NovelToon NovelToon
Janji Yang Terkubur

Janji Yang Terkubur

Status: tamat
Genre:Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir / Cintapertama / Tamat
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Bang Jun

Deskripsi Novel: Janji yang Terkubur

Lira Anindita terpaksa kembali ke rumah masa kecilnya yang penuh kenangan pahit, setelah menerima kabar ayahnya terbaring sakit keras. Lima tahun lalu, ia pergi dengan hati hancur—di hari yang sama ibunya meninggal secara mendadak, Lira menemukan kenyataan bahwa seluruh kehidupan keluarganya hanyalah tumpukan kebohongan. Ia diusir, dipisahkan dari orang yang paling ia cintai, dan dipaksa hidup sendirian menanggung rasa sakit serta fitnah yang menghancurkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bang Jun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 5: Jebakan Surat Wasiat Palsu

Matahari pagi baru saja terbit, menyingsingkan cahayanya yang redup di balik awan kelabu, seolah langit pun masih ikut berduka atas kepergian Tuan Ardiansyah. Di halaman depan rumah tua itu, sudah dipasang tenda putih panjang, penuh dengan kursi-kursi plastik yang disusun rapi. Suara orang-orang yang datang melayat terdengar riuh rendah, bercampur dengan suara bacaan doa yang dilantunkan dengan nada sedih. Banyak wajah-wajah dikenal yang hadir, mulai dari kerabat jauh, pejabat kota, hingga rekan bisnis besar yang dulu selalu menjalin kerja sama dengan keluarga Ardiansyah.

Namun di balik keramaian dan kesedihan yang tampak di permukaan itu, suasana di dalam rumah justru terasa tegang dan penuh ketegangan. Sejak pagi tadi, Lira tidak pernah merasa tenang sedetik pun. Ia tahu hari ini adalah hari yang sangat krusial, hari di mana Tuan Handoko akan melancarkan langkah terbesarnya untuk menguasai seluruh harta dan aset keluarganya, sesuai dengan apa yang pernah ia ancamkan kemarin malam.

Di dalam kamarnya, Lira sudah bersiap dengan pakaian berwarna hitam polos yang sopan. Di saku bagian dalam bajunya, tersimpan rapi berkas bukti yang diberikan Raga kemarin malam. Ia sudah memeriksanya berkali-kali, memastikan tidak ada satu lembar pun yang hilang atau tertukar. Berkas itu adalah satu-satunya senjata yang ia miliki saat ini, bukti yang bisa membuktikan bahwa semua tuduhan dan klaim Tuan Handoko hanyalah kebohongan belaka.

Namun meskipun begitu, rasa cemas masih terus menghantui hatinya. Ia hanyalah seorang wanita muda yang sendirian, melawan seorang pengusaha besar yang memiliki kuasa, uang, koneksi di mana-mana, bahkan berani melakukan pembunuhan demi tujuannya. Apakah bukti kertas itu cukup kuat untuk melawan kekuatan sebesar itu? Apakah ia benar-benar bisa memenangkan pertarungan yang tidak seimbang ini?

Ketukan pintu yang lembut terdengar, memecah lamunan Lira.

“Nona, sudah siap? Semua orang sudah berkumpul di ruang tamu utama. Tuan Handoko dan pengacara beliau juga sudah datang,” suara Bu Sumi terdengar pelan dari balik pintu, nada suaranya penuh kekhawatiran.

Lira menarik napas panjang, menghembuskannya perlahan untuk menenangkan detak jantungnya yang berpacu cepat. Ia mengangguk, lalu melangkah membuka pintu kamar. Di sana, Bu Sumi berdiri dengan wajah pucat, tangannya menggenggam sebuah kotak kayu kecil berwarna cokelat tua.

“Bu Sumi, itu apa?” tanya Lira bingung menatap kotak itu.

“Ini adalah kotak surat wasiat asli Tuanku Ardiansyah, Nona,” jawab Bu Sumi pelan, sambil mengusap permukaan kotak itu dengan lembut. “Dua hari sebelum beliau meninggal, beliau memberikannya kepadaku secara diam-diam, dan berpesan agar aku menyerahkannya kepadamu tepat hari ini, saat pembacaan surat wasiat resmi dilakukan. Beliau bilang, ini adalah satu-satunya cara untuk menggagalkan rencana jahat Tuan Handoko, dan membuktikan bahwa surat wasiat yang dipegang oleh orang itu adalah hasil pemalsuan.”

Mata Lira terbelalak kaget. Ia sama sekali tidak menyangka ayahnya sudah menyiapkan langkah perlindungan terakhir sebaik ini. Rasa haru sekaligus lega seketika memenuhi dadanya. Ternyata ayahnya benar-benar sudah memikirkan segalanya, bahkan sebelum nyawanya dicabut. Ia tidak membiarkan putrinya bertarung sendirian tanpa senjata apa pun.

“Terima kasih, Bu… Terima kasih sudah menjaganya dengan baik selama ini,” ucap Lira dengan suara bergetar, lalu dengan hati-hati ia menerima kotak kayu itu dan menyimpannya erat di pelukannya. “Ayah benar-benar tidak pernah meninggalkanku sendirian, kan? Bahkan sampai detik terakhir pun, beliau tetap melindungiku dengan segala cara yang beliau punya.”

“Benar, Nona. Tuanku sangat mencintaimu, lebih dari apa pun di dunia ini. Semua yang beliau lakukan dulu, semua yang beliau siapkan sekarang, semuanya demi keselamatan dan masa depanmu,” jawab Bu Sumi dengan mata berkaca-kaca. “Sekarang, mari kita turun ke bawah. Ingatlah, apapun yang terjadi, tetaplah tenang, berbicara dengan tegas, dan tunjukkan bahwa kamu adalah pemilik sah keluarga ini, bukan orang yang mudah ditakut-takuti atau dibohongi.”

Lira mengangguk mantap, lalu keduanya pun berjalan bersama menuruni tangga, menuju ruang tamu utama yang kini sudah penuh sesak dengan orang-orang penting.

Saat langkah kaki Lira terdengar masuk ke dalam ruangan, seluruh pandangan mata yang ada di sana seketika beralih kepadanya. Ada tatapan simpati, tatapan penasaran, namun tidak sedikit pula tatapan yang dingin, penuh rasa ingin tahu, bahkan ada yang penuh sindiran tersembunyi. Di ujung ruangan, di kursi utama yang biasa diduduki oleh Tuan Ardiansyah, kini duduk Tuan Handoko dengan wajah tenang dan penuh percaya diri, mengenakan setelan jas hitam yang rapi. Di sebelah kanannya berdiri seorang pria paruh baya berkacamata, berpakaian rapi yang pasti adalah pengacara pribadinya. Di sebelah kirinya, berdiri Raga.

Saat mata mereka bertemu, Lira bisa melihat jelas raut wajah Raga yang tampak cemas dan khawatir. Pemuda itu sesekali meliriknya dengan pandangan yang seolah berkata: Hati-hati, Lira. Semuanya sudah diatur, jangan lengah sedetik pun.

Tuan Handoko tersenyum lebar saat melihat kedatangan Lira, senyum yang sama sekali tidak sampai ke matanya, senyum penuh kemenangan seolah ia sudah memegang kemenangan mutlak di tangannya.

“Ah, ini dia Nona Lira, putri tunggal almarhum sahabatku,” ucap Tuan Handoko dengan suara lantang yang terdengar ramah, agar didengar oleh semua orang yang ada di ruangan itu. “Silakan duduk di sini, Nak. Kita semua sudah menantikan kedatanganmu untuk membacakan pesan terakhir dan surat wasiat yang ditinggalkan oleh almarhum ayahmu.”

Lira tidak tersenyum sedikit pun. Ia melangkah tegap, lalu duduk di kursi yang disediakan tepat di hadapan Tuan Handoko, menatap balik lelaki itu dengan pandangan yang dingin dan tajam, tanpa rasa takut sedikit pun.

“Terima kasih, Paman Handoko,” jawab Lira dengan nada suara yang tenang namun tegas, terdengar jelas di seluruh ruangan. “Saya juga sangat ingin mendengar apa pesan dan keinginan terakhir ayah saya. Semoga semuanya dilakukan dengan jujur, benar, dan sesuai dengan kehendak hati nurani almarhum, bukan keinginan orang lain.”

Kalimat itu terdengar halus, namun memiliki makna sindiran yang sangat tajam, membuat wajah Tuan Handoko sedikit menegang, meskipun ia segera menyembunyikannya kembali dengan senyum buatan. Orang-orang yang hadir mulai saling bertatapan dan berbisik-bisik pelan, merasakan ada ketegangan yang tidak wajar di antara dua orang itu.

Pengacara Tuan Handoko yang berdiri di sebelahnya segera melangkah maju, mengeluarkan selembar kertas tebal yang disegel rapi, lalu berdeham pelan untuk menarik perhatian semua orang.

“Baiklah, Bapak, Ibu, dan semua hadirin sekalian. Sebagai pengacara yang dipercaya oleh almarhum Tuan Ardiansyah, saya diberi wewenang untuk membacakan surat wasiat resmi yang ditandatangani oleh beliau tiga bulan yang lalu,” ucap pengacara itu dengan suara formal dan datar. “Dalam surat wasiat ini, almarhum menyatakan bahwa karena kondisi keuangan dan bisnis yang sedang mengalami kesulitan besar, serta banyaknya hutang yang harus diselesaikan, maka beliau menyerahkan seluruh harta kekayaan, tanah, bangunan, perusahaan, surat berharga, dan seluruh aset miliknya, baik yang bergerak maupun tidak bergerak, sepenuhnya kepada sahabat terdekat beliau, yaitu Tuan Handoko Wijaya. Hal ini dilakukan sebagai bentuk pelunasan hutang dan jaminan kepercayaan. Dan untuk putri tunggal beliau, Nona Lira Anindita, almarhum hanya memberikan tunjangan hidup sebesar jumlah tertentu setiap bulan, dan tidak memberikan hak apa pun atas kepemilikan harta tersebut.”

Saat pembacaan itu selesai, ruangan itu seketika menjadi riuh rendah dengan suara bisik-bisik orang yang kaget dan tidak percaya. Banyak orang yang menggeleng-gelengkan kepala, merasa hal itu sangat tidak wajar dan aneh. Bagaimana mungkin seorang ayah menyerahkan seluruh harta kekayaannya kepada orang lain, sedangkan putri kandungnya sendiri hanya diberi uang saku bulanan? Itu sama sekali tidak masuk akal dan bertentangan dengan sifat Tuan Ardiansyah yang dulu sangat mencintai dan memanjakan putri tunggalnya.

Tuan Handoko tersenyum puas melihat reaksi orang-orang itu. Ia menatap Lira dengan pandangan yang penuh kemenangan, lalu berkata dengan suara keras:

“Semua orang sudah mendengar sendiri keinginan terakhir sahabatku. Jadi secara hukum, mulai hari ini, semua yang ada di rumah ini, semua tanah, semua bisnis, adalah milikku sah. Lira, Nak, jangan sedih atau kecewa. Aku akan tetap menjaga dan memperlakukanmu seperti anakku sendiri. Selama kamu mau patuh dan mau tinggal di sini dengan baik, aku akan menjamin kehidupanmu yang layak. Tapi ingat, kamu tidak punya hak untuk mengatur atau menuntut apa pun yang ada di sini, karena semuanya sudah menjadi milikku.”

Semua mata tertuju pada Lira, menunggu reaksi wanita itu. Sebagian orang merasa kasihan, sebagian lagi merasa heran, dan sebagian lagi diam saja menonton pertunjukan itu.

Namun Lira sama sekali tidak tampak kaget, sedih, atau takut sedikit pun. Ia justru tersenyum tipis, senyum yang dingin dan penuh percaya diri, lalu perlahan ia mengangkat kotak kayu yang sejak tadi ia peluk di pangkuannya, dan meletakkannya di atas meja di hadapan semua orang.

“Memang benar, Bapak Pengacara, Paman Handoko… Surat wasiat yang baru saja dibacakan itu memang terlihat resmi, tertulis rapi, ada tanda tangan dan cap jempolnya. Tapi maaf saya katakan dengan jujur… surat itu palsu,” ucap Lira dengan suara yang lantang dan tegas, membuat seluruh ruangan seketika menjadi hening total.

Semua orang ternganga kaget. Tuan Handoko sendiri sampai menegakkan tubuhnya dengan kaget, wajahnya memerah karena marah dan terkejut.

“Kamu bicara apa, Lira?! Jangan asal bicara tanpa bukti! Surat itu asli, ditandatangani langsung oleh ayahmu sendiri di hadapan saksi dan notaris!” bentak Tuan Handoko dengan suara tinggi, kehilangan kesabarannya.

Lira tidak gentar sedikit pun. Ia perlahan membuka kotak kayu tua itu, dan mengeluarkan selembar surat tebal yang juga tersegel rapi, lengkap dengan tanda tangan asli, cap jempol, dan stempel resmi notaris yang berbeda dengan yang ada di surat sebelumnya.

“Ini adalah surat wasiat asli, yang ditandatangani oleh ayah saya tepat dua minggu sebelum beliau meninggal, saat kondisi beliau masih sadar, sehat, dan waras,” kata Lira dengan suara jelas, lalu ia mengangkat surat itu tinggi-tinggi supaya semua orang bisa melihatnya. “Di dalam surat ini, tertulis dengan jelas dan tegas: Seluruh harta kekayaan, aset, tanah, perusahaan, dan segala milik keluarga Ardiansyah, baik yang ada di dalam maupun di luar kota, diserahkan sepenuhnya dan mutlak kepada putri kandung saya, Lira Anindita. Tidak ada hutang, tidak ada jaminan, tidak ada penyerahan hak kepada orang lain. Dan tertulis juga di sini: Saya menyatakan bahwa jika ada surat wasiat lain yang ditemukan dengan isi yang berbeda dengan surat ini, maka surat itu dinyatakan tidak sah, palsu, dan tidak memiliki kekuatan hukum apa pun, karena dibuat dengan rekayasa, paksaan, atau pemalsuan.”

Suara kegemparan kembali terdengar di ruangan itu, kali ini lebih keras dan penuh kekaguman. Banyak orang yang mulai mengangguk-angguk setuju, merasa bahwa isi surat ini barulah yang benar dan masuk akal. Wajah Tuan Handoko berubah menjadi pucat pasi, keringat dingin mulai menetes di pelipisnya. Ia sama sekali tidak menyangka bahwa Tuan Ardiansyah sudah menyiapkan surat wasiat cadangan yang asli dan resmi, sampai-sampai rencana indahnya yang sudah disusun bertahun-tahun itu hancur seketika di depan matanya sendiri.

“Itu… itu bohong! Itu pasti surat yang kamu buat sendiri untuk merebut harta!” teriak Tuan Handoko panik, tidak lagi mempertahankan sikap sopan dan ramahnya. “Pengacara, periksa itu! Itu pasti palsu!”

Pengacara itu segera melangkah cepat mendekat, mengambil surat itu, lalu memeriksanya dengan teliti. Semakin lama ia memeriksa, semakin wajahnya berubah menjadi cemas dan pucat. Ia menoleh ke arah Tuan Handoko, lalu menggeleng pelan dengan wajah takut.

“Maaf, Tuan… Ini… ini asli. Tanda tangan, cap jempol, stempel notaris… semuanya asli dan sah secara hukum. Tidak ada tanda-tanda pemalsuan sedikit pun,” bisik pengacara itu dengan suara gemetar.

Kalimat itu bagaikan petir yang menyambar kepala Tuan Handoko. Tubuhnya lemas seketika, ia hampir jatuh dari kursinya jika tidak segera ditahan oleh orang di sebelahnya. Rasa malu, marah, dan kecewa bercampur menjadi satu, membuatnya merasa dipermalukan di depan semua orang penting di kota ini.

Namun Tuan Handoko bukan orang yang mudah menyerah. Ia segera menguasai dirinya kembali, lalu menatap tajam ke arah Lira dengan pandangan yang penuh kebencian yang tidak lagi disembunyikan.

“Baiklah, kalau begitu… anggap saja surat itu benar. Tapi ingatlah, Lira… hukum masih bisa diubah, bukti masih bisa dicari, dan apa yang kamu miliki sekarang belum tentu akan menjadi milikmu selamanya. Jangan sombong dulu, karena pertarungan ini belum selesai. Baru saja dimulai!” ancam Tuan Handoko dengan suara rendah yang penuh kejam, hanya bisa didengar oleh Lira dan orang-orang di dekatnya.

Lira menatap baliknya dengan tegas. “Saya tidak sombong, Paman. Saya hanya mempertahankan hak saya yang sah. Dan saya juga ingin mengingatkan Paman: jangan bermain api dengan orang yang salah. Karena saya sudah mengetahui semua kejahatan yang sudah Paman lakukan selama ini, mulai dari pemalsuan surat, penipuan bisnis, sampai kejahatan yang jauh lebih besar lagi yang sudah merenggut nyawa orang yang saya cintai. Jika Paman berani mencoba menyakiti saya atau orang-orang di sekitar saya sedikit saja, maka saya tidak akan ragu menyerahkan semua bukti yang saya miliki ke pihak berwajib, dan membiarkan hukum yang menjatuhkan hukuman yang pantas untuk Paman.”

Wajah Tuan Handoko berubah menjadi ketakutan mendengar kalimat itu. Ia tahu betul apa yang dimaksud Lira, ia tahu wanita itu sudah mengetahui rahasia terbesarnya. Tanpa berkata apa pun lagi, dengan wajah merah padam karena marah dan malu, ia segera berbalik badan, lalu berjalan keluar ruangan dengan langkah cepat diikuti oleh pengacara dan orang-orangnya, meninggalkan tempat itu dengan rasa dendam yang membara di dalam hatinya.

Saat lelaki itu pergi, suasana ruangan kembali menjadi hening sejenak, sebelum akhirnya terdengar suara tepuk tangan pelan dari beberapa orang yang hadir. Mereka kagum melihat keberanian dan kecerdasan Lira yang mampu melawan penguasa besar itu dengan tegak.

Lira menghela napas panjang, rasa lega yang luar biasa memenuhi dadanya. Ia berhasil, setidaknya untuk saat ini. Ia berhasil menggagalkan rencana jahat itu, berhasil mempertahankan hak milik keluarganya, dan berhasil mempermalukan musuh besarnya di depan umum.

Namun saat ia menoleh ke arah pintu, ia melihat Raga yang berdiri diam di sana, menatapnya dengan pandangan yang penuh rasa sedih dan bimbang. Di satu sisi, ia senang Lira selamat dan berhasil menang, tapi di sisi lain, ayahnya sendiri yang dipermalukan dan dikalahkan. Rasa sakit karena harus melihat keluarganya sendiri berada di pihak yang salah, rasa bimbang antara darah daging dan kebenaran, jelas terlihat di wajah pemuda itu.

Sebelum Lira sempat memanggilnya, Raga hanya menggeleng pelan, lalu perlahan berbalik badan dan pergi mengikuti ayahnya.

Hati Lira terasa sedikit nyeri melihat itu. Ia tahu, kemenangan ini bukanlah kemenangan yang indah. Di balik keberhasilannya hari ini, ia tahu ia telah membuat jurang pemisah yang semakin lebar antara dirinya dan Raga, jurang yang akan semakin sulit dijembatani seiring berjalannya waktu.

Bu Sumi segera melangkah mendekat, lalu mengusap bahu Lira dengan lembut sambil tersenyum lega.

“Kamu hebat, Nona. Kamu benar-benar hebat. Almarhum Tuanku pasti sangat bangga melihatmu hari ini,” ucap Bu Sumi dengan suara haru.

Lira tersenyum tipis, namun rasa berat masih ada di hatinya.

“Terima kasih, Bu. Tapi aku tahu… ini belum selesai. Tuan Handoko tidak akan diam saja. Dia pasti akan melakukan hal yang jauh lebih jahat dan berbahaya lagi sebagai balas dendamnya. Dan yang paling aku khawatirkan… nasib Raga. Aku takut ayahnya akan menyakiti dia karena dia sudah berpihak padaku.”

“Tenanglah, Nona. Mas Raga orang yang cerdas dan kuat. Beliau pasti bisa menjaga dirinya sendiri. Dan percayalah, cinta dan kebenaran itu tidak akan mudah hancur hanya karena pertengkaran atau permusuhan keluarga,” hibur Bu Sumi lembut.

Lira mengangguk pelan, lalu kembali menatap surat wasiat asli yang masih ada di tangannya. Ia tahu, perjalanan panjang dan berbahaya baru saja melewati satu rintangan besar, namun masih banyak rintangan lain yang lebih tajam dan lebih berbahaya yang menantinya di depan sana. Dan ia harus siap menghadapinya semuanya, dengan keberanian yang sama seperti hari ini.

Di kejauhan, di dalam mobil mewah yang melaju kencang meninggalkan halaman rumah itu, Tuan Handoko duduk dengan wajah yang penuh amarah, tangannya mencengkeram sandaran kursi dengan kuat sampai buku-buku jarinya memutih. Di sebelahnya, Raga duduk diam dengan wajah dingin, tidak berkata sepatah kata pun.

“Dasar wanita kurang ajar! Berani sekali dia melawanku, berani sekali dia mempermalukanku di depan semua orang!” geram Tuan Handoko dengan suara kasar. “Kamu dengar, Raga? Kamu lihat sendiri betapa jahat dan tidak tahu dirinya wanita itu? Dia menghancurkan nama baik ayahmu, dia menghina keluargamu. Mulai hari ini, larangan mutlak bagimu untuk bertemu, berbicara, atau berhubungan apa pun dengan dia. Kalau sampai aku tahu kamu masih menghubunginya, jangan salahkan ayah kalau aku harus bertindak keras kepadamu juga!”

Raga hanya diam, menatap keluar jendela kaca mobil yang berlalu lalang jalanan kota. Di dalam hatinya, rasa sakit dan kemarahan bercampur menjadi satu. Ia tahu ayahnya marah besar, ia tahu bahaya kini mengancam dirinya juga. Namun ia juga tahu satu hal yang pasti: apa pun yang dikatakan ayahnya, apa pun larangan yang diberikan, ia tidak akan pernah bisa menjauhkan dirinya dari Lira. Ia akan tetap melindunginya, tetap berada di sisinya, bahkan jika ia harus menentang seluruh dunia sekalipun.

Mobil itu melaju semakin cepat, menghilang di tikungan jalan, membawa serta rasa dendam, rasa sakit, dan rencana balas dendam yang semakin gelap di dalam hati masing-masing orang yang ada di dalamnya.

 

(Bersambung ke Episode 6)

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!