"Satu Janji, Dua Dunia, dan Takdir yang Tertukar."
Di hari pernikahannya, Syarifah Khadijah Al-Eydrus kehilangan Habib Farhan, calon suaminya yang tewas dalam kecelakaan tragis. Melalui sebuah wasiat terakhir, Khadijah terpaksa dinikahi oleh Zaid, adik kandung Farhan yang tampan, dingin, sekaligus berandalan ketua geng motor.
Bagi Zaid, Khadijah hanyalah "titipan" yang menyesakkan. Di bawah satu atap, sang Hafizah berjuang dengan kesabaran, sementara Zaid terus memberontak dalam liarnya kehidupan malam. Namun perlahan, getaran asing mulai tumbuh di antara cadar dan jaket kulit.
Akankah Zaid berubah menjadi imam yang pantas, ataukah Khadijah selamanya hanya menjadi bayang-bayang masa lalu?
"Karena terkadang, Allah mematahkan hatimu hanya untuk mempertemukanmu dengan seseorang yang akan menjagamu selamanya."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeonndhhh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PERPISAHAN DAN JANJI DI TANAH MATARAM
Suasana haru menyelimuti serambi rumah kayu di Krapyak pagi itu. Langit Yogyakarta tampak sedikit mendung, seolah ikut merasakan beratnya perpisahan yang akan terjadi. Setelah dua minggu menghabiskan waktu dalam kedamaian dan menemukan makna baru dalam pernikahan mereka, Zaid dan Khadijah harus kembali ke Jakarta untuk melanjutkan kuliah serta tanggung jawab yang telah menunggu.
Tas-tas sudah tertata rapi di bagasi mobil sewaan yang akan mengantar mereka ke stasiun. Zaid berdiri di samping Habib Abdullah, sementara Khadijah masih berada dalam pelukan hangat Ummi yang tak kunjung ingin melepaskannya.
Habib Abdullah menatap Zaid dengan pandangan yang dalam. Beliau meletakkan kedua tangannya di bahu kokoh menantunya itu. "Zaid, Jakarta adalah kota yang keras. Di sana, godaan akan jauh lebih besar daripada di sini. Tapi ingatlah, kamu tidak lagi berjalan sendirian. Ada mutiara yang harus kamu jaga keselamatannya, baik lahir maupun batinnya."
Zaid mengangguk takzim. "Insya Allah, Bah. Zaid akan selalu ingat pesan Abah. Zaid bukan lagi Zaid yang dulu."
"Abah percaya," sahut Habib Abdullah dengan senyum teduh. "Seorang laki-laki sejati bukan dilihat dari seberapa keras pukulannya, tapi seberapa lembut ia memperlakukan keluarganya. Jadilah pelindung bagi Khadijah, sebagaimana ia menjadi penenang bagi jiwamu."
Zaid mencium tangan mertuanya dengan penuh rasa hormat. Ia merasakan ada sebuah estafet tanggung jawab yang kini benar-benar telah berpindah seutuhnya ke pundaknya.
Di sisi lain, Ummi mengusap pipi Khadijah yang tertutup cadar. "Jaga dirimu baik-baik di sana, Sayang. Jangan lupa minum vitamin, jangan terlalu lelah dengan tugas kampus. Dan yang paling penting... jaga hati suamimu."
"Iya, Ummi. Khadijah akan selalu ingat pesan Ummi," bisik Khadijah dengan suara yang sedikit parau karena menahan tangis.
"Zaid," panggil Ummi. Zaid mendekat. "Tolong bimbing Khadijah. Jika ia salah, tegurlah dengan cinta. Jika ia lelah, jadilah tempatnya bersandar."
Zaid merangkul bahu Khadijah, menariknya sedikit merapat ke sisinya. "Zaid janji, Mi. Khadijah adalah harta Zaid yang paling berharga."
Setelah berpamitan dengan Hamzah yang kali ini diam karena sedih akan ditinggal, mobil pun mulai bergerak meninggalkan pelataran rumah. Dari kaca jendela, Khadijah terus melambaikan tangan sampai sosok kedua orang tuanya menghilang di tikungan jalan.
Di dalam kereta eksekutif yang membawa mereka kembali ke Jakarta, suasana terasa lebih tenang. Khadijah menyandarkan kepalanya di bahu Zaid, sementara tangan mereka saling bertautan erat di bawah tutupan jaket.
"Mas..." panggil Khadijah pelan.
"Hmm?" Zaid menoleh, mengecup puncak kepala istrinya.
"Terima kasih ya."
"Untuk apa?"
"Untuk semuanya. Untuk kesabaran Mas selama di Jogja, untuk cintanya, dan untuk janji Mas pada Abah dan Ummi tadi. Khadijah merasa menjadi wanita paling beruntung di dunia."
Zaid tersenyum, ia mengangkat tangan Khadijah dan mencium punggung tangannya lama. "Aku yang beruntung, Khadijah. Jogja memberiku banyak pelajaran, tapi yang paling penting, Jogja memberiku kepastian bahwa aku benar-benar mencintaimu tanpa bayang-bayang siapa pun."
Zaid menatap ke luar jendela, melihat hamparan sawah yang berganti menjadi pemukiman padat. Ia tahu, di Jakarta nanti, tantangan akan kembali datang. Sherly, geng motor, dan ekspektasi keluarga Al-Idrus akan kembali menghampiri. Namun kali ini, Zaid tidak takut. Ia memiliki "rumah" yang selalu menunggunya, dan ia memiliki janji yang akan ia jaga sampai hembusan napas terakhir.
Perjalanan pulang ini bukan sekadar kembali ke rutinitas, melainkan langkah awal menuju pembangunan rumah tangga yang sesungguhnya. Di bawah deru mesin kereta, dua hati itu berikrar dalam diam: bahwa badai apa pun yang akan menerjang di Jakarta nanti, mereka akan menghadapinya bersama, berpegangan pada tali cinta yang telah disatukan oleh Sang Pemilik Hati.