NovelToon NovelToon
Istri Seksi Gus Ibra

Istri Seksi Gus Ibra

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Perjodohan / Nikahmuda
Popularitas:4.1k
Nilai: 5
Nama Author: Elma Grace

​"Bagaimana jadinya kalau gadis nakal harus takluk menghadapi anak dari pemilik pesantren?"


Tsabita Azzahra, sebagai bentuk protes karena selalu dibanding-bandingkan dengan kakaknya, Safira, yang nyaris sempurna, Bita memilih hidup bebas: nongkrong di lounge elite, pulang subuh, dan akrab dengan kehidupan malam.

​Puncaknya, setelah mabuk berat akibat patah hati, Bita membuat kekacauan terbesar dalam hidupnya. Di area parkir remang-remang, ia mengira seorang cowok jangkung yang sedang duduk tenang di atas moge hitamnya adalah tukang parkir. Dengan lancang, Bita memaki-maki cowok itu, menarik kerah bajunya, dan... muntah tepat di atas sepatu sneakers mahal si cowok sebelum akhirnya pingsan.

Sepanjang insiden itu, si cowok hanya diam, menatap Bita dengan pandangan dingin yang tidak terbaca, lalu menolongnya dengan tenang.

​​Kehabisan kesabaran, orang tua Bita memberikan hukuman final: Bita dijodohkan dengan anak pemilik salah satu Pesantren.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elma Grace, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 9

​Pendingin udara di dalam mobil sedan sport mewah itu berdesis halus, mengalirkan hawa sejuk yang perlahan meredakan sisa-sisa kepanikan Bita. Sepanjang perjalanan meninggalkan area kampus, Bita hanya memalingkan wajahnya lurus ke luar jendela, berpura-pura sangat tertarik menatap deretan bangunan dan kemacetan jalanan.

​Ia sengaja bungkam. Egonya masih terluka parah akibat insiden salim paksa di parkiran tadi.

​"Kamu mau makan apa?" suara bariton Ibra memecah keheningan yang direkayasa Bita.

​Bita tidak menoleh. Ia hanya mengedikkan bahunya acuh tak acuh. "Terserah. Gue gak laper."

​Kruuuk~

​Suara khianat yang berasal dari dalam perut Bita berbunyi cukup nyaring di keheningan kabin mobil. Bita seketika menggigit bibir bawahnya erat-erat, merutuki lambungnya yang sama sekali tidak bisa diajak bekerja sama untuk menjaga harga diri.

​Gus Ibra tidak tertawa keras, namun Bita bisa menangkap pantulan senyuman geli yang terukir di sudut bibir suaminya melalui kaca spion tengah. "Perut kamu punya jawaban yang berbeda dari lidah kamu, Tsabita."

​"Suara mobil di luar kali! Sok tahu lo!" kilah Bita, wajahnya mulai memanas.

​Ibra tidak memperpanjang perdebatan. Pria itu memutar kemudi dengan tenang, mengarahkan mobil sportnya memasuki area parkir sebuah restoran kaca berkonsep fine dining tropis yang sangat estetik di kawasan komersial elite. Gedung restoran itu dikelilingi kolam air mancur kecil dan tanaman hijau yang tertata rapi.

​Begitu mobil berhenti sempurna, Bita melirik penampilannya sendiri di kaca spion sandaran matahari. Kemeja flanel kotak-kotak oversized, celana jins, dan pashmina hitam yang dililit asal-asalan. Sangat kontras dengan vibe restoran yang dipenuhi oleh orang-orang berpakaian rapi dan formal.

​"Gus, lo sengaja ya mau bikin gue malu lagi?" protes Bita, menahan lengan Ibra yang hendak membuka pintu. "Liat baju gue! Gak cocok tahu makan di tempat ginian. Cari warung nasi biasa aja kenapa sih?"

​Ibra menoleh, menatap Bita lekat-lekat dengan sepasang mata tajamnya yang teduh. Tangannya bergerak lembut, membetulkan letak ujung pashmina Bita yang sedikit mencuat ke atas.

​"Pakaian kamu bersih dan sopan. Itu sudah lebih dari cukup," ucap Ibra pelan, suaranya terdengar begitu menenangkan. "Restoran ini milik teman bisnis saya, jadi tidak perlu merasa tidak nyaman. Ayo turun."

​Mereka memilih meja di sudut ruangan yang dibatasi oleh dinding kaca besar, menyajikan pemandangan kolam ikan koi di luar. Setelah pelayan mencatat pesanan mereka—dua porsi steak premium dan jus buah segar—Bita kembali melipat tangannya di dada, mencoba mengembalikan mode defensifnya.

​"Gus, gue mau nanya," kata Bita, menatap Ibra yang sedang merapikan letak sendok dan garpu di atas meja.

​"Tanya apa, Tsabita?"

​"Lo emang biasa ya, jemput cewek pakai mobil sport mewah begini? Terus tebar pesona di depan anak-anak kampus?" selidik Bita, nadanya sarat akan sinisme yang dibuat-buat.

​Ibra menurunkan pandangannya, lalu terkekeh rendah. "Saya tidak pernah menjemput wanita lain dengan mobil ini. Kamu yang pertama. Dan soal tebar pesona... saya rasa saya hanya berdiri di dekat mobil menunggu istri saya keluar kelas. Bagian mana yang disebut tebar pesona?"

​Bita mendengus, kehilangan kata-kata karena jawaban Ibra yang terlampau lempeng. "Ya lo ngapain pakai baju rapi banget kayak mau ijab kabul ulang?! Sengaja kan biar diliatin maba-maba centil tadi?"

​"Saya baru selesai rapat koordinasi dengan investor untuk proyek ekspor-impor baru, Bita. Wajar kalau saya berpakaian formal," tutur Ibra dengan kesabaran ekstra yang entah kenapa selalu berhasil membuat Bita merasa bersalah sendiri.

​Baru saja Bita hendak membalas dengan kalimat sarkas lain, sebuah suara langkah kaki berhak tinggi terdengar mendekat ke arah meja mereka.

​"Mas Ibra? Eh... beneran Gus Ibra, kan?"

​Suara wanita itu terdengar sangat feminin, lembut, dan sarat akan keterkejutan yang menyenangkan.

​Bita refleks menoleh, dan detik itu juga, egonya mendadak menciut satu senti. Berdiri di samping meja mereka adalah seorang wanita muda yang luar biasa cantik dan elegan. Wanita itu mengenakan setelah blazer dan celana kulot berwarna pastel yang sangat modis, dipadukan dengan hijab satin premium yang ditata sangat rapi tanpa cela. Wajahnya dipoles makeup natural yang mahal, memancarkan aura wanita karier kelas atas yang sholeha.

​Gus Ibra mendongak. Begitu mengenali sosok tersebut, ekspresi wajah dinginnya sedikit mencair, digantikan oleh sebuah senyuman ramah yang tulus. Ibra sedikit menundukkan kepalanya sebagai tanda hormat, tanpa berdiri dari kursinya.

​"Waalaikumsalam. Oh, Mbak Nadia. Apa kabar?" sapa Ibra, suaranya terdengar begitu akrab di telinga Bita.

​Wanita bernama Nadia itu tersenyum lebar, matanya berbinar senang. "Kabar baik, Gus. Ya ampun, gak nyangka banget bisa ketemu di sini. Kamu lagi ada urusan di dekat sini? Oh ya, proyek perluasan lahan di sektor utara yang kemarin kita bahas, Abah bilang sudah disetujui, lho."

​"Alhamdulillah kalau begitu. Nanti biar tim saya yang follow up dokumennya ke pesantren Abah kamu," jawab Ibra, nadanya mengalir sangat lancar dan santai, mengindikasikan bahwa mereka berdua sudah sering berkomunikasi secara intens.

​Bita yang duduk di seberang Ibra mendadak merasa seperti makhluk gaib yang tidak kasat mata. Ia meraih gelas air putihnya dengan sentakan kecil, lalu meneguknya hingga setengah kosong dengan gerakan agresif. Matanya melirik tajam ke arah interaksi kedua orang di depannya.

​Akrab banget ya. Pake panggil 'Mas Ibra' segala lagi, terus beralih ke 'Gus'. Gaya bicaranya juga nyambung banget soal proyek-proyek pesantren, batin Bita, ada rasa tidak nyaman yang mendadak meremas dadanya—perasaan asing yang sangat ia benci, namun enggan ia akui sebagai kecemburuan.

​Nadia tampaknya baru menyadari keberadaan Bita setelah mendengar denting gelas yang diletakkan agak keras di atas meja. Wanita itu menatap Bita dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan tatapan menilai, namun tetap menjaga kesopanannya.

​"Eh, maaf... ini siapa ya, Gus?" tanya Nadia, senyumannya sedikit tertahan. "Saudara sepupu dari Jakarta? Atau... salah satu santriwati berprestasi yang lagi magang di perusahaan kamu?"

​Mendengar pertanyaan itu, darah Bita mendadak mendidih. Santriwati magang katanya?! Muka gue semirip itu apa sama anak magang?!

​Bita baru saja hendak membuka mulutnya untuk menyemburkan kalimat ketus, namun kalimatnya langsung dipotong oleh suara berat Gus Ibra yang terdengar begitu tegas dan berwibawa.

​"Bukan," ucap Ibra pendek.

​Ibra mengalihkan pandangan matanya sepenuhnya dari Nadia, lalu menatap lurus ke arah Bita dengan binar mata yang mendadak melembut. "Nadia, perkenalkan... ini Tsabita Azzahra. Istri saya."

​Deg.

​Nadia seketika membeku. Senyuman manis di wajah cantiknya langsung memudar selama beberapa detik sebelum ia berhasil menguasai diri kembali. "I-istri? Gus Ibra... sudah menikah? Kapan? Kok, Abah dan Umi di pesantren kami gak dapet kabar ya?"

​"Pernikahannya baru dilangsungkan beberapa hari yang lalu secara privat di ndalem," jawab Ibra tenang, tanpa berniat memberikan penjelasan lebih detail. "Mohon doanya saja."

​"Ah... begitu ya," Nadia memaksakan sebuah senyuman tipis, matanya kembali melirik ke arah Bita yang kini sengaja menaikkan dagunya tinggi-tinggi, memasang wajah seangkuh mungkin untuk menutupi rasa salah tingkahnya akibat ucapan Ibra tadi. "Selamat ya, Gus. Kalau begitu, saya gak mau mengganggu waktu makan siang kalian. Saya duluan. Assalamualaikum."

​"Waalaikumsalam," jawab Ibra.

​Setelah sosok Nadia menghilang di balik pintu keluar restoran, suasana di meja makan mereka mendadak berubah menjadi sangat dingin. Lebih dingin daripada pendingin udara restoran.

​Pelayan datang mengantarkan dua piring steak yang masih mengepulkan aroma lezat, namun selera makan Bita sudah menguap entah ke mana. Ia memotong daging steaknya dengan tenaga berlebih, hingga suara pisau yang beradu dengan piring keramik terdengar berderit ngilu.

​Ibra memperhatikan tingkah istrinya dengan diam. Pria itu meletakkan pisau dan garpunya sendiri, lalu melipat tangannya di atas meja.

​"Dagingnya tidak bersalah, Tsabita. Jangan dipotong sekasar itu," ucap Ibra pelan, ada nada gurauan yang disembunyikan dengan sangat rapi dalam suaranya.

​Bita melempar pisaunya ke atas meja dengan bunyi klang yang cukup keras. "Gak nafsu makan gue! Kenapa? Lo keganggu ya karena gue merusak momen reuni romantis lo sama Mbak Nadia yang sholeha dan pinter urusan proyek itu?!"

​Ibra menaikkan sebelah alisnya, menatap Bita dengan intensitas yang membuat jantung Bita berdegup liar. "Momen reuni romantis dari mana? Dia hanya anak dari salah satu mitra bisnis Abi di dunia pesantren. Kami hanya bicara soal pekerjaan."

​"Halah, gak usah ngeles deh, Gus!" cibir Bita, meluapkan seluruh kekesalannya yang sedari tadi ia tahan. "Tadi dia panggil lo 'Mas Ibra' loh ya, akrab banget! Terus tatapan matanya ke lo tuh beda banget. Keliatan kalau dia suka sama lo! Kenapa gak nikah sama dia aja sih? Dia kan spek idaman lo banget pasti. Nyambung diajak ngomongin masa depan pesantren, gak kayak gue yang cuma bisa bikin malu lo di parkiran kampus!"

​Rentetan kalimat penuh emosi itu meluncur bebas dari bibir Bita. Begitu selesai bicara, Bita langsung merutuki dirinya sendiri. Bodoh banget lo, Bita! Kenapa lo malah kelihatan kayak istri yang lagi cemburu buta begini?!

​Suasana meja makan menjadi hening selama beberapa saat. Bita buru-buru memalingkan wajahnya kembali ke luar jendela kaca, enggan melihat ekspresi Ibra yang mungkin sedang menertawakan kebodohannya.

​Namun, dugaan Bita lagi-lagi keliru.

​Gus Ibra perlahan mengembuskan napas pendek. Pria itu menggeser kursinya sedikit lebih dekat ke arah meja, lalu mengulurkan tangan kanannya melewati batas meja makan. Jemari panjang Ibra yang hangat perlahan meraih pergelangan tangan Bita yang sedang terkepal erat di atas meja, lalu menggenggamnya dengan sangat lembut namun sarat akan ketegasan yang mengunci.

​Bita tersentak kecil, mencoba menarik tangannya kembali, namun genggaman Ibra terlalu kokoh untuk dilepaskan.

​"Tsabita, tatap saya," perintah Ibra. Suaranya kali ini terdengar lebih dalam, rendah, namun begitu mengikat.

​Mau tidak mau, Bita memutar kepalanya, menatap langsung ke dalam sepasang mata tajam suaminya.

​"Mbak Nadia boleh saja memanggil saya dengan sebutan apa pun, dan dia bebas menatap saya dengan cara bagaimana pun, karena itu hak dia," tutur Ibra dengan penekanan yang sangat adem namun langsung menusuk tepat ke ulu hati Bita. "Tapi kamu harus tahu satu hal. Mata saya, perhatian saya, dan tanggung jawab saya... sekarang hanya tertuju pada satu wanita yang saat ini sedang duduk di depan saya dengan flanel kotak-kotak dan pashmina miring karena terburu-buru mengejar kelas."

​Wajah Bita seketika terasa seperti disiram air panas. Merah padam hingga ke ujung telinganya.

​"G-Gus... lepasin gak! Diliatin pelayan tahu!" gagap Bita, mencoba menyembunyikan badai yang sedang mengamuk di dalam dadanya akibat untaian kalimat maut suaminya.

​Ibra tidak melepaskan genggamannya, malah seulas senyuman tipis misterius yang sangat menawan terukir di wajah tampannya.

​"Saya tidak akan melepaskannya sebelum istri saya menghabiskan makanannya," bisik Ibra pelan, matanya berkilat geli melihat kegugupan Bita yang luar biasa. "Dan satu lagi... aroma cemburu kamu di restoran ini jauh lebih kuat daripada aroma steak di depan kita, Istriku."

​Skakmat seada-adanya. Tsabita Azzahra benar-benar kehilangan seluruh jiwa pemberontaknya siang ini. Di hadapan ketenangan yang menghanyutkan dan serangan verbal yang begitu telak, Bita hanya bisa menundukkan kepalanya dalam-dalam, menyembunyikan wajah merahnya sambil mulai mengunyah steaknya dengan gerakan kaku, menyadari bahwa ia telah jatuh terlalu dalam ke dalam pesona pria yang awalnya sangat ia benci itu.

1
Anita Rahayu
kapan ni buat dedek bayi yg gemoy
Elma Grace: eh tenang aja. ada kok nanti. tunggu yaa, bikin sedikit konflik biar makin deket dulu merekanyaa
total 1 replies
merry
kyky reno ngk bergerak sndrian dehh,, x Safira itu terlibat krn iri sm bita x y
Clarisa Putri: aku juga mikir gini
total 1 replies
Sri Jumiati
apa safira suka sm gus ibra ya
Elma Grace
/Rose//Heart/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!