NovelToon NovelToon
Dari Rival Jadi Ibu Tiri

Dari Rival Jadi Ibu Tiri

Status: sedang berlangsung
Genre:Ibu Tiri / Duda / Nikah Kontrak
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: Ama Apr

Rebeca Alexander terbiasa mendapatkan segalanya. Kaya, cantik, dan berpengaruh, ia tak pernah ragu merendahkan Cika, gadis sederhana yang berani menjadi saingannya di kampus.

Bagi Rebeca, Cika hanyalah gadis miskin yang tidak tahu tempat.

Namun hidupnya hancur saat sang ayah membawa seorang wanita baru ke rumah mereka. Dan wanita itu adalah Cika.

"Aku tidak akan pernah menganggapmu sebagai ibu tiriku!"

Cika menyahut dingin. "Bagus. Karena aku juga tidak berniat menggantikan ibumu. Aku hanya akan menjadi istri ayahmu. Dan mulai detik ini, aku punya aturan baru di rumah ini ... belajarlah untuk menghargai orang lain, terutama aku."

Bisakah dua gadis seumuran dan keras kepala itu bersatu dan akur? Atau malah jadi musuh selamanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ama Apr, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 16. PAPA KEPO

Robinson melangkah masuk ke kamar Rebeca setelah mengetuk pintu pelan.

"Masuk," sahut Rebeca yang masih memandangi layar ponselnya dengan senyum yang belum juga memudar. Pintu terbuka perlahan. Rebeca sontak menoleh. "Papa?" Wajahnya sedikit terkejut. "Papa kapan pulang?"

Robinson menutup pintu di belakangnya, lalu berdiri dengan ekspresi datar. Basa-basi sama sekali tak keluar dari bibirnya. Bahkan pertanyaan dari Rebeca menggantung begitu saja. "Kamu barusan video call sama siapa, Beca?"

Senyum Rebeca perlahan memudar. Ia mengangkat bahu santai. "Teman."

Robinson menatap putrinya lekat-lekat. "Teman ... atau pacar?"

Alis Rebeca langsung terangkat. "Sejak kapan Papa kepo sama urusanku? Tidak biasanya Papa ikut campur sampai segitunya."

Robinson tetap tenang. Sorot matanya tak bergeming. "Sejak malam ini."

Jawaban singkat itu justru membuat Rebeca semakin curiga. Gadis itu menyilangkan kedua tangan di depan dada. "Sebelum aku jawab pertanyaan Papa, Papa juga harus jawab pertanyaanku."

"Apa?"

"Papa habis dari mana? Kenapa nggak makan malam di rumah?"

Sesaat Robinson tampak gelagapan. Namun hanya sepersekian detik. Ia segera memasang wajah setenang mungkin. "Papa habis ketemu rekan kerja."

Rebeca menyipitkan mata. "Rekan kerja ... atau calon istri?" tanyanya ketus.

Jantung Robinson berdegup lebih cepat, tetapi wajahnya tetap datar. "Rekan kerja." Ia lalu mengalihkan pembicaraan. "Sekarang giliran kamu jawab pertanyaan Papa. Lelaki yang tadi video call sama kamu itu siapa?"

Rebeca mendengus pelan. "Namanya Elgar Jeverson, Pa."

"Elgar Jeverson?" ulang Robinson dengan kening berkerut.

"Iya, dia itu idolaku. Aktor yang lagi naik daun. Pemeran utama film Ada Apa dengan Fabian. Yang lagi booming itu, lho. Masa Papa nggak tahu?"

"Nggak, Papa nggak tahu."

Rebeca langsung mengembuskan napas panjang. "Hm."

"Bukan pacar kamu?"

Rebeca terkekeh kecil sambil menggeleng. "Bukan. Aku juga baru tadi sore chatan sama dia."

Jawaban itu membuat Robinson menghela napas lega tanpa disadari. "Syukurlah," gumamnya lirih.

"Syukurlah apanya, Pa?" serobot Rebeca. "Aku malah berharap bisa jadian sama Elgar." Ia senyum-senyum sendiri. "Kayaknya seru punya pacar artis. Semua orang pasti kagum dan iri padaku karena bisa jadi pacar seorang bintang muda yang sedang naik daun."

Robinson langsung terhenyak mendengar keinginan putrinya itu. "No, Beca!" larangnya tegas.

Rebeca langsung membalas. "Papa kenapa sih? Nggak biasanya larang-larang aku. Suka-suka akulah. Papa tuh nggak usah ikut campur."

Robinson terdiam beberapa saat sebelum akhirnya menarik napas pelan. "Papa cuma nggak mau kamu terlalu mudah percaya sama orang. Apalagi kalau dia seorang artis. Pacaran dengan artis itu tak seindah yang kamu bayangkan, Beca."

Rebeca mendengus. "Kalau Papa mau ceramah ... mending keluar saja sana! Aku males berdebat sama Papa. Mending aku chat-an lagi sama Mama."

Robinson mengembuskan napas panjang untuk kedua kalinya. "Oke, Papa minta maaf. Papa mau tanya ... kamu mau berapa lama liburan di Korea-nya?"

"Sebulan." Singkat, padat, ketus.

"Sesuai dugaanku," batin Robinson.

"Kenapa memangnya?" Suara ketus Rebeca mengalun lagi. "Mau protes lagi?" tuduh Rebeca.

Robinson terdiam sejenak sebelum akhirnya berkata pelan, "Nggak, Beca. Papa cuma mau bilang ... kalau Papa jadi menikah dua minggu lagi. Dan kalau kamu sebulan di Korea, berarti kamu nggak akan hadir di pernikahan Papa?"

Bukannya terkejut, Rebeca justru mendengus pelan. "Kirain apa. Udah deh, Pa." Rebeca mengangkat bahu acuh tak acuh. "Kalau Papa memang mau nikah, ya nikah aja."

"Beca ..."

"Kan dari awal kita sudah bikin perjanjian." Tatapan Rebeca berubah serius. "Papa kasih izin aku ketemu Mama di Korea, dan sebagai gantinya aku nggak akan menghalangi Papa menikah lagi." Robinson terdiam mendengarkan. "Jadi nggak usah dibikin ribet, deh." Rebeca mendelikan mata. "Meskipun aku nggak hadir, lanjut aja akadnya. Aku nggak keberatan."

Jawaban itu justru membuat dada Robinson terasa sesak. Ia berharap Rebeca akan kecewa, marah, atau setidaknya mengatakan ingin menghadiri pernikahannya. Namun yang ia dapatkan justru sikap yang begitu datar, seolah pernikahan ayahnya bukan sesuatu yang penting. "Apa kamu benar-benar nggak keberatan?" tanya Robinson lirih.

Rebeca menggeleng pelan. "Nggak. Yang penting aku bisa menghabiskan waktu liburku sama Mama."

Kalimat itu terdengar indah di telinga, tetapi justru menusuk hati Robinson. Putrinya malah lebih antusias bertemu mantan istrinya, daripada menghadiri pernikahan keduanya. "Beca, seandainya kamu tahu kelakuan mamamu dulu ... apalah kamu akan tetap antusias ingin menemuinya?" Tebersit niat ingin membongkar rahasia masa lalu, namun dengan cepat Robinson menepisnya. "Tidak! Biarlah aku yang menanggung luka itu. Rebeca tidak boleh tahu kalau Giselle dulu selingkuh." Akhirnya Robinson mengusap puncak kepala Rebeca. "Ya sudah. Papa tidak akan memaksamu hadir. Tapi apakah kamu tidak penasaran-" Kalimat Robinson terputus begitu saja.

Ponsel Rebeca yang tergeletak di atas kasur tiba-tiba berdering lagi. Nama yang muncul di layar membuat mata gadis itu langsung berbinar. "Ya ampun ... Kak Elgar nelepon lagi!" pekiknya penuh semangat. Sebelum mengangkat panggilan itu, Rebeca menoleh kepada ayahnya. "Papa keluar sana! Aku mau angkat telepon dari idolaku."

"Iya." Robinson mengangguk tipis. Ia tak mau berdebat lagi dengan putrinya. Tubuh tinggi Robinson berbalik menuju pintu.

Setelah pintu tertutup, Rebeca langsung menekan tombol terima. "Halo, Kak Elgar." Senyumnya kembali mengembang.

"Hai, Beca. Maaf ya, ganggu lagi."

"Enggak kok. Aku malah senang."

Elgar terkekeh pelan. "Oh iya, aku nelepon karena mau kasih tahu tempat kita ketemu."

Rebeca langsung duduk tegak. "Iya, Kak, di mana?"

"Besok kita ketemu di Kafe Sweet Dream. Jam sepuluh pagi, ya?"

"Oke, Kak." Rebeca ingin jingkrak-jingkrak, tapi ia harus menjaga imej.

"Aku sudah pesan ruangan VIP, jadi kita bisa ngobrol lebih nyaman."

Rebeca mengangguk antusias meski Elgar tak bisa melihatnya. "Siap, Kak."

"Aku punya satu permintaan."

"Apa itu, Kak?"

Elgar terdengar sedikit ragu sebelum akhirnya berkata, "Datang sendiri ya."

"Sendiri?"

"Iya. Soalnya aku nggak mau terlalu menarik perhatian. Kalau banyak orang tahu aku lagi ketemu seseorang, nanti bisa jadi ramai. Media berbondong-bondong bakal meliput."

"Oh ... iya, aku mengerti."

"Nah, satu lagi."

Rebeca semakin penasaran. "Apa, Kak?"

"Aku pengen kamu pakai rok putih rempel selutut."

"Hah?"

"Terus dipadukan sama kaus pendek warna putih juga."

Rebeca berkedip beberapa kali. "Memangnya kenapa harus begitu, Kak?"

Elgar tertawa kecil. "Soalnya aku suka banget lihat cewek yang pakai baju putih sama rok. Menurutku kelihatan manis."

Pipi Rebeca spontan memerah. "O-oh ... begitu, ya."

"Gimana? Bisa?"

Tanpa berpikir panjang, Rebeca langsung mengangguk. "Bisa, Kak. Aku bakal pakai outfit sesuai permintaan Kak Elgar."

"Serius?"

"Iya."

"Yeay!" seru Elgar riang dari seberang telepon. "Makasih ya, Cantik. Aku juga bakal pakai outfit serba putih." Rebeca tersenyum semakin lebar. "Biar kita serasi," lanjut Elgar sambil tertawa.

Ucapan sederhana itu membuat jantung Rebeca kembali berdebar tak karuan. Wajahnya memerah hingga ke telinga. "Ih ... Kak Elgar bisa aja."

Elgar ikut tertawa mendengar nada malu Rebeca. "Sampai ketemu besok, ya."

"Iya, Kak. Aku udah nggak sabar."

"Jangan telat."

"Siap!" Setelah mengobrol beberapa menit, panggilan pun berakhir. Begitu telepon terputus, Rebeca langsung memeluk bantal sambil berguling-guling di atas kasur. "Aaa ... aku harus cari rok putih!" pekiknya kegirangan.

1
PengGeng EN SifHa
Gkpp cika...seru kok pacaran setelah nikah...malu²in malah...seperti q dulu🤣🤣🤣🤣🤣🤣
PengGeng EN SifHa: sampai sekarangpun masih malu apabila tlf thooor🫣🫣🫣 pdhl udah 17thn lo
total 2 replies
PengGeng EN SifHa
tapi jangan jumawa dulu enteeee ELGAAARR...ada satpam gila di belakang becca nantinya..siap lagi kalau bukan si CIKA ..MAMUD nya BECCA...
PengGeng EN SifHa: 🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣💪
total 2 replies
Popo Hanipo
udah sebaik itu masak iya gak ada rasa kagum dan berakhir jatuh cinta
Ama Apr: pasti ada🤭
total 1 replies
Popo Hanipo
logika aja seorang artis tiba2 chat tlpn penggemar secara terus2an itu nggak wajar sekarang sudah mulai ngatur outfit pasti ada niat terselubung ini pasti terinspirasi artis yg lagi viral ya yg menikah sama penggemar ,,yg skrg lagi ada masalah sama suaminya 😄
Ama Apr: hehe patut dicuraigai ya kk🤭
total 1 replies
Popo Hanipo
jangan ketemu sekarang nanti gagal,,ketemu nanti aja kalo bapakmu sudah menikah
Ama Apr: Iya, nanti Beca ngamuk
total 1 replies
Nice1808
parah si beca jatuh sendiri nyalahin cika, loe sehat beca🤣🤣🤣
Ama Apr: dia otaknya rada nyengsol🤣
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!