“Anda sudah gila?!” Nasya menutup bibirnya menggunakan kedua tangannya.
“Kegilaan yang menguntungkan bukan? Hanya sebatas kontrak saja. Saya tidak akan menggunakan status suami untuk menyentuhmu,” ujar Elgan dan mendekat ke telinga Nasya. “Rasanya tidak sudi juga jika bukan karena terpaksa.” Elgan menjauh setelah berbisik.
Elgan memberikan kartu namanya. Kemudian, dia meninggalkan Nasya yang masih mematung dengan menggenggam pemberiannya tadi. Nasya menggemnya erat, air matanya terus saja mengalir, semakin deras seperti hujan malam ini.
“Kenapa semuanya begitu menyedihkan? Dikhianati pujaan hati yang katanya berjanji akan menikahi dan sekarang apa? Nikah kontrak? Begitu menyakitkan menjadi miskin. Tidak ada pilihan, meski ingin memilih,” batin Nasya meratapi hidupnya.
Bagaimana kelanjutan kisah rumit ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cacctuisie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CTIKCD - Ada saat Bahaya
Nasya mendekat di dekat ruang kerja Elgan. Sejak tadi dia mondar-mandir untuk meminta pendapatnya. Nasya masih memikirkan Lala. Takut jika terjadi apa-apa, mengingat hubungan kedua orang tuanya yang sepertinya tidak baik. Memang hanya dugaan saja, tapi melihat dan memperhatikan reaksi Iren. Jelas ada yang disembunyikan.
Nasya hendak mengetuk pintu, tapi diurungkannya. Dia tidak ingin ikut campur, tetapi hatinya menolak. Dia peduli pada Lala. Tak ingin jika terjadi sesuatu yang sama pada salah satu murid bimbingannya. Sampai-sampai dilarikan ke rumah sakit karena melakukan hal berbahaya.
“Aku tau sih Lala tuh nurut banget sama mamanya, cuma ya mamanya aja terlalu menekan gitu. Gimana, ya?” gumam Nasya kebingungan.
Ketikung bingung melanda harus mengetuk atau kembali lagi ke kamarnya. Nasya memilih untuk maju dengan berani. Bertepatan dengan Elgan yang membuka pintu. Hampir saja Nasya mengenai Elgan jika tidak mengerem tangannya.
“Eh, ngagetin banget,” kata Nasya spontan.
“Mau ngapain?” tanya Elgan tanpa basa-basi.
“Hm, itu … gimana ya ngomongnya,” ujar Nasya nampak berpikir cara menyampaikannya.
“Cepetan, ini Reina mau nelpon soalnya. Makanya, aku mau ke kamar,” balas Elgan.
Mendengarnya Nasya tertegun sejenak. Ternyata hubungan mereka sudah mulai membaik. Namun, rasanya kenapa ada yang mengganjal di benaknya. Ada sesuatu yang tak bisa dijelaskan. Nasya terdiam ditempatnya.
“Penting? Aku buru-buru,” tanya Elgan lagi.
“Nggak, yaudah angkat aja dulu telpon dari Reina itu. Aku bisa bicara nanti,” jawab Nasya.
“Kalau begitu besok saja, aku sekalian mau tidur.” Selesai mengucapkannya, Elgan pun melanjutkan langkahnya meninggalkan Nasya.
Nasya masih tak berkutik, dia tidak melupakan gunanya dia di rumah ini. Memang tak seharusnya Nasya ikut campur. Dengan langkah berat, Nasya turun tangga untuk keluar mencari udara segar. Nasya tak memperhatikan jam.
Menikmati keheningan malam, berjalan di tepi jalan dengan rambutnya yang terurai. Banyak kebimbangan dan juga keraguan dengan hatinya sendiri. Mengetahui Elgan yang statusnya hanya suami kontrak hampir berhasil dengan tujuannya dan Revan masa lalunya yang tak pernah menyerah dengan dirinya.
“Kalau si Reina itu kembali lagi pada Mas Elgan, tugasku selesai. Akan tetapi, kenapa aku gak seneng, ya? Padahal, memang sudah seharusnya. Apa ini jalan takdir mau aku kasih kesempatan buat Revan?” batin Nasya terus berjalan yang tak tahu arah.
“Kok mereka mudah banget ya mempermainkan pernikahan? Kalau masih suka sama suka, kenapa harus menikah sama orang lain?” gumam Nasya.
Tanpa sadar dari kejauhan ada dua pria yang sudah mengawasinya. Nasya tidak memperhatikan itu, dia hanya bergelut dengan dirinya sendiri. Jalan pun sudah lumayan jauh, hingga tersadar dia tak membawa ponsel hanya untuk memesan ojek.
“Ya ampun, kok aku jalannya kejauhan gini gak sadar, sih? Mana HP gak kebawa lagi. Gara-gara Mas Elgan, nih. Padahalkan mau bahas Lala tadi,” cerutu Nasya seraya menghentakkan kakinya.
Nasya berbalik arah menuju jalan pulang. Namun, langkahnya mulai dipercepat. Dia merasa sedang diikuti dari belakang. Rasa takut mulai menghampirinya. Langkahnya pun kalah dan terhenti saat satu pria sudah menghadangnya dadi depan. Dan satu lagi sudah ada di belakangnya.
“Malam-malam begini mau kemana, Cantik? Mau dianter pulang nggak?” ucap pria itu sambil menatap dari bawah sampai bawah.
“Kelamaan gak usah basa-basi. Bawa aja ke bawah pohon itu.” Pria yang mencoba menyentuh lengan Nasya.
Nasya segera menghindar. Hendak berlari untuk melepaskan diri. Namun, pria yang hendak memegang lengannya tadi kekuatannya sangat besar. Pria yang satunya hanya bisa tersenyum miring. Dia tak berbuat apa-apa karena tahu temannya bisa mengatasi Nasya sendiri.
“Angkat aja, aku duluan.” Pria itu berjakan santai meninggalkan Nasya dengan temannya.
Benar saja, melawan sekuat apapun. Nasya tetap kalah tenaga. Air mata itu runtuh ketika badannya sudah berada di dekapan tangan pria itu. Nasya diletakkan kasar di bawah pohon besar dengan penerangan yang redup. Nasya benar-benar ketakutan. Melepaskan barang berharga yang dimilikinya yakni cincin pernikahannya berharap bisa dilepaskan.
“Cincin ini harganya mahal, kalian ambil ini dan lepaskan saya,” ucapnya gemetaran.
“Kita mau semuanya, Cantik,” jawabnya semakin membuat keberanian Nasya runtuh.
Salah satunya mendekat, mencengkeram kedua bahu Nasya kuat. Kemudian, tangan kanannya menyentuh bibir Nasya lembut. Nasya mengalihkan pandangannya ke samping. Tak sudi tersentuh. Namun, pria itu menahan pipinya kuat.
“Kebiasaan wanita selalu menolak di awal, kalau sudah enak baru nagih,” ucapnya terdengar menjijikkan.
Pria itu semakin berani hendak menyentuh kerah baju Nasya. Akan tetapi, seorang pria datang dan memberi perhitungan padanya. Nasya membelalakkan matanya melihat Elgan datang sebelum terlambat. Namun, ketakutannya masih begitu besar sampai kakinya lemas hendak berdiri.
Elgan belum menghampiri Nasya. Dia masih bergelut menghadapi kedua pria yang sok berani itu. Elgan tak segan-segan menghajar mereka sampai menyerah. Barulah dia menghampiri Nasya yang terlibat berantakan. Tanpa berkata apa-apa, Elgan memeluk pelan Nasya yang masih menangis.
“Kamu sudah aman, ada aku di sini.” Elgan mengusap-usap punggung Nasya.
Nasya mengangguk-angguk paham. “Tapi aku takut,” ucapnya.
Elgan memahaminya. “Sekarang pulang?” tanya Elgan melepas pelukannya.
Nasya mengangguk lagi. Hendak berdiri, tapi sudah didahului oleh Elgan yang menggendongnya di depan. Nasya tak bergerak, seakan udara sulit didapatkan. Jantungnya berdegup kencang, ketakutannya berkurang.
“Tangan kamu taruh di leher aku, biar seimbang,” titah Elgan santai.
“Ak—aku bisa jalan sendiri,” ucap Nasya terbata-bata karena sedikit gugup.
“Besok aja, malam ini serahin ke aku.” Elgan tetap berjalan meski jarak menuju rumah cukup jauh.
Setelah berjalan cukup lama, akhirnya Elgan samoai di depan pintu rumah. Sudah ada Bik Jum yang dengan khawatir menunggu. Melihat kedua orang yang ditunggunya baik-baik saja. Bik Jum menghela napas lega, meski sedikit ganjal melihat Nasya berasa di gendongan Elgan.
“Makasih ya, Bik. Untungnya Bibik bilang, jadi Nasya gak apa-apa,” kata Elgan.
Bik Jum mengangguk dengan memberikan senyumannya. Elgan melanjutkan langkah, tapi Nasya minta turun dari gendongan Elgan. Dia tahu Elgan pasti kelelahan.
“Aku sendiri aja yang naik tangga. Kaki aku sehat, kok,” ucap Nasya.
Elgan tak mendengarkan. Dia tetap melangkah, menaiki tangga dan menuju kamarnya. Mata Nasya membulat sempurna saat diajak ke kamar Elgan, bukan kamarnya. Nasya mengernyitkan dahinya tak mengerti.
“Kenapa malah ke kamar ini?” tanya Nasya.
Elgan menurunkan Nasya pelan di tepian ranjang. “Untuk balasan ku malam ini, cukup temani aku. Aku akan mengambilkan pakaian ganti dulu,” jawab Elgan melangkah ke ruang ganti.
“Maksudnya? Aku disuruh pake baju dia juga? Katanya mau telponan sama Reina,” gumam Nasya bingung dengan tingkah Elgan.