Mikayla benci rumah barunya. Ia benci Hesti, ibu tiri tegas yang dianggapnya menghancurkan keluarga lamanya. Demi membalas dendam, Kayla nekat masuk ke pergaulan bebas bersama Gavin, mengabaikan peringatan Arka.
Namun, saat bahaya mengintai, bukan ibu kandungnya yang datang menyelamatkan, melainkan Hesti—ibu tiri yang selama ini ia lawan habis-habisan. Di sela perang dingin dan tingkah bucin kocak ayahnya pada Hesti, sebuah rahasia besar masa lalu siap terbongkar. Siapa korban dan siapa pelaku sebenarnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Danisa Danish, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Penyelamat di Balik Riuh
Deru knalpot motor sport milik Gavin dan si cowok rambut pirang semakin menderu keras di garis start. Sorot lampu dari puluhan motor lain berfokus pada mereka berdua, menciptakan atmosfer kompetisi yang panas dan menegangkan. Orang-orang di sekitar sirkuit mulai berteriak heboh, memasang taruhan, dan menyemangati jagoan masing-masing.
Gavin menoleh sekilas ke arah Kayla yang berdiri beberapa meter di pinggir lintasan. Ia menurunkan kaca helmnya, memberikan kode dengan ibu jarinya seolah berkata bahwa semuanya akan aman. Namun, bagi Kayla, tidak ada yang terasa aman di tempat ini.
Seorang gadis berpakaian minim maju ke tengah lintasan, mengangkat sebuah bendera tinggi-tinggi. Begitu bendera dihentakkan ke bawah, kedua motor sport itu langsung melesat cepat, meninggalkan kepulan asap tebal dan bau ban terbakar yang menyengat hidung. Semua penonton langsung bersorak dan berlari ke arah pagar pembatas untuk melihat jalannya balapan.
Fokus semua orang teralihkan ke lintasan balap. Di tengah keriuhan itu, Kayla justru memilih mundur. Ia berjalan ke arah area yang agak sepi di dekat reruntuhan bangunan, mencoba mencari oksigen yang bebas dari asap knalpot.
Saat Kayla sedang memeluk tubuhnya sendiri karena hawa malam yang semakin menusuk, sebuah firasat buruk mendadak menyergapnya. Bulu kuduknya meremang. Dari sudut matanya, ia menyadari sosok berpakaian serba hitam dengan topi dan masker yang tadi mengawasi, kini berjalan perlahan mendekat ke arahnya.
Langkah kaki sosok itu tidak bersuara, teredam oleh kebisingan sirkuit. Aura di sekitar sosok itu terasa sangat pekat dan dingin, memancarkan niat buruk yang nyata. Kayla membeku di tempat, instingnya meneriakkan alarm bahaya. Sosok itu bukan sedang menonton balapan; matanya yang tajam di balik topi tertuju lurus pada Kayla, seolah-olah Kayla adalah target yang harus segera dilenyapkan demi membalas dendam pada Gavin.
Jarak mereka tinggal beberapa meter lagi. Tangan sosok misterius itu perlahan keluar dari saku jaketnya—
SRET!
Sebuah tangan kekar berkulit bersih tiba-tiba menyambar pergelangan tangan Kayla dari arah belakang. Sebelum Kayla sempat menjerit histeris, sebuah telapak tangan lain yang sangat familier mendarat lembut menutupi mulutnya.
"Sstt... Ini gue, Kay. Jangan teriak," bisik sebuah suara bariton yang sangat ia kenal, tepat di samping telinganya.
Kayla mendongak dan membelalakkan mata. Arka!
Cowok itu entah bagaimana caranya sudah berdiri di sana, mengenakan jaket denim gelap dengan gurat wajah yang dipenuhi rasa panik sekaligus cemas yang luar biasa. Arka tidak membuang waktu. Ia melirik tajam ke arah sosok bermasker hitam yang sempat terhenti langkahnya karena kedatangannya. Tanpa menunggu konfrontasi, Arka langsung menarik lengan Kayla dengan tegas, membawanya menyelinap di antara celah-celah truk tua yang terparkir di area belakang sirkuit.
"Lepasin, Ka! Kok lo bisa ada di sini sih?!" bisik Kayla setengah memberontak saat mereka sudah berada di area luar sirkuit yang gelap dan sepi.
"Gue bilang diem, Mikayla! Kita harus pergi dari sini sekarang sebelum Gavin atau orang-orang itu sadar lo hilang!" gertak Arka dengan nada rendah namun penuh penekanan. Ini pertama kalinya Arka memanggil nama lengkap Kayla dengan nada sekeras itu, membuat Kayla seketika terdiam karena syok.
Arka menuntun Kayla menuju sebuah motor matic yang sengaja ia parkir jauh tersembunyi di balik semak-semak luar area. Ia menyambar helm cadangan yang sudah ia siapkan, lalu memakaikannya ke kepala Kayla dengan gerakan yang cepat namun penuh kehati-hatian.
"Naik," perintah Arka pendek sambil menyalakan mesin motornya tanpa lampu utama terlebih dahulu.
Kayla yang masih mencerna apa yang baru saja terjadi, akhirnya menurut. Ia naik ke jok belakang. Begitu kaki Kayla mapan di pijakan motor, Arka langsung menarik gas, membawa mereka berdua kabur membelah jalanan malam yang sepi, meninggalkan sirkuit liar yang penuh bahaya itu di belakang mereka.
Sementara itu, di area sirkuit, sosok bermasker hitam tadi hanya berdiri mematung menatap kepergian mereka dari kejauhan. Tangannya mengepal begitu erat di dalam saku jaket hingga urat-uratnya menonjol. Rencananya malam ini gagal, tapi matanya memancarkan kepuasan tersendiri. Permainan baru saja dimulai, dan siapa pun yang berada di dekat Gavin, cepat atau lambat akan menjadi korbannya.
Deru angin malam yang menusuk tulang perlahan berganti dengan keheningan saat motor matic milik Arka membelas jalanan kota yang mulai sepi. Setelah memastikan jarak mereka sudah cukup jauh dari sirkuit balap liar tempat Gavin berada, Arka memutuskan untuk membelokkan setang motornya menuju pelataran parkir sebuah minimarket yang buka dua puluh empat jam.
Arka mematikan mesin motor, lalu turun tanpa melepaskan pandangan matanya dari Kayla. Tanpa mengucap sepatah kata pun, ia melangkah masuk ke dalam minimarket dan kembali beberapa menit kemudian dengan membawa dua botol air mineral dingin di tangannya.
Cowok itu duduk di salah satu kursi besi yang disediakan di teras minimarket, lalu mengentakkan botol air itu ke atas meja kayu di depan Kayla. Amarah yang sejak tadi ia tahan di sirkuit akhirnya tidak bisa dibendung lagi.
"Lo bener-bener gila ya, Kay?!" omel Arka, suaranya naik satu oktav, menembus kesunyian malam. "Bisa-bisanya lo kepikiran buat pergi ke tempat kayak gitu sama cowok kayak Gavin? Lo tahu gak, kalau tadi gue telat semenjak beberapa menit aja, cowok-cowok berandalan di sana bisa aja ngelakuin hal buruk sama lo! Tempat itu bahaya, Mikayla! Lo mikir gak sih?!"
Arka tidak berhenti. Ia terus mengeluarkan kekesalannya, menceramahi ketidaksabaran dan kecerobohan Kayla yang dianggapnya sudah kelewat batas. Sepanjang Arka meluapkan amarahnya, Kayla hanya diam mematung di atas kursinya. Ia tidak membalas, tidak membentak balik, bahkan tidak mengalihkan pandangannya dari ujung sepatunya yang kotor terkena debu jalanan.
Namun, omelan Arka perlahan-lahan mereda saat ia menyadari bahu Kayla mulai bergetar. Cowok itu menghentikan kalimatnya, menatap lekat-lekat pada kepala Kayla yang tertunduk dalam, menyembunyikan wajahnya di balik helaian rambut panjangnya yang berantakan.
"Ka..." suara Kayla terdengar sangat lirih, nyaris tenggelam oleh deru angin malam.
Arka terdiam, memasang telinganya tajam-tajam.
"Kayanya... bokap gue mau nikah lagi," ucap Kayla akhirnya. Kalimat itu meluncur begitu saja, memecah keheningan di antara mereka.
Mendengar pengakuan tiba-tiba itu, Arka seketika membeku. Kata-kata ceramah yang sudah tersusun rapi di kepala dan kerongkongannya menguap begitu saja tanpa bekas. Ia menatap Kayla dengan tatapan tidak percaya, tidak tahu harus merespons apa atas berita sebesar itu.
Kayla perlahan mengangkat kepalanya, memperlihatkan kedua matanya yang sudah memerah dan berkaca-kaca. "Gue... kayaknya bakal kehilangan bokap gue deh, Ka. Setelah sebelumnya gue harus dipaksa kehilangan nyokap," tambah Kayla. Kali ini, seiring dengan kalimatnya yang terputus, setetes air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya lolos begitu saja, membasahi pipinya yang pucat.
Melihat air mata itu, hati Arka mendadak mencelos. Rasa marah yang membakar dadanya beberapa menit lalu kini sirna, digantikan oleh rasa iba dan sesak yang teramat sangat.
"Apa gue salah ngelakuin semua ini, Ka?" tanya Kayla lagi, suaranya bergetar hebat menahan isak tangis yang mulai mendesak keluar dari tenggorokannya. "Gue cuman mau keluarga gue utuh lagi kayak dulu. Gue cuman pengen pulang ke rumah yang ada Mommy sama Papih di dalamnya. Apa... apa permintaan gue itu terlalu berat buat mereka?"
Kayla mencengkeram ujung jaket hoodie-nya dengan sangat erat, meluapkan seluruh rasa frustrasi yang selama tiga tahun ini ia kunci rapat di dalam hatinya.
"Tapi... bokap gue malah ngajak orang asing masuk ke kehidupan dia, dan secara gak langsung memaksa orang itu masuk ke hidup gue juga," lanjut Kayla, tangisannya kini pecah sepenuhnya. Air matanya mengalir deras tanpa bisa dibendung lagi. "Gue marah, Ka! Gue kecewa banget sama Papih! Gue benci situasi ini! Lo... lo bisa paham posisi gue gak sih?!"
Pada titik ini, emosi Kayla yang sudah ia bendung sejak melihat sosok Hesti di ruang tamunya tadi siang benar-benar meledak tak tertahan. Tembok es yang selama ini ia bangun di depan semua orang di sekolah, pertahanan kokoh yang membuatnya dikenal sebagai 'si jutek' yang angkuh, runtuh seketika di hadapan Arka.
Kayla tahu, hanya di depan cowok inilah ia bisa melepaskan seluruh topengnya. Karena hanya Arka yang paling mengetahui bagaimana cerianya seorang Mikayla dulu. Arka adalah saksi hidup saat masa-masa SMP mereka, di mana Kayla masih menjadi gadis penceria yang selalu tertawa lepas karena keluarganya masih utuh, hangat, dan bahagia.
Arka menatap gadis di hadapannya dengan pandangan mata yang melembut, dipenuhi rasa hangat dan perlindungan. Tanpa memedulikan botol air mineral yang mulai mengembun di atas meja, Arka menggeser kursinya hingga merapat ke sebelah Kayla.
Tanpa ragu, Arka mengulurkan kedua lengannya, menarik tubuh mungil Kayla ke dalam dekapannya. Ia membawa kepala Kayla bersandar di bahunya, membiarkan jaket denim gelapnya basah oleh air mata sahabatnya itu. Tangan kanannya bergerak perlahan, menepuk-nepuk punggung Kayla dengan gerakan teratur, mencoba menyalurkan ketenangan yang ia miliki.
"Gue paham, Kay. Gue paham banget," bisik Arka lembut, tepat di samping pelipis Kayla. "Maafin gue karena tadi udah ngomelin lo. Gue cuma panik karena takut lo kenapa-napa."
Kayla tidak menjawab, ia hanya menenggelamkan wajahnya lebih dalam ke ceruk leher Arka, menumpahkan seluruh rasa sakit hati, rindu pada ibunya, dan rasa dikhianati oleh ayahnya lewat tangisan yang terdengar begitu memilukan di bawah remang-lampu minimarket malam itu.
Arka membiarkan Kayla menangis sepuasnya, membiarkan gadis itu mengeluarkan seluruh racun di dalam dadanya. Di dalam hati, Arka berjanji, apa pun yang akan terjadi di masa depan—baik itu kehadiran Hesti di rumah Kayla maupun gangguan dari Gavin di sekolah—ia akan tetap menjadi tempat bersandar pertama bagi Mikayla, menjaga sisa-sisa senyuman gadis itu agar tidak hilang sepenuhnya.