Tersedak boba membawa petaka! Alara, cewek modern bermulut pedas, mendadak isekai jadi Selir Alara Villin—selir terbuang Dinasti Ruelle yang lemah dan ditindas di Istana Dingin. Tragisnya lagi, dia diberi makan bubur basi yang airnya lebih banyak daripada nasi.
Sebagai pencinta makanan sejati, Alara menolak mati kelaparan. Dia pun nekat menyelinap ke paviliun pribadi Kaisar Kaivan dan mencuri paha ayam panggang sang penguasa.
Sialnya, aksi Alara tertangkap basah. Bukannya bersujud ketakutan menghadapi sang Kaisar yang terkenal kejam dan sedingin es, Alara malah menodongnya:
"Anda kurung saya tanpa makanan layak. Baru ambil satu paha ayam, Anda masih utang sembilan puluh sembilan ayam lagi sama saya. Sini bayar!"
Kaisar Kaivan yang gengsian setengah mati mendadak dibuat jantungan oleh logika absurd selir bar-barnya ini. Siapa sangka, di balik wajah esnya, sang Kaisar aslinya jago lawak, gampang panik, dan takut kecoa!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aera_yong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kudeta Sekte Teratai Hitam (Alara Pasang Kawat Laser di Lorong Istana) {2}
Malam itu, Istana Dalam Ruelle diselimuti kegelapan yang tidak biasa. Seluruh obor di koridor utama sengaja dipadamkan atas perintah Permaisuri Alara. Suasana sunyi mencekam.
Di balik bayang-bayang pilar giok, puluhan pembunuh bayaran dari Sekte Teratai Hitam bergerak tanpa suara bagai hantu.
Mereka mengenakan pakaian serba hitam, cadar penutup wajah, dan menggenggam belati beracun.
Di barisan paling belakang, Ibu Suri melangkah dengan senyum penuh kebencian yang membara.
"Cari jalang bar-bar itu dan penggal kepalanya! Malam ini, takhta Ruelle akan kembali ke tanganku!"
Para pembunuh bayaran itu mengangguk, lalu melesat memasuki lorong panjang menuju Paviliun Naga Emas.
Namun, mereka tidak tahu bahwa lorong tersebut telah disulap oleh Alara menjadi labirin kematian spek film Resident Evil.
Di ujung koridor, Alara duduk santai di atas kursi rotan bersama Kaisar Kaivan yang sudah menggenggam pedang naganya. Alara mengenakan kacamata hitam modifikasi dari mika tipis, sembari memegang sebuah tuas kayu kecil.
"Tuan Kai, target sudah memasuki killing zone," bisik Alara dengan seringai licik.
"Mari kita aktifkan sistem keamanan 'Sinar Kematian' versi ramah kantong."
Alara menarik tuas kayu tersebut.
*CEKLEK!
Di sepanjang lorong raksasa itu, ratusan cermin kecil yang dipasang dengan sudut presisi geometris mendadak memantulkan cahaya dari lampion minyak tersembunyi yang diledakkan secara fokus.
Cahaya itu melewati lensa cembung buatan pandai besi, menciptakan garis-garis cahaya lurus yang sangat terang dan menyilaukan meski bukan laser asli, dalam kegelapan total, efek visualnya menciptakan ilusi kawat bercahaya yang mematikan.
Bukan cuma itu, di sela-sela ilusi cahaya tersebut, Alara benar-benar meregangkan kawat baja tipis super tajam hasil sisa kawat mesin tenun mekanisnya yang dipasang setinggi leher dan mata kaki!
"Ah! Mataku!" jerit pembunuh bayaran barisan depan yang matanya langsung buta sesaat karena kilatan cahaya cermin.
*SREEET! AKKKH!
Beberapa pembunuh bayaran yang nekat maju langsung jatuh terjungkal dengan baju zirah kain mereka yang robek-robek akibat menabrak kawat baja tak terlihat yang dipadukan dengan jebakan cahaya tersebut.
"Sial! Ini sihir macam apa lagi?!" kutuk pemimpin Sekte Teratai Hitam, mencoba menebas kawat-kawat itu dengan pedangnya.
Namun, begitu pedangnya berbenturan dengan kawat baja mekanis Ruelle, bunyi dentingan nyaring memicu mekanisme jebakan berikutnya.
*KLANG! KRINGGG!*
"Lily! Lepaskan pasukan anti-hama!" teriah Alara lewat corong bambu pengeras suara.
Dari atas langit-langit koridor, beberapa papan kayu terbuka.
*GEBROS!*
Ratusan stoples tanah liat dijatuhkan dari atas, pecah di lantai, dan mengeluarkan... ribuan ekor kelabang raksasa dan kalajengking yang sudah dilapisi bubuk bubuk cabai merah kering! Hewan-hewan melata yang stres itu langsung merayap liar, menggigit kaki-kaki para pembunuh bayaran yang terjebak di lem lantai jilid dua yang dipasang di bawah kawat.
"Aaaaa! Kaki gue digigit naga tanah! Panas banget!!!" jerit para pembunuh bayaran berdarah dingin itu kini menangis berjamaah seperti bocah, kehilangan seluruh harga diri ke mafia-an mereka dalam waktu lima menit.
Melihat pasukannya lumpuh total secara estetik dan absurd, Ibu Suri membelalakkan mata ketakutan. Beliau berbalik berniat kabur, namun jalan keluarnya sudah ditutup rapat oleh barisan prajurit elit berbaju zirah lengkap yang dipimpin oleh Panglima Zhao.
Kaivan bangkit dari duduknya. Dia melangkah maju melewati kawat-kawat yang jalurnya sudah dia hafal di luar kepala. Aura membunuh dari sang Kaisar Es meledak sempurna, membuat sisa pembunuh bayaran yang masih waras langsung menjatuhkan senjata mereka dan berlutut menyerah.
Kaivan mengarahkan ujung pedang naganya tepat di depan tenggorokan Ibu Suri yang kini gemetaran di lantai.
"Ibu Suri... aku sudah memberimu kesempatan untuk hidup tenang di paviliun belakang. Namun, karena kau memilih jalan pemberontakan bersama sekte sesat ini, maka hukum kekaisaran tidak akan lagi mengenali statusmu sebagai ibunda mendiang ayahku."
"K-Kaivan... ampun... aku... aku hanya khilaf..." ratap Ibu Suri dengan wajah pucat pasi, air mata penyesalan yang sesungguhnya akhirnya keluar.
"Seret Ibu Suri ke menara isolasi terdalam di pegunungan utara tanpa pelayan, dan eksekusi mati seluruh anggota Sekte Teratai Hitam tanpa sisa!" perintah Kaivan dingin tanpa ampun.
"SIAP MELAKSANAKAN TITAH, YANG MULIA KAISAR!"
Setelah huru-hara kudeta gagal itu dibersihkan, fajar pagi mulai menyingsing di atas Istana Ruelle. Suasana istana kini benar-benar bersih dari segala bentuk uler politik lama. Kekuasaan Alara dan Kaivan kini mutlak tak tergoyahkan.
Alara meregangkan otot-otot tubuhnya, menatap matahari terbit dari beranda Paviliun Naga Emas.
"Hah... akhirnya, semua bos besar di game ini udah tamat kita kalahin, Tuan Kai. Sekarang istana ini bener-bener aman aman tenteram."
Kaivan berjalan mendekat dari belakang, melingkarkan lengan kekarnya di pinggang ramping Alara, lalu menenggelamkan wajah tampannya di ceruk leher istrinya dengan manja mode kulkas mencair yang hanya diperlihatkan pada Alara.
"Benar, Permaisuriku. Semua pengacau sudah musnah," bisik Kaivan lembut, memberikan kecupan hangat di pundak Alara.
"Jadi... apakah sekarang kita sudah bisa fokus pada proyek hilirisasi minyak goreng dan kedai gorengan krispi yang kau katakan kemarin?"
Alara menoleh, mengecup balik pipi tegas suaminya dengan gemas. "Tentu saja! Tapi sebelum itu, ada satu hal lagi yang harus kita urus."
"Apa itu?" Kaivan menaikkan sebelah alisnya heran.
Alara menyeringai licik, mengeluarkan sebuah alat tes berbentuk tabung bambu kecil dengan indikator ramuan herbal khusus dari saku jaket safarinya sebuah testpack versi abad kuno yang baru saja dia minta dari tabib istana subuh tadi. Indikatornya menunjukkan warna merah muda pekat, menandakan kadar hormon yang berubah.
"Tuan Kai... sepertinya dalam waktu sembilan bulan ke depan, kelas PAUD Istana kita bakal kedatangan murid baru, dan Anda resmi bakal naik jabatan jadi seorang... Ayah!"
Mendengar kabar kejutan tersebut, Kaisar Kaivan penguasa mutlak yang tidak pernah gemetar di depan seratus ribu gajah perang mendadak mematung sempurna dengan mata melebar, sebelum akhirnya menggendong tubuh Alara dan memutarnya di udara dengan tawa paling bahagia dan keras yang pernah terdengar di seluruh sejarah Kekaisaran Ruelle.
---
Bersambung~
makasih Thor cerita menghibur bgt ttp semangat ya💪💪💪