NovelToon NovelToon
Terjebak Pesona Paman Tunanganku

Terjebak Pesona Paman Tunanganku

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Terlarang / Crazy Rich/Konglomerat / Beda Usia
Popularitas:2.9k
Nilai: 5
Nama Author: Novaa

"Kamu tidak bisa melangkah keluar dari pintu itu sebelum kamu bertanggung jawab untuk apa yang sudah kamu lakukan padaku."

"Tanggung jawab? Harusnya kamu bersyukur Tuan, dapat ciuman gratis dari gadis secantik aku malam ini. Bye!"

....

Demi kabur dari kejaran pengawal papanya, Zevanya Anneliza Sanjaya (21) nekat menerobos ruang VIP sebuah bar eksklusif dan membungkam pria asing di dalamnya dengan ciuman panas. Dia mengira urusan mereka selesai malam itu juga.
Namun, takdir bercanda. Seminggu kemudian, Anya dipaksa bertunangan dengan Calvin Fernandez (25), pria kaku yang super membosankan. Syoknya lagi, pria asing yang dia cium di bar malam itu ternyata adalah Bara Fernandez (35) sang paman tunangannya yang berkuasa. Di depan keluarga, Bara tampil berwibawa bak malaikat, tapi di depan Zevanya, dia menjelma menjadi pria nakal yang siap menjeratnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Novaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 27 #Masuk Perangkap Serigala

​Suasana tegang di dalam mobil itu mendadak mencair ketika Bara Fernandez dengan gerakan teramat tenang menekan tombol untuk membuka sentral pengunci pintu.

​Klik.

​Jessica langsung membuka pintu depan dengan wajah sedikit cemberut. "Bara! Kenapa pintunya dikunci dari dalam sih? Aku mengetuk sampai pegal tahu," keluhnya manja begitu bokongnya kembali mendarat di kursi penumpang depan. Di belakangnya, Calvin juga masuk dan tampak agak terkejut melihat pamannya kini sudah berpindah posisi, duduk tegap di kursi belakang tepat di samping Anya.

​"Om Bara? Kenapa pindah ke belakang?" tanya Calvin heran.

​Bara menyandarkan punggung tegapnya dengan rileks, lalu melirik sekilas ke arah Anya yang saat ini sedang berusaha mati-matian mengatur napasnya yang memburu. "Aku tidak mengunci pintunya mungkin tadi itu macet, dan Tiba-tiba tangan serta kakiku kram setelah terlalu lama menyetir," sahut Bara dengan nada bariton yang terdengar datar namun sarat akan maksud terselubung. Pria itu menjeda kalimatnya, lalu menatap Anya dengan binar jenaka yang menyebalkan. "Yah... maklum saja, Calvin. Pamanmu ini kan sudah berumur, tidak se-enerjik anak muda lagi."

​Skakmat! Anya seketika menggigit bibir bawahnya, menahan kekesalan yang membumbung tinggi. Pria matang di sebelahnya ini sengaja mengulangi kata-kata ejekannya di pesan singkat kemarin untuk menyindirnya terang-terangan di depan Calvin!

​"Ah, kalau begitu biar saya saja yang menyetir sisa perjalanannya, Om," ujar Calvin patuh, langsung mengambil alih kursi kemudi tanpa menaruh curiga sedikit pun.

​Jessica sendiri tampak tidak keberatan. Wanita itu langsung mengeluarkan ponsel pintarnya. "Aku tetap di depan ya Bara, untuk mendokumentasikan pemandangan perjalanan kita. Lumayan untuk kebutuhan feed sosial mediaku," seru Jessica bersemangat.

​Begitu mobil kembali melaju membelah jalanan perbukitan, Calvin fokus menyetir dan Jessica sibuk mengambil video dari jendela depan. Di baris belakang, sebuah pergerakan rahasia kembali dimulai.

​Tanpa ada satu orang pun yang tahu, tangan kekar Bara perlahan bergerak menyusup di belakang punggung Anya. Dengan gerakan yang teramat halus namun posesif, jemari hangat Bara merangkul erat pinggang ramping Anya yang sedikit terekspos karena potongan crop top rajutnya yang terangkat sedikit saat duduk. Sentuhan kulit yang mendadak itu membuat Anya tersentak pelan. Dia melotot tajam ke arah Bara, memberi isyarat agar pria itu melepaskan tangannya. Namun, bukannya takut, Bara justru semakin mempererat rangkulannya, mengusap permukaan kulit pinggang Anya dengan ibu jarinya, memaksa gadis itu untuk duduk tegap menahan gejolak gila di dadanya sepanjang sisa perjalanan.

...

​Setelah menempuh perjalanan panjang yang menguras emosi Anya, mobil-mobil mewah itu akhirnya berbelok memasuki area kompleks vila eksklusif keluarga Fernandez.

​Pemandangan di tempat itu teramat indah. Vila mewah bergaya modern-tropis itu berdiri megah tepat di atas tebing rendah yang menghadap langsung ke arah laut lepas. Suara deburan ombak yang berkejar-kejaran memecah keheningan sore, berpadu dengan embusan angin pantai yang segar.

​Pembagian kamar pun segera diatur oleh Isyana sebelum para orang tua beranjak ke paviliun terpisah yang letaknya agak menjauh dari bangunan utama demi memberikan privasi pada anak-anak muda. Untuk bangunan utama vila, Anya dan Jessica diputuskan untuk berbagi satu kamar besar yang berada tepat di tengah-tengah. Sementara kamar Calvin berada di sisi sebelah kiri, dan kamar Bara mengunci di sisi sebelah kanan mereka.

​Saat semua orang, termasuk Calvin dan Jessica sedang sibuk memasukkan barang-barang bawaan dan koper ke dalam vila dengan bantuan para pelayan, Anya berniat ikut melangkah masuk. Namun, baru dua langkah berjalan, pergelangan tangannya mendadak ditahan oleh cengkeraman halus namun kuat.

​Anya berbalik dan mendapati Bara sudah berdiri di belakangnya, menjulang tinggi menyembunyikan sinar matahari sore.

​"Meskipun kita sedang liburan keluarga, kamu tidak boleh lupa dengan kesepakatan kita, Zevanya," bisik Bara dengan suara rendah yang sarat akan otoritas mutlak. "Kamu tetaplah pelayan pribadiku di sini. Dan soal utang hukuman ketidakhadiran mu yang menumpuk tadi... aku mungkin akan mempertimbangkan untuk menguranginya, tergantung bagaimana kinerjamu melayaniku mulai malam ini."

​Mendengar kata melayani dan hukuman, gengsi dan jiwa pemberontak Anya seketika mendidih. Dia menarik tangannya dengan sentakan kecil, lalu berbalik menghadap Bara sepenuhnya sembari berkacak pinggang dengan berani. Sebuah ide licik nan konyol mendadak terlintas di otaknya yang cerdas.

​"Oke, terserah Om Bara deh! Aku capek berdebat," cetus Anya dengan nada menantang yang dibuat-buat, menatap lurus ke sepasang mata elang pria di hadapannya. "Aku akan menuruti semua permintaan Om tanpa bantahan. Aku bahkan bersedia tidur di kamar yang sama dengan Om malam ini kalau Om mau... tapi, tentu saja ada syaratnya."

​Bara menaikkan sebelah alisnya, tampak tertarik dengan keberanian gadis kecilnya. "Syarat apa?"

​"Syaratnya gampang kok, Om. Om harus memberiku sebuah kalung emas putih dengan liontin buah ceri merah yang bentuknya mirip sekali dengan buah asli... sekarang juga!" Anya tersenyum lebar penuh kemenangan, merasa di atas angin.

​Anya yakin seratus persen permintaannya ini mustahil dipenuhi. Mereka saat ini berada di wilayah vila pantai terpencil yang jauh dari pusat kota. Mana mungkin ada toko perhiasan mewah di sekitar sini?

​"Oh, ya... karena aku ini orangnya baik hati, aku kasih Om waktu lima belas menit dari sekarang untuk mencarinya. Kalau dalam lima belas menit kalung itu tidak ada di depan mataku, semua kesepakatan dan utang hukumanku dianggap lunas dan hangus!" lanjut Anya, menepuk bahu Bara sekilas lalu melirik jam tangan di pergelangan tangannya dengan tawa kemenangan yang tertahan.

​Anya mengira Bara akan panik, atau setidaknya merengut kesal lalu buru-buru merogoh ponsel untuk menghubungi anak buahnya di kota, yang mana itu pun mustahil karena perjalanan dari kota ke vila ini membutuhkan waktu setidaknya tiga jam. Waktu lima belas menit yang dia berikan jelas hanyalah jebakan mati.

​Namun, di luar ekspektasi Anya, Bara Fernandez justru tidak menunjukkan kepanikan sama sekali. Pria matang itu justru mengulas sebuah senyuman tipis, sebuah senyuman iblis yang teramat tampan, tenang, dan sarat akan binar kepuasan yang membuat firasat buruk Anya mendadak aktif.

​Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Bara berbalik dan berjalan santai kembali menuju mobil hitamnya yang masih terparkir di halaman. Anya melipat kedua tangannya di dada, mencibir dalam hati. Palingan mau menelepon asistennya lalu menekan asistennya itu untuk memenuhi syarat mustahil dariku, pikirnya remeh.

​Namun, spekulasi Anya runtuh berantakan saat melihat Bara membuka pintu kemudi, condong ke dalam, lalu membuka laci dasbor mobilnya. Ketika pria itu kembali menegakkan tubuhnya dan berbalik menghadap Anya, ada sebuah benda kecil yang berada di dalam genggaman tangan kanannya.

​Bara melangkah lebar kembali mendekati Anya. Jantung Anya mendadak berdegup kencang karena rasa tidak enak yang semakin kuat.

​Bara berhenti tepat satu langkah di depan Anya. Dengan gerakan yang teramat elegan, dia menjulurkan tangannya dan membuka sebuah kotak beludru hitam eksklusif yang ada di telapak tangannya.

​Klik.

​Mata Anya seketika membelalak sempurna hingga hampir melompat keluar dari kelopaknya. Langkah kakinya refleks mundur setengah langkah karena syok yang teramat berat. Di dalam kotak beludru hitam itu, terbaring dengan sangat indah sebuah kalung emas putih murni dengan liontin berbentuk buah ceri merah ranum yang terbuat dari batuan bertahta berlian berkilauan persis, bahkan jauh lebih indah dari apa yang baru saja dia sebutkan dalam syarat konyolnya.

​Itu adalah kalung yang dibeli Bara di butik perhiasan mewah beberapa hari yang lalu, yang memang sengaja dia persiapkan untuk gadis kecilnya ini. Dan sore ini, keberuntungan tampaknya sedang berpihak penuh pada sang singa tua.

​Bara condong ke depan, mengikis jarak hingga ujung hidungnya hampir bersentuhan dengan hidung Anya yang masih membeku seperti patung. Seringai kemenangan yang teramat seksi dan mematikan terukir jelas di wajah tampan Bara.

​"Ucapan dan janji seorang gadis dari keluarga Sanjaya... tidak bisa ditarik kembali setelah kesepakatan dibuat, bukan begitu, Sayang?" bisik Bara dengan suara baritonnya yang teramat rendah, serak, dan penuh kemenangan mutlak. "Lima belas menit? Aku bahkan hanya butuh waktu kurang dari dua menit untuk mengabulkan syaratmu. Jadi... bersiaplah untuk menepati janjimu tidur di kamarku malam ini, Zevanya."

​Anya berdiri mematung dengan mulut sedikit terbuka, otaknya mendadak blank total. Dia berniat menjebak sang paman, namun siapa yang menyangka bahwa dia justru baru saja menyerahkan dirinya sendiri ke dalam perangkap maut sang serigala berbulu domba.

1
Yohana Pandie
lnjut thor.ceritanya keren bnget
Novaa: Halo, terimakasih sudah mampir. pantengin terus ya karena om Bara bakal semakin memBara 🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!