NovelToon NovelToon
Bukan Menantu Pilihan Umi

Bukan Menantu Pilihan Umi

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir / Perjodohan
Popularitas:466
Nilai: 5
Nama Author: Mrs. Fmz

Apakah selembar kain jilbab cukup untuk menghapus masa lalu yang dianggap cacat?
Bagi Hana, pernikahan adalah gerbang lembaran suci. Namun, kenyataan menamparnya begitu menginjakkan kaki di kediaman suami. Sebagai wanita modern, ia dinilai miskin ilmu agama dan tidak bernasab terhormat. Sang Umi pun menganggapnya sebagai perusak masa depan putra kesayangan.
Kini, Hana harus menghadapi penolakan dingin dan upaya mertua mengembalikan kekasih lama suaminya. Ia hanya ingin bertahan demi membuktikan keikhlasan berbenah diri.
Jika gagal, Hana akan kehilangan pria tercinta sekaligus merelakan kesehatan jiwanya hancur. Di tengah jepitan konflik, sang suami dipaksa memilih antara bakti orang tua atau melindungi belahan jiwanya.
Akankah ketulusan Hana melunakkan kerasnya hati sang Umi?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mrs. Fmz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 3: Senyum Palsu Di Balik Gerbang Pesantren

Senyum palsu di balik gerbang pesantren menyambut kehadiran Hana yang masih dirundung rasa cemas luar biasa. Umi Kalsum berdiri bersedekap dada di dekat meja kayu besar, memandangi menantu barunya dengan sorot mata yang sulit diartikan. Di samping wanita tua itu, tumpukan sayur mayur serta bahan makanan untuk ratusan santri sudah tersusun rapi. Suasana fajar yang semula tenang mendadak berubah menjadi panggung ujian pembuktian yang dipenuhi tekanan batin tak kasat mata.

"Apakah begini cara wanita kota menyambut pagi hari di lingkungan asrama terpandang?" tanya Umi Kalsum dengan nada menyindir.

Hana buru buru mendekati mertuanya lalu menunduk takzim sebagai tanda hormat. "Maafkan saya Umi, saya baru saja selesai menunaikan salat dan langsung menuju ke mari."

Umi Kalsum membuang muka seraya merapikan letak selendang rajut yang melingkari pundak senjanya. "Seorang istri pemuka agama harus sudah berada di area ini sejak sebelum azan berkumandang untuk menyiapkan segala kebutuhan."

Ketegasan sang mertua terasa bagaikan hantaman ombak yang langsung mengikis sisa sisa rasa percaya diri Hana. Jemari lentik wanita muda itu saling bertautan erat, mencoba menyembunyikan getaran hebat yang mulai menjalar ke seluruh raga. Ia melihat para santri putri yang bertugas membantu di dapur mulai berbisik pelan sambil sesekali melirik ke arahnya. Posisi Hana di tempat ini benar benar terasa laksana seorang terdakwa yang sedang menunggu ketukan palu hakim.

Azzam yang baru saja kembali dari masjid utama melangkah masuk ke dalam ruangan dengan raut wajah gusar. Lelaki itu memandangi istrinya yang berdiri kaku, lalu beralih menatap sang ibu kandung yang masih menampakkan gurat kekecewaan. Kehadiran sang suami memberikan secercah harapan bagi Hana, berharap ada pembelaan tulus yang mampu meringankan beban di dadanya. Namun, harapan itu runtuh seketika saat Azzam memilih mengambil jarak aman di sudut ruangan.

"Umi, biarkan Hana beradaptasi terlebih dahulu karena keadaan di sini tentu sangat baru baginya," ucap Azzam dengan suara rendah.

Umi Kalsum mendengus pelan, menatap putranya dengan pandangan penuh tuntutan yang sangat berat. "Jika sejak awal tidak dibiasakan dengan kedisiplinan surau, kapan wanita pilihanmu ini akan mampu menjadi teladan?"

"Saya bersedia mempelajari semua hal di sini dengan sungguh sungguh, Umi," sela Hana mencoba mencairkan ketegangan.

"Buktikan ucapanmu itu dengan menyelesaikan seluruh hidangan pagi ini tanpa bantuan para santri," balas Umi Kalsum dingin.

Tantangan itu murni sebuah hukuman terselubung yang sengaja dirancang untuk menguji batas kemampuan seorang menantu yang tidak diinginkan. Hana memandangi deretan baskom besar berisi potongan sayur serta bumbu bumbu yang belum dihaluskan dengan pandangan nanar. Selama hidup di kota, ia tidak pernah memegang peralatan masak dalam skala besar yang biasa digunakan untuk memberi makan ratusan orang. Azzam yang melihat beban berat di pundak istrinya hanya bisa menghela napas panjang tanpa berani mendebat perintah ibunya.

Lelaki itu melangkah pergi meninggalkan dapur setelah menerima tatapan peringatan yang sangat tajam dari Umi Kalsum. Hana merasakan setitik air mata mulai mendesak keluar, namun ia buru buru menyekanya menggunakan ujung penutup kepala yang dikenakan. Ia mulai menggerakkan tangan, memotong sayuran dengan ritme yang berantakan karena diselimuti rasa takut yang teramat sangat. Beberapa santri yang berniat membantu langsung mengurungkan niat saat melihat gelengan kepala dari sang pengasuh pesantren.

Waktu terus bergulir mengejar mentari yang kian meninggi, memperparah rasa lelah yang mendera sekujur tubuh Hana yang belum sempat beristirahat. Keringat dingin bercucuran membasahi keningnya, membuat pakaian longgar yang ia kenakan terasa semakin berat dan menjerat pergerakan. Umi Kalsum tetap setia mengawasi dari kejauhan, duduk di kursi kayu sambil sesekali membolak balik halaman kitab suci di tangannya. Setiap kesalahan kecil yang dilakukan Hana tidak pernah luput dari teguran lisan yang diucapkan dengan intonasi datar namun menyakitkan.

"Memotong sayur saja masih sangat kasar, terlihat sekali jika kamu tidak terbiasa mengurus urusan domestik rumah tangga," kritik Umi Kalsum.

Hana menghentikan aktivitasnya sejenak, mengatur napasnya yang mulai memburu akibat rasa sesak yang kian menghimpit. "Saya meminta maaf jika hasil kerja saya belum sesuai dengan standar yang Umi harapkan."

"Standar di sini sangat tinggi, Hana, karena kita tidak sedang bermain rumah rumahan di tengah kota," tegas wanita tua itu.

Sindiran yang terus menerus dilontarkan membuat batin Hana terasa luluh lantak hingga ke dasar yang paling dalam. Ia memaksakan diri untuk terus mengaduk masakan di dalam kuali raksasa meskipun lengannya sudah terasa sangat linu dan mati rasa. Pikirannya melayang pada kehidupan masa lalu yang penuh kemudahan, sangat kontras dengan realitas pahit yang kini harus dihadapinya setiap detik. Keberadaan Azzam sebagai pelindung yang dinantikannya ternyata tidak lebih dari sekadar bayangan semu yang tunduk di bawah kekuasaan sang ibu.

Ketika seluruh hidangan akhirnya selesai disajikan di atas meja panjang, tubuh Hana sudah berada di ambang batas kekuatannya. Ia berdiri dengan lutut yang gemetar, menanti penilaian dari sang mertua yang kini mulai mencicipi hasil jerih payahnya. Umi Kalsum menyuap sedikit makanan ke dalam mulut, mengunyahnya perlahan dengan ekspresi wajah yang sama sekali tidak menunjukkan kepuasan. Suasana di ruang makan asrama utama itu seketika berubah menjadi sangat hening, menciptakan ketegangan yang membuat jantung Hana berdegup kencang.

Wanita tua itu meletakkan sendok dengan dentingan keras yang memecah kesunyian, lalu beralih menatap Hana dengan pandangan mencemooh. Rasa masakan yang dianggap kurang bumbu menjadi alasan baru bagi Umi Kalsum untuk kembali meluncurkan kalimat penghinaan yang merendahkan martabat Hana. Air mata yang sejak tadi ditahan Hana akhirnya tumpah juga, membasahi pipinya yang memerah akibat hawa panas dari tungku memasak. Di tengah situasi yang menghancurkan perasaan itu, Azzam kembali muncul dari balik pintu selasar dengan membawa nampan perak berisi minuman.

Lelaki itu berjalan mendekat dengan langkah yang teratur, mencoba menengahi suasana yang sudah terlanjur memanas di antara dua wanita tersebut. Ia meletakkan dua cangkir porselen di atas meja, aroma teh melati yang pekat langsung menguar memenuhi seisi ruangan yang terasa mencekam. Azzam memandangi istrinya yang menangis, lalu beralih menatap ibunya dengan tatapan memohon agar menghentikan perdebatan pagi yang tidak berujung ini. Namun, aroma harum dari minuman hangat yang baru saja disajikan itu justru membawa firasat baru yang tidak kalah mendinginkan suasana batin Hana.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!