Di Desa Angin Tenang, Bobon hanya dikenal sebagai bocah gendut yang pelupa, suka makan, dan dianggap kurang cerdas. Tak ada yang tahu bahwa di dalam tubuhnya tersimpan segel kuno yang menahan kekuatan terhebat di seluruh Benua Tengah.
Saat penagih pajak kejam melukai Nenek Sumi yang merawatnya, Bobon hanya menepuk seperti mengusir lalat. Satu pukulan itu menghancurkan pedang pendekar ahli dan melemparkan musuhnya hingga puluhan meter jauhnya. Namun sesaat kemudian ia kembali bingung, dan malah menangis sedih karena tahu kesayangannya tertutup debu.
Kini kekuatan dahsyatnya terbongkar, dan ancaman gelap mulai bergerak mendekat. Bobon tak peduli jadi pahlawan atau penguasa dunia persilatan. Ia hanya ingin melindungi neneknya dan memastikan mangkuk makannya tak pernah kosong. Siapa pun yang berani mengganggu dua hal itu, harus berhadapan dengan kekuatan yang tak bisa dibayangkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon GEELANG, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30 - Kota Batu Hijau dan Isu Turnamen
Jalur setapak yang semula terbuat dari susunan batu hitam keras sisa pegunungan kapur lambat laun mulai mendatar dengan sempurna, membawa rombongan kecil itu keluar dari kungkungan tebing-tebing terjal Gunung Dua Bilah yang kaku dan mengintimidasi. Di hadapan mereka kini, bentang alam beralih secara drastis menjadi hamparan dataran rendah yang sangat luas, dikelilingi oleh jajaran perbukitan hijau subur yang menyegarkan mata setelah sekian lama menatap batuan gundul yang gersang. Di tengah-tengah lembah hijau tersebut, berdiri dengan kokoh sebuah kota perbatasan yang tampak cukup ramai dan padat. Dinding pembatas luar kota itu dibangun dari tumpukan balok-balok batu kali berukuran raksasa yang sebagian besar permukaannya telah diselimuti oleh lumut hijau alami yang tebal. Kota tersebut dikenal luas oleh para pengembara sebagai Kota Batu Hijau, sebuah titik transit dan pusat perdagangan utama bagi para musafir sebelum mereka benar-benar memasuki wilayah inti di bagian barat Kerajaan Kencana.
Waja Lin berjalan paling depan memimpin rombongan dengan langkah kaki yang teratur dan anggun, tangan indahnya sesekali merapikan letak caping bambu lebarnya yang sengaja ditarik agak rendah ke bawah untuk menepis tatapan penasaran dari para pelintas jalan yang berpapasan dengan mereka. Di belakangnya, Bambu Jaya berjalan dengan gaya yang luar biasa santai sembari bersiul kecil tanpa beban, sementara jari-jari tangannya yang lincah tidak pernah berhenti memainkan hulu pedang bambu uniknya yang tergantung di pinggang jubah hijau daunnya.
Sedangkan Bobon, seperti sebuah tradisi yang tidak tertulis sepanjang perjalanan mereka, selalu setia berada di posisi paling belakang dengan tubuh gempalnya yang subur. Setelah berhasil menghabiskan tiga puluh tusuk daging domba bakar berukuran besar di pos perbatasan beberapa waktu lalu, energi di dalam tubuh bocah gendut itu tampaknya telah terisi kembali dengan sangat penuh. Dia berjalan melompat-lompat kecil dengan ceroboh di atas permukaan jalan tanah, memeluk erat baskom kayu kosong kesayangannya di depan dada bulat, sembari tanpa henti bersenandung parau dengan nada kekanak-kanakan yang sama sekali tidak jelas ujung pangkalnya.
"Nona Muda Waja Lin, Kota Batu Hijau di depan kita ini berada di bawah pengawasan bersama yang ketat antara Sekte Pedang Ganda dan beberapa klan beladiri kecil setempat," ujar Bambu Jaya, dengan sengaja melambatkan ritme langkah kaki ringannya agar bisa berjalan sejajar di samping Waja Lin yang tampak serius. "Atmosfer di dalam kota ini sebenarnya jauh lebih bebas dan dinamis jika dibandingkan dengan lereng gunung kaku yang baru saja kita lewati. Namun, justru karena posisinya yang sangat strategis sebagai gerbang perbatasan, mata-mata dan informan dari berbagai faksi persilatan biasanya sangat gemar berkumpul di tempat ini untuk berburu isu terbaru."
Waja Lin mengangguk pelan di balik bayangan caping bambunya, wajah jelitanya memancarkan ketenangan seorang pengelola keuangan yang matang. "Situasi ramai seperti itu justru akan sangat menguntungkan bagi pergerakan kita sekarang. Di tengah kerumunan massa yang padat, identitas samaran kita akan jauh lebih mudah untuk membaur tanpa memancing kecurigaan berlebih. Fokus utama kita saat ini hanyalah mencari sebuah penginapan yang cukup tenang untuk mengistirahatkan tubuh yang lelah, sekaligus mengatur kembali seluruh pasokan logistik perjalanan kita."
Begitu rombongan kecil itu melangkah kaki melewati gerbang batu kota yang dijaga longgar oleh beberapa prajurit lokal berpakaian zirah kulit sederhana, atmosfer keramaian kota langsung menyergap indra mereka. Jalanan utama kota tampak sangat padat, dipenuhi oleh deretan kedai makanan yang mengepulkan asap harum, toko-toko senjata yang memajang besi tempaan, serta deretan kereta kuda pengangkut barang dagangan yang bergerak lambat. Namun, di antara seluruh hiruk-pikuk harian tersebut, ada satu hal yang terasa sangat tidak biasa dan mencolok bagi pandangan seorang pendekar. Hampir di setiap sudut kedai teh dan persimpangan jalan jalan, sekelompok pendekar muda dari berbagai klan tampak berkumpul bersama sembari berdiskusi dengan raut wajah penuh semangat dan antusiasme yang membara.
"Kakak Ayam Goreng! Lihat itu, ada gambar orang bertarung yang besar sekali di dinding!" seru Bobon tiba-tiba dengan suara paraunya yang nyaring, memecah fokus pembicaraan kedua orang dewasa di depannya. Tangan gempalnya yang berminyak menunjuk lurus ke arah sebuah papan pengumuman kayu raksasa yang berdiri tegak di dekat alun-alun utama kota.
Waja Lin dan Bambu Jaya seketika menghentikan langkah kaki mereka, secara serempak mengalihkan pandangan mata mereka ke arah papan kayu yang ditunjuk oleh Bobon. Di atas permukaan papan tersebut, tertempel selembar kertas perkamen besar berkualitas tinggi dengan cap resmi dari kekaisaran Kerajaan Kencana yang bergambar ukiran naga emas yang tampak sangat megah dan berwibawa.
"Ah, rupanya surat perintah resmi untuk pelaksanaan Pertemuan Persilatan Akbar sudah tersebar luas hingga mencapai kota perbatasan ini," gumam Bambu Jaya dengan suara lirih, sepasang matanya yang cerdik tampak memicing tajam berusaha membaca setiap bait tulisan maklumat yang tertera di atas perkamen tersebut.
"Pertemuan Persilatan Akbar?" Waja Lin mengerutkan kening indahnya yang mulus, merasa asing dengan istilah perhelatan besar tersebut karena selama ini waktunya lebih banyak dihabiskan untuk mengurus pembukuan internal klan dagangnya.
"Benar, Nona Muda yang terhormat. Ini adalah sebuah turnamen beladiri raksasa berskala nasional yang diadakan secara resmi oleh keluarga kekaisaran Kerajaan Kencana setiap lima tahun sekali di pusat ibu kota," jelas Bambu Jaya dengan binar mata antusias yang sangat kuat, tidak mampu lagi menyembunyikan gairah mudanya sebagai seorang murid sekte pengembara. "Seluruh talenta muda berbakat dari sepuluh sekte besar dan klan bangsawan di seluruh penjuru benua akan berkumpul di satu arena besar untuk saling mengadu ilmu, memperebutkan gelar tertinggi sebagai Pendekar Muda Terbaik generasi ini. Pemenang utamanya tidak hanya akan mendapatkan reputasi yang luar biasa di dunia persilatan, tetapi juga diberikan hak istimewa untuk memasuki Aula Pusaka Kerajaan guna memilih satu senjata pusaka kuno."
Waja Lin terdiam serenjak mendengar penjelasan panjang tersebut, otaknya yang terbiasa berpikir dengan kalkulasi bisnis dan strategi tingkat tinggi langsung berputar dengan sangat cepat. Perhelatan turnamen besar berskala benua seperti itu dipastikan akan menarik perhatian dan memicu pergerakan dari seluruh kekuatan besar, baik dari golongan putih maupun golongan hitam. Hal ini termasuk juga jaringan Sekte Iblis yang saat ini sedang sangat gencar bergerak di bawah bayangan untuk mengincar sosok Bobon sebagai wadah kekuatan. Ibu kota kerajaan dalam beberapa minggu ke depan dipastikan akan berubah menjadi sebuah tempat yang sangat berbahaya, tempat berkumpulnya para naga dan harimau persilatan yang siap saling menerkam demi sebuah kehormatan.
Sementara kedua orang dewasa itu sedang tenggelam dalam pemikiran taktis masing-masing, Bobon justru sama sekali tidak memedulikan urusan turnamen atau dunia persilatan. Perhatian bocah gempal itu telah terfokus sepenuhnya pada sebuah kedai manisan tradisional yang berdiri tepat di samping papan pengumuman kayu tersebut. Hidung peseknya bergerak-gerak dengan sangat cepat, menghirup aroma manis legit yang luar biasa harum dari sirup gula kental yang saat ini sedang diaduk oleh sang penjual di dalam sebuah kuali besi berukuran besar.
"Paman penjual! Bobon mau bola-bola ubi manis yang digoreng itu! Kasih Bobon yang banyak ya, taruh di dalam baskom ini!" rengek Bobon dengan suara parau khas anak kecilnya yang sangat tidak sabaran, sembari dengan ceroboh mengetuk-ngetuk bagian pinggiran baskom kayu tebalnya ke arah tiang kayu utama penyangga kedai manisan tersebut.
Ketukan yang dianggap pelan oleh kekuatan murni Bobon itu seketika membuat tiang kayu kokoh kedai manisan tersebut mengeluarkan suara berderit halus yang sangat mengkhawatirkan. Riak getaran fisik tanpa warna yang menjalar dari baskom kayu milik Bobon merambat cepat ke atas fondasi tanah, membuat kuali besar berisi sirup gula yang sedang mendidih di atas kompor mendadak bergoyang-goyang hebat hingga beberapa tetes kuah manisnya tumpah ke lantai.
Waja Lin yang mendengar suara derit kayu itu langsung tersentak dari lamunan panjangnya. Sepasang matanya membelalak kaget saat melihat tiang kedai yang mulai condong beberapa derajat akibat ketukan manja dari pengawal kecilnya. Tanpa membuang waktu satu detik pun, Waja Lin buru-buru merogoh kantong sutra di balik jubah katun kasarnya, berniat mengeluarkan beberapa keping koin perunggu demi menghentikan potensi amukan tak sengaja dari sang Pendekar Dewata yang suasana hatinya kembali mendambakan camilan manis di sore hari yang ramai ini.