Tidak semua pertemuan adalah kebetulan. Sebagian adalah janji yang menolak dilupakan waktu. Aruna menjalani hidup biasa hingga sebuah kecelakaan membuatnya mulai mengalami mimpi aneh yang terasa terlalu nyata. Dalam mimpinya, ia selalu menjadi perempuan yang berbeda… di kehidupan yang berbeda… tetapi dengan satu kesamaan: selalu ada seorang pria yang mencarinya. Pria itu adalah Adrian Mahesa, CEO muda, dingin, perfeksionis, dan dikenal publik sebagai sosok yang tak punya ruang untuk cinta. Saat Aruna tanpa sengaja bertemu Adrian di dunia nyata, sesuatu yang tak masuk akal terjadi. Tatapan pertama mereka bukan terasa seperti perkenalan… melainkan pertemuan kembali. Sejak hari itu, Adrian mulai muncul di setiap sudut hidup Aruna. Membantunya, mengawasinya, bahkan seolah mengetahui ketakutan dan kebiasaannya sebelum Aruna sendiri menyadarinya. Namun yang paling mengganggu adalah kalimat yang terus diucapkan Adrian “Kali ini aku tidak akan kehilanganmu lagi.” Aruna mengira itu hanya obsesi seorang CEO yang terbiasa mendapatkan apa pun yang diinginkan. Sampai perlahan ia menemukan rahasia yang mengubah segalanya: Dalam setiap kehidupan sebelumnya… mereka selalu saling mencintai. Dan di setiap akhir cerita… Aruna selalu mati. Kini garis reinkarnasi kembali berputar. Pertanyaannya bukan lagi apakah Adrian mencintainya. Tetapi.. apakah cinta yang bertahan melintasi banyak kehidupan akan menjadi penyelamat… atau justru obsesi yang menghancurkan mereka sekali lagi? ✨ Satu cinta. Banyak kehidupan. Dan dia… selalu menjadi obsesiku. Karya: Sarin
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sharinn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Puluhan Tahun Menunggumu
Hening.
Bukan karena tidak ada suara.
Melainkan karena keduanya sama-sama tidak tahu harus memulai dari mana.
Aruna masih memegang amplop itu.
Di atas kertas kusam berwarna gading itu hanya tertulis satu kalimat.
Dia bohong waktu bilang dia yang selalu pergi.
Jantung Aruna berdetak semakin cepat.
Kalimat itu bertentangan dengan semua ingatan yang baru saja kembali.
Di setiap kilasan yang ia lihat, selalu dirinya yang memilih mundur.
Dirinya yang meminta putus.
Dirinya yang menghilang.
Dirinya yang berkata, “Jangan cari aku lagi.”
Kalau begitu…
siapa yang berbohong?
Aruna mengangkat pandangannya.
“Kalau saya buka…”
Adrian tersenyum tipis.
Bukan senyum bahagia.
Lebih seperti seseorang yang akhirnya menyerah melawan masa lalu.
“Buka saja.”
“Anda tidak akan menghentikan saya?”
“Aku sudah terlalu lama menghentikanmu.”
Jeda.
“Kali ini… biarkan semuanya selesai.”
Aruna menarik napas panjang.
Perlahan ia membuka amplop itu.
Di dalamnya hanya ada dua benda.
Sebuah surat yang sudah mulai menguning.
Dan sebuah foto polaroid.
Tangannya lebih dulu mengambil foto itu.
Begitu melihat isinya…
napasnya tercekat.
Foto itu memperlihatkan Adrian sedang duduk di bangku taman.
Sendirian.
Rambutnya sudah dipenuhi uban.
Wajahnya jauh lebih tua daripada sekarang.
Tatapannya kosong menghadap danau.
Di belakang foto tertulis satu kalimat.
Usia 68 tahun. Masih menunggu.
Aruna membeku.
“Tunggu…”
Ia menoleh cepat kepada Adrian.
“Ini…”
Adrian mengangguk pelan.
“Itu aku.”
“Tapi…”
“Satu kehidupan setelah kau menghilang.”
Ruangan kembali sunyi.
Aruna menunduk lagi.
Tangannya gemetar ketika membuka surat itu.
Tulisan tangan Adrian tampak jauh lebih tua.
Tinta di beberapa bagian bahkan mulai memudar.
⸻
Untuk diriku sendiri…
Kalau suatu hari kau kembali mengingat semuanya…
jangan salahkan dia.
Dia tidak pernah benar-benar meninggalkanku.
Akulah yang lebih dulu pergi.
Bukan dengan tubuh.
Tapi dengan hati.
⸻
Aruna mengernyit.
Perlahan ia membaca baris berikutnya.
⸻
Aku terlalu sibuk menyelamatkan masa lalu.
Sampai lupa hidup di masa sekarang.
Dia berkali-kali mengajakku melihat dunia.
Aku selalu mengajaknya melihat kenangan.
Dia ingin membuat kenangan baru.
Aku terus hidup di kenangan lama.
Dan suatu hari…
dia lelah.
⸻
Air mata mulai menggenang di mata Aruna.
Ia membalik halaman.
⸻
Hari dia berkata ingin hidup biasa…
aku mendengarnya sebagai penolakan.
Padahal…
itu adalah permintaan tolong.
⸻
Tangannya mulai gemetar.
⸻
Dia tidak meninggalkanku.
Dia hanya berhenti mengejar seseorang…
yang bahkan tidak lagi hidup di dunia yang sama dengannya.
⸻
Aruna menutup mata.
Dadanya sesak.
Selama ini…
ia hanya melihat dirinya sebagai orang yang pergi.
Padahal…
di kehidupan itu…
Adrian-lah yang lebih dulu meninggalkan hubungan mereka.
Bukan secara fisik.
Tetapi secara perlahan.
Sedikit demi sedikit.
Setiap hari.
Dengan terus hidup di masa lalu.
⸻
“Aku minta maaf.”
Suara Adrian memecah kesunyian.
Aruna membuka mata.
Pria itu masih duduk di tempatnya.
Tatapannya tenang.
Terlalu tenang.
“Selama ini aku selalu bilang kau pergi.”
Jeda.
“Padahal yang sebenarnya…”
Ia menunduk.
“…aku yang berhenti hadir.”
Aruna tidak tahu harus menjawab apa.
Ia baru menyadari sesuatu.
Selama ini Adrian selalu menyalahkan dirinya karena kematian.
Sedangkan dirinya selalu menyalahkan dirinya karena perpisahan.
Dua orang.
Dua rasa bersalah.
Yang sama-sama memilih memikul semuanya sendirian.
⸻
“Kenapa…”
Suara Aruna lirih.
“Kenapa baru sekarang Anda cerita?”
Adrian tersenyum kecil.
“Karena dulu aku belum mengerti.”
“Apa?”
“Apa bedanya mencintai seseorang…”
Jeda.
“…dan memiliki seseorang.”
Ruangan kembali hening.
Adrian berdiri.
Berjalan perlahan menuju rak arsip.
Tangannya mengambil sebuah kotak kayu kecil yang terlihat jauh lebih tua daripada yang lain.
Kotak itu bahkan mulai retak di beberapa sisi.
“Ini benda pertama yang kusimpan.”
Ia meletakkannya di atas meja.
Aruna membukanya perlahan.
Di dalamnya hanya ada sebuah jam saku tua.
Jarumnya berhenti tepat di angka 17.40.
“Apa ini?”
“Tidak tahu.”
Aruna menatap Adrian bingung.
Pria itu tersenyum pahit.
“Aku menemukannya di kehidupanku yang paling awal.”
“Tapi aku tidak ingat milik siapa.”
Aruna menyentuh jam itu.
Begitu ujung jarinya menyentuh logam dingin itu…
kepalanya langsung berdenyut.
Bukan seperti biasanya.
Kali ini jauh lebih kuat.
Ruangan menghilang.
⸻
Hujan deras.
Suara tembakan.
Orang-orang berlari.
Api membakar bangunan kayu.
Aruna berdiri di tengah kekacauan.
Namun…
ia bukan Aruna.
Pakaiannya berbeda.
Gaun panjang berwarna putih kini dipenuhi bercak darah.
Di hadapannya—
Adrian.
Jauh lebih muda.
Mengenakan pakaian zaman yang sama.
Lengan kirinya terluka.
Darah mengalir deras.
“Ayo!”
teriaknya.
“Kita masih bisa keluar!”
Namun pria itu menggeleng.
Di belakangnya—
jembatan kayu mulai runtuh.
Asap memenuhi udara.
“Aku nggak bisa.”
“Bisa!”
“Kau harus pergi!”
Aruna—atau perempuan itu—menangis.
Ia mencoba menarik tangan Adrian.
Namun pria itu melepaskannya.
“Kalau kita tetap di sini…”
katanya pelan.
“…kita mati berdua.”
Perempuan itu menggeleng keras.
“Aku nggak peduli.”
Adrian tersenyum.
Senyum yang sama.
Senyum yang selalu muncul setiap kali ia mencoba menyembunyikan rasa sakit.
“Justru aku peduli.”
Ia mendorong tubuh perempuan itu.
Pelan.
Tapi cukup kuat hingga ia terjatuh ke sisi jembatan yang masih utuh.
“Adrian!”
Perempuan itu bangkit.
Namun saat hendak kembali…
jembatan itu runtuh.
Kayu-kayu besar jatuh ke sungai.
Api menjulang tinggi.
“Asal kau hidup…”
teriak Adrian dari balik kobaran api.
“…kita pasti ketemu lagi!”
Lalu…
sebuah ledakan besar.
Dan semuanya gelap.
⸻
“Aruna!”
Suara Adrian membangunkannya.
Aruna terengah-engah.
Tangannya masih memegang jam saku itu.
Air matanya mengalir tanpa bisa dihentikan.
Ia menatap Adrian.
Lama.
Sangat lama.
Lalu berbisik,
“…bukan saya yang pergi.”
Adrian tersenyum tipis.
“Ya.”
“…Anda.”
Pria itu mengangguk.
“Dari kehidupan pertama…”
suaranya bergetar.
“…aku yang selalu lebih dulu meninggalkanmu.”
Ruangan menjadi sangat sunyi.
Aruna tiba-tiba sadar.
Seluruh kehidupannya selama ini…
dibangun di atas kesalahpahaman.
Ia mengira dirinya terus meninggalkan Adrian.
Padahal…
yang sebenarnya terjadi…
Adrian selalu menjadi orang yang mengorbankan dirinya.
Di kehidupan pertama.
Di kehidupan kedua.
Di kehidupan-kehidupan berikutnya.
Selalu sama.
Dan setiap kali Adrian mati lebih dulu…
Aruna membawa rasa bersalah itu ke kehidupan berikutnya.
Sedangkan Adrian…
membawa janji untuk menemukannya lagi.
Mereka berdua…
terjebak dalam lingkaran yang sama.
Bukan karena kutukan.
Tetapi karena cinta yang tidak pernah sempat selesai.
⸻
Malam mulai turun.
Cahaya matahari masuk dari jendela ruang arsip.
Menyinari debu-debu halus yang beterbangan.
Aruna masih menatap jam saku tua di tangannya.
Jarumnya masih berhenti.
17.40.
Entah mengapa…
angka itu terasa begitu akrab.
“Jam berapa itu?”
tanyanya pelan.
Adrian menggeleng.
“Aku tidak pernah tahu.”
“Tapi setiap kehidupan…”
Jeda.
“…aku selalu berhenti di jam itu.”
Aruna menatap jam tersebut sekali lagi.
Tiba-tiba…
di kepalanya terdengar suara yang sangat lirih.
Suara seorang perempuan.
Bukan dirinya.
Namun sangat familiar.
Kalau jarumnya mulai bergerak lagi…
berarti waktunya sudah habis.
Aruna membeku.
Ia menoleh cepat ke Adrian.
“Anda dengar?”
“Apa?”
“Suara perempuan.”
Adrian perlahan menggeleng.
“Tidak.”
Saat itu juga—
jarum detik pada jam saku tua itu…
bergerak.
Tik.
Hanya satu langkah.
Namun cukup membuat keduanya membeku.
Karena selama puluhan tahun…
jam itu tidak pernah bergerak.
Dan tepat ketika jarum itu berpindah…
lampu di ruang arsip tiba-tiba padam.
Ruangan menjadi gelap gulita.
Di tengah kegelapan—
terdengar suara seorang perempuan yang sama.
Kali ini lebih jelas.
Kalian akhirnya mengingat terlalu banyak.
Sekarang…
permainan yang sebenarnya dimulai.
Bersambung...