Jia Li adalah seorang dokter genius dari modern. Meski begitu, keluarganya sendiri tidak pernah menghargainya dan lebih menyayangi kakak laki-laki nya yang menjadi pengangguran.
Tepat setelah Jia Li selesai melakukan operasi. Sebuah tamparan menantinya di pintu keluar. Awal dari segalanya.
Jiwa Jia Li terseret ke zaman kuno, lebih tepat nya memasuki raga Lin Jia. Lin Jia adalah putri dari Kaisar Lin Dong dan selir kedua. Diam - diam di belakang Kaisar. Lin Jia di remehkan karena tidak memiliki Elemen apapun dalam tubuhnya.
Namun semua berubah saat jiwa Jia Li menempati raga Lin Jia. Berkat bantuan sistem dan ruang ajaib. Jia Li akan mengubah takdir Lin Jia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anisa Ammoera(_), isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kekalahan Besar
Malam itu, suasana di wilayah Kekaisaran Naga Langit terasa jauh dari kata 'baik - baik saja' dari biasanya. Angin dingin berembus lambat, membawa keheningan yang menusuk tulang.
Di sudut-sudut jalanan berbatu, beberapa prajurit pilihan telah menyamar menjadi gelandangan; mereka berjalan tertatih tanpa arah yang jelas, mengenakan pakaian compang-camping untuk mengelabui musuh.
Namun, di balik tudung kepala yang kusam, sepasang mata mereka bergerak dengan sangat waspada, menelisik setiap jengkal kegelapan demi memastikan tidak ada pergerakan sekecil apa pun yang lolos dari pengawasan.
Sementara itu, di sudut yang jauh lebih gelap dan tersembunyi, Putra Mahkota Lin Dui berdiri mematung. Tatapan matanya yang setajam elang mencoba menembus kepekatan malam, sementara ia memfokuskan seluruh indra pendengarannya untuk menangkap getaran suara sekecil apa pun.
Malam ini adalah penentuan. Mereka harus berhasil menangkap pencuri misterius yang selama beberapa minggu ini telah mengacak-ngacak kedamaian dan memicu kekacauan besar di wilayah Kekaisaran Naga Langit.
"Aku harus membuktikan pada Kaisar... jika aku memang pantas menduduki takhta ini... meskipun, demi semua itu, aku harus melangkah di jalan pengkhianatan," gumam Pangeran Lin Dui dengan suara yang nyaris tak terdengar, tertahan di ujung bibirnya.
Nada bicaranya sarat akan beban emosional yang berat, seolah-olah di dalam benaknya, ia sudah mengetahui dengan pasti siapa sebenarnya sosok-sosok di balik topeng pencuri misterius tersebut.
Di tempat lain, ketegangan yang sama juga dirasakan oleh pasukan elit. Beberapa prajurit telah menyebar secara tak kasat mata, mengawasi dengan ketat setiap kediaman bangsawan yang sejauh ini belum tersentuh oleh sang pencuri.
Berdasarkan analisis taktis, mereka sangat yakin bahwa salah satu dari rumah megah yang tersisa malam ini pasti akan menjadi target utama berikutnya.
Namun, waktu terus berjalan dan keheningan justru semakin pekat. "Kenapa suasana malam ini tampak jauh lebih sepi dari biasanya? Sama sekali tidak ada tanda-tanda pergerakan. Apakah mereka tahu rencana ku dan memilih untuk membatalkan aksinya malam ini?" gumam Putra Mahkota Lin Dui lagi. Ia mulai merasa tidak tenang.
Hanya suara siulan angin malam yang sesekali terdengar melewati celah bangunan, bahkan suara helaan napasnya sendiri seolah-olah ikut tertelan oleh sunyinya atmosfer sekitar.
Jauh di atas atap kediaman bangsawan, beberapa jenderal tingkat tengah yang telah menyebar untuk memantau situasi dari ketinggian tampak merunduk.
Mereka menyembunyikan hawa keberadaan mereka di balik bayang-bayang genting, menatap lurus ke arah jalanan di bawah guna mencari sosok yang menjadi target buruan. Namun, hasilnya tetap nihil. Semuanya tetap sunyi senyap tanpa suara.
"Aku bahkan tidak bisa merasakan sedikit pun hawa membunuh atau energi asing di sekitar sini," gumam Jenderal Mo dengan dahi yang berkerut, tangannya tetap siaga di gagang pedang.
"Kau benar, Jenderal Mo. Tidak ada pergerakan atau gesekan udara sekecil apa pun yang mencurigakan di area barat maupun timur," sahut Jenderal Chen yang berada beberapa meter di sebelahnya, berbisik dengan nada suara yang sangat rendah.
"Tapi justru keheningan seperti inilah yang terasa jauh lebih mengerikan. Ini seperti ketenangan sebelum badai besar menghantam kita," balas Jenderal Mo, matanya menyipit penuh kewaspadaan tinggi.
Sementara itu, Putra Mahkota Lin Dui yang masih setia bersembunyi di balik pekatnya kegelapan mulai dirundung rasa resah yang amat sangat. Jantungnya berdegup lebih kencang seiring berjalannya waktu yang tanpa hasil.
"Ada apa sebenarnya dengan malam ini? Aku sangat yakin, mereka seharusnya bergerak malam ini... tapi kenapa tidak ada pergerakan?" Suara Putra Mahkota Lin Dui terdengar sangat tertekan di tenggorokannya, menahan amarah dan kebingungan yang bercampur menjadi satu.
Butiran keringat dingin mulai membasahi pelipis dan tengkuknya, perlahan menetes jatuh meskipun udara malam di sekitar Kekaisaran Naga Langit saat itu terasa jauh lebih dingin dan membekukan dari biasanya. Pikiran buruk mulai berkecamuk di dalam kepalanya, melahirkan sebuah tanya yang menakutkan.
"Aku...tidak boleh gagal." gumam Putra Mahkota Lin Dui, menatap kosong ke kegelapan malam yang seolah siap menelan dirinya bulat-bulat.
Sementara itu, jauh di dalam jantung istana, keheningan malam pecah berkeping-keping oleh kepanikan yang luar biasa. Kekacauan besar meledak dalam sekejap mata.
"PENCURI! GUDANG SENJATA DIBOBOL! PERIKSA SELURUH AREA!" teriak seorang prajurit dengan suara parau penuh kepanikan saat ia berlari melintasi koridor ruang senjata.
Langkah kakinya mendadak terhenti, matanya terbelalak ngeri saat melihat dua rekan penjaganya terkulai lemas, tertidur pulas bersandar di dinding tanpa menyadari badai besar yang sedang terjadi di sekeliling mereka.
Kekacauan semakin tak terkendali. Dalam kepanikan yang memuncak, seorang prajurit lain segera menarik tali dan membunyikan lonceng peringatan utama istana.
DUG! DUG! DUG!
Suara dentuman lonceng perunggu raksasa itu menggema membelah langit malam, getarannya merambat merasuk ke dalam dada setiap orang yang mendengarnya. Di kejauhan, Putra Mahkota Lin Dui dan barisan pasukan setianya tersentak hebat, menghentikan pergerakan mereka seketika.
"Peringatan darurat istana... Sesuatu yang buruk telah terjadi di dalam istana," gumam Putra Mahkota Lin Dui, matanya berkilat tajam menyadari situasi telah lepas kendali.
Tanpa membuang waktu lagi, ia merentangkan kedua tangannya. Dengan pusaran kekuatan elemen angin miliknya, ia mengangkat tubuhnya tinggi-tinggi ke udara, melesat cepat membelah kegelapan menuju pusat istana. "Cepat ikuti aku! Cari tahu apa yang terjadi!" perintahnya menggema, diikuti oleh pasukannya yang segera bergerak cepat bagai bayang-bayang di malam hari.
Sementara di area gudang senjata, atmosfer berubah menjadi luar biasa mencekam. Kaisar Lin Dong berjalan dengan langkah tegap, namun penuh emosi.
Setiap ayunan langkahnya memancarkan aura membunuh yang sangat mematikan, mengintimidasi siapapun yang berada di dekatnya. Begitu tiba di lokasi, sang Kaisar berhenti tepat di depan gerbang besi besar yang kini telah terbuka lebar.
Kaisar Lin Dong melangkah masuk ke dalam ruangan bawah tanah tersebut. Seketika itu juga, tekanan auranya melonjak drastis, terasa begitu berat dan pekat hingga membuat para prajurit yang berada di sana langsung menahan napas, berlutut gemetar dengan wajah pucat pasi menatap lantai.
"Bagaimana bisa?" gumam Kaisar Lin Dong. Suaranya terdengar sangat pelan, selembut desiran angin, namun setiap untaian katanya sarat akan tuntutan mutlak yang siap mencabut nyawa siapapun yang gagal memberi jawaban.
Kaisar Lin Dong mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan yang luas itu, lalu melanjutkan dengan nada yang semakin merendah namun menusuk kalbu, "Gudang ini... mengapa bisa menjadi kosong?"
Keheningan yang mengerikan menyelimuti ruangan. Gudang senjata utama kekaisaran yang seharusnya dipenuhi oleh ribuan pedang pusaka, tombak baja, dan zirah perang yang berkilauan, kini benar-benar telah bersih tanpa sisa. Hanya menyisakan ruang kosong yang dingin, berdebu, dan menjadi saksi bisu atas sebuah kekalahan terbesar dalam sejarah Kekaisaran.