Bagi Arvin, Karin bukan sekadar tante dari sahabatnya. Karin adalah tempatnya pulang, tawa yang selalu ia cari, dan masa depan yang ingin ia tuju. Di saat kedekatan mereka mulai mencairkan dinding perbedaan usia, sebuah kencan tak sengaja justru membawa kembali bayang-bayang masa lalu Karin yang belum usai.
Ketika masa lalu menuntut tempatnya kembali, akankah Karin bertahan pada zona nyamannya, atau berani melangkah demi rasa yang lebih dari sekadar tante?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agatha soul, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hujan dan Rumah yang Sepi
Jalanan kota mulai padat merayap saat jarum jam mendekati pukul setengah tujuh malam. Di tengah deru mesin kendaraan, Karin sedikit memacu motornya untuk menyejajari motor Reza yang sedang membonceng pacarnya.
"Ja! Tante langsung pulang ke rumah aja, ya!" seru Karin agak keras agar suaranya terdengar di balik helm.
Reza menoleh sekilas dengan dahi berkerut. "Loh? Kirain mau menginep di rumah Mama?"
"Gak, Tante pulang aja. Bilangin ke mamamu nanti, ya!"
Reza mengangguk paham sambil mengacungkan jempolnya. Tak lama kemudian, rombongan tertahan di lampu merah. Arvin dengan sigap menghentikan motornya tepat di sebelah kanan motor Karin.
Karin menoleh, membuka sedikit kaca helmnya. "Vin, Tante mau langsung pulang ke rumah."
"Arvin anterin ya? Udah malam," sahut Arvin cepat tanpa ragu. Suaranya terdengar tegas.
"Gak usah, Vin," tolak Karin halus.
Namun, begitu lampu berubah hijau dan rombongan mulai melaju, perpisahan formasi pun terjadi. Rombongan Reza dan yang lain mengambil jalur lurus, sementara Karin berbelok ke arah kanan. Saat melirik kaca spion, Karin hanya bisa menghela napas pasrah. Sorot lampu motor Arvin ternyata masih setia mengekor di belakangnya.
‘Kayaknya dia gak denger omonganku tadi,’ pikir Karin geleng-geleng kepala.
Karin akhirnya memutuskan berhenti di sebuah minimarket pinggir jalan. Begitu mematikan mesin motor, dia langsung menghampiri Arvin yang juga ikut memarkirkan motornya.
"Arvin, kamu pulang aja. Gak usah repot-repot," kata Karin.
"Gak, Tan. Gue mau nganterin Tante pulang, udah malam," jawab Arvin keras kepala dengan wajah datarnya.
Karin terkekeh geli melihat keras kepalanya anak SMA di depannya ini. "Baru juga jam tujuh malam, Arvin..."
Karena Arvin tetap bergeming, Karin akhirnya membiarkan anak SMA itu mengekor di belakangnya masuk ke dalam minimarket. Karin mengambil keranjang, lalu mulai memilih beberapa camilan, mi instan, dan sabun mandi. Di sela-sela memilih barang, Karin melirik Arvin yang berjalan di sampingnya.
"Kamu mau beli apa? Ambil aja," tawar Karin.
Arvin sempat ragu sebelum akhirnya hanya mengambil satu botol kopi kemasan dari dalam lemari pendingin.
"Udah, cuma itu?" tanya Karin memastikan.
"Iya," jawab Arvin singkat.
Saat tiba di depan kasir, Karin meletakkan keranjang belanjaannya. Sebelum kasir sempat menghitung, dengan cepat Karin merebut botol kopi yang sedang dipegang oleh Arvin. "Sama ini juga, Mbak," ucap Karin pada kasir.
Arvin tersentak, dia sedikit membungkuk dan berbisik di dekat telinga Karin. "Gue bisa bayar sendiri, Tan."
"Enggak apa-apa. Anggap aja ini ucapan terima kasih karena kamu udah mau nganterin Tante," balas Karin sambil menoleh dan menyunggingkan senyum manisnya.
Melihat senyuman sedekat itu, Arvin seketika bungkam. Dia hanya bisa diam menerima botol kopi yang kini sudah dibayar lunas oleh Karin.
Begitu mereka tiba di halaman depan rumah Karin, rintik rintik air mendadak turun dari langit. Dalam hitungan detik, hujan deras langsung mengguyur.
Karin buru-buru membuka gerbang dan pintu rumahnya. "Eh, hujan! Arvin, mau masuk dulu gak? Hujan, kasihan kalau kamu pulang ujan-ujanan sekarang."
Arvin yang bajunya mulai sedikit basah menatap Karin ragu. "Gapapa, Tan, kalau gue mampir dulu?"
"Iya, ayo masuk."
Mendengar jawaban itu, ada rasa senang yang diam-diam membuncah di hati Arvin. Dia melepas helmnya dan melangkah masuk ke dalam rumah Karin. Suasana di dalam terasa sangat sepi dan senyap. Arvin mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan.
Sadar akan kebingungan Arvin, Karin melepas jaketnya dan memecah keheningan. "Orang tua Tante udah meninggal, Vin," ucapnya dengan nada santai namun ada kedewasaan yang tenang di sana.
Arvin tersentak pelan. "Oh... turut berduka ya, Tan."
"Iya, udah agak lama kok. Rumahnya gak sebesar rumah si Eja, maaf ya," tambah Karin sambil tersenyum tipis.
"Gapapa, Tante," jawab Arvin tulus.
Karin menggosok kedua telapak tangannya karena hawa dingin mulai menusuk. "Eh, kita makan mi rebus yuk? Enak kan hujan-hujan gini makan mi?"
"Boleh, Tan," jawab Arvin setuju.
Sementara Karin sibuk di dapur untuk memasak mi, Arvin mendudukkan dirinya di sofa ruang tamu yang berhadapan dengan TV. Dia mengeluarkan ponselnya yang sejak tadi bergetar. Ada pesan masuk dari Reza.
> Eja: Lo di mana? Tiba-tiba ngilang.
> Arvin: Gue pulang duluan.
> Eja: Gak enak banget, cewek gue jadi nganterin gue pulang.
> Arvin: Ya gapapa sesekali.
Arvin memasukkan kembali ponselnya ke saku. Saat dia mendongak, matanya tidak sengaja menangkap pintu kamar Karin yang terbuka lebar tidak jauh dari ruang tamu. Meskipun duduk di sofa depan TV, Arvin bisa melihat dengan jelas area meja rias di dalam kamar tersebut.
Di samping meja riasnya, tampak banyak foto polaroid yang ditempel rapi di dinding. Rasa penasaran langsung menggelitik benak Arvin. Dia ingin sekali mendekat dan melihat foto-foto siapa saja yang dipajang di sana, namun dia menahan diri dan hanya bisa memandanginya dari kejauhan dengan lekat.
Tak lama kemudian, aroma sedap mi rebus menyeruak. Karin berjalan dari arah dapur sambil membawa dua mangkuk mi instan yang masih mengepulkan asap hangat. Dia meletakkannya di atas meja kopi di depan Arvin.
"Maaf ya, Tan, jadi ngerepotin," ucap Arvin merasa agak sungkan.
Karin duduk di karpet bawah, sejajar dengan meja, lalu mendongak menatap Arvin sambil tersenyum hangat. "Gak apa-apa, Arvin. Ayo makan!”