DIJUAL SEBAGAI PELUNAS HUTANG.
SEKARANG DIA YANG MENENTUKAN HARGA NYAWA MEREKA.
Lima tahun lalu Zara diinjak harga dirinya oleh keluarga sendiri.
Hari ini, dia kembali sebagai Zevana Ardhani.
Bukan korban lagi. Tapi sang mafia wanita yang ditakuti di dunia korporat.
Misinya satu: BALAS DENDAM.
Sampai Arka muncul.
Putra dari guru Mafianya sendiri.
Polos. Tulus. Satu-satunya yang melihat Zevana sebagai manusia, bukan monster.
Antara nyawa, racun, dan cinta.
Zevana harus memilih: Menenggelamkan mereka semua dalam kebencian,
atau hancur karena satu-satunya pria yang bisa meluluhkan hatinya?
[MAFIA WANITA] [BALAS DENDAM] [DARK ROMANCE]
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Key Kastara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Koin Harga Diri
Kling! Kling!
Trak!
Gemerincing uang koin yang berjatuhan di atas lantai, menggema di dalam ruangan aula megah itu.
"Ambil," titah seorang wanita berusia 40-an sembari mendorong recehan itu dengan ujung heels merahnya yang mengkilap, tersorot cahaya chandelier tepat di atas mereka.
Zara, gadis 16 tahun itu pun mendongak menatapnya nanar. Ia bersimpuh di atas lututnya yang lecet. Bibirnya gemetar seolah menahan lontaran kata yang hampir terucap di ujung lidahnya, namun urung ia katakan. Matanya memerah, berjuang menahan butiran bening yang bergelayut di ujung kelopak, seperti embun yang enggan jatuh meski tertiup angin kencang.
"Kenapa? Kalo gak mau gak usah pungut. Harga dirimu yang gak seberapa itu emang gak sepadan bahkan buat dihargai pake recehan," ujar Susi sembari menaikan sebelah alisnya dengan ekspresi muak.
"Gak tahu malu!" imbuh Susi ingin puas.
"Sudah berani menumpang, menuduh yang nggak jelas. Apa katamu? Reno melarang semua pembantu buat kasih kamu makan? Trus apa? dia sering nampar kamu? Emang mulutmu itu licik!" hardik Susi.
Dengan tangan gemetar, Zara memunguti koin itu tanpa sepatah katapun. Bukannya iba, Susi justru melihatnya dengan tatapan seolah sedang melihat hal menjijikan seperti seekor kecoa.
"Kalo ada yang ngasih itu bilang makasih!" bentak Susi sembari menginjak jemari pucat Zara sekuat tenaga.
"Ukh!" Sontak Zara meringis lalu bersujud menahan nyeri jemari kanannya, sementara tangan kirinya menahan kaki Susi yang menekannya kuat.
"Nah gitu dong berbunyi."
Seolah tersulut api, hasrat ego Susi semakin meningkat tatkala melihat Zara meringis kesakitan. Ia pun semakin terpancing untuk menyakitinya. Mendengar suara rintihan kesakitan Zara seperti dopamin yang membuatnya ketagihan. Ia semakin bersemangat menyakiti Zara saat rintihan kecil keluar dari bibir mungil itu. Tangannya yang begitu besar menampar wajah mungil Zara tanpa sedikitpun rasa iba.
Plak!
"Akh!" Zara merintih kesakitan sembari memeluk diri. Namun sorot matanya yang tajam, terlihat membara seolah ia sengaja membiarkan rasa sakit itu membakar hasrat balas dendamnya.
"Ayo nangis! Kamu pasti kesal kan kenapa kamu diperlakukan gini?" teriak Susi sambil terus memaki gadis yang terbalut baju lusuh itu.
Air mata mengalir di pipi mulus Zara, ia bahkan tak sanggup mengeluarkan lagi suara. Bukan karena sakit yang terasa oleh setiap inci tubuhnya yang lelah, dan lapar, melainkan oleh setiap kata yang keluar dari mulut Susi. Ia hanya berharap belas kasihan dari sosok yang seharusnya melindunginya, yaitu Bibinya sendiri. Namun yang ia terima justru hanya umpatan kasar, hinaan, hingga tamparan. Perutnya yang terus bergetar karena keroncongan, bahkan sudah tak lagi ia pedulikan. Yang ia rasakan hanya kecewa, dan merasa terhina.
Cukup lama Susi menghina sambil memaki keponakannya itu, ia pun terhuyung lagi lalu ....
Hap!
"Mami cukup."
Seorang pemuda dengan sigap menangkap tubuh Susi lalu menopangnya berdiri.
"Re-reno," gagap Susi dengan wajah terkejut.
"Mami lagi sakit. Jangan banyak gerak dulu. Ah iya! Mami belum minum obat kan? Biar aku antar," bujuk sang putra dengan lembut.
"Lepas, kamu gak tau kan apa yang barusan diomongin sama gadis hina itu? Harusnya kamu ngga kasih baik supaya dia gak kurang ajar!" tekan Susi dengan dada turun naik dan nafas tersengal.
"Iya Mami. Sekarang kita ke atas dulu ya. Mami gausah repot-repot mikirin hal yang gak penting," ucap Reno dingin.
"Lihat? Anak baik dan berbakti gini kamu fitnah? Ha! Dia ini gak mungkin ngelakuin hal yang kamu tuduh! Emang harusnya dari awal kamu itu gak usah dikasih tempat! Huh!" geram Susi dengan mata nyalang.
Namun bukannya merespon, Zara justru hanya menatap Susi dengan ekspresi datar. Seketika Susi merasakan sesuatu yang aneh menjalar di seluruh tubuhnya. Tatapan Zara itu tak menyiratkan apapun, namun wajahnya yang bergeming seolah siap menerima makian dan luka justru membuat Susi bergidik ngeri untuk sesaat. Api amarah yang terpendam di balik sorot matanya yang nyalang dalam ketidak berdayaan, terlihat seperti siap membunuh siapapun. Susi pun beringsut mundur.
"Ck! Jangan memasang wajah begitu! Kamu ini perusak keharmonisan rumah tangga! Penghancur kebahagiaan! Semuanya hancur sejak ada kamu! Jadi jangan memasang wajah layaknya korban!" teriak Susi lalu memalingkan wajahnya dari sorot tajam Zara yang tetap bergeming meski makian terus ia lontarkan.
Sementara itu, Reno mencekal tangan sang Ibu yang hampir melayangkan tamparan lagi pada Zara, lalu mendekapnya. "Mami jangan kotori tangan Mami dengan cara seperti ini. Ayo ke kamar. Mami butuh istirahat," ajak Reno, membuat Susi sedikit meluluh olehnya, dan oleh tatapan Zara yang mengusiknya.
"Reno itu berhati malaikat! Gak mungkin mau berurusan sama perempuan hina kayak kamu!" pekik Susi untuk terakhir kalinya sebelum ia diseret paksa masuk ke kamarnya di lantai atas oleh Reno.
Meski ada rasa belum puas atas kesenangan yang ia dapat dari menyakiti dan menjatuhkan harga diri Zara, namun Susi terlihat lega saat Reno menyeretnya paksa lantaran ia merasa ada yang aneh dari tatapan Zara. Jelas itu bukan tatapan layaknya korban.
Sementara Reno membawa Susi pergi, Zara kini hanya terdiam dengan tatapan kosong. Ia tidak menangis, ia tidak lagi merintih. Meski nyeri masih menjalar di seluruh tubuhnya, bahkan jemarinya masih berdenyut-denyut dengan luka memar dan kemerahan, namun ia tak menggunakan sisa tenaganya itu untuk melakukan hal sia-sia.
Zara terbaring lemah di atas lantas dingin itu hingga kulit punggungnya terasa beku. Ia menatap lampu gantung yang memancarkan kerlip gemerlapnya di atas langit-langit aula, tanpa ekspresi. Baginya, kilatan tajam lampu kristal itu terlihat seperti sedang mengejek penderitaan yang berlangsung di bawah sinarnya.
Lalu setelah beberapa saat menerawang dengan tatapan kosong, Zara menutup matanya perlahan. Menajamkan seluruh inderanya, ia pun menelusuri waktu ke beberapa saat yang lalu. Mencari alasan mengapa ia harus mendapat perlakuan itu, meski sebenarnya, 'alasan' tidak ia butuhkan karena tanpa perlu hal itu pun, ia sering mendapat perlakuan seperti itu.
"Lihat saja. Aku tidak akan tinggal diam. Jika memang harus–kalian semua, juga harus hancur bersamaku," batin Zara dalam diamnya.
Saat ia sedang merancang rencana untuk membalas dendam, tiba-tiba, terdengar suara langkah kaki berat penuh penekanan datang mendekat.
***
Hola everyone! This is Author Key-Kastara ^_^
Aku mau adain give away kecil2an nih buat pembaca semua, boleh simak ya bagi yang mau ikutan!
🎁 GIVEAWAY NOVEL DOPAMIN
Hadiah: 2 orang pemenang dapat Pulsa Rp20.000 masing-masing
📋 SYARAT & KETENTUAN:
Follow akun ini
Bagikan/Repost postingan ini ke Story/Feed TikTok kamu
Tulis komentar terbaik di kolom komentar:
Ceritakan pendapat, kesan, atau bagian yang paling kamu ingat/relate dari cerita Dopamin sejauh ini, atau pesan yang kamu dapatkan.
Komentar yang paling jujur, mendalam, dan sesuai dengan isi cerita akan dipilih sebagai pemenang.