NovelToon NovelToon
Aku Bisa Membeli Semuanya Dengan Sistem Diskon

Aku Bisa Membeli Semuanya Dengan Sistem Diskon

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Mengubah Takdir
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Notdrick

Semua benda di dunia memiliki harga.

Rumah, restoran, perusahaan, bahkan kesempatan yang tidak bisa dibeli dengan uang sekalipun.

Saat hidup Lin Liu berada di titik terendah, sebuah sistem misterius memilihnya sebagai pemilik baru. Sistem itu tidak memberinya uang, kekuatan, ataupun keberuntungan.

Yang diberikannya hanyalah... diskon.

Semakin besar target yang berhasil dicapai, semakin langka kartu diskon yang diperoleh. Dengan satu kartu, sesuatu yang mustahil dimiliki bisa berubah menjadi kesempatan yang berada dalam jangkauan.

Namun, setiap pilihan memiliki konsekuensinya.

Di balik setiap transaksi, tersembunyi rahasia yang membuat dunia tidak sesederhana yang terlihat. Kini Lin Liu harus menentukan apa yang layak dibeli... dan apa yang seharusnya tidak pernah memiliki harga.

Karena ketika segalanya bisa dibeli, batas antara keberuntungan dan keserakahan menjadi sangat tipis.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Notdrick, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 28

Malam itu, Lin Liu duduk sendirian di kamar kosnya yang sempit, menatap langit-langit yang mulai mengelupas di beberapa sudut, pikirannya berkecamuk memikirkan seluruh kejadian yang baru saja dia alami. Diusir paksa dari rumah keluarga Huang, ancaman tersirat dari ayah Huang Ruoxi, dan tawaran berbahaya dari Chen Datong yang batas waktunya semakin mendekat—semuanya menumpuk menjadi beban yang terasa terlalu berat untuk dipikul sendirian.

Dia meraih ponselnya, menatap layar kosong itu lama sebelum akhirnya memutuskan untuk pergi ke toko Su Yan. Lampunya masih menyala meskipun sudah larut malam. Dia mendapati Su Yan yang sedang duduk di depan mesin kasir, menghitung uang hasil penjualan hari itu dengan wajah lelah namun tenang.

"Kau belum tidur, Kak?" tanya Lin Liu, duduk di bangku kayu dekat pintu masuk.

"Sama sepertimu," Su Yan menjawab tanpa mendongak, masih fokus menghitung lembaran uang di tangannya. "Ada yang mengganggu pikiranmu?"

Lin Liu terdiam sejenak, mempertimbangkan seberapa banyak yang bisa dia ceritakan tanpa membuat Su Yan semakin khawatir. Namun kelelahan yang dia rasakan akhirnya membuatnya menyerah, dan dia menceritakan semuanya—tentang Chen Datong, tentang keterkaitan keluarga Huang, tentang tawaran berbahaya yang harus dia putuskan dalam waktu dekat.

Su Yan mendengarkan dengan saksama, meletakkan uang yang sedang dihitungnya, menatap Lin Liu dengan raut wajah serius yang jarang dia tunjukkan. "Kau tidak akan menerima tawaran itu, kan?"

"Aku juga tidak yakin," jawab Lin Liu jujur, menundukkan kepala. "Kalau aku terima, semuanya bisa selesai lebih cepat—utangku, informasi soal orang tuaku, bahkan pertunangan Ruoxi bisa dibatalkan. Tapi aku tahu, orang seperti Chen Datong tidak pernah memberikan sesuatu tanpa jebakan di baliknya."

"Kalau kau sudah tahu jawabannya, kenapa masih ragu?" Su Yan bertanya, suaranya lembut namun tegas.

Lin Liu mendongak, menatap Su Yan yang balas menatapnya dengan sorot mata penuh keyakinan. "Karena aku takut, Kak. Takut kalau aku menolak, orang-orang yang aku sayangi justru yang akan menanggung akibatnya."

Su Yan menghela napas, berdiri dari kursinya dan berjalan mendekat, menepuk pundak Lin Liu dengan pelan. "Dengar, Lin Liu. Kau sudah bekerja keras selama ini, jujur dan tidak pernah mengambil jalan pintas meskipun banyak kesempatan untuk itu. Jangan biarkan ketakutan membuatmu mengkhianati semua usaha itu sekarang."

Kata-kata itu menghangatkan dada Lin Liu, memberinya sedikit kekuatan yang selama ini terasa menghilang. "Terima kasih, Kak. Aku... aku rasa aku sudah tahu apa yang harus kulakukan."

...-----...

Keesokan paginya, dengan tekad yang lebih mantap, Lin Liu kembali menjalani rutinitasnya, mengejar sisa target misi yang tinggal beberapa juta lagi. Namun di tengah kesibukannya membantu Su Yan menata barang dagangan, ponselnya bergetar menampilkan sebuah pesan dari nomor tidak dikenal yang segera dia sadari sebagai nomor baru Huang Ruoxi.

"Aku pinjam ponsel pembantu untuk kirim ini. Ayah menyita ponselku dan melarang aku keluar rumah. Dia mempercepat tanggal pertunangan jadi minggu depan, katanya supaya tidak ada 'gangguan' lagi. Aku takut, Lin Liu."

Jari Lin Liu gemetar membaca pesan itu, dadanya bergemuruh antara amarah dan kekhawatiran yang meluap. Dia baru saja hendak membalas ketika sebuah mobil hitam yang sangat familiar berhenti di depan toko, dan A-Wei melangkah keluar dengan wajah datar, membawa sebuah amplop putih di tangannya.

"Bos menunggu jawabanmu," kata A-Wei singkat, menyerahkan amplop itu. "Ini pengingat, waktu tersisa kurang dari dua puluh empat jam."

Lin Liu menatap amplop itu, lalu menatap ponselnya yang masih menampilkan pesan penuh ketakutan dari Huang Ruoxi. Dua kekhawatiran itu bertabrakan dalam benaknya, memaksanya membuat keputusan yang akan menentukan arah hidupnya selanjutnya.

1
Elzi Lamoz
Sistem. semoga sistem ini bisa bantu Lin Liu, tapi terlalu bergantung sistem juga bakal dia jadi lemah. bukan fisik tapi hatinya.
遥依•𝙀𝙉𝙩𝙖𝙧%: Gak kok sistemnya itu lebih kek motivasi dengan imbalan hadiah kartu diskon
total 1 replies
Elzi Lamoz
bukannya bantu orang malah mencibir. laki atau cewek sih suami nya ini.
Intsomi: 🤣....
total 3 replies
Elzi Lamoz
Jangan terlalu memikirkan apa yang udah terjadi, mending isi perut dulu, walau dompet kosong.
遥依•𝙀𝙉𝙩𝙖𝙧%
Sering terjadi di Indonesia, ULTI setiap orang tua😹
Elzi Lamoz
Kasian sih, terus ada bayangan emak bapaknya berkata di keheningan. kamu harus membalas budi karena telah kami besarkan nak🥲
Elzi Lamoz
Depkolertor kah, sadis parah🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!