Di bawah kilau kemewahan, Sherina Mutiara tetap berpijak sederhana, mengubur rasa cinta pada Darren Mahendra yang kandas oleh perbedaan. Ia lalu meniti jalan hidupnya sendiri di Mutiara Group, tempat ia bertemu Arsya Abrisam—pemuda jenius yang melepas jas dokter akibat luka masa lalu, dingin dan tertutup. Di antara tantangan kerja dan konflik perbedaan pendapat, benih rasa tumbuh di antara mereka, menyembuhkan luka dan mengajarkan arti bangkit. Namun, takdir membawa Darren Mahendra kembali dengan penyesalan, sementara Arsya diuji oleh pilihan tentang menegakkan keadilan atau tetap di tempat. Di persimpangan jalan, Sherina juga harus memilih: kembali pada mimpi lama, atau melangkah maju bersama sosok yang mengajarkannya bahwa cinta sejati adalah tentang tumbuh, bersinar, dan berani menjadi diri sendiri. Sebuah kisah tentang hati yang belajar memilih, dan jiwa yang menemukan cahayanya di balik luka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rani Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24
Hari-hari berlalu dengan suasana yang berat dan penuh ketegangan di lingkungan kantor pusat Mutiara Group. Sejak kedatangan Darren Mahendra, dunia Sherina seolah berputar kembali ke masa lalu, namun dengan warna yang jauh lebih rumit.
Pria itu benar-benar menepati ucapannya. Ia selalu ada di dekat Sherina, menampakkan perhatian yang besar, kelembutan, dan sikap yang sangat mengagumkan di mata siapa pun. Darren tampil sempurna, cerdas, tampan, sukses, berwibawa, berbicara dengan tutur kata yang memikat, dan tidak memiliki satu pun cela atau kekurangan yang terlihat oleh mata telanjang. Ia selalu berusaha mengantar Sherina pulang, mengajak berbicara di sela-sela waktu istirahat, atau sekadar menatap gadis itu dengan pandangan penuh kerinduan yang membuat banyak orang di sekitar tersenyum penuh arti, seolah pasangan lama itu memang ditakdirkan untuk bersatu kembali.
Bagi Sherina, semua itu sangat membingungkan. Di satu sisi, kata-kata permintaan maaf Darren dan perubahannya yang luar biasa membuat hatinya terguncang, membangkitkan kembali kenangan lama dan rasa kasihan yang mendalam. Namun di sisi lain, hatinya sudah terlalu jauh melangkah ke arah lain, sudah terlalu dalam bersandar pada sosok Arsya. Ia berusaha menjaga jarak, berusaha bersikap profesional, dan berusaha memberi tanda bahwa hatinya kini sudah bukan lagi milik masa lalu. Namun, di mata orang lain dan terutama di mata Arsya, pemandangan kebersamaan mereka terlihat begitu akrab, begitu serasi, dan begitu indah.
Arsya melihat semuanya. Ia melihat bagaimana Darren selalu mampu membuat Sherina tersenyum, bagaimana cara Darren berbicara dengan penuh percaya diri, bagaimana Darren berdiri tegak dan utuh di samping gadis itu, tampak seperti pasangan yang paling sempurna yang bisa dibayangkan siapa pun. Dan setiap kali ia melihat pemandangan itu, hati Arsya terasa tercabik-cabik, diserang oleh rasa rendah diri yang dulu pernah ia kubur dalam-dalam, kini bangkit kembali dengan kekuatan yang jauh lebih dahsyat.
Pikiran-pikiran gelap dan meragukan itu kembali memenuhi kepalanya, menyerbu masuk tanpa ampun. Ia membandingkan dirinya sendiri dengan Darren, membandingkan setiap sisi, setiap hal, setiap bagian dari diri mereka berdua.
Lihatlah dia, batin Arsya bergumam getir, matanya menatap tajam dari kejauhan saat Darren membantu Sherina mengenakan jas luarnya karena udara dingin.
Dia sempurna. Dia memiliki segalanya. Wajah tampan, karir cemerlang, nama besar, tubuh yang utuh tanpa cacat sedikit pun, masa lalu yang bersih dan mulia. Dia bisa memberikan apa saja kepada Sherina. Dia bisa berjalan di sampingnya dengan kepala tegak, berpegangan tangan dengan bangga, tanpa harus menyembunyikan apa pun, tanpa rasa malu atau rasa tidak pantas.
Lalu pandangannya jatuh ke bawah, ke arah tangan kanannya yang terbungkus rapi di balik kain jas, tangan yang cacat dan menjadi pengingat abadi akan kecelakaan mengerikan dan masa lalu kelamnya. Ia teringat betapa hancurnya dirinya dulu, betapa banyak rasa sakit yang ia tanggung, betapa banyak duka dan kesedihan yang melekat padanya.
Dan lihatlah dirimu, sambung batinnya lagi, penuh kepahitan dan rasa kecewa terhadap diri sendiri. Kau hanyalah orang yang penuh luka. Kau cacat fisikmu. Kau membawa beban masa lalu yang kelam dan suram. Kau tidak memiliki apa-apa yang bisa dibanggakan dibandingkan dia. Kau dulu saja sudah berpikir kau tidak pantas, dan sekarang... sekarang terbukti benar. Sherina adalah wanita yang begitu Cantik, begitu cerdas, begitu tulus, dan begitu berharga. Dia layak mendapatkan yang terbaik. Dia layak mendapatkan seseorang yang utuh, yang sempurna, yang bisa membuatnya bahagia tanpa beban apa pun. Bukan kau. Bukan orang rusak sepertimu.
Semua rasa percaya diri yang perlahan tumbuh, semua keberanian yang ia kumpulkan untuk membuka diri, semua harapan bahwa mungkin saja ia bisa berbahagia di samping Sherina... semuanya runtuh seketika, hancur lebur menjadi debu, terhempas oleh kenyataan pahit yang tampak begitu jelas di depan matanya. Ia merasa bodoh karena pernah berpikir bahwa ia memiliki kesempatan. Ia merasa malu karena pernah berharap gadis sebaik Sherina akan memilihnya di antara semua orang di dunia ini. Ia merasa kehadirannya di samping Sherina selama ini hanyalah kesalahan, hanyalah kebetulan sementara yang harus segera diakhiri.
Dan karena itulah, perlahan namun pasti, dinding tinggi yang dulu pernah ia bangun dan runtuhkan itu, kini kembali ia bangun lagi, lebih tebal, lebih keras, dan lebih dingin dari sebelumnya. Arsya kembali menutup rapat hatinya, mengunci pintu masuknya, dan kembali menyembunyikan dirinya di balik topeng dingin, kaku, dan tak tersentuh yang dulu selalu ia pakai.
Perubahan itu terasa begitu drastis dan menyakitkan bagi Sherina.
Dulu, setelah perjalanan survei itu, setelah malam di mana ia dirawat dengan penuh kelembutan, setelah hari-hari penuh perhatian dan tindakan-tindakan kecil yang berarti itu... Arsya adalah sosok yang paling hangat, paling lembut, dan paling mengerti dirinya. Sosok yang selalu ada di dekatnya, yang selalu menatapnya dengan pandangan penuh arti, yang selalu mendengarkan dan mendukungnya sepenuhnya. Namun kini, semua itu hilang seketika.
Arsya kembali menjadi sosok yang dingin dan jauh. Ia kembali berbicara dengan nada formal, kaku, dan singkat, persis seperti saat awal pertemuan mereka dulu. Ia kembali berdiri berjauhan, kembali menyembunyikan tangan kanannya dengan sangat hati-hati seolah takut ada yang melihat, kembali menghindari tatapan mata Sherina, dan kembali bersikap seolah tak ada hubungan istimewa apa pun di antara mereka. Jika dulu ia selalu meluangkan waktu berdiskusi berdua hingga sore hari, kini ia selalu buru-buru mengakhiri pembicaraan, kembali ke mejanya, dan membenamkan diri dalam tumpukan pekerjaan seolah ingin menghapus keberadaan Sherina dari dunianya.
Setiap kali Sherina mencoba mendekat, mencoba bertanya dengan nada lembut, atau mencoba mengingatkan pada momen-momen indah yang pernah mereka lalui bersama... Arsya selalu menepisnya dengan sikap dingin atau jawaban singkat yang menusuk kalbu.
Suatu sore, saat kantor sudah mulai sepi, Sherina memberanikan diri mendekati meja kerja Arsya, membawa secangkir kopi hangat seperti yang biasa ia lakukan dulu. Hatinya berdebar cemas dan sedih, bingung dengan perubahan mendadak ini yang terjadi tepat setelah kedatangan Darren.
"Pak Arsya..." panggilnya pelan, meletakkan cangkir itu di sudut meja dengan hati-hati. "Bapak belum pulang? Kopi ini... saya buatkan untuk Bapak. Seperti biasa, yang sedikit gula."
Arsya tidak mendongak sedikit pun. Matanya tetap terpaku pada dokumen di tangannya, jarinya menunjuk barisan tulisan seolah sangat sibuk dan sangat fokus. Suaranya keluar datar, dingin, dan tanpa ada sedikit pun kehangatan yang dulu sering ia dengar.
"Simpan saja. Terima kasih. Saya sedang sibuk. Dan sebaiknya Nona Sherina tidak perlu repot-repot lagi melakukan hal-hal seperti ini. Kita hanya rekan kerja, tidak lebih. Tidak perlu ada keakraban yang berlebihan."
Kalimat itu menghantam dada Sherina keras-keras. Ia menatap wajah samping Arsya yang tampak kaku dan dingin itu, matanya mulai berkaca-kaca karena kebingungan dan rasa sakit yang mendalam.
"Ada apa denganmu, Pak?" tanyanya pelan, suaranya mulai bergetar menahan tangis. "Kenapa Bapak berubah seperti ini? Kenapa Bapak menjauhi saya? Apa saya melakukan kesalahan? Apa ada hal yang salah saya lakukan hingga Bapak kembali bersikap seperti dulu... saat kita belum saling kenal?"
Kali ini Arsya mengangkat wajahnya perlahan. Namun, tatapan mata itu bukan lagi tatapan penuh kasih sayang atau pengertian. Tatapan itu kembali kosong, dingin, dan penuh tembok pemisah yang tinggi. Di dasar matanya, tersembunyi rasa sakit yang luar biasa dan rasa rendah diri yang mendalam, namun Sherina tidak bisa melihatnya, hanya merasakan kedinginan yang menusuk hingga ke tulang.
"Kau tidak melakukan kesalahan apa pun," jawab Arsya datar, berusaha sekuat tenaga agar suaranya tidak bergetar. "Hanya saja saya sadar kembali akan posisi dan tempat saya. Ada hal-hal yang tidak seharusnya terjadi, ada harapan-harapan yang tidak seharusnya tumbuh. Kita berbeda dunia, Sherina. Kau pantas mendapatkan yang jauh lebih baik, jauh lebih sempurna, dan jauh lebih layak mendampingimu daripada orang seperti saya. Kehadiran Darren... membuka mata saya kembali akan kenyataan itu. Dia pasangan yang tepat untukmu. Dia sempurna, dia utuh, dia bisa memberikan segalanya. Dan saya... saya tidak bisa. Jadi lebih baik kita kembali seperti semula. Atasan dan bawahan. Tanpa rasa apa pun, tanpa harapan apa pun. Demi kebaikanmu."
Kata-kata itu diucapkan dengan tegas, seolah mematikan segala sesuatu yang pernah tumbuh indah di antara mereka. Bagi Arsya, itu adalah cara terbaik untuk melepaskan Sherina agar gadis itu bisa bahagia dengan orang yang lebih pantas. Namun bagi Sherina, kata-kata itu adalah pukulan yang paling menyakitkan.
Ia menatap Arsya dengan mata yang basah penuh air mata, hatinya terasa hancur lebur dan sangat sedih. Ia tidak mengerti. Ia sama sekali tidak mengerti mengapa kehadiran Darren justru membuat Arsya menjauh, mengapa Arsya membandingkan dirinya sendiri dan merasa tidak pantas, padahal bagi Sherina, Arsya adalah segalanya, Arsya lah yang ia inginkan, Arsya lah yang berharga di matanya, kekurangan apa pun tidak pernah menjadi masalah baginya.
"Kau salah, Pak..." bisik Sherina pelan, air mata mulai menetes jatuh membasahi pipinya. "Kau salah besar. Bagi saya, Bapak yang paling berharga. Bapak juga yang saya inginkan. Kekurangan fisik, masa lalu, atau apa pun itu... tidak pernah berarti apa-apa bagi saya. Mengapa Bapak tidak pernah mengerti itu? Mengapa Bapak justru mundur saat saya mulai membutuhkan Bapak paling banyak? Mengapa Bapak menyerah begitu saja padahal kita sudah melangkah sejauh ini?"
Namun Arsya tidak menjawab. Ia kembali menundukkan wajahnya, kembali membenamkan diri dalam pekerjaannya, menolak untuk menatap lagi wajah gadis yang ia cintai itu, takut jika ia menatap lebih lama lagi, keberaniannya untuk melepaskan akan runtuh dan ia akan memeluk gadis itu erat-erat dan memohon agar tetap tinggal bersamanya.
"Silakan pergi, Sherina," ucap Arsya pelan, suaranya bergetar tertahan rasa sakit yang luar biasa. "Sudah terlambat. Dan jangan khawatir... saya akan tetap profesional dalam pekerjaan kita. Tidak ada yang akan berubah dalam hal itu."
Sherina berdiri diam di tempatnya, menatap sosok yang ia cintai itu yang kembali menutup diri, kembali menjadi dingin, dan kembali mengusirnya pergi. Rasa bingung, rasa sedih, dan rasa sakit yang mendalam memenuhi seluruh hatinya. Ia merasa kehilangan sesuatu yang paling berharga, sesuatu yang baru saja ia temukan namun kini direnggut kembali oleh rasa rendah diri dan ketidaktahuan Arsya.
Dengan langkah gontai dan hati yang hancur, Sherina akhirnya berbalik dan berjalan pergi meninggalkan ruangan itu, meninggalkan Arsya yang duduk diam di balik mejanya, menahan tangis dan rasa sakit yang menggerogoti seluruh jiwanya, meyakinkan dirinya bahwa keputusannya ini adalah yang terbaik, meski itu berarti ia harus hidup kembali dalam kesepian dan dingin selamanya. Di luar sana, Darren menanti dengan segala kesempurnaannya, dan di dalam hatinya, Arsya yakin... gadis sebaik Sherina memang pantas mendapatkan kebahagiaan yang sempurna itu, bukan bayang-bayang kebahagiaan bersamanya.