Demi membiayai operasi ayahnya, Natalie nekat menjual keperawanannya pada seorang pria yang tidak ia kenal. Namun pria yang datang ternyata seorang dokter berhati baik yang justru ingin menyelamatkannya dari jalan buntu itu.
Setelah melewati malam yang penuh gairah, Drake malah kecanduan dengan tubuh Natalie, padahal dia tahu kalau wanita itu hanya mengejar uang.
Saat rahasia tergelap mereka terbongkar, mampukah hubungan rapuh dan terlarang ini tetap bertahan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kikoaiko, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 31
Nathalie duduk sendirian di kursi tunggu koridor rumah sakit yang sepi, tepat di depan ruang rawat ayahnya. Cahaya lampu neon putih yang dingin menyinari wajahnya yang semakin pucat. Ponsel di tangannya bergetar pelan saat notifikasi media sosial terus berdatangan, tapi kali ini bukan pesan biasa. Kabar yang menyebar luas di berbagai platform itu seperti bom yang meledak tepat di dadanya.
“Pengumuman Pernikahan, Drake Vandergaard, Pewaris Utama Keluarga Vandergaard, akan Menikah dengan dr. Sela Pramudya, Putri dari Keluarga Pramudya yang Berpengaruh.”
Foto-foto Drake dan Sela tersebar di mana-mana. Drake dengan setelan jas hitam elegan, tampan dan tegas seperti biasa. Sela berdiri di sisinya dengan senyum sempurna, gaun desainer yang mewah, dan tatapan penuh kemenangan.
Berita itu sudah menjadi trending topic di media sosial. Akun-akun gosip elit, akun berita bisnis, bahkan beberapa selebriti ikut membagikan dengan caption penuh pujian.
“Pasangan sempurna dari kalangan atas”
“Persatuan dua dinasti besar”
“Pernikahan impian”.
Tangan Nathalie gemetar hebat hingga ponsel hampir terjatuh dari genggamannya. Dadanya terasa sesak, seperti ada beban berat yang menindihnya hingga sulit bernapas. Matanya yang sudah sembab semakin sembab oleh air mata. Lidahnya kelu, tidak mampu mengucapkan sepatah kata pun. Hanya napas pendek dan cepat yang keluar dari mulutnya.
Ucapan Drake semalam ternyata benar.
"Ternyata bukan karena mabuk..." gumam Nathalie dengan suara parau yang hampir hilang, nyaris tak terdengar. "Dia memang benar-benar mau menikah dengan dokter Sela..."
Ia meremas ponselnya kuat-kuat hingga buku-buku jarinya memutih. Layar ponsel berderit pelan, seolah protes, tapi Nathalie tidak peduli. Air mata jatuh deras membasahi layar, membuat gambar Drake dan Sela semakin kabur. Rasa sakit yang luar biasa menyengat hatinya, seperti ribuan jarum yang menusuk-nusuk tanpa ampun.
Bagaimana bisa? Semalam pria itu memeluknya begitu erat, menciumnya dengan penuh hasrat, berbisik bahwa ia hanya menginginkan Nathalie. Bahwa ia tidak peduli dengan tekanan neneknya. Bahwa ia tidak akan menikah dengan Sela. Semua itu... bohong? Atau hanya kata-kata manis seorang pria mabuk yang terjebak di antara dua dunia?
Nathalie menggeleng pelan, tubuhnya merosot sedikit di kursi. Ingatannya melayang kembali ke malam panjang itu, sentuhan Drake yang panas, suaranya yang serak memanggil namanya berulang kali, pelukannya yang seolah tak ingin melepaskan.
Apakah semua itu hanya pelarian sementara? Apakah Nathalie hanyalah hiburan di tengah tekanan keluarga besarnya?
"Kamu bohong, Drake..." bisiknya lagi, suaranya pecah. "Kamu bilang kamu hanya butuh aku, tapi sekarang seluruh dunia tahu kamu akan menikah dengan dia."
Rasa campur aduk membuncah di dadanya. sakit, marah, kecewa, dan cinta yang masih begitu kuat meski ia berusaha membunuhnya. Ia mencintai Drake. Sangat. Tapi cinta itu kini terasa seperti pisau bermata dua, memberi kebahagiaan sesaat, tapi meninggalkan luka yang dalam.
Nathalie menutup mulutnya dengan tangan yang masih gemetar, berusaha menahan isak yang ingin meledak. Di koridor rumah sakit yang sepi ini, ia tidak ingin ada yang melihatnya hancur. Ayahnya di dalam ruangan sedang beristirahat. Ia tidak boleh membuat ayahnya khawatir. Tapi semakin ia menahan, semakin sakit hatinya.
Ia scroll layar ponsel sekali lagi dengan jari yang kaku. Komentar-komentar netizen memenuhi kolom:
“Finally! Pasangan yang sepadan!”
“Cocok banget, darah biru ketemu darah biru.”
“Siapa yang kemarin gosip sama perawat biasa? Sudah jelas itu cuma rumor.”
Setiap kata terasa seperti tamparan di wajahnya. Nathalie merasa kecil, tidak berharga, dia hanya wanita murahan, yang bekerja sebagai pelayan bar, yang menjual tubuhnya pada Drake demi pengobatan ayahnya.
Air matanya semakin deras. Ia memeluk dirinya sendiri, bahunya berguncang pelan. "Aku harus pergi, aku harus benar-benar pergi sekarang," gumamnya dalam hati.
Rencananya untuk meninggalkan rumah Drake bersama ayahnya tiga hari lagi kini terasa semakin tepat. Tidak ada lagi harapan. Tidak ada lagi tempat untuknya di sisi pria itu.
Namun di balik rasa sakit yang membakar, ada bagian kecil di hatinya yang masih berharap. Bagian yang berbisik pelan. Mungkin ini bukan kehendak Drake. Mungkin ini paksaan keluarganya. Tapi bukti di layar ponselnya terlalu nyata. Kabar itu sudah menyebar luas, diumumkan secara resmi. Tidak mungkin ini hanya rumor.
Nathalie menarik napas dalam-dalam, berusaha menenangkan diri. Ia menyeka air matanya kasar dengan punggung tangan, lalu berdiri dengan kaki yang lemas. Sebelum kembali ke ruang ayahnya, ia menatap ponsel sekali lagi, foto Drake yang tersenyum di samping Sela.
"Semoga kamu bahagia, Drake," bisiknya dengan suara hancur.
Dengan langkah gontai, Nathalie berjalan menuju ruang rawat ayahnya. Hatinya telah retak, tapi demi ayahnya, ia harus tetap kuat.
Setidaknya untuk beberapa hari lagi, sebelum ia benar-benar meninggalkan segala kenangan indah yang pernah ia miliki bersama Drake.
Badai itu akhirnya datang. Dan kali ini, Nathalie merasa ia tidak akan mampu bertahan.
Namun, takdir seolah tak memberinya ruang untuk bernapas lega.
Saat melewati tikungan lorong menuju lift, tanpa sengaja tubuhnya berpapasan dengan seseorang. Bahunya tersenggol cukup keras hingga membuat langkahnya terhenti mendadak.
Ponsel yang masih digenggamnya hampir terjatuh. Nathalie mengangkat wajahnya dengan cepat, dan jantungnya seolah berhenti berdetak sesaat.
Di hadapannya Sela berdiri. Wanita itu mengenakan jas dokter putih yang rapi dan elegan, rambutnya terikat tinggi dengan sempurna, dan wajah cantiknya yang penuh kelicikan kini dihiasi senyum tipis yang menusuk. Bau parfum mahal Sela langsung menyengat hidung Nathalie, kontras dengan aroma obat-obatan rumah sakit.
"Dokter Sela..." ucap Nathalie gugup. Suaranya hampir hilang, tangannya secara refleks memegang bahu yang tersenggol. Tubuhnya menegang, darah seolah mengalir mundur dari wajahnya.
Sela tidak langsung bergeser. Ia malah melipat kedua tangannya di depan dada, kepalanya sedikit miring sambil menatap Nathalie dari atas ke bawah dengan pandangan merendahkan. Senyum mengejeknya semakin lebar, memperlihatkan gigi putih yang sempurna. Aura kemenangan dan kesombongan memancar begitu kuat dari dirinya, seolah ia sudah menjadi ratu di lorong rumah sakit ini.
"Kau sudah melihat berita yang beredar, kan?" tanya Sela dengan suara manis beracun, nada ejekannya tak bisa disembunyikan. "Sudah aku katakan, tinggalkan Drake. Kau tidak pantas untuk dia."
Kata-kata itu bagaikan tamparan keras di wajah Nathalie. Tubuhnya gemetar, lututnya terasa lemas. Air mata yang baru saja ia usap paksa di ruang tunggu kini menggenang lagi di pelupuk mata. Ia menelan ludah dengan susah payah, lidahnya terasa kelu seperti semalam.
"Kenapa Dokter Sela?" bisik Nathalie dengan suara bergetar. "Kenapa harus seperti ini? Aku tidak pernah menginginkan apa pun dari Drake selain cintanya."
Sela tertawa kecil, suaranya rendah namun penuh ejekan. Ia melangkah selangkah lebih dekat, membuat jarak di antara mereka semakin sempit.
"Cinta? Jangan membuatku tertawa, bitch. Apa yang bisa kau tawarkan padanya? Rumah kecil kumuh? Ayah sakit yang jadi beban? Masa depan yang tidak jelas? Lihat dirimu. Kau hanya pelac*r murahan, sementara aku...."
Sela menyentuh liontin berlian di lehernya dengan jari lentik, matanya berbinar penuh kebanggaan.
"Aku adalah yang pantas berdiri di sisinya. Keluarga kami setara. Bisnis kami saling mendukung. Dan sebentar lagi, aku akan menjadi Nyonya Vandergaard. Kau? Kau hanya akan menjadi kenangan buruk yang harus dilupakan."
Nathalie merasa dunianya berputar. Rasa sakit di dadanya semakin menjadi, seolah ada tangan tak kasat mata yang meremas jantungnya. Gambar Drake dan Sela di media sosial kembali muncul di benaknya. Pelukan hangat Drake semalam terasa semakin palsu sekarang.
"Baik, aku akan meninggalkan Drake" putus Nathalie. Dia tidak mungkin melawan Sela dan keluarga Drake.