NovelToon NovelToon
Kontrakan Rahim Untuk Tuan Calix

Kontrakan Rahim Untuk Tuan Calix

Status: sedang berlangsung
Genre:Beda Usia / CEO / Ibu Pengganti / Cinta Seiring Waktu / Nikah Kontrak
Popularitas:4.7k
Nilai: 5
Nama Author: Ariska Kamisa

Demi menyelamatkan perusahaan keluarga dari kebangkrutan dan membiayai pengobatan adiknya yang kritis, Mireya terpaksa menjual kesuciannya. Ia menandatangani kontrak satu tahun untuk menjadi ibu pengganti bagi Calix David—seorang miliarder tampan berusia 35 tahun yang terkenal kejam dan sedingin es.
Pernikahan rahasia digelar, dan Mireya dikurung di mansion mewah dengan aturan ketat. Calix memperingatkannya: "Hubungan kita hanya sebatas rahim dan uang. Jangan pernah jatuh cinta kepadaku."
Namun, kepolosan Mireya perlahan mulai menggoyahkan hati sang Tuan Tsundere. Di tengah intrik konglomerat dan rahasia kelam mansion, akankah Mireya pergi setelah melahirkan sang ahli waris, atau justru berhasil memiliki hati Calix sepenuhnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 7: Kepulangan ke Mansion & Konfrontasi Pertama Tentang Masa Lalu

​Suara deru mesin Rolls-Royce hitam itu perlahan meredup, menyisakan kesunyian yang mencekam begitu mobil berhenti sempurna di depan lobi mansion mewah. Mireya melangkah turun dengan perasaan yang jauh lebih berat dibandingkan saat ia pergi tadi siang. Informasi dari Dokter Sidiq di rumah sakit terus berputar di kepalanya seperti kaset rusak, memicu rasa penasaran sekaligus kecemasan yang mendalam tentang sosok pria yang kini menjadi suaminya.

​Begitu pintu utama kayu jati itu terbuka, Mireya mendapati atmosfer lobi terasa berbeda. Lebih dingin dan menekan. Di ujung tangga melingkar, Calix berdiri dengan kedua tangan tenggelam di saku celana bahan hitamnya. Kemejanya masih rapi, namun tatapan matanya yang tertuju lurus pada Mireya tampak jauh lebih tajam dari biasanya.

​"Ikut aku ke ruang tengah," perintah Calix datar. Tanpa menunggu jawaban, pria itu berbalik dan melangkah dengan ritme yang lambat namun pasti.

​Mireya menelan ludah, meremas pelan tas ransel kecilnya sebelum melangkah mengekor di belakang Calix. Mereka masuk ke dalam ruang tengah yang luas, di mana sebuah perapian marmer buatan menyala, memberikan pendar cahaya temaram yang justru menambah kesan intimidatif.

​Calix berbalik, bersedekap dada. Ia menatap Mireya yang berdiri kaku beberapa langkah di hadapannya. "Bagaimana kondisi adikmu?"

​"Operasinya dimajukan besok pagi," jawab Mireya pelan, mencoba menjaga suaranya agar tidak bergetar. "Dokter bilang semua persiapannya sudah beres berkat dana yang Anda kirimkan. Terima kasih."

​"Baguslah. Itu artinya aku sudah menepati janjiku di hari pertama," sahut Calix. Nada suaranya mendadak turun satu oktav, menjadi lebih berat dan dingin. "Sekarang, giliran aku yang menagih penjelasan darimu."

​Mireya mendongak, alisnya berkerut tipis. "Penjelasan? Tentang apa?"

​Calix maju satu langkah, memangkas jarak di antara mereka secara perlahan. Tempo gerakannya yang lambat justru membuat Mireya merasa seperti sedang dihampiri seekor predator. "Doni melaporkan semuanya kepadaku, Mireya. Setiap detail. Termasuk percakapan kecilmu dengan dokter spesialis di kamar rawat nomor 422."

​Jantung Mireya seketika mencelos. Ia lupa bahwa Doni bukan sekadar pengawal yang melindunginya, melainkan mata-mata setia milik Calix.

​"Aku... aku tidak bermaksud mencari tahu," cicit Mireya, refleks mundur selangkah untuk menjaga jarak. "Dokter itu yang tiba-tiba membahasnya saat Ibu menyebut nama Anda."

​"Tapi kamu tidak menghentikannya, bukan? Kamu justru mendengarkannya dengan sangat antusias," potong Calix sinis. Pria itu menatap Mireya lekat-lekat, mengunci pergerakan gadis itu hanya dengan sorot matanya. "Apa yang kamu harapkan, Mireya? Menemukan rahasia gelap dari masa laluku lalu menggunakannya untuk mengancamku?"

​"Tentu saja tidak!" bantah Mireya cepat, wajahnya memerah menahan kesal karena dituduh sekejam itu. "Aku hanya terkejut. Wajar jika aku merasa asing berada di rumah ini, di tengah semua rumor miring tentang Anda. Aku hanya manusia biasa yang punya rasa takut, Calix."

​Calix mendengus remeh, melangkah memutari tubuh Mireya dengan perlahan, seolah sedang mengulur waktu untuk menyiksa mental gadis di depannya. "Rasa takut? Atau rasa ingin tahu yang berlebihan? Biar kuperjelas satu hal kepadamu, Gadis Desa. Masa laluku, tragedi apa pun yang menimpa mantan tunanganku atau adik perempuanku, sama sekali bukan urusanmu. Jangan pernah mencoba mengendus atau mencari tahu lebih jauh jika kamu masih ingin hidupmu tenang di rumah ini."

​"Kenapa Anda begitu defensif?" Mireya memberanikan diri berbalik, menatap langsung punggung lebar Calix. "Jika itu hanya masa lalu, kenapa harus ada kamar terlarang di ujung lorong? Kenapa semua orang di sekitar Anda ketakutan seolah Anda menyembunyikan sebuah kejahatan?"

​Calix menghentikan langkahnya tepat di belakang Mireya. Sebelum gadis itu sempat menghindar, Calix mencengkeram lembut namun tegas kedua bahu Mireya dari belakang, menundukkan wajahnya hingga napas hangatnya berembus di ceruk leher Mireya, membuat gadis itu meremang seketika.

​"Jangan pernah melewati batasmu, Mireya," bisik Calix, suaranya terdengar seperti ancaman yang teramat nyata. "Kontrak kita sangat sederhana. Tugasmu di rumah ini bukan untuk menjadi detektif, bukan juga untuk menjadi belahan jiwaku yang berbagi keluh kesah."

​Calix membalikkan tubuh Mireya dengan sentuhan lambat, memaksanya berhadapan langsung. Satu tangan Calix naik, menyelipkan anak rambut Mireya yang berantakan ke belakang telinga dengan gerakan yang terlihat manis namun terasa dominan. "Tugasmu hanyalah menjadi istri yang manis di atas kertas. Dalam beberapa minggu ke depan, aku akan mengenalkanmu secara resmi kepada Kakek, keluarga besar David, dan seluruh kolega bisnisku."

​Mireya tertegun. "Mengenalkanku? Kenapa secepat itu?"

​"Untuk menampik rumor tak berdasar yang beredar di luar sana tentangku," jawab Calix datar, jemarinya kini beralih mengusap rahang lembut Mireya dengan ritme yang sengaja diperlambat. "Dunia luar mengira aku pria terkutuk yang tidak akan pernah menyentuh wanita lagi. Keberadaanmu di sampingku akan membungkam mulut mereka semua."

​Mireya tersenyum getir, merasakan dadanya kembali sesak. "Jadi, selain menyewa rahimku, Anda juga menyewa diriku sebagai tameng reputasi Anda?"

​"Sebut saja ini bonus kerja sama yang saling menguntungkan," balas Calix dingin, matanya mulai menggelap saat tatapannya turun memandangi bibir ranum Mireya yang sedikit terbuka. "Dan untuk memastikan peranmu sebagai tameng itu sempurna, ada satu hal lagi yang harus segera kita selesaikan."

​Mireya menahan napas saat merasakan ibu jari Calix kini menekan lembut bibir bawahnya. "Apa lagi?"

​"Siapkan tubuhmu lagi malam ini," bisik Calix serak, mendekatkan wajahnya hingga ujung hidung mereka saling bersentuhan. Aroma maskulin dari tubuh Calix kembali menjajah indra penciuman Mireya, memicu ingatan tentang sentuhan intens semalam. "Aku tidak punya banyak waktu untuk menunggu lama. Mulai malam ini, layani aku dengan baik sampai kamu benar-benar mengandung ahli warisku."

​Mireya mencengkeram ujung kemeja Calix, mencoba menahan dadanya yang bergemuruh hebat karena kombinasi rasa takut dan sensasi aneh yang mulai merayap kembali. "Calix... tapi tubuhku masih terasa lelah..."

​"Aku akan melakukannya dengan sangat lambat malam ini, Istriku," potong Calix dengan seringai tipis yang mematikan, sebelum akhirnya menunduk untuk mengklaim kembali bibir Mireya dalam sebuah ciuman yang dalam dan penuh tuntutan yang mutlak.

1
Aditya Rian
mantap
umie chaby_ba
rasain Lo ... 🤭
Ariska Kamisa: 🤣🤣🤣🤣🤣🤣
total 1 replies
umie chaby_ba
buruan calix , ilana ngadi-ngadi emang/Panic/
Ariska Kamisa: 🤭🤭🤭🤭🤭
total 1 replies
umie chaby_ba
kepedean banget ilana ....
Ariska Kamisa: emang... ngeselin yaa🤭
total 1 replies
umie chaby_ba
udah sih lagi asik juga bianca resek banget
Ariska Kamisa: 🙏🙏🙏🙏🙏
total 1 replies
Ariska Kamisa
/Good//Good//Good//Good//Good//Good//Good/
aditya rian
lanjutkan Thor
Ariska Kamisa: 👍👍👍👍👍
total 1 replies
aditya rian
🤭🤭🤭🤭🤭
Ariska Kamisa: 🙏🙏🙏🙏🙏
total 1 replies
aditya rian
/Shy//Shy//Shy//Shy/
Ariska Kamisa: 🙏🙏🙏🙏🙏
total 1 replies
aditya rian
malang sekali mire
Ariska Kamisa: 🙏🙏🙏🙏🙏
total 1 replies
aditya rian
ceritanya menarik/Good/
Ariska Kamisa: terimakasih banyak kak 🙏
total 1 replies
aditya rian
👍👍👍👍👍
Ariska Kamisa: terimakasih jempolnya 🙏
total 1 replies
aditya rian
👣👣👣👣
Aditya Rian: matap👍
total 2 replies
umie chaby_ba
ceritanya bagus,
semangat terus ya Thor...
Ariska Kamisa: terimakasih banyak kak 🙏🙏🙏🙏🙏
total 1 replies
umie chaby_ba
🤣🤣🤣🤣🤣
Ariska Kamisa: 🙏🙏🙏🙏🙏
total 1 replies
umie chaby_ba
dih ngeselin banget sumpah si cilox🤣
Ariska Kamisa: calix kak bukan cilox🤭
total 1 replies
umie chaby_ba
tuh kan🤣🤣🤣🤣🤣
Ariska Kamisa: 🙏🙏🙏🙏🙏
total 1 replies
umie chaby_ba
calix aslinya demen nih pasti
Ariska Kamisa: 🤭🤭🤭🤭🤭
total 1 replies
umie chaby_ba
bagus mirey jangan kasih ampun 👍
Ariska Kamisa: siap👍
total 1 replies
umie chaby_ba
bagus mirey daripada stres ke hobi aja wis
Ariska Kamisa: 🙏🙏🙏🙏🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!