NovelToon NovelToon
DOPAMIN

DOPAMIN

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO / Mafia
Popularitas:182
Nilai: 5
Nama Author: Key Kastara

Balas dendam adalah hidangan paling nikmat, tapi juga yang paling memabukkan.

Lima tahun lalu, Zara dijual, dihina, dan diinjak harga dirinya oleh kerabat sendiri. Diselamatkan sekaligus ditempa oleh Garda, ia berubah menjadi Zevana Ardhani—wanita cerdas, berkuasa, dingin, dan mematikan yang hidupnya hanya punya satu tujuan: Balas Dendam.

Namun segalanya goyah saat Arka hadir. Pemuda tulus dan polos—anak musuh terbesarnya—mencintainya tanpa syarat, perlahan mencairkan hati beku yang ia bangun bertahun-tahun.

Di tengah pusaran kebencian yang memberi kepuasan sesaat layaknya efek dopamin… Zevana dihadapkan pada pilihan terberat yaitu antara terus memburu kehancuran, atau berani berhenti demi cinta yang menawarkan kesembuhan sejati?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Key Kastara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Koin Harga Diri

Kling! Kling!

Tuk! Trak!

Gemerincing uang koin yang berjatuhan di atas lantai, menggema di dalam ruangan aula megah itu.

"Ambil," titah seorang wanita berusia 40-an sembari mendorong recehan itu dengan ujung heels merahnya yang mengkilap tersorot cahaya chandelier tepat di atas mereka.

Zara yang sedang bertekuk lutut di hadapannya pun seketika mendongak menatapnya nanar. Bibirnya gemetar seolah menahan lontaran kata yang hampir terucap di ujung lidahnya–namun urung ia katakan. Matanya memerah, berjuang menahan butiran bening yang bergelayut di ujung kelopak–seperti embun yang enggan jatuh meski tertiup angin kencang.

"Kenapa? Kalo gak mau gak usah pungut. Harga diri lu yang gak seberapa itu emang gak sepadan bahkan buat dihargain pake recehan," ujar Susi sembari menaikan sebelah alisnya dengan ekspresi muak.

"Gak tahu malu!" imbuh Susi ingin puas.

"Sudah gila berani menumpang, menuduh yang enggak jelas. Emang mulutmu itu picik!" hardik Susi.

Dengan tangan gemetar, Zara memunguti koin itu tanpa sepatah katapun. Bukannya iba, Susi justru melihatnya dengan tatapan seolah sedang melihat hal menjijikan seperti seekor kecoak.

"Kalo ada yang ngasih itu bilang makasih!" bentak Susi sembari menginjak jemari pucat Zara sekuat tenaga.

"Ukh!" Sontak Zara meringis lalu bersujud menahan nyeri jemari kanannya, sementara tangan kirinya menahan kaki Susi yang menekannya kuat.

"Nah gitu dong berbunyi."

Seolah tersulut api, hasrat ego Susi semakin meningkat tatkala melihat Zara meringkuk kesakitan. Ia pun semakin terpancing untuk terus menyakitinya. Mendengar suara rintihan kesakitan Zara seperti dopamin yang membuatnya ketagihan. Ia semakin bersemangat menyakiti Zara setiap kali rintihan kecil keluar dari bibir mungil itu.

Lagi.

Bugh!

Lagi.

Duagh!

Lagi, Susi menyakiti Zara dengan segala cara yang ia pikir bisa dilakukan. Ditendanginya gadis itu sekuat tenaga hingga ia sendiri hampir terhuyung lantaran tubuh besarnya itu terlalu banyak bergerak.

"Ugh ... Akh!" Zara merintih meringis kesakitan sembari memeluk diri, menyembunyikan perutnya dari tendangan Susi.

"Ayo nangis! Nangis atau teriak sekalian! Lu pasti penasaran kan kenapa lu diperlakukan gini? Ayo ngomong! Protes, atau tanya! Biar lu sadar diri!" teriak Susi sembari terus menendangi tubuh ringkih gadis 16 tahun yang terbalut baju pelayan itu.

"Gak puas lahir dari rahim pembohong, sekarang malah tumbuh jadi pembual! Ngadu sana, ngadu sini! Sampe paman dan sepupu sendiri juga lu fitnah! Dasa jal*ng!" hardik Susi penuh umpatan dan makian.

Cukup lama Susi menendangi keponakannya itu, ia pun terhuyung lagi lalu ....

Hap!

"Mami cukup."

Seorang pemuda dengan sigap menangkap tubuh Susi lalu menopangnya berdiri.

"Re-reno," gagap Susi dengan wajah terkejut.

"Mami lagi sakit. Jangan banyak gerak dulu. Ah iya! Mami belum minum obat kan? Biar aku antar," bujuk sang putra dengan lembut.

"Lepas, kamu gak tau kan apa yang barusan diomongin sama cewek si*l itu? Harusnya kamu ngga kasih baik supaya dia gak kurang aja!" tekan Susi dengan dada turun naik dan nafas tersengal.

"Iya Mami, iya. Sekarang kita ke atas dulu ya. Mami gausah repot-repot mikirin hal yang gak penting," ucap Reno penuh kasih.

"Lihat? Anak baik dan berbakti gini lu fitnah? Ha! Sumpah harusnya dari awal manusia kayak lu itu gak usah dikasih tempat! Jal*ng!" hardik Susi dengan mata nyalang.

Namun bukannya merespon dengan kata-kata, Zara justru hanya menatap Susi dengan ekspresi datar. Seketika Susi merasakan sesuatu yang aneh menjalar di seluruh tubuhnya. Tatapan Zara itu tak menyiratkan apapun, namun wajahnya yang bergeming seolah siap menerima makian dan luka dalam apapun. Hal itu membuat Susi bergidik ngeri untuk sesaat.

"Ck! Sial! Jangan masang wajah begitu! Lu ini perusak keharmonisan rumah tangga! Penghancur kebahagiaan! Semuanya hancur sejak ada elu! Jadi jangan masang wajah layaknya korban!" teriak Susi frustasi lalu memalingkan wajahnya dari sorot tajam Zara yang tetap bergeming meski makian terus ia lontarkan.

Reno mencekal tangan sang Ibu yang hampir melayangkan tamparan lagi pada Zara, lalu mendekapnya. "Mami jangan kotori tangan Mami dengan cara seperti ini. Ayo ke kamar. Mami butuh istirahat," ajak Reno lembut–membuat Susi sedikit meluluh olehnya, dan oleh tatapan Zara yang mengusiknya.

"Anak gua itu berhati malaikat! Gak mungkin mau berurusan sama iblis kayak elu!" pekik Susi untuk terakhir kalinya sebelum ia diseret paksa masuk ke kamarnya di lantai atas oleh Reno.

Meski ada rasa belum puas atas kesenangan yang ia dapat dari menyakiti Zara, namun Susi terlihat lega saat Reno menyeretnya paksa lantaran ia merasa ada yang aneh dari tatapan Zara. Jelas itu bukan tatapan layaknya korban, namun ia masih belum bisa menyadari apa kiranya yang Zara pikirkan saat menatapnya dengan sorot mata itu.

Sementara Reno membawa Susi pergi, Zara kini hanya terdiam dengan tatapan kosong. Ia tidak menangis, ia tidak lagi merintih. Meski nyeri masih menjalar di seluruh tubuhnya, bahkan jemarinya masih berdenyut-denyut dengan luka memar dan kemerahan–namun ia tak menggunakan sisa tenaganya itu untuk melakukan hal sia-sia.

Zara terbaring lemah di atas lantas dingin itu hingga kulit punggungnya terasa beku. Ia menatap lampu gantung yang memancarkan kerlip gemerlapnya di atas langit-langit aula, tanpa ekspresi. Baginya, kilatan tajam lampu kristal itu terlihat seperti sedang mengejek penderitaan yang berlangsung di bawah sinarnya.

Lalu setelah beberapa saat menerawang dengan tatapan kosong, Zara menutup matanya perlahan. Menajamkan seluruh indranya, ia pun menelusuri waktu ke beberapa saat yang lalu. Mencari alasan mengapa ia harus mendapat perlakuan itu–meski sebenarnya, 'alasan' tidak ia butuhkan karena tanpa perlu hal itupun, ia sering mendapat perlakuan seperti itu. Tiba-tiba ....

Tap! Tap! Tap!

***

Hola everyone! This is Author Key-Kastara ^_^

Aku mau adain give away kecil2an nih buat pembaca semua, boleh simak ya bagi yang mau ikutan!

🎁 GIVEAWAY NOVEL DOPAMIN

Hadiah: 2 orang pemenang dapat Pulsa Rp20.000 masing-masing

📋 SYARAT & KETENTUAN:

1. Follow akun ini

2. Bagikan/Repost postingan ini ke Story/Feed TikTok kamu

3. Tulis komentar terbaik di kolom komentar:

Ceritakan pendapat, kesan, atau bagian yang paling kamu ingat/relate dari cerita Dopamin sejauh ini. Bisa tentang karakter Zaara/Zevana, Arka, Reno, atau pesan yang kamu dapatkan.

4. Komentar yang paling jujur, mendalam, dan sesuai dengan isi cerita akan dipilih sebagai pemenang.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!