NovelToon NovelToon
I'M Not Gay

I'M Not Gay

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cintapertama / Bad Boy
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Alia Chans

Sejak lahir, Varren Kaelor tidak pernah diberi kesempatan untuk memilih jalan hidupnya sendiri.

Di balik wajah tampan yang dikagumi banyak orang, tersembunyi sebuah rahasia yang bahkan tidak boleh ia akui pada dirinya sendiri. Setiap langkah, setiap senyum, bahkan setiap hubungan yang ia jalani hanyalah bagian dari sandiwara yang dipaksakan oleh seseorang.

Ketika harus memasuki sekolah paling bergengsi di negeri itu, Varren yakin ia hanya perlu bertahan seperti biasanya.

Namun, semuanya berubah saat seseorang mulai menembus tembok yang selama ini ia bangun.

Semakin dekat orang itu, semakin sulit Varren membedakan mana kebohongan yang harus dipertahankan, dan mana perasaan yang tidak seharusnya pernah tumbuh.

Lalu... apa yang sebenarnya disembunyikan oleh keluarga Kaelor?


"Aku tidak takut jika dunia membenciku. Aku hanya takut... saat dunia mengetahui siapa diriku sebenarnya." — Varren

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alia Chans, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Licik?...

Menjelang sore, Varren mengerjap matanya melirik samar-samar sekitarnya. Ia menguap tenang menatap tangan di atas dadanya. Varren memutar bola mata jengah.

Hamsternya sama sekali tidak ada lagi harga dirinya, dipegang sana sini oleh pria-pria untuk memastikan dirinya pria atau perempuan.

Melirik pelaku—Alvaro yang sedang tertidur sembari ngorok di depannya.

Varren berdehem sejenak menjauhkan tangan Alvaro dari dadanya lalu bangun dari posisinya. Mengucek matanya pelan untuk menatap jam. Ia menguap sejenak, pukul setengah lima sore. Ia menggaruk kepalanya yang terasa gatal.

Varren segera menuju kamar mandi untuk mencuci muka, menguap pelan segera keluar kembali. Saat keluar ia sudah menemukan Alvaro yang duduk bermain HP.

"Udah bangun loe?" tanya Varren kepada Alvaro santai lalu mengusap rambutnya ke belakang karena basah.

Alvaro mengangguk. "Gue nggak bisa tidur kalo nggak meluk guling. Kamar loe kok nggak ada gulingnya sih Ren? Bisa loe tidur tanpa guling." ujar Alvaro cemberut.

Varren memutar bola mata malas. Artinya Alvaro memeluknya tidur karena dirinya dijadikan guling. Anak ini harus ia apakan yah biar dia tidak memikirkan hal selain guling saat tidur.

"Gimana hasilnya tadi?" tanya Varren pelan pada Alvaro.

Alvaro mendekati komputer dan membuka op-nya. "Nah loe cek sendirilah dan loe bandingkan sama yang dikirim sama Alvino." ujarnya menguap pelan dan memilih kembali duduk anteng di kursi. Varren meliriknya dan menatap tajam semua tulisan di sana tenang.

"Alvino itu licik Ren. Bahkan jauh yang loe bayangkan, ludah dia aja mengandung bisa yang sama sekali nggak bisa dipercaya. Dia itu manusia manipulatif, jangan sampe terkecoh. Cukup sekali ini aja jadikan pelajaran." ujar Alvaro memperingati Varren.

Varren menatap dalam semua link formais yang Alvaro rangkum. "Ini semua bener kan Tong?" tanya Varren pelan. Alvaro melirik Varren malas.

"Nggak ada untungnya gue ngubahnya Ren. Ini aja gue nggak digaji sama loe." ujarnya malas kepada Varren.

Varren menatap dalam kertas yang diberi Alvino dan seluler yang Alvino beri. "Ini kenapa gue nggak bisa nembus situs keluarga Ikhsan? Kemaren gue udah buka tapi sama sekali nggak bisa." ujar Varren mencoba mencerna.

"Kemaren seluler loe itu udah dikendalikan sama Alvino." jelas Alvaro kepada Varren serius, mencoba mengambil minuman di kulkas mini Varren.

"Dia nggak tau kata sandi gue." jelas Varren heran dan juga tidak percaya. Lebih tepatnya penasaran.

Alvaro terkekeh. "Ren Ren. Bisa aja HP loe pernah dipasang spyware. Alvino itu punya orang-orang yang jago di bidang teknologi. Dia mungkin nyadap perangkat loe." jelasnya.

Varren melebarkan matanya. Alvaro menepuk pelan pundak Varren. "Alvino itu lebih licik dari yang loe bayangin. Makanya gue selalu larang loe buat gabung. Dia tu ibaratkan duri. Loe nggak bakal tau kalo dia sekecil itu bisa masuk ke dalam daging loe, semakin lama semakin dalam dan semakin buat daging busuk. Alvino itu punya jalan minus yang nggak akan bisa loe cerna kalo loe nggak sama liciknya dengan dia." jelas Alvaro lagi pada Varren menatap komputernya tajam.

Varren diam mengangguk mendengar semua yang Alvaro ceritakan. "Loe kayak tau banget tentang Alvino. Loe salah satu anggota atau gimana?" tanya Varren kepada Alvaro dingin.

Alvaro tersenyum miring. "Gue nggak pernah minat masuk anggota dia. Anggota buruk, paling buruk yang gue temuin. Tapi gue dijebak masuk sama dia." jelasnya berdecik pelan.

Varren mengernyitkan dahi mendengarnya, menatap Alvaro penuh tanda tanya.

"Loe inget pas bokap gue kelilit utang dan hampir bangkrut?" tanya Alvaro.

Varren membasahi bibirnya dan mengangguk. "Pas SMP kelas dua?" tanya Varren.

Alvaro mengangguk. "Yah. Itu karena gue pernah sempat nolak tawaran dia buat jadi tim inti kelompok gelap. Cuma gue nolak karena gue tau itu hal yang buruk. Tapi tiba-tiba sebulannya bokap gue bisnisnya merosot dan hampir bangkrut. Di saat itu Alvino hasut gue dan iming-imingin gue bantuan. Dia janji bakal bantu bokap gue dan usaha bokap gue. Finally gue tetep kekeh nggak mau. Percaya kalo bokap gue bakal bisa kok." jelas Alvaro mengambil ciki di atas meja tenang.

"Terus satu minggu bokap gue minta gue sama mama gue buat pindah dari rumah gede kami. Pas ditanya alasannya, rupanya rumah kami udah disita sama bank dan sama sekali nggak bisa kami selamatkan. Bokap gue bener-bener bangkrut sampe gue inget mama gue nangis di sana dan bokap gue ikut nangis. Gue nggak tega sama mereka, dan gue minta waktu buat bokap nyokap gue tunggu soalnya temen gue ada yang kaya kata gue, dia bakal mau bantu. Dan di situ gue lihat secercah harapan di mata bokap nyokap gue." ujar Alvaro pada Varren mengunyah kacang almon pelan.

"Terus gue telepon Alvino dan gue setuju buat gabung. You know? Orang tua gue bahagia banget malam itu. Tiba-tiba bokap dapat telepon bakal dapat suntikan dana dan investasi dari perusahaan gede gitu, dan kami nggak jadi bangkrut. Malah makin jaya aja bokap gue. Tapi yah itu perusahaan dia dalam naungan Alvino dan keluarganya." lanjut Alvaro.

"Terus?" tanya Varren serius.

"Terus pas gue selidiki lagi kenapa bapak gue bisa bangkrut, yah karena Alvino. Dia menyabotase semua dana dari perusahaan bokap gue lewat orang dalam sehingga ada yang korupsi dan sama sekali nggak terlacak. Terus dia nyewa beberapa orang bayaran buat bikin rating perusahaan bapak gue buruk." jelas Alvaro dengan nada yang jengkel dan kesal.

"Awalnya gue sangat sangat bersyukur dan terima kasih sama dia karena udah mau bantu keluarga gue. Rupanya nggak. Dia bahkan dapat keuntungan dua kali lipat dari kerja sama itu. Gue masuk tim inti dia dan dia juga dapat saham di perusahaan bokap gue. Di mata orang, Alvino itu penyelamat. Padahal dia cuma memastikan loe tenggelam dulu, baru ngasih tangan buat narik loe keluar." jelasnya dengan menggebu-gebu kepada Varren.

"Waw," gumam Varren kagum mendengarnya. "Gue nggak sampe kepikiran yah jalan cerita loe." Gumam Varren. Kagum dengan jalan pikir Alvino yang tipu muslihat. Jika orang tidak teliti dan tidak paham akan alurnya maka bisa jadi mereka akan menganggap Alvino dewa penolongnya, padahal Alvino yang sedang mengisap darah mereka dari dalam. Lintah darat.

"Terus kenapa pas itu loe nggak minjem sama gue aja duit?" tanya Varren kepada Alvaro.

Alvaro menggeleng. "Gue nggak tau loe anak bu Shena. Kalo gue tau, gue minta sama loe lah. Gue kan tau bokap loe semenjak akhir kelas 3." jelasnya dengan pelan pada Varren.

Varren di sana mengangguk paham. Baru ingat jika selama ini dirinya memang tidak terlalu berkoar akan hal itu.

"Jadi gimana Ren? Menurut gue sih kalo loe belum punya utang atau keterikatan sama Alvino, mending loe keluar aja deh. Serius. Gue aja mau keluar tapi nggak bisa, soalnya ancamannya itu usaha bokap gue. Kalo gue nggak mau, mereka bakal hancurin itu perusahaan bokap gue. Gue nggak tega lihat bonyok gue nangis-nangis." jelas Alvaro sendu.

Varren di sana tersenyum miring. Untung saja kemarin dia menolak uang dan rumah dari Alvino. "Gue nggak akan keluar. Justru malah gue tertantang." jelas Varren di sana dengan semangat. Ini membuat harinya lebih berwarna.

Bersambung

1
Anime aikō-kā
p
Alia Chans: 🤔🤔🤔🤔🤔🤔.
total 3 replies
ẜᮦ࿆ᷗhimboy
semangat
Alia Chans: Thank you kk/Smile//Smile/
total 1 replies
Nelson Sihombing
berarti dia gk cewek? atau gk cowok?
Alia Chans: Gak tau lupa gw🤭🤭
total 1 replies
Kak Umi
Jangan lupa baca cerita aku juga ya 🙏🙏😍😍
Kak Umi
Cerita asyik dan enak untuk dibaca
Kak Umi
Ikut baca ya😍😍
Alia Chans: makasih kk dah mampir. semoga suka ya😉
total 1 replies
𝑊𝑎𝑤𝑎ᵃᵈʳⁱᵃⁿ
menurut ku diam bukan cara penyelesaian trbaik
_r: kak baca novel ku juga dong, judul nya tower of souls
total 2 replies
Nemicca˃ 𖥦 ˂
seru banget sukak
Nemicca˃ 𖥦 ˂: hehe pasti lah
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!