang baru diisap setengah, ia langsung menjatuhkan batang tembakau itu ke atas salju dan menginjaknya hingga padam dengan ujung sepatu larsnya.
Nial mengambil langkah lebar, mengikis jarak di antara mereka dalam hitungan detik. Tanpa memedulikan pandangan Rayden dan tim evakuasi yang sibuk bekerja di depan, tangan kekar Nial bergerak buru-buru menarik tubuh Queen masuk ke dalam dekapan hangatnya.
"Kau ini benar-benar keras kepala," bisik Nial, napas hangatnya yang beraroma samar mint dan tembakau berembus menenangkan. "Suhu di luar ini minus, Sweetheart. Masuk lagi ke dalam."
Queen tersenyum manis, mendongak kecil menatap rahang tegas Nial yang mengeras karena menahan dingin. "Tidak. Kita berpelukan seperti ini saja,"
Mendengar respons pasrah sekaligus manis dari wanitanya, embusan napas berat lolos dari hidung Nial, menciptakan kepulan uap putih di udara.
Nial lantas menurunkan kepalanya, menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Queen, mengecup kulit sensitif itu dengan penekanan yang dalam seolah sedang menandai wilayah kekuasaannya di depan umum.
Atmosfer di tengah hutan salju itu seketika berubah canggung.
Melihat pemandangan di depannya, Rayden yang tadinya berdiri tegak dengan wibawa penuh, perlahan menaikkan kedua alisnya tinggi-tinggi. Ia melipat kedua tangan di dada, menatap bosnya dengan tatapan menghakimi yang sangat kentara.
Ekspresinya saat ini benar-benar terkelupas; bukan lagi seorang asisten profesional yang patuh, melainkan seorang sahabat yang sedang menyaksikan kelakuan bucin akut temannya sendiri.
"Tidak pernah jatuh cinta, sekalinya jatuh cinta langsung begini." batin Rayden, menggeleng-gelengkan kepalanya heran.
"Ehm! Tuan Nial yang terhormat," panggil Rayden dengan nada yang sedikit diseret, menyindir halus.
Nial perlahan menghentikan kegiatannya di leher Queen. Tanpa melepas dekapannya, sang CEO menoleh lambat, memberikan tatapan maut sedingin es yang sanggup membekukan darah kepada asisten sekaligus sahabatnya itu.
Namun, Rayden sama sekali tidak gentar. Pria itu justru membalas tatapan Nial dengan senyuman tipis yang sangat menyebalkan, lalu menunjuk ke arah SUV hitam besar yang terparkir di dekatnya.
"Mobil evakuasi di depan jauh lebih luas, Tuan. Hangat dan fasilitasnya sangat memadai jika Anda berniat ... melanjutkan sesi menghangatkan tubuh di sana sambil menunggu kami selesai."
Queen yang mendengar itu langsung menyembunyikan wajahnya yang sudah merah padam ke dada bidang Nial, benar-benar malu setengah mati karena godaan Rayden yang tepat sasaran.
"Potong gajimu sepuluh persen, Rayden," geram Nial.
Tidak seperti waktu itu, kali ini Rayden justru tertawa mendengar ancaman Nial.
"Potong saja. Yang penting Anda berdua masuk ke mobil evakuasi sekarang sebelum aku mati membeku jadi pajangan di hutan ini,"
Nial berdecih pendek, menatap tajam Rayden yang masih memasang senyum tanpa dosa di wajahnya. Tanpa membuang kata-kata lagi, tangan kekar Nial bergerak protektif, merangkul pinggang Queen dan menuntun wanita itu dengan langkah cepat masuk ke dalam SUV evakuasi yang pintunya sudah terbuka lebar.
Brak.
Pintu ditutup rapat, seketika mengunci hawa dingin malam dan suara bising gergaji mesin di luar sana. Kabin SUV mewah itu terasa luar biasa hangat, berkat heater yang sengaja disetel maksimal.
Nial membiarkan Queen duduk terlebih dahulu di kursi penumpang baris tengah yang luas, sebelum tubuh tegapnya menyusul dan duduk tepat di samping wanita itu.
Hanya butuh waktu sekitar sepuluh menit di dalam keheningan yang nyaman sampai akhirnya pintu bagian depan mobil terbuka.
Rayden masuk dan duduk di kursi asisten, disusul oleh seorang sopir yang langsung memosisikan tangannya di atas kemudi.
Rayden menoleh ke belakang sekilas, memamerkan senyum profesionalnya yang sudah kembali terpasang rapi. "Pohon tumbang sudah berhasil dipindahkan ke tepi jalan, Tuan. Jalur bersih. Kita bisa berangkat sekarang."
Nial hanya memberikan anggukan samar sebagai jawaban. Sepersekian detik kemudian, mesin SUV bertenaga besar itu menderu halus, mulai bergerak membelah jalanan sepi yang diselimuti salju tipis menuju penthouse.
Di dalam perjalanan, keheningan kembali menguasai kabin bagian belakang. Queen hanya diam seribu bahasa, memutar tubuhnya sedikit menghadap jendela, berpura-pura sangat tertarik menatap hamparan pohon pinus berbalut salju yang bergerak mundur di luar sana.
Nial sengaja menggeser duduknya, memangkas jarak hingga lengannya bergesekan langsung dengan lengan Queen.
"Kenapa diam saja, hm?" bisik Nial. "Apa kau masih memikirkan ... kejadian di mobil tadi?" Nial menjeda kalimatnya dan menyeringai tipis. "Tadi ... kau sangat lihai menunggangiku, Sweetheart."
Deg.
Mata Queen seketika membelalak sempurna. Jantungnya mencelos mendengar pernyataan super frontal itu. Dengan gerakan refleks yang didorong rasa panik luar biasa, Queen langsung berbalik dan membungkam bibir Nial dengan rapat.
"Jaga bicaramu! Di depan ada Rayden dan juga sopirmu!" bisik Queen setengah mendesis, matanya melotot tajam memberi peringatan, sementara wajahnya sudah merah padam sampai ke leher karena malu setengah mati.
Nial menaikan satu alisnya tinggi-tinggi, menatap geli pada binar panik di sepasang mata Queen. Alih-alih menjauh, Nial justru menggenggam pergelangan tangan Queen yang tengah membungkam bibirnya, menyingkirkannya perlahan dengan gerakan yang teramat lembut, lalu mengecup telapak tangan itu sekilas sebelum melepaskannya.
Sebuah tawa kecil yang terdengar sangat renyah dan langka lolos dari bibir sang CEO tampan itu.
"Jangan pedulikan mereka, sweetheart. Terutama Rayden," sudut mata Nial melirik sekilas ke arah kaca spion tengah di mana ia bisa melihat Rayden yang mendadak pura-pura batuk dan sibuk menatap layar ponselnya. "Dia itu sudah tuli sejak awal jika menyangkut urusanku. Lagipula, kalaupun mereka dengar ... itu tidak masalah."
"Nial! " Queen memekik tertahan, bersiap untuk mencubit lengan pria itu, namun Nial dengan sigap menangkap jemari Queen, menguncinya erat dalam genggaman hangatnya yang posesif, menolak memberikan jarak seins pun sepanjang perjalanan pulang.
"Sudah kubilang, jangan khawatirkan mereka. Terutama Rayden," ulang Nial, dengan nada yang luar biasa tenang. "Dia bisa jadi apa saja yang kuharapkan. Dan kali ini, dia sedang jadi patung."
"Aku jadi patung? Yang benar saja!" Batin Rayden, tak terima.
Nial menatap lurus ke arah punggung kursi depan. "Rayden. Apa kau mendengar apa yang aku katakan tadi?"
Hening.
Tidak ada sahutan sama sekali dari kursi depan. Rayden bahkan tidak bergeming seujung kuku pun, tetap menatap lurus ke kaca depan seolah jiwanya sudah berpindah ke dimensi lain.
Nial kembali menatap Queen dengan senyum tipis yang menyebalkan. "See? Rayden tidak mendengar apa pun."
Queen berdecak, menatap pria di sampingnya itu dengan pandangan tidak percaya. "Nial, kau pikir kau sedang membacakan dongeng pada anak kecil? Bagaimana bisa Rayden tidak mendengarnya? Jarak kita dekat sekali!"
Nial tampak sangat santai, ia malah memainkan jemari Queen di genggamannya. "Memang tidak dengar, Sweetheart."
"Dengar!" bantah Queen gemas.
"Tidak. Percayalah," kata Nial mutlak, masih dengan kepercayaan diri tingkat dewa.
"Diam semuanya," sela Rayden spontan.
Saking spontannya, sopir di sampingnya sampai terkejut dan refleks sedikit menginjak pedal gas, membuat SUV mewah itu agak tersentak sebelum kembali stabil.
Queen dan Nial sontak terdiam dengan pandangan lurus ke arah Rayden melalui celah kursi depan.
Sadar bahwa dirinya baru saja kelepasan karena sudah tidak kuat menahan cobaan mental di dalam mobil, Rayden buru-buru memejamkan mata sesaat. Ia berdeham formal, mencoba menyelamatkan sisa-sisa harga diri dan profesionalismenya.
"Aku mendengar semuanya, Nona ... Eh, maksudku, tidak. Aku tidak mendengar apa-apa," ralat Rayden cepat.
"Kau dengar itu?!" Queen langsung berteriak malu. Ia segera menarik tangannya dari genggaman Nial dan menutup seluruh wajahnya dengan kedua telapak tangan, benar-benar ingin menghilang dari muka bumi saat itu juga.
"Dasar bodoh!" rutuk Nial, sambil melemparkan tatapan mematikan ke arah Rayden.
lanjut thor😄👍makin seru liat nial🥰