Sebelumya, bunga ini sempat kehilangan pesonanya, dengan kelopak menunduk, bahkan warnanya pudar. Namun, begitu air menyentuhnya, bunga itu pun mekar kembali, mengingatkan kita bahwa kebahagiaan bisa datang jika mau mengusahakannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon TastyTeaTime Time, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 20
Dua minggu berlalu.
Setelah dibujuk berkali-kali oleh dokter, akhirnya Valeska bersedia menjalani sesi kemoterapi kedua hari ini. Dalam beberapa hari terakhir, meski harus berjuang melawan penyakitnya yang kian menyulitkan, Valeska justru mendapatkan kabar yang membawa kebahagiaan besar.
Dia dan Kaivandra dikejutkan oleh sebuah kenyataan, bahwa hubungan mama dan papa nya semakin membaik meski masih ada beberapa konflik. Artinya, harapan untuk menyatukan kedua orang tua mereka kembali menjadi lebih nyata. Beribu syukur dipanjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Mereka bukan merayakan kebahagiaan atas keputusan berat yang diambil orang tua mereka, namun bersyukur atas kuasa Tuhan yang perlahan mengabulkan doa-doa tulus yang selalu dipanjatkan setiap malam. Saking bahagianya, Valeska memutuskan untuk membawa camilan sehat yang akan dia bagikan kepada pasien kemoterapi lainnya di lantai 5. Tak hanya itu, dia juga meminta Kaivandra untuk membelikan makanan berat dari restoran Arjuna, untuk dibagikan kepada semua tenaga medis.
"Bang, makasih banyak, ya," ujar Valeska dengan senyum cerah.
"Sama-sama, dek. Jadi, hari ini sudah siap buat kemo?" Kaivandra menjawab sambil mengacak rambut adiknya.
"Siap banget, bang." Jawabnya penuh semangat.
Tak lama kemudian, seorang perawat datang membawa obat oral yang harus Valeska konsumsi terlebih dahulu. Setelah menunggu sekitar tiga puluh menit, dokter memasuki ruangan, menandai dimulainya sesi kemoterapi.
Pada lima menit pertama, Valeska tampak baik-baik saja. Tubuhnya seakan mencoba beradaptasi dengan obat yang mulai mengalir dalam aliran darahnya. Namun, tidak lama dari situ, efeknya mulai terasa. Kepalanya berdenyut hebat, mual menyerangnya tanpa ampun, hingga akhirnya ia muntah.
Kaivandra, yang sejak awal berada di sampingnya, langsung diliputi kepanikan. Dengan nada cemas, ia memanggil perawat berkali-kali, berharap ada yang segera datang untuk membantu adiknya yang terkulai lemah di atas brankar.
"Bang ... perut adek sakit... adek nggak mau muntah lagi, tapi ada yang mengganjal di dalam ..." Valeska berbisik lemah sambil menahan rasa sakit.
Kaivandra, yang tengah melamun, seketika tersadar dan buru-buru mencari plastik untuk muntahan yang tadi diberikan perawat. Namun, saking paniknya, dia bahkan tidak melihat plastik yang tergeletak di nakas.
Valeska, dengan tenaga seadanya, menunjuk plastik tersebut.
"Bang, itu plastiknya di situ," lirih Valeska.
Kaivandra segera meraih plastik itu dan menyerahkannya pada Valeska.
"Abang ngadep belakang aja, soalnya muntahan adek banyak," ujar Valeska sambil bersiap mengeluarkan isi perutnya yang terasa kosong.
Namun, Kaivandra tetap bertahan di tempatnya. "Abang nggak jijik. Abang di sini demi adek."
Plastik pun penuh dengan muntahan, dan Kaivandra dengan sigap mengikatnya sebelum membuangnya kedalam tong sampah. Kaivandra kembali mendekati Valeska untuk membersihkan sisa muntahan di dagu dan bajunya.
"Makasih, bang," ucap Valeska lemah, lalu kembali bersandar di atas brankar.
Seluruh tubuhnya terasa sakit, terutama di area tulang, yang seperti dihantam nyeri tanpa ampun. Saat Valeska mulai memejamkan mata, Kaivandra menahan.
"Adek, minum dulu, ya. Biar nggak lemas.Sebentar lagi kemonya selesai," ujarnya dengan lembut, memastikan adiknya tidak kekurangan cairan.
***
Sesi kemoterapi kedua telah selesai tiga jam yang lalu, namun dokter Fahru menyarankan agar Valeska dirawat inap sampai kondisinya stabil. Siang tadi, Valeska mengalami muntah hebat hingga berujung pada dehidrasi akut.
Sejak saat itu, tubuhnya terasa seperti medan perang yang kalah telak. Awalnya, dia hanya mengeluhkan pusing ringan sesuatu yang dianggapnya wajar pasca-kemoterapi. Namun, seiring berjalannya waktu, pusing berubah menjadi nyeri tajam yang menjalar ke belakang kepala.
Wajah Valeska kini pucat pasi, tidak menyisakan sedikit pun rona merah di pipinya. Bibirnya kering dan pecah-pecah, sementara napasnya terdengar berat dan tersengal, seperti paru-parunya menolak bekerja sebagaimana mestinya. Tubuhnya menggigil meski telah dibalut selimut tebal.
"Bang ... kepala adek ... sakit banget, bang ... kayak mau pecah," gumam Valeska, suaranya nyaris tak terdengar.
Kaivandra menggenggam tangan adiknya erat, berusaha memberikan kekuatan. Namun, kondisi Valeska terus memburuk. Napasnya semakin tak beraturan, dadanya naik turun dengan ritme yang memprihatinkan. Tiba-tiba, tubuhnya ambruk, matanya setengah terpejam, hingga kehilangan kesadaran. Panik melanda Kaivandra.
"Perawat! Dokter Fahru. Dokter Rijal. Tolong, Adik saya!"
Serunya sambil berlari ke lorong rumah sakit, berharap seseorang segera datang membantu. Tim medis bergerak cepat. Dokter Rijal pun datang dan mulai memeriksa pupil Valeska yang melebar tidak normal, pertanda tekanan intrakranial-nya meningkat.
"Pasien ini baru selesai kemoterapi, ya?" tanya dokter Rijal dengan nada serius.
"Benar, dok. Siang tadi," jawab seorang perawat.
Dokter Rijal mengangguk. "Segera bawa ke ruang radiologi untuk Ct-Scan. Kita harus memastikan ada apa di otaknya."
Kasur pesakitan didorong cepat menuju ruang radiologi. Sementara Kaivandra, dengan langkah berat dia mengikuti dari belakang, hatinya dipenuhi kecemasan.
20 Menit Kemudian. Valeska kembali dibawa ke ruang perawatan. Di sana, dokter Fahru dan dokter Rijal sudah menunggu. Namun, kali ini Kaivandra tidak diizinkan masuk. Dokter Fahru yang merupakan spesialis bedah saraf, sedang menatap hasil CT scan dengan ekspresi serius.
"Pasien mengalami edema serebral, pembengkakan otak yang kemungkinan besar dipicu oleh efek samping kemoterapi. Cairan berlebih di otaknya menyebabkan tekanan meningkat drastis. Ini kondisi yang sangat berbahaya."
"Segera pindahkan pasien ke ICU!" perintah dokter Fahru. Tanpa banyak berpikir, perawat yang sama pun langsung mengangguk patuh.
"Baik dok."
Valeska segera dilarikan ke ruang ICU. Kaivandra berdiri di luar ruangan dengan pandangan kosong, mencoba memahami apa yang baru saja terjadi. Dokter Fahru mendekatinya.
"Nak Kaivandra, kondisi adikmu saat ini buruk. Kami akan melakukan yang terbaik, tapi kamu harus siap dengan segala kemungkinan yang akan terjadi ke depannya."
Kaivandra menggigit bibirnya, berusaha menahan air mata. "Dok, apa yang sebenarnya terjadi pada adik saya?" tanyanya, suaranya parau.
"Nanti saya jelaskan setelah orang tua kalian datang ke sini, biar tidak terjadi kesalah pahaman. Kalau begitu, saya permisi."
Di dalam ruangan ICU, Valeska masih terbaring dengan berbagai alat medis yang terpasang di tubuhnya. Selang oksigen, monitor detak jantung, dan infus menjadi pemandangan yang menyakitkan. Obat diuretik diberikan untuk mengurangi cairan berlebih di otaknya, sementara kortikosteroid disuntikkan untuk meredakan pembengkakan.
Kaivandra berdiri di balik kaca, menatap adiknya dengan mata merah, mencoba menahan air mata yang sudah berada di ambang jatuh.
"Dok ... adik saya akan baik-baik saja, kan?" tanyanya dengan suara gemetar.
Dokter Rijal menatapnya, mencoba memberikan ketenangan. "Kami sedang melakukan semua yang kami bisa. Saat ini, fokus kami adalah menstabilkan kondisinya. Selama dia mau berjuang, harapan itu akan tetap ada."
"Nak Valeska, anak yang ceria sama seperti teman-temannya. Di saat mereka main ke rumah, di situ saya memikirkan banyak hal tentang kesehatannya, apakah orang tua dan teman-temannya sudah tahu soal ini?" tanya dokter Rijal, mengingat Valeska teman putrinya.
Kaivandra menggelengkan kepala, "Tidak ada yang tahu soal ini selain saya dan dokter."
"Kasih tahu orang tua kalian, sebelum terlambat." Jawab dokter Rijal.
Malam itu terasa begitu panjang. Setiap detik adalah siksaan bagi Kaivandra. Di sudut pikirannya, muncul sebuah pertanyaan yang tak bisa ia hindari. Apakah sudah waktunya untuk memberitahu mama dan papa soal penyakit Valeska?
***
Manusia boleh merancang seribu rencana, tapi Tuhanlah yang memutuskan mana yang terbaik untuk hamba-Nya. Keinginan sering kali tak sejalan dengan harapan, seolah bertentangan dengan kuasa Ilahi. Dalam perlombaan menuju garis akhir yang diimpikan, manusia hanya dapat berpegang pada doa dan harapan, meski akhirnya tetap harus tunduk pada keputusan Sang Maha Kuasa. Untaian doa, tangisan, dan usaha, semuanya adalah bagian dari perjalanan yang penuh misteri.
Di dunia ini, tidak ada yang pasti. Selama keputusan belum ditetapkan, semuanya hanyalah teka-teki dari semesta. Di ruang bernuansa putih yang sunyi, hanya terdengar suara mesin monitor yang terus berdetak pelan, seirama dengan denyut kehidupan Valeska yang kian melemah.
Tiga hari telah berlalu, namun tak ada sedikit pun kondisi Valeska menunjukkan peningkatan. Segala upaya telah dilakukan, namun tubuhnya tetap terbaring kaku, melawan badai dalam diam. Kaivandra berdiri di antara kedua orang tuanya, memandang Valeska dengan tatapan yang penuh luka.
Di dalam ruangan, dokter Fahru dan dokter Rijal, bersama dua perawat, tengah memeriksa tubuh kecil yang terkulai di atas ranjang. Kabel-kabel elektrokardiogram menyelimuti Valeska, menghubungkannya dengan monitor yang memantau denyut jantung dan ritme hidupnya.
Di sisi lain, alat arterial line tertanam untuk memastikan tekanan darahnya agar tetap diawasi. Dokter Rijal memeriksa pupil mata Valeska dengan teliti, lalu meraih nadi di pergelangan tangannya. Napasnya masih berat, penuh beban yang sulit diungkapkan.
"Lemah, dok," ucapnya lirih.
Dokter Fahru meminta perawat membuka sebagian kimono rumah sakit yang dikenakan Valeska. Dengan stetoskop di tangan, ia mendekatkan alat itu ke dada kecilnya yang lemah. Suara napas yang terdengar nyaris tak ada, mengukuhkan kenyataan bahwa tarikan hidup Valeska jauh dari kata normal.
"Masih belum ada peningkatan," ujar dokter Fahru akhirnya.
"Tak apa," balas dokter Rijal.
"Kita harus tetap memberikan kabar ini kepada keluarganya, meski tak ada yangberubah."
Perawat mengangguk, lalu beranjak keluar untuk menemui keluarga Valeska. Sementara itu, dokter Rijal tetap di sisi Valeska, memandangi tubuh kecil yang terkulai di ranjang. Dalam hati, ia merasa pedih. Seharusnya masa remaja Valeska dihabiskan dengan tawa riang di sekolah, bermain bersama teman-temannya, bukan bertarung melawan penyakit yang kejam ini.
Di sela-sela keheningan itu, tubuh Valeska tiba-tiba tersentak, lalu kembali diam. Dokter Rijal menahan napas, menyaksikan betapa besar perjuangan yang sedang dilalui Valeska.
"Nak Valeska, kamu anak yang pintar dan kuat. Bertahanlah, Nak," bisiknya penuh haru.
"Masih banyak orang yang menyayangimu. Kalau sudah sembuh nanti, kamu bisa main lagi dengan putri saya."
Tak disangka, dari kelopak mata yang tertutup rapat, setetes air mata mengalir perlahan. Dokter Rijal tersentak, juga hatinya terenyuh. Dengan lembut, ia menyeka air mata itu, kemudian mengelus kepala Valeska penuh kasih sayang. Dalam hati, ia sudah menganggap Valeska seperti putrinya sendiri. Gadis ini kerap mengadu padanya setiap kali merasakan sakit, dan kini ia hanya bisa berdoa agar Tuhan segera mengangkat penderitaan yang tak seharusnya ia tanggung di usia semuda ini.
"Bertahanlah, Nak," ulangnya lirih, seakan angin yang menyampaikan pesan itu ke telinga Valeska. Sementara di luar sana, doa-doa tak pernah putus, menggantung di langit malam, memohon mukjizat untuk putri yang dicintai banyak hati.