Ethan, seorang Assassin paling mematikan di Neo-Veridia, memilih akhir tak terduga di hidupnya. Tanpa dia sadari, takdir membawanya ke sebuah tempat yang jauh berbeda dari sebelumnya. petualangan yang seru dan menegangkan pun tak bisa dia hindari untuk menemukan jawaban bagaimana dirinya bisa terseret ke tempat misterius ini. Apa yang sebenarnya yang terjadi pada Ethan? Bisakah dia menemukan jawaban dari semua ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yann_Story, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Logika yang Retak di Atas Langit Neo-Veridia
Lampu neon fajar di Neo-Veridia tidak pernah benar-benar membawa kehangatan. Cahaya itu memantul di permukaan kaca gedung-gedung pencakar langit, membiaskan warna ungu dan sian yang dingin ke atas tubuh Ethan.
Di ujung dek observasi lantai 120 markas besar The Eclipse—sindikat pembunuh bayaran paling ditakuti di distrik bawah—angin malam berhembus kencang, mempermainkan ujung jubah teknologi hitamnya yang legam.
Ethan menatap lurus ke depan. Di dalam rongga matanya, lensa bionik tertanam, mengkalkulasi kecepatan angin, kelembapan udara, dan jarak jatuh bebas sejauh empat ratus meter menuju aspal berpolusi di bawah.
Dulu, ia hanyalah sampah distrik kumuh. Seorang yatim piatu yang sisa harinya dihabiskan dengan mengais komponen robotik bekas hanya untuk membeli sepotong roti sintetis. Ia ingat betul bagaimana dunia memandangnya dengan jijik.
Ia ingat bagaimana mantan kekasihnya, Chloe, melangkah masuk ke dalam mobil terbang mewah milik seorang putra pejabat korporat, setelah meludahi kaki Ethan dan berkata, "Kau tidak akan pernah menjadi apa-apa, Ethan. Kau hanya noda di kota ini."
Kata-kata itu adalah api yang membakarnya hingga ia merangkak naik dari lumpur.
Dalam tiga tahun, Ethan bertransformasi. Kecerdasan taktisnya yang dingin dan fisiknya yang ditempa latihan brutal menjadikannya pembunuh bayaran termuda, tercepat, dan paling mematikan yang pernah dimiliki The Eclipse. Wajahnya yang rupawan, dengan garis rahang tegas dan sepasang mata kelam yang tajam, kerap disembunyikan di balik topeng fraktal canggih.
Rekening banknya kini dipenuhi angka digital yang tak habis tujuh turunan. Pakaian yang melekat di tubuhnya bukan lagi kain loakan, melainkan Exo-Suit Assassin modern kelas prototipe—perpaduan serat nano karbon dan sirkuit siber canggih yang menyatu dengan sistem sarafnya, membuatnya tampak seperti cyborg predator yang sempurna.
Namun, di puncak segalanya, Ethan justru menemukan kehampaan yang mutlak.
Uang tidak bisa membeli kembali jiwanya yang mati. Keberhasilan misi tidak pernah menghapus rasa sepi yang menggerogoti dadanya setiap malam. Dunia canggih ini hanyalah sebuah penjara besar yang gemerlap, dan dia adalah narapidana paling sukses di dalamnya.
"Ethan! Apa yang kau lakukan?! Turun dari sana!"
Sebuah suara membentak dari arah pintu hidrolik yang terbuka. Ethan tidak perlu menoleh untuk mengetahui siapa itu. Vance, mentor sekaligus kapten regunya, berdiri di sana bersama tiga agen elit lainnya. Senjata plasma mereka masih tersampir di pinggang, sisa dari misi pembersihan yang baru saja mereka selesaikan.
"Misi kita sukses besar, Ethan! Reputasimu baru saja naik di dewan direksi! Kenapa kau berdiri di ujung sana?" Vance berteriak, suaranya bergetar oleh kecemasan yang jarang ia tunjukkan. Di sampingnya, Lyra, seorang penembak jitu yang biasanya bersikap dingin, menatap Ethan dengan mata melebar penuh ketakutan.
Ethan perlahan membalikkan tubuhnya. Di bawah pendar cahaya fajar yang menyinari helai rambut hitamnya yang berantakan, ia menatap rekan-rekan satu timnya. Tidak ada amarah di wajah tampan itu. Tidak ada dendam.
Ia hanya tersenyum. Sebuah senyuman tipis, tulus, dan teramat lelah.
"Aku sudah selesai, Vance," bisik Ethan, suaranya teredam oleh angin, namun tertangkap jelas oleh sensor pendengaran kru-nya. "Dunia ini... terlalu bising untukku."
Sebelum ada yang sempat menembakkan tali pengait atau meneriakkan namanya lagi, Ethan menjatuhkan dirinya ke belakang.
Tubuhnya melesat turun membelah angin. Kecepatan gravitasi menariknya dengan brutal. Dalam detikan yang krusial itu, seluruh kilasan hidupnya berputar seperti film rusak yang diputar cepat: tangisan masa kecilnya di lorong kumuh, tatapan merendahkan orang-orang pasar, cinta palsu Chloe, darah pertama yang ia tumpahkan, hingga tumpukan uang digital yang tak bermakna.
Ah, akhirnya... sunyi, batin Ethan sembari memejamkan mata, bersiap menyambut hantaman beton yang akan menghancurkan tubuhnya menjadi serpihan.
Brak!
Rasa sakit yang hebat menghantam punggung Ethan. Namun, itu bukan rasa sakit akibat tubuh yang hancur berkeping-keping. Itu adalah rasa sakit seperti jatuh dari atas pohon yang cukup tinggi ke atas tumpukan tanah kering dan dedaunan mati.
Ethan tersentak, kelopak matanya terbuka lebar. Napasnya memburu saat paru-parunya menghirup udara yang... sangat berbeda. Udara di Neo-Veridia selalu berbau belerang, bensin, dan zat kimia sintetis. Namun udara di tempat ini terasa sangat murni, begitu padat oleh sejenis energi asing yang membuat pori-pori kulitnya bergetar geli.
Ia segera bangkit dengan kewaspadaan seorang pembunuh terlatih. Matanya menyapu sekeliling.
Tidak ada gedung pencakar langit. Tidak ada papan iklan holografik setinggi awan. Yang ada hanyalah hamparan hutan berkabut dengan pepohonan raksasa yang batangnya meliuk-liuk aneh, seolah memiliki denyut nadi sendiri. Di langit atas, bukan fajar Neo-Veridia yang ia lihat, melainkan dua buah bulan yang menggantung berdampingan di siang hari yang remang-remang.
"Di mana... aku?" gumam Ethan.
Ia memeriksa tubuhnya sendiri. Exo-Suit Assassin miliknya masih melekat sempurna. Lapisan armor hitam metalik dengan pola sirkuit bercahaya biru redup, pelindung dada yang menyatu dengan kulit, serta sarung tangan taktis yang menyembunyikan pisau frekuensi tinggi di pergelangan tangannya—semuanya utuh. Penampilannya saat ini benar-benar kontras dengan lingkungan hutan kuno yang liar ini. Bagi siapapun yang melihatnya, ia akan tampak seperti monster siber atau dewa besi dari langit.
Tiba-tiba, sebuah suara mekanis yang dingin namun berbeda dari kecerdasan buatan (AI) miliknya bergema langsung di dalam kesadarannya.
[ Inisialisasi Berhasil. ]
[ Menyelaraskan Jiwa Subjek: Ethan (Asal: Bumi-616, Garis Waktu Masa Depan). ]
[ Selamat Datang di Benua Longyuan — Dunia Kultivasi Sembilan Langit. ]
[ Sistem Pembunuh Bayaran Surgawi (Heavenly Assassin System) diaktifkan. ]
Ethan mengerutkan keningnya. Sebagai pria yang cerdas dan rasional, ia segera menganalisis situasi. "Sistem? Kultivasi? Ini bukan simulasi virtual. Rasa sakit di punggungku dan kepadatan partikel di udara ini... nyata."
[ Benar, Tuan. Anda telah berpindah dimensi setelah kematian Anda di dunia asal. Di dunia ini, hukum sains yang Anda ketahui digantikan oleh Qi (Energi Spiritual). Semua makhluk hidup berlomba-lomba mengumpulkan Qi untuk menembus batas mortalitas mereka. ]
[ Status Anda Saat Ini: ]
Nama: Ethan
Tubuh: Manusia Fana (Tanpa Qi)
Perlengkapan: Exo-Suit Eclipse-V3 (Daya: 89%)
Basis Kultivasi: Tingkat 0 (Ranah Pengumpulan Qi - Belum Memulai)
Misi Pertama: Bertahan hidup dari ancaman pertama dan temukan pemukiman manusia.
"Dunia kultivasi..." Ethan menyentuh pelindung wajahnya yang perlahan menutup secara otomatis, menyembunyikan wajah tampannya di balik topeng visor biru yang dingin. "Menarik. Jadi di dunia ini, kekuatan adalah segalanya?"
Sebelum sistem sempat menjawab, semak-semak di depannya berguncang hebat.
Seekor makhluk menyerupai serigala, namun memiliki ukuran sebesar mobil SUV dengan bulu sekeras landak dan sepasang mata merah menyala, melompat keluar. Makhluk itu menggeram, meneteskan air liur asam yang membakar rumput di bawahnya. Tekanan udara di sekitar serigala itu terasa berat, sebuah energi yang disadari Ethan sebagai Qi binatang buas.
Di tempat lain, seorang kultivator mungkin akan gemetar menghadapi Binatang Roh Tingkat 1 seperti ini. Namun Ethan? Sepasang matanya di balik visor justru berkilat tajam. Otak jeniusnya langsung memetakan titik lemah makhluk itu dalam hitungan milidetik berdasarkan pergerakan ototnya.
"Sistem atau bukan, aturan bertahan hidup di tempat kumuh ataupun di hutan ini tetap sama," bisik Ethan dingin.
Sring!
Pisau frekuensi tinggi berbahan titanium mencuat dari pergelangan tangan kanannya, bergetar dalam kecepatan ultrasonik yang tak terlihat oleh mata telanjang. Sinyal sirkuit di baju besinya berpendar terang. Petualangan barunya di dunia yang luas dan kejam ini, baru saja dimulai dengan satu ayunan bilah pisau cyber yang mematikan.