Sama seperti bosnya, Adnan juga punya hobi mengambil foto dengan kameranya. Namun hobinya berubah jadi obsesi ketika dia ketagihan mendapatkan job 'fotografer p|us-p|us'. Semua itu berawal saat Adnan menemukan kamera tua milik mendiang ayahnya di lemari.
Kamera tua itu mampu membuat Adnan melihat dalam mode tembus pandang, lalu mode menampilkan yang tak kasat mata, bahkan sampai mode ronsen yang digunakan dalam kedokteran. Gilanya lagi, kamera itu mampu bisa membuat wanita klepek-klepek pada Adnan. Bagaimana bisa?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Desau, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 1 - Kamera Warisan
"Kamu mau kan menggantikan ayahmu? Kerja jadi sopir?" tanya Wildan. Seorang lelaki dewasa dengan kumis tipis dan badan tegap. Dia merupakan kepala keluarga Narendra.
Adnan terdiam sejenak. Dia tentu memikirkan tawaran Wildan. Terlebih semenjak ayahnya meninggal sebulan lalu, dirinya kesulitan bayar uang kuliah dan akhirnya memilih berhenti.
"Adnan?" Wildan memanggil karena lawan bicaranya tak kunjung menjawab.
"Eh, iya, Mas Wildan. Maaf..." sahut Adnan sembari memegangi tengkuk. "Iya, aku mau, Mas. Aku mau gantikan ayahku kerja jadi sopir buat Mas Wildan. Tapi... Mas Wildan udah terlalu banyak bantuin aku. Rasanya aku--"
"Udah! Aku bantu kamu karena sudah menganggamu dan mendiang ayahmu keluarga. Kau dan ayahmu orang baik, Ad. Dan aku sangat beruntung punya kalian kerja sama aku," potong Wildan cepat.
Memang sebaik itulah Wildan dimata Adnan. Dia bahkan pernah membayarkan uang kuliah Adnan. Bahkan saat ayahnya sakit dulu, Wildan yang membayar biaya pengobatannya. Adnan hanya tak mau terus membuat Wildan repot karenanya.
"Aku rasanya gak mau terus ngerepotin--"
"Apaan kamu sih! Mana ada aku repot!" tegas Wildan. "Aku malah senang bisa bantu. Dari pada biarin kamu kerja luntang lantung di luar sana. Dulu aku pernah hidup susah, Ad. Aku tahu gimana susahnya cari kerjaan dan cari uang," lanjutnya.
"Baiklah kalau gitu, Mas. Aku mau melanjutkan pekerjaan ayah!" ucap Adnan akhirnya.
"Bagus! Besok pagi kamu udah bisa mulai kerja. Aku pengen kamu jadi sopir Liza," kata Wildan.
"Liza?" Mata Adnan terbelalak. Setahunya Liza adalah putri pertama Wildan. Liza memiliki paras cantik dan pernah berteman dengan Adnan waktu kecil.
"Iya. Akhir-akhir ini dia ketahuan sering kelayapan nggak jelas. Jadi aku tarik semua alat transportasi dia," jelas Wildan. "Ya udah. Datang besok pagi sebelum jam delapan. Itu Liza ada jadwal kuliah besok!"
"Baik, Mas. Besok aku akan mulai kerja, Mas!" sahut Adnan. Setelah itu dia pamit pulang dengan mengendarai motor lusuhnya.
...***...
Adnan tiba di rumah sederhananya yang terletak di pinggiran kota. Dia langsung duduk ke sofa tua kesayangan mendiang ayahnya. Sofa itu sudah koyak karena kelakuan Oyen, kucing peliharaan Adnan.
"Aku nggak bisa begini terus... Kenapa nggak aku saja yang mati, Pak? Kenapa Bapak yang malah pergi duluan?" gumam Adnan.
TOK!
TOK!
TOK!
Tiba-tiba suara ketukan pintu terdengar. Mata Adnan sontak membulat sempurna. Dia langsung ingat kalau hari itu dia berjanji akan membayar hutang pada Bang Joni, preman rentenir yang rutin menagih hutang ke rumah. Semuanya jelas saat suara Bang Joni memanggil dari luar.
"Woy! Adnan! Lu nggak lupa kan kalau lu bakalan bayar hutang hari ini?!" ujar Bang Joni.
"Sial!" umpat Adnan. Dia tak punya pilihan selain membuka pintu.
Adnan sendiri sadar diri kalau dirinya sudah sering menunggak hutangnya. Terlebih sebelum ayahnya meninggal, beliau berpesan pada Adnan agar melunasi semua hutang yang ada. Ayahnya juga mengatakan kalau dia punya tabungan yang tersimpan di lemari kamarnya.
Pintu segera dibuka oleh Adnan. Bang Joni datang bersama dua anak buahnya yang berbadan kekar.
Adnan menyuruh Bang Joni dan anak buahnya menunggu sejenak. Mengingat Adnan harus mencari uangnya dulu.
Adnan bergegas masuk ke kamar mendiang ayahnya. Lalu mencari uang tabungan ke lemari tua yang ada di sana. Adnan periksa ke berbagai sudut, termasuk di celah-celah pakaian yang terlipat rapi. Sampai akhirnya Adnan menemukan sebuah kotak kayu yang tersembunyi di antara tumpukan kemeja.
Adnan buka kotak kayu itu. Di sana dia melihat ada beberapa lembar uang ratusan ribu rupiah serta sebuah kamera tua.
"Apaan nih? Sejak kapan Bapak punya kamera begini? Apa dikasih Mas Wildan ya?" imbuh Adnan.
"Woy, Adnan! Lama amat sih! Lu nggak mencoba kabur kan?!" pekik Bang Joni yang sudah tak sabar menunggu.
"Eh, tunggu, Bang!" sahut Adnan. Dia mengambil semua uang di kotak kayu dan hanya menyisakan seratus ribu rupiah.
Adnan bergegas memberikan uang pada Bang Joni. "Aku hanya punya segini, Bang. Aku tahu ini kurang, aku janji akan--"
"Sialan! Ini cuman satu juta! Hutang bapak lu 50 juta! Separo aja nggak sampai ini!" potong Bang Joni mengomel.
"A-apa? 50 juta? Bukannya kemarin hanya 30 juta, Bang?" Adnan tercengang. Karena seingatnya minggu lalu hutang mendiang ayahnya 30 juta.
"Ya itu resiko karena lu nunggak terus! Bunganya bakalan nambah terus!" balas Bang Joni. Dia lalu menarik kerah baju Adnan, hingga kaki lelaki itu sedikit terangkat dari lantai.
"Gue akan maklumi bayaran lu hari ini. Tapi gue mau lu bayar lebih banyak minggu depan! Ngerti?!" timpal Bang Joni.
Adnan menatap getir pada lelaki berkepala pelontos itu. Dia langsung mengangguk dan menjawab, "Nge-ngerti, Bang..."
Bang Joni seketika melepas cengkramannya. Dia dan dua anak buahnya pun pergi.
Kini Adnan mendengus lega. Namun pikirannya tetap kalut karena harus memikirkan cara untuk mencari uang agar bisa melunasi semua hutangnya.
Setelah berpikir lama, Adnan teringat dengan kamera tua milik ayahnya yang dia temukan tadi. Ia pun mengambil kamera itu. Tapi keadaan kamera itu benar-benar lusuh. Lensanya bahkan dipenuhi debu tebal.
Adnan juga mencoba mengambil foto dengan kameranya. Namun tak bisa karena kameranya yang berdebu.
"Aku harus bersihin dulu. Setelah itu mungkin baru bisa bagus lagi. Kalau udah bagus, aku jual deh," gumam Adnan. Dia ke teras depan rumah dan mengambil ember berisi air.
Perlahan Adnan lap kamera itu dengan hati-hati.
"Eh, Adnan! Lagi ngapain kamu? Kayaknya serius banget?" Tari, janda muda sebelah rumah menyapa. Dia tampak mengambil jemuran yang sudah kering.
"Ini ngelap kamera, Mbak!" sahut Adnan sambil tersenyum ramah.
"Tak kirain mandiin burungnya tadi. Haha..." canda Tari.
"Mbak sendiri kan tahu aku nggak punya burung," balas Adnan polos.
"Masa sih? Terus yang di dalam celana itu bukan toh?" tanggap Tari.
"Astaga, Mbak bisa aja. Itu beda burung, Mbak..." ujar Adnan seraya menahan tawa. Bersamaan dengan itu, dia sudah selesai mengelap debu di lensa kamera.
"Hahaha! Ya iyalah beda. Burungnya nggak bisa terbang," kata Tari. Dia sudah selesai mengambil jemurannya. Tapi lanjut menyibukkan dirinya dengan menyiram tanaman di halaman rumah.
Saat itu Adnan mencoba mengambil foto dengan kamera yang sudah dia bersihkan dengan lap basah. Ternyata kamera itu masih bagus dan bisa dipakai. Ia mengambil foto ke arah jalanan.
"Wah... Coba foto Mbak aja, Ad!" seru Tari.
"Iya, Mbak!" Adnan lantas mencoba mengambil foto Tari. Namun saat dia melihat Tari melalui kamera itu, dia langsung dibuat syok.
"Astaga!" ucap Adnan refleks.
"Kenapa? Mbak kelihatan jelek ya?" tanya Tari cemas.
Tapi Adnan tak langsung menjawab. Dia tampak masih syok. Bagaimana tidak? Saat melihat Tari dari kameranya, dia melihat keadaan perempuan itu jadi tanpa busana. Kamera itu tembus pandang!