NovelToon NovelToon
Dewa Pedang Malas

Dewa Pedang Malas

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Dikelilingi wanita cantik / Epik Petualangan
Popularitas:8.9k
Nilai: 5
Nama Author: Danzo28

.
Di dunia luar yang penuh dengan kultivator ambisius dan haus darah, penampilan Ji Huang yang pucat, lesu, dan serba putih membuatnya terus-menerus diremehkan. Namun, di balik kuapan malasnya, tersimpan Sword Intent legendaris yang mampu melumpuhkan musuh hanya dengan satu tebasan kasual tanpa keringat. Akankah Ji Huang berhasil menjaga ketenangan waktu tidurnya di tengah pusaran konflik dunia fana dan kultivasi yang bising

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Danzo28, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kamar VIP, Pelayan Bingung, dan Rapat Darurat

​Paviliun Isolasi Tamu Agung ternyata seribu kali lebih layak disebut sebagai surga dunia daripada paviliun reyot milik Ji Huang di kota cabang. Kompleks bangunan ini berdiri terisolasi di area perbukitan belakang klan utama, dikelilingi oleh rumpun bambu hijau yang berkabut dan kolam ikan mas spiritual yang airnya jernih bagai kaca.

​Begitu pintu jati setinggi tiga meter dibuka, Ji Huang langsung melangkah masuk tanpa memedulikan estetika ruangan. Matanya yang sayu langsung mengunci satu target utama: sebuah ranjang raksasa dari kayu cendana ungu. Di atasnya, terhampar kasur bulu angsa putih setebal dua jengkal yang dilapisi seprai sutra es berwarna biru muda.

​Bruk!

​Ji Huang menjatuhkan tubuh fanya, membiarkan dirinya tenggelam di dalam keempukan kasur yang luar biasa. Dia berguling ke kanan dan ke kiri, menikmati sensasi sejuk sekaligus lembut yang memanjakan kulitnya.

​"Ah... isolasi di pusat kota ternyata ribuan kali lebih manusiawi daripada kamarku yang tidak punya pintu," gumam Ji Huang polos dengan nada malas yang sangat puas. "Kalau tahu ditahan di tempat seperti ini sangat nyaman, aku sudah mematahkan kaki Huang Jian sejak tiga tahun yang lalu."

​Di dekat pintu masuk, seorang gadis muda yang bertugas sebagai pelayan khusus paviliun tersebut berdiri mematung. Namanya Xiao Mei.

​Keluarga Utama tidak sembarangan memilih pelayan untuk area tamu agung; Xiao Mei adalah salah satu gadis paling menawan di kediaman inti. Di usianya yang baru menginjak delapan belas tahun, dia memiliki paras yang sanggup membuat para murid jenius klan utama rela mengantre demi menarik perhatiannya. Wajahnya berbentuk oval sempurna dengan kulit seputih porselen tanpa celah. Sepasang matanya yang bulat berbinar lembut bagai bintang malam, dibingkai oleh bulu mata lentik dan alis tipis yang melengkung indah. Rambut hitam panjangnya disanggul rapi dengan tusuk konde perak tipis, menyisakan beberapa helai yang jatuh membingkai leher jenjangnya yang halus. Jubah pelayan sutra merah muda yang dikenakannya gagal menyembunyikan lekuk tubuhnya yang anggun dan proporsional.

​Awalnya, Xiao Mei mengira dia akan mengurus seorang tahanan kriminal yang frustrasi, penuh luka, atau setidaknya depresi menghadapi persidangan klan. Namun, pemandangan seorang pemuda compang-camping yang langsung mendengkur malas di atas kasur VIP membuatnya benar-benar kena mental.

​"T-Tuan Muda Ji Huang..." Xiao Mei melangkah mendekat dengan gerakan anggun yang sangat halus, suaranya terdengar merdu bagai lentingan kecapi spiritual. "Saya Xiao Mei, pelayan yang ditunjuk untuk mengurus kebutuhan Anda selama masa isolasi. Apakah... Apakah Anda tidak ingin menanyakan perkembangan sidang Anda kepada para Hakim?"

​Ji Huang perlahan membuka satu kelopak matanya. Dia menatap paras sangat cantik Xiao Mei dengan pandangan yang benar-benar lempeng, murni tanpa gejolak nafsu ataupun kekaguman norak seperti pemuda pada umumnya. Fokusnya tetap berada pada kenyamanan fana.

​"Xiao Mei yang cantik," ucap Ji Huang jujur tanpa filter, suaranya serak khas orang mengantuk. "Nasib sidang itu urusan orang-orang berambut putih yang suka berteriak tadi. Perut dan punggungku jauh lebih penting. Tolong bawakan aku menu makanan terbaik dari dapur kalian, teh herbal penenang dari sulingan embun pagi, dan tiga bantal sutra tambahan yang agak keras untuk penyangga leherku."

​Xiao Mei mengerjapkan mata indahnya yang bulat, benar-benar melongo mendengar rentetan permintaan yang tidak masuk akal dari seorang tahanan.

​"Dan satu hal lagi," Ji Huang menarik selimut sutra esnya hingga ke dada, bersiap memejamkan mata kembali. "Jangan bangunkan aku sebelum matahari terbenam, kecuali jika paviliun ini mendadak runtuh atau kebakaran. Mengerti?"

​"A-Ah... Baik, Tuan Muda," jawab Xiao Mei dengan nada bergetar, membungkuk canggung. Ketika dia melangkah keluar untuk mengambil pesanan, gadis tercantik di kalangan pelayan itu menggelengkan kepalanya dengan bingung. Status tahanan rumah di tempat ini mendadak terasa seperti fasilitas liburan mewah bagi si pemalas.

​Sementara Ji Huang mulai tenggelam dalam ritual tidur siangnya yang khusyuk, atmosfer di Aula Pertemuan Rahasia Eselon Atas justru berada dalam kondisi genting yang sangat panas.

​Tetua Agung Keluarga Utama, seorang pria tua bertubuh kurus dengan jubah emas pekat yang memancarkan tekanan spiritual Tingkat Pengumpulan Qi Lapis ke-9, duduk di kepala meja batu giok. Di depannya, tiga Hakim Agung berambut putih yang menyidang Ji Huang tadi tampak menundukkan kepala mereka dengan wajah tegang.

​Di atas meja, terbuka sebuah gulungan perkamen tua yang sangat rapuh—salinan asli dari Kitab Pedang Angin Puyuh bab ketiga halaman ketujuh yang ditulis oleh Leluhur Pendiri 400 tahun lalu.

​"Bagaimana mungkin...?" Tetua Agung mendesis dengan suara berat yang menggetarkan ruangan. Sepasang matanya berkilat tajam menatap baris demi baris kalimat di perkamen. "Semua yang dikatakan oleh bocah klan cabang itu... tidak meleset satu kata pun. Dia benar-benar mengutip instruksi suci Leluhur secara mutlak."

​"Benar, Tetua Agung," Hakim Agung Ketua menyahut dengan keringat dingin di pelipisnya. "Hal inilah yang membuat kami terpaksa menunda sidang. Secara hukum, kita tidak bisa mengeksekusinya atas tuduhan sihir hitam. Jika kita melakukannya, kita sama saja dengan menyatakan bahwa instruksi bertarung dari Leluhur Pendiri adalah aliran sesat. Pengaruh politik faksi kita di Kota Utama akan runtuh jika hal itu sampai terdengar oleh klan saingan."

​Tetua Agung mengepalkan tangannya hingga energi Qi emas meledak samar di sekitarnya. "Bocah sampah dari cabang terpencil tidak mungkin memiliki akses atau kecerdasan untuk memahami kitab suci ini sendirian. Aku curiga... ada konspirasi besar di belakangnya. Pasti ada guru hebat atau faksi pemberontak di dalam klan yang sengaja melatihnya untuk mempermalukan otoritas Keluarga Utama di depan publik!"

​"Lalu, apa rencana kita selanjutnya, Tetua Agung? Kita tidak bisa melepaskannya begitu saja. Wajah Keluarga Utama taruhannya," tanya Hakim Agung kedua.

​Tetua Agung menarik napas panjang, mata tuanya memancarkan kilat kelicikan yang kejam. "Jika hukum klan tidak bisa menyentuhnya secara legal, maka kita gunakan jalur fisik. Kita tidak akan mengeksekusinya secara terang-terangan. Besok pagi, utus Huang Zhen ke Paviliun Tamu Agung."

​Para hakim agung terkejut. Huang Zhen adalah salah satu jenius murni dari garis keturunan inti pusat kota yang telah mencapai Tingkat Pengumpulan Qi Lapis ke-6 di usia muda. Gaya bertarungnya terkenal sangat agresif dan tanpa ampun.

​"Katakan pada Huang Zhen untuk menantang Ji Huang berduel dengan alasan 'pertukaran ilmu sesama saudara klan' di halaman paviliun," perintah Tetua Agung dengan senyum dingin. "Hukum klan mengizinkan duel persaudaraan selama tidak membunuh. Biarkan Huang Zhen menghancurkan seluruh meridian dan mematahkan tulang-tulang bocah lancang itu di bawah kedok sparing resmi. Dengan begitu, dia akan cacat permanen secara legal tanpa menodai hukum leluhur!"

​Kembali ke Paviliun Isolasi Tamu Agung, sore hari pun tiba. Matahari musim panas yang perlahan turun ke barat memancarkan semburat cahaya oranye keemasan yang menembus tirai jendela kamar.

​Ji Huang perlahan terbangun dari tidur siangnya yang sangat lelap. Tubuhnya terasa begitu ringan dan segar.

​Tanpa disadarinya, kasur bulu angsa mewah yang didudukinya ternyata diletakkan tepat di atas salah satu titik simpul formasi pengumpul energi milik paviliun tamu agung. Selama beberapa jam Ji Huang tidur dengan kondisi mental yang sangat rileks dan selaras dengan ritme alam semesta, meridian tubuh fanya menyerap limpahan energi spiritual murni dari udara secara otomatis tanpa hambatan psikologis sedikit pun.

​KRETEK! KRETEK!

​Saat Ji Huang menegakkan punggungnya dan meregangkan kedua tangannya ke atas, suara gemertak halus bagai patahan ranting kering terdengar dari setiap persendian tulangnya.

​Aliran energi Qi di dalam dantian-nya mendadak berputar dengan kecepatan tiga kali lipat lebih kencang, memadat, lalu meledak secara halus menyebar ke seluruh jaringan saraf tubuhnya. Fluktuasi energinya bergejolak sesaat sebelum kembali tenang secara misterius.

​Ji Huang menatap kedua telapak tangannya sendiri dengan ekspresi polos yang dipenuhi rasa kesal yang luar biasa jujur.

​"Menyebalkan sekali..." gumam Ji Huang, menghela napas panjang dengan nada malas yang mendalam. "Baru tidur siang sebentar di atas kasur empuk ini, tubuh faku mendadak melakukan terobosan lagi ke Tingkat Pengumpulan Qi Lapis ke-3. Kecepatan kultivasi otomatis ini benar-benar terlalu sensitif dan tidak ramah bagi kaum pemalas. Mengeluarkan energi terobosan seperti ini justru membuat perutku kembali menjadi sangat lapar."

​Tepat pada saat itu, tirai pintu kamar kembali disingkap dengan lembut. Xiao Mei melangkah masuk dengan gerakan anggunnya yang memikat, membawa nampan perak berisi semangkuk sup herbal hangat dan sepiring hidangan daging rusa spiritual yang mengepulkan uap harum.

​Melihat Ji Huang yang sudah duduk tegak dengan jubah compang-campingnya, Xiao Mei tersenyum sangat manis hingga menciptakan lesung pipit kecil di wajah porselennya. "Tuan Muda Ji Huang, Anda sudah bangun? Saya sudah membawakan menu makan malam terbaik sesuai dengan permintaan Anda."

​Ji Huang langsung menerima nampan itu dengan mata berbinar polos, siap melanjutkan aktivitas favorit keduanya setelah tidur: makan dengan tenang di fasilitas gratis klan utama, tanpa menyadari bahwa esok pagi seorang jenius Lapis ke-6 sedang bersiap untuk menghancurkan kedamaian tidur siangnya.

1
Shen shandian luo
semua di labeli fana..tusuk gigi fana segala
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!