The Last Crown adalah buku pertama dari The Hollow Thorne Trilogy. Bercerita tentang perjalanan Pangeran Kal Valdyr, pewaris takhta Izengard yang kehilangan segalanya setelah istana jatuh dalam pengkhianatan berdarah. Dari seorang pangeran yang dibesarkan untuk memerintah, Kal berubah menjadi buronan yang hanya membawa satu hal, nama keluarganya yang hampir musnah.
Dengan petunjuk terakhir dari ayahnya, Kal mencari Marlow Renad, Nightingale terakhir yang pernah bergerak di balik bayangan mahkota. Bersamanya, Kal mulai menempuh jalan gelap untuk merebut kembali apa yang dirampas darinya.
📢 Visualisasi karakter atau hal penting lainnya dapat dilihat pada postingan di profil saya, Visualisasi itu saya buat dengan bantuan AI berdasarkan gambaran saya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Inkbound, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Warisan
Malam turun sepenuhnya di atas hutan Gisa. Langit bersih, hanya disapu beberapa awan tipis yang bergerak perlahan melewati bulan. Cahaya pucat jatuh di antara cabang-cabang, menempel pada daun basah, akar yang mencuat dari tanah, dan sisi tenda yang kami dirikan beberapa langkah dari api. Hutan yang siang tadi tampak biasa kini berubah menjadi ruang luas yang dipenuhi bayangan panjang. Dari kejauhan terdengar suara burung hantu, disusul dengung serangga malam yang datang dari segala arah dan tidak pernah benar-benar berhenti. Sesekali ada sesuatu bergerak di dalam semak, ringan dan cepat, lalu hening kembali sebelum aku sempat menoleh.
Aku dan Marlow duduk menghadap api unggun. Panci bekas makan malam sudah disingkirkan, menyisakan dua cangkir logam yang mengeluarkan uap tipis. Teh buatan Marlow tidak diberi madu maupun gula. Rasanya tawar, sedikit getir, dan meninggalkan rasa kering di pangkal lidah, tetapi panasnya mengalir turun ke tenggorokan dan memberi kehangatan pada perutku. Aku memegang cangkir itu dengan kedua tangan, membiarkan panas logamnya masuk ke jari-jari yang kaku. Bau daun teh yang pahit bercampur dengan asap kayu, tanah basah, dan sisa lemak daging yang tadi kami masak.
Marlow duduk di seberangku dengan kedua lutut terangkat. Mantel bulunya terbuka di bagian depan, sedangkan pedangnya diletakkan dalam jangkauan tangan dan sebagian sarungnya tertutup daun kering. Ia memegang sebatang ranting dan menusuk-nusuk bara api. Setiap kali kayu dibalik, bara merah muncul dari bawah abu dan mengeluarkan letupan kecil yang mengirimkan percikan ke atas sebelum padam.
Kami hampir tidak bicara sejak selesai makan. Keheningan itu sebenarnya tidak buruk, tetapi setiap kali aku mengangkat wajah, aku kembali sadar bahwa pria di hadapanku masih seorang asing. Aku baru mengenalnya sejak pagi. Aku tidak tahu dari mana ia berasal, tidak tahu seperti apa hidupnya sebelum menetap di pulau kecil itu, dan tidak tahu mengapa Dad memilih namanya sebagai tempat terakhir yang harus kutuju. Namun sekarang arah hidupku bergantung pada keputusan yang ia buat.
Aku meletakkan cangkir di tanah, lalu memasukkan tangan ke dalam kantong jubah. Koin pemberian Dad masih berada di sana. Permukaannya dingin ketika menyentuh ujung jariku. Aku mengeluarkannya dan meletakkannya di atas buku-buku jari. Perak tua itu menangkap cahaya api, memantulkan warna jingga yang bergerak di sepanjang tepinya.
Aku memutarnya perlahan. Koin itu menggelinding dari telunjuk ke jari tengah, hampir jatuh, lalu kutahan dengan ibu jari. Pada salah satu sisinya terukir seekor burung kecil dengan sayap terbuka dan kepala menoleh ke samping. Sebagian garisnya sudah aus, tetapi bentuknya masih jelas.
“Kau belum menceritakan semuanya,” kataku tanpa mengalihkan perhatian dari koin itu.
Ranting di tangan Marlow berhenti menyentuh bara. Beberapa saat kemudian ia mengembuskan napas panjang, lalu meletakkan ujung ranting di atas tanah.
“Baiklah,” katanya. “Apa yang ingin kau ketahui?”
Pertanyaan pertama sudah berada di kepalaku sejak meninggalkan Izengard, hanya saja selama ini aku belum sanggup mengucapkannya.
“Kenapa pamanku membunuh keluargaku?”
Suaraku terdengar datar, terlalu datar untuk sesuatu yang membuat dadaku sakit setiap kali kupikirkan. Marlow menatap api cukup lama. Cahaya merah bergerak di wajahnya, masuk ke garis-garis lelah di sekitar mata dan mulutnya.
“Ada beberapa pertanyaan yang tidak punya jawabannya,” katanya. “Itu salah satunya.”
Aku menekan tepi koin dengan kuku ibu jari.
“Bukankah kau mengenalnya lebih lama dariku?”
“Aku mengenal orang-orang yang pernah bekerja dengannya. Aku mendengar banyak cerita tentang dirinya. Itu tidak sama dengan mengetahui isi kepalanya.”
Marlow menunduk sebentar, lalu mendorong sepotong kayu lebih dalam ke bara dengan ujung ranting.
“Dann tidak banyak bicara sejak muda. Banyak orang menganggapnya pemalu, tetapi kurasa bukan itu. Ia hanya tidak merasa perlu membiarkan semua orang mengetahui pikirannya.”
Api merendah sebentar. Marlow mengambil sepotong kayu kecil dari dekat kakinya dan melemparkannya ke tengah bara. Asap tipis naik dan terbawa angin ke arahku, membuat mataku berair.
“Dia berbakat,” lanjutnya. “Sangat berbakat. Kuda yang sulit dikendalikan bisa tenang di tangannya. Dalam latihan pedang, ia sudah mengalahkan orang-orang yang lebih tua sebelum usianya cukup untuk masuk barisan prajurit.”
Aku pernah mendengar cerita serupa dari para pelayan tua dan perwira istana. Mereka biasa membicarakan Dann dengan suara hati-hati, terutama jika Dad berada tidak jauh dari sana. Tidak pernah terdengar sebagai penghinaan terang-terangan, hanya perbandingan yang dianggap terlalu tidak sopan untuk diucapkan keras.
Marlow memandangku dari seberang api.
“Banyak orang percaya bakat Dann jauh lebih besar daripada Jerrod, jangan tersinggung.”
“Aku tidak tersinggung,” kataku.
Dad memang bukan pemain pedang terbaik. Ia tidak pernah berpura-pura menjadi yang terbaik. Ia memerintah karena dilahirkan lebih dulu, lalu bekerja cukup keras agar kelahirannya tidak menjadi satu-satunya alasan orang mematuhinya.
“Aku hanya ingin tahu kenapa dia melakukan semua itu.”
Marlow tidak menjawab. Dari caranya menatap api, aku tahu bukan karena ia menyembunyikan sesuatu. Ia memang tidak memiliki jawaban yang kucari. Aku tidak memaksanya. Pertanyaan itu kusimpan untuk hari ketika aku bisa menanyakannya langsung kepada Dann, bukan sebagai keponakan yang menunggu penjelasan, melainkan sebagai orang yang membawa pedang di tangannya.
Aku menghentikan putaran koin di antara jariku.
“Lalu Nightingale?” kataku. “Kenapa aku baru mendengar namanya sekarang?”
Pandangan Marlow turun ke lambang burung pada permukaan koin.
“Karena Jerrod tidak ingin kau mengenalnya.”
Dad menyimpan banyak hal dariku. Urusan dewan, pertengkaran antarbangsawan, perjanjian yang tidak boleh disebut di luar ruang kerjanya. Selama ini aku mengira semuanya akan diberikan kepadaku sedikit demi sedikit ketika waktunya tiba. Ternyata waktu itu tidak pernah datang.
“Jerrod ingin menjauhkanmu dari kehidupan seperti ini,” kata Marlow. “Ia tidak ingin mengulang apa yang dilakukan ayahnya.”
“Raja Agraf.”
Marlow mengangguk, lalu mengambil cangkir tehnya.
“Puluhan tahun lalu, saat perang dengan Kerajaan Kaitin terjadi, kakekmu mendirikan Nightingale. Kami bukan pasukan. Tidak ada seragam, panji, atau barak. Nightingale tidak berdiri di belakang raja saat ia menemui rakyat, dan nama kami tidak pernah ditulis dalam daftar prajurit.”
Ia meneguk teh sebentar sebelum melanjutkan.
“Nightingale bergerak ketika mahkota tidak bisa bertindak secara terbuka. Kami memasuki wilayah musuh sebelum pasukan kerajaan menyeberangi perbatasan, membawa pesan yang tidak boleh ditemukan, mengambil kembali orang yang ditawan, dan membunuh mereka yang dianggap terlalu berbahaya untuk dibiarkan hidup.”
Kata terakhir itu diucapkannya tanpa perubahan nada. Aku menatap Marlow melewati api dan mencoba membayangkannya ketika masih lebih muda, tanpa warna pucat di pelipisnya, berjalan pada malam hari dengan pedang di pinggang dan tanpa lambang kerajaan yang bisa melindunginya jika tertangkap.
“Perintah datang langsung dari raja,” katanya. “Melaksanakannya tanpa bertanya, bahkan jika tidak ada jalan pulang setelahnya. Ada urusan yang tidak bisa dibawa ke meja perundingan, dan ada hal-hal yang tidak boleh diketahui rakyat. Raja Agraf membutuhkan orang-orang yang bisa mengotori tangan mereka sementara mahkota tetap terlihat bersih.”
Udara malam terasa lebih dingin. Burung pada koin itu tidak lagi tampak kecil. Ukirannya terasa seperti sesuatu yang seharusnya tidak kumainkan di antara jari seolah benda biasa.
“Berapa banyak anggota Nightingale?”
“Tidak pernah banyak, tujuh termasuk aku saat aku pertama kali bergabung. Agraf tidak mempercayai kelompok besar. Terlalu banyak orang berarti terlalu banyak mulut, terlalu banyak keluarga yang bisa diancam.”
Nada suaranya tetap datar, tetapi ibu jarinya berhenti mengusap tepi cangkir. Mungkin ia sedang mengingat seseorang. Mentornya, barangkali, orang yang mati dua tahun lalu dan meninggalkannya sebagai anggota terakhir.
“Ketika Jerrod menjadi raja, semuanya mulai berubah,” kata Marlow. “Ia tetap memakai nightingale jika tidak punya pilihan, tetapi ia tidak menyukai cara ayahnya bekerja. Perintah menjadi semakin jarang. Beberapa anggota pergi. Beberapa sudah terlalu tua.”
“Yang lain mati.”
“Ya.”
Aku menggenggam koin itu lebih erat.
“Hingga tersisa kau.”
“Ya.”
Kata itu tenggelam ke dalam suara hutan. Seekor serangga kecil hinggap di tepi cangkirku, lalu kuusir dengan ujung jari. Teh di dalamnya sudah tidak terlalu panas, tetapi masih mengeluarkan uap samar.
“Jadi kau melakukan apa pun yang diminta Dad?”
Marlow mengangkat wajah.
“Jerrod bukan Agraf.”
Ada sesuatu dalam cara ia menyebut nama Dad. Bukan rasa takut, dan bukan pula penghormatan resmi seorang bawahan kepada raja. Lebih seperti rasa hormat yang tumbuh karena pilihan.
“Dia tidak pernah memintaku melakukan hal-hal seperti yang dulu sering diminta Agraf pada Nightingale generasi itu,” lanjutnya. “Kalau sesuatu bisa diselesaikan tanpa darah, ia memilih jalan itu. Kalau seseorang bisa dibawa pulang hidup-hidup, ia tidak menyuruhku membawa kepalanya.”
Aku kembali melihat koin di tanganku. Dad mempercayakan benda itu kepadaku pada saat-saat terakhirnya. Bukan pedang kerajaan, bukan surat bagi panglima atau bangsawan, melainkan sebuah koin tua yang membawaku kepada pembunuh terakhir dari organisasi rahasia milik kakekku.
“Dan sekarang Dad mempercayakan hidupku kepadamu.”
Marlow meletakkan cangkirnya dekat sepatu, lalu mengambil kembali ranting tadi. Ujungnya menyentuh bara dan membelah abu sampai cahaya merah muncul dari bawah.
“Tidak.”
Aku menatapnya.
“Kau yang bertanggung jawab atas hidupmu sendiri, kau yang memutuskan sendiri apa yang nanti akan kau lakukan” katanya sambil membalik sepotong kayu yang belum terbakar sepenuhnya. Api kecil muncul di sisinya, menggeliat sebentar sebelum membesar. “Tapi untuk saat ini, aku akan membimbingmu.”
Aku menutup jari di sekitar koin. Logam itu menekan telapak tanganku, dingin pada awalnya, lalu perlahan menghangat karena kulitku. Aku tidak tahu apakah jawaban Marlow membuatku lebih tenang atau justru membuatku sadar bahwa pada akhirnya tidak ada seorang pun yang bisa mengambil beban itu dariku.
Api unggun mulai mengecil. Kayu yang tadi menyala terang kini tinggal merah di bagian dalam, tertutup lapisan abu tipis yang sesekali retak ketika Marlow menyentuhnya dengan ranting. Teh di cangkirku sudah dingin. Rasa getirnya masih tertinggal di lidah, bercampur dengan bau asap yang menempel di rambut dan pakaianku.
Aku memasukkan kembali koin Nightingale ke dalam kantong jubah. Logam itu terasa hangat setelah lama berada di genggaman, lalu menekan sisi pahaku ketika aku mengubah posisi. Percakapan kami belum menjawab semua hal yang ingin kuketahui, tetapi tubuhku mulai menolak diajak berpikir lebih jauh. Kelopak mataku berat. Leher dan bahuku kaku, sementara rasa nyeri di punggung semakin jelas setiap kali aku menarik napas panjang.
Marlow menatapku dari seberang api. Matanya turun sebentar ke cangkir yang masih kupegang, lalu ke wajahku.
“Tidurlah,” katanya.
Aku melihat ke arah tenda kecil di belakang kami. Lubangnya tampak seperti celah hitam di bawah kain yang ditarik rendah. Tanah di dalamnya pasti dingin dan keras, tetapi rasa lelah membuat tempat itu tampak cukup nyaman.
“Bagaimana denganmu?”
“Aku berjaga.”
Aku menoleh ke hutan di belakangnya. Cahaya bulan hanya menyentuh sebagian batang pohon. Selebihnya gelap, dipenuhi suara serangga dan gesekan daun yang tidak bisa kubedakan asalnya. Sejak tadi aku beberapa kali mendengar ranting patah dari kejauhan, tetapi setiap kali menoleh, tidak ada apa-apa selain semak dan bayangan.
Marlow mengambil pedangnya dari tanah dan meletakkannya melintang di atas paha. Ia tidak tampak mengantuk. Punggungnya tetap tegak, kepalanya sedikit miring seperti sedang mendengarkan suara yang tidak bisa kudengar.
“Aku bisa berjaga setelahmu,” kataku.
“Kau baru berjalan setengah hari dan hampir tertidur sambil duduk.”
Aku hendak membantah, tetapi menguap lebih dulu. Marlow tidak tersenyum. Ia hanya mengangkat ranting dan mendorong sepotong kayu lebih dalam ke bara.
Aku berdiri perlahan. Kedua kakiku kesemutan karena terlalu lama ditekuk. Saat melangkah menuju tenda, lututku terasa lemah dan telapak kakiku berdenyut di dalam sepatu. Aku membungkuk masuk, lalu menurunkan tubuh di atas kain minyak yang telah kami hamparkan. Bau tanah, rami, dan kain lembap langsung memenuhi hidungku.
Sebelum berbaring, aku melihat keluar sekali lagi. Marlow masih duduk di tempat yang sama, menghadap hutan dengan pedang dekat tangannya. Cahaya api menyentuh sisi wajahnya dan membiarkan bagian lain tenggelam dalam gelap.
“Bangunkan aku kalau ada sesuatu,” kataku.
Marlow menoleh sedikit.
“Tidur saja, Kal.”
Aku menarik selimut sampai menutupi dada. Dari dalam tenda, api unggun hanya terlihat sebagai cahaya oranye yang bergerak pada kain. Suara ranting yang dibalik Marlow terdengar pelan, disusul letupan kecil dari bara. Di luar itu, hutan terus hidup dalam kegelapan.
Aku memejamkan mata, sementara Marlow tetap berjaga di luar.