Elara Sterling, seorang agen lapangan CIA yang tangguh dan perfeksionis, mengemban misi paling berbahaya dalam kariernya: mendekati dan menghancurkan Dante Moretti, pewaris tunggal kekaisaran mafia Moretti yang kejam dan sulit diprediksi.
Rencana Elara sederhana menyusup, mengumpulkan bukti silsilah keluarga yang ilegal, lalu menghancurkan organisasi Dante dari dalam. Namun, saat Elara terjerat dalam situasi hidup dan mati di tengah udara, di mana pengkhianatan muncul dari rekan terdekat Dante sendiri, garis batas antara musuh dan sekutu mulai kabur.
Dante Moretti bukanlah monster tanpa hati seperti yang digambarkan oleh laporan agensinya. Ia adalah seorang pria yang jiwanya telah dipaksa mati oleh kekejaman ayahnya sendiri, Franco Moretti. Di balik ancaman senjata dan rahasia kelam masa lalu yang menghantui mereka, Elara menemukan bahwa dirinya bukan hanya sekadar mengamati target, melainkan terjebak dalam obsesi yang membakar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hais Tauahh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 11 | Permainan di Ujung Bibir
Setelah pintu tertutup, Elara meluncur jatuh ke lantai. Kakinya tidak lagi mampu menopang tubuhnya. Ia segera merogoh ponselnya, mencoba menghubungi Dave satu-satunya orang di agensi yang tidak akan memandangnya sebagai aset, melainkan sebagai manusia.
"Dave, aku butuh bantuanmu. Sekarang," bisik Elara dengan suara yang hampir tidak terdengar.
"Elara? Kau terdengar seperti sedang menghadapi malaikat maut. Apa yang terjadi?" suara Dave di seberang sana sarat dengan kekhawatiran yang tulus.
"Jangan tanya. Datang ke alamat baru apartemenku. Dan tolong, masuk lewat pintu darurat belakang. Jangan sampai ada yang melihatmu," perintah Elara sebelum mematikan sambungan.
Tiga puluh menit kemudian, Dave masuk melalui pintu servis dengan napas memburu. Ia menemukan Elara duduk di sudut ruangan, dikelilingi oleh kegelapan, dengan hanya satu lampu kecil yang menyala.
"Jelaskan Padaku, Elara. Kenapa kau pindah secara mendadak? Dan apa hubungannya dengan Dante Moretti?" tanya Dave, wajahnya menegang setelah mendengar ringkasan situasi yang diberikan Elara.
Elara menatap kosong ke arah jendela, di mana lampu apartemen Dante di seberang koridor tampak begitu dekat. "Dia tinggal tepat di depan pintuku, Dave. Dia bukan hanya mengikutiku, dia sedang 'memeliharaku'. Dia tahu siapa aku, dan dia sengaja membiarkanku hidup agar bisa memainkanku."
"Ini gila," gumam Dave. "Kita harus segera melaporkan ini ke Damian dan menarikmu keluar."
"Tidak!" potong Elara tajam. "Jika aku keluar sekarang, Dante akan menghancurkan keluargaku. Dia sudah mengawasi Julian dan Serena. Aku tidak punya pilihan lain selain bermain di kandangnya."
"Apa maksudmu?"
Elara menoleh, matanya berkilat penuh tekad yang berbahaya. "Aku akan masuk ke dalam lingkaran dalamnya. Aku akan menjadi mata-mata di dalam gengnya."
Dave tertegun, rahangnya mengeras. "Itu bunuh diri. Jika dia tahu kau adalah agen, dia tidak akan hanya membunuhmu dia akan menyiksamu sebelum membuang jasadmu ke laut. Kau tahu reputasinya."
"Aku sudah terjebak di sini, Dave," sahut Elara dingin. "Lebih baik aku mati karena mencoba mengambil informasi dari dalam, daripada mati karena menunggu dia bosan bermain denganku."
Dave berjalan mendekat, berjongkok di depan Elara, dan memegang bahunya erat.
"Elara, dengarkan aku. Begitu kau masuk ke geng itu, tidak ada jalan untuk kembali. Kau akan dipaksa melakukan hal-hal yang tidak bisa kau hapus dari ingatanmu. Kau tidak akan bisa lagi menjadi agen yang membawa lencana, kau akan menjadi bagian dari monster itu."
Elara terdiam. Angin malam berdesir dari celah jendela apartemen yang terbuka. Suara sirine di kejauhan kota terdengar samar, menjadi Pengingat betapa dunia di luar sana masih berjalan normal sementara hidupnya baru saja kehilangan arah.
"Aku sudah kehilangan diriku sejak malam aku menembak anak buahnya," bisik Elara.
" Aku tidak bisa kembali ke agensi dan berpura-pura menjadi mahasiswi yang baik setelah semua ini. Aku harus mengakhiri Dante Moretti entah itu dengan membunuhnya atau dengan membiarkannya menghancurkanku."
Dave menatap Elara dengan pandangan yang sulit diartikan ada rasa sakit yang tertahan di sana. Ia tahu, tidak ada argumen yang bisa mengubah pikiran Elara. Gadis yang ia kenal sebagai agen paling berbakat dan disiplin itu kini telah berubah menjadi sesuatu yang lebih gelap.
"Jika itu rencanamu," ujar Dave akhirnya, suaranya parau, "maka aku akan menjadi bayanganmu. Aku akan memberimu akses ke data yang kau butuhkan dari luar. Tapi berjanjilah satu hal padaku "
"Apa?"
"Jangan pernah melupakan siapa dirimu sebenarnya di balik topeng itu. Begitu kau mulai menikmati kekuasaan atau kenyamanan di sampingnya, kau akan kalah."
Elara berdiri menatap kembali ke arah pintu apartemen Dante. "Aku tidak akan pernah melupakan itu, Dave. Karena setiap kali aku menatap matanya, aku hanya melihat target yang harus aku hancurkan."
●●●●
Elara membeku. Pintu apartemennya terbuka, dan di sana, Dante Moretti berdiri dengan tatapan yang mampu menembus pertahanan terkuat sekalipun.
Di balik tirai Dave masih meringkuk dengan napas tertahan, dan Elara tahu, jika satu helai rambut Dave terlihat, keduanya akan mati saat itu juga
"Kau lama sekali membuka pintu," gumam Dante. Tanpa permisi, dia melangkah masuk, membawa aroma hutan pinus dan tobacco yang pekat.
"Aku tadi sedang membersihkan diri," sahut Elara, suaranya sedikit bergetar. Ia sengaja berdiri menghalangi arah pandang Dante ke jendela balkon.
Dante berhenti di tengah ruangan Matanya menyapu sekeliling, seolah sedang memindai setiap inci apartemen Elara.
"Kau tampak gugup, Elara. Apa ada tamu yang membuatmu tidak nyaman?"
" Tidak ada. Hanya aku," balas Elara ketus.
Tiba-tiba, mata Dante tertuju pada sofa. Di sana, tertinggal earpiece komunikasi yang tadi sempat dilepas Dave. Jantung Elara seakan berhenti berdetak. Jika Dante melihat alat itu, tamatlah riwayat Dave.
Dengan nekat, Elara melompat ke arah
Dante, menabrak tubuh pria itu dengan seluruh kekuatannya agar perhatiannya teralihkan. Dante yang tidak menyangka serangan mendadak itu sedikit oleng, dan Elara berhasil mendarat di pangkuan Dante yang kokoh.
"Kau benar-benar berani " bisik Dante. Suaranya rendah, serak, dan penuh dengan aura maskulin yang menyesakkan.
Elara memejamkan mata, jantungnya berpacu seirama dengan detak jantung
Dante yang stabil di balik kemeja sutranya. Dante tidak menjauhkan Elara; sebaliknya, tangannya yang besar dan dingin merayap ke tengkuk Elara, menahan gadis itu agar tidak bisa lari.
"Kau ingin bermain api?" tanya Dante. Jemarinya yang kasar mengusap garis rahang Elara dengan sangat intim, seolah sedang menandai properti miliknya.
"Ketahuilah, Elara, aku bukan pria yang akan melepaskanmu begitu saja saat kau sudah berada dalam jangkauanku."
Elara menelan ludah. Dari balik bahu Dante, ia bisa melihat Dave yang keluar dari persembunyian di balkon, menatap adegan itu dengan wajah antara shock dan panik. Dave memberikan isyarat agar Elara menahannya di sana.
Elara tahu dia harus melakukan sesuatu untuk mengulur waktu. Sesuatu yang akan membuat Dante lupa pada sekitarnya.
Dengan keberanian yang lahir dari keputusasaan, Elara menangkup wajah Dante. Ia menatap mata pria itu tatapan yang menantang sekaligus memohon.
" Kau bilang kau ingin menjinakkan aku, Dante? Maka lakukan. Tapi jangan berpikir kau bisa menang semudah itu."
Dante tersenyum sinis. "Kau menantangku?"
"Aku memintamu," jawab Elara berbisik.
Elara memajukan wajahnya. Jarak mereka kini hanya hitungan milimeter. Napas mereka saling beradu. Dante, yang biasanya penuh Perhitungan, tampak goyah oleh inisiatif Elara. Sebelum Dante sempat bereaksi, Elara memiringkan kepalanya dan mendaratkan ciuman ringan namun bermuatan penuh di sudut bibir Dante.
Itu bukan ciuman lembut. Itu adalah ciuman yang sarat dengan rasa benci, nafsu, dan keputusasaan.
Tubuh Dante menegang kaku di bawah sentuhan Elara. Untuk sesaat, dunia di sekitar mereka berhenti. Pria yang ditakuti dunia itu mendadak diam, terhipnotis oleh keberanian gadis yang sedang ia buru.
"Kau benar-benar ingin membakarku, bukan?" bisik Dante, suaranya kini terdengar berat penuh gairah yang tertahan.
"Aku hanya menunjukkan padamu," bisik Elara dengan napas memburu, matanya menatap tajam ke mata Dante yang kini tampak menggelap, "bahwa di ruangan ini, akulah yang menentukan aturan mainnya."
Saat Dante hendak meraih tengkuk Elara untuk memperdalam ciuman itu—saat di mana Elara tahu ia akan kalah jika tidak segera melepaskan diri—Dave berhasil melompat keluar dari pintu balkon dan menghilang ke lorong apartemen dengan sunyi.
Elara segera mendorong dada bidang Dante, napasnya terengah. "Cukup. Aku tidak butuh permainan lebih lanjut untuk malam ini."
Dante menatap bibir Elara yang sedikit bengkak, lalu tertawa kecil—tawa yang terdengar seperti janji akan bahaya yang lebih besar di masa depan. Ia berdiri, membenarkan letak jasnya yang sedikit kusut.
"Kau menang untuk malam ini, Elara," Dante melangkah menuju pintu, namun berhenti sejenak sebelum keluar. "Tapi ingat, setiap kali kau menyentuhku seperti tadi, kau sedang menggali kuburanmu sendiri. Dan aku akan dengan senang hati menjadi orang yang menguburmu."
Pintu tertutup. Elara jatuh terduduk di lantai, kakinya gemetar hebat. Ia baru saja melakukan hal paling gila dalam hidupnya. Ia baru saja mencium iblis, dan ia tahu, setelah malam ini, tidak akan ada jalan kembali.
●●●