NovelToon NovelToon
KETIKA PENGUASA SURGAWI MENJADI HUNTER RANK E

KETIKA PENGUASA SURGAWI MENJADI HUNTER RANK E

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Sistem / Kultivasi Modern
Popularitas:6.5k
Nilai: 5
Nama Author: EGGY ARIYA WINANDA

Wu Xuan telah mencapai puncak alam surgawi dan hanya selangkah lagi naik ke alam dewa. Namun saat ia mencoba kembali ke Bumi demi menebus hutang karma kepada kedua orang tuanya, tubuh fananya justru terhempas ke tengah badai kehampaan dimensi.

Dan ketika ia membuka matanya kembali…

Bumi yang ia kenal telah berubah menjadi dunia dungeon dan para hunter.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EGGY ARIYA WINANDA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Niat Pedang dan Menuju Perburuan

Di bawah bayang-bayang malam Shanghai yang seolah menahan napas, mata hitam kecoklatan Wu Xuan melirik ke luar jendela, menembus cakrawala seakan menantang langsung pusaran dimensi yang mengancam umat manusia.

Bagi mereka yang hidup di era ini, bahaya yang turun dari langit dipukul rata sebagai sebuah 'bencana'. Namun, dengan ingatan yang mengalir di benaknya, Wu Xuan tahu betul perbedaan mendasar dari struktur ruang dan waktu yang sedang menjajah bumi ini.

Gate dan Tower. Dua hal yang sering dianggap sama oleh orang awam, padahal esensinya bertolak belakang.

Gate yang tersebar di luar sana hanyalah sebuah portal parasit—celah dimensi sementara yang secara acak memuntahkan monster dari kantong planet yang terisolasi. Jika inti dari Gate itu dihancurkan, atau bos utamanya dibunuh, maka portal itu akan runtuh dan menghilang selamanya, menutup luka pada realitas.

Namun, Tower adalah entitas yang jauh lebih tinggi. Pilar-pilar hitam raksasa itu adalah struktur abadi yang ditancapkan secara sengaja ke dalam planet ini. Ia bukan sekadar lorong, melainkan sebuah gerbang transenden menuju dunia-dunia yang jauh lebih luas, lebih tua, dan lebih mengerikan. Sebuah tangga hierarki yang diciptakan oleh para entitas luar kosmos.

Manusia menyebutnya sebagai Menara Kiamat, tetapi di alam semesta yang sebenarnya, struktur itu dikenal sebagai Tower Semesta.

Setelah melihat hancurnya batu bata ringan di tangan Bu Yue, Wu Xuan menarik napas panjang. Senyum tipis yang sarat akan kepuasan terukir di wajahnya. Fondasinya telah beresonansi. Meskipun jumlah Qi di dalam meridiannya saat ini hanya setitik percikan air di tengah gurun, percikan itu cukup untuk memulai pembakaran.

Ia menoleh ke arah orang tuanya. "Pa, Ma. Aku butuh sebuah Gate. Tingkat menengah atau tinggi, tidak masalah. Siapkan untukku malam ini."

Permintaan itu dilontarkan dengan nada yang sangat santai, seolah ia baru saja meminta secangkir kopi.

Wu Yuena langsung melangkah maju, raut wajahnya dipenuhi kekhawatiran yang wajar dari seorang ibu. "Xuan'er, apa yang kau bicarakan? Fisikmu baru saja siuman! Sel-selmu masih beradaptasi dengan dunia ini. Istirahatlah dahulu, biarkan Mama dan Papa yang mengurus semuanya di luar sana."

Di sudut ruangan, Xu Xin menatap Tuan Mudanya dengan mata terbelalak. Asisten cantik itu benar-benar tidak habis pikir.

'Tuan Muda baru saja divonis dengan bakat Kelas E, nol kapasitas mana, dan non-kombatan. Mengapa dia ingin masuk ke dalam Gate? Apakah ini bentuk keputusasaan untuk membuktikan diri pada dunia?' batin Xu Xin. Ia belum tahu tentang penyerapan prasasti yang menaikkan bakat Wu Xuan menjadi Kelas D dan membuka sub-bakat Pengendali Jiwa.

Namun, Wu Xuan menggelengkan kepalanya perlahan, menatap ibunya dengan tatapan lembut namun menyimpan ketegasan.

"Aku sudah baikan, Ma," jawab Wu Xuan, nada suaranya mengunci segala bantahan. "Aku sangat penasaran dengan kemampuanku saat ini. Menunda lebih lama hanya akan membuat insting bertarungku membusuk. Pedang yang terlalu lama disimpan di dalam sarung akan lupa cara memotong."

Wu Jiang, yang sedari tadi diam mengamati, menatap putranya lekat-lekat. Insting Country Tier-nya merasakan sebuah pertanyaan; meskipun tubuh putranya terlihat seperti manusia biasa tanpa mana, ada ketenangan predator di balik matanya.

"Biarkan dia pergi, Yuena," ucap Wu Jiang tiba-tiba, suaranya berat dan menggetarkan dinding ruangan.

Sang Guild Master itu menyilangkan tangannya di belakang punggung. "Di era ini, kekuatan adalah mata uang mutlak. Kedamaian hanyalah ilusi yang dibeli dengan darah. Jika dia ingin bertarung, biarkan dia bertarung. Kelemahan dan penundaan hanya akan menjadi penyesalan saat bencana sungguhan datang."

Wu Jiang menoleh ke arah asistennya. "Xu Xin."

"S-Siap, Guild Master!" Xu Xin tersentak, berdiri tegap.

"Antar Tuan Muda ke Ruang Harta Guild di lantai bawah tanah pertama. Biarkan dia memilih senjata dan pelindung apa pun yang dia inginkan. Lalu, carikan Gate yang ia minta," perintah Wu Jiang.

"Sesuai perintah Anda, Guild Master," Xu Xin membungkuk hormat.

Wu Xuan berbalik untuk pergi. Namun sebelum melangkah keluar, ia berhenti di samping Butong yang masih berlutut memeluk putrinya yang kegirangan. Pemuda itu mengulurkan tangannya yang elegan, menepuk bahu pria raksasa berwajah kasar tersebut.

Butong mendongak, matanya memancarkan kesetiaan yang buta.

"Jaga dia baik-baik," ucap Wu Xuan dengan senyum tenang, melirik sekilas ke arah Bu Yue. "Mulai detik ini, putrimu adalah muridku."

Kalimat sederhana itu adalah proklamasi perlindungan mutlak. Di bawah sayap Wu Imperial Guild, dan sebagai murid langsung sang pangeran mahkota, tak ada satu pun entitas di Tiongkok yang berani menyentuh sehelai rambut gadis kecil itu mulai hari ini. Butong menundukkan kepalanya menyentuh lantai, tidak bisa berkata-kata menahan tangis rasa syukurnya.

Lima belas menit kemudian, jauh di kedalaman markas Shanghai.

Pintu brankas raksasa berbahan paduan logam bintang bergeser terbuka. Xu Xin melangkah masuk mendampingi Wu Xuan. Ruang Harta Guild itu luasnya menyamai sebuah stadion tertutup. Di dalamnya, berjejer ribuan etalase kaca yang memancarkan pendar energi dari berbagai spektrum.

Ini adalah perbendaharaan terbesar di Asia. Seluruh armor lengkap, artefak sihir, dan senjata tier tinggi yang ditempa oleh barisan Refiner (Pandai Besi) terbaik umat manusia saat ini, tersimpan rapi di sini. Semuanya memancarkan fluktuasi mana yang bisa membuat hunter jalanan saling membunuh hanya untuk melihatnya dari dekat.

Namun, di mata Wu Xuan... ini semua hanyalah rongsokan.

Matanya yang tajam menyapu deretan tombak naga, zirah mithril, dan pedang berelemen ganda.

"Mainan anak-anak yang dihiasi lampu spiritual," batin sang tiran dengan rasa bosan. "Senjata-senjata ini terlalu bergantung pada inti monster yang ditanamkan di dalamnya. Benda-benda ini membatasi penggunanya."

Wu Xuan berjalan melewati deretan artefak mahal itu tanpa menoleh dua kali. Langkahnya akhirnya berhenti di sebuah rak berdebu di sudut ruangan paling gelap.

Di sana, tergeletak sebuah pedang lurus bergaya tradisional tanpa hiasan apa pun. Bilahnya berwarna hitam pekat, sarungnya terbuat dari kayu besi yang suram, dan tidak ada sedikit pun fluktuasi mana atau inti monster yang tertanam di dalamnya. Itu adalah pedang baja murni yang sangat padat.

Wu Xuan meraih gagangnya. Berat. Dingin. Sempurna.

Ia mengambil pedang hitam itu dan menentengnya di bahu dengan postur rileks.

Xu Xin segera melangkah maju, membawa sebuah chestplate (pelindung dada) yang memancarkan cahaya keemasan. "Tuan Muda, ini adalah Armor Sisik Wyvern. Benda ini bisa menahan serangan setara level City Tier. Jika Anda masuk ke Gate, Anda setidaknya harus mengenakan pelindung—"

"Simpan kembali rongsokan itu, Xu Xin," potong Wu Xuan tanpa menoleh.

Xu Xin mengerutkan keningnya, tidak bisa lagi menyembunyikan kebingungannya. "Kenapa Anda memaksakan diri, Tuan Muda? Anda mengambil pedang mati tanpa atribut, dan menolak pelindung. Berburu bukanlah ajang pembuktian harga diri yang harus dibayar dengan nyawa!"

Wu Xuan menghentikan langkahnya. Ia memutar tubuhnya perlahan. Senyum tipis, mematikan, dan sangat arogan terukir di wajah tampannya.

"Kau bilang aku memaksakan diri?" suara Wu Xuan mengalir pelan, bergema di ruang harta yang sunyi itu. Ia menatap mata asisten cantik berlevel City Tier tersebut. "Aku tidak memaksakan diri, Xu Xin. Aku jauh lebih kuat dari apa yang bisa kau bayangkan."

Xu Xin terdiam. Tatapan mata pemuda itu terlalu mendominasi. Tidak ada kebohongan di sana, yang ada hanyalah sebuah janji.

"Xu Xin," panggil Wu Xuan memecah keheningan. "Kau mengatakan ini pedang mati... Pernahkah kau mendengar istilah Niat Pedang?"

"Niat... Pedang?" Xu Xin membeo, mengerutkan dahi. "Apakah itu semacam Skill aktif dari Sistem tempur?"

Wu Xuan tertawa. Tawa yang sangat pelan, elegan, namun menyiratkan penghinaan intelektual yang mendalam pada sistem dunia ini.

"Sistem Tower sialan ini telah memotong proses berpikir kalian, membuat kalian lumpuh secara fundamental," ucap Wu Xuan, mengangkat pedang hitamnya yang masih berada di dalam sarung. "Fondasi kalian lemah."

Ia mulai memberikan kuliah singkat tentang hukum kultivasi dari alam yang lebih tinggi.

"Ada banyak dunia yang jauh dari Tower, mereka mengandalkan energi murni untuk melapisi senjatanya... contoh dasar adalah para Pendekar Pedang."

"Apa pendekar pedang yang Tuan Muda maksud itu sama seperti Sword Master, yang merupakan bakat dari Tower?" tanya Xu Xin matanya memancarkan rasa penasaran yang sulit disembunyikan.

"Bukan. Pendekar pedang tidak bisa dicapai hanya dengan meletakan tangan pada pemindai bakat atau meminum serum kelas tinggi," jelas Wu Xuan.

"Bisakah Tuan Muda menjelaskan tingkatan itu kepada Xu Xin?!" tanyanya cepat, suaranya dipenuhi rasa penasaran. Matanya menatap lurus ke arah pemuda itu, seolah takut melewatkan satu kata pun dari penjelasan yang akan keluar dari mulut sang Tuan Muda.

"Tentu..." Jawab Wu Xuan santai.

"Tingkat pertama dari pendekar pedang, adalah mereka yang mampu mengeluarkan aura mereka dan melapisi bilah pedang. Ini membuat pedang tumpul menjadi setajam silet."

"Tingkat kedua, adalah mereka yang mampu memadatkan aura tersebut hingga mampu melontarkannya, membentuk tebasan energi yang membelah jarak."

Wu Xuan mengambil napas pendek, matanya menajam. "Dan tingkat ketiga... adalah mereka yang mampu mewujudkan konsep 'pedang' dari udara kosong, dari ranting kayu, atau bahkan dari tatapan mata mereka. Itulah yang disebut Niat Pedang (Sword Intent)."

"Banyak tingkatan yang jauh lebih abstrak di atas tingkat ini, seperti Dao Pedang yang mampu membelah ruang atau bahkan realitas. Namun Niat Pedang adalah fondasi utama bagi siapa pun yang berani menyebut dirinya seorang pendekar pedang."

Xu Xin mendengarkan dengan tercengang. Konsep ini tidak pernah ada di akademi hunter mana pun.

"Apa kau ingin melihatnya?" bisik Wu Xuan.

Ia perlahan menarik pedang hitam itu keluar dari sarungnya. Bunyi gesekan logam yang dingin menggema tajam.

Seketika, Wu Xuan mengalirkan secercah Qi yang baru saja ia saring dari tubuh Bu Yue, menyalurkannya langsung ke bilah pedang hitam tersebut.

WUNG!

Bukan cahaya mencolok atau api sihir yang keluar. Melainkan sebuah distorsi.

Qi berwarna hitam pekat yang sangat gelap dan purba menyelimuti pedang itu. Energi itu begitu padat, begitu mematikan, hingga ia menyerap cahaya di sekitarnya. Pedang di tangan Wu Xuan kini terlihat seperti sebuah sobekan ruang angkasa, sebuah lubang hitam berwujud pedang yang mendistorsi udara di sekelilingnya.

Tekanan yang dikeluarkan oleh pedang itu bukanlah sekadar angka damage dari sistem. Itu adalah konsep dari kematian itu sendiri.

Xu Xin, seorang Hunter City Tier, secara otomatis melangkah mundur hingga menabrak meja di belakangnya. Tubuhnya bergetar. Insting bertahan hidupnya berteriak dengan level kepanikan tertinggi. Keringat membasahi seluruh punggungnya.

'T-Tuhan...' batin Xu Xin menjerit, menatap pedang hitam pekat itu dengan horor murni. 'Jika Tuan Muda mengayunkan pedang itu ke arahku... mampukah aku menghindarinya? Atau leherku akan putus bahkan sebelum mataku bisa menangkap pergerakannya! Kenapa Sistem Menara menilai bakatnya sebagai Kelas E?! Energi apa itu?!'

Melihat ketakutan di wajah asisten ayahnya, Wu Xuan menyeringai tipis.

Sring!

Ia menarik kembali Niat Pedang miliknya, memadamkan Qi hitam pekat itu, dan menyarungkan pedangnya dengan satu gerakan mulus yang memancarkan keanggunan seorang tiran. Tekanan mengerikan di ruangan itu lenyap seketika, membuat Xu Xin jatuh terduduk sambil terengah-engah mencari oksigen.

Wu Xuan membalikkan badannya, berjalan santai menuju pintu keluar Ruang Harta dengan pedang tersampir di pundaknya.

"Siapkan Gate dengan monster undead," perintah Wu Xuan tanpa menoleh, nadanya mengalir tenang mengabaikan syok mental yang baru saja ia berikan pada asisten tersebut. "Siapkan secepatnya."

Bersambung...

1
Novi Prihartono
lanjuuuuuuuuut
EGGY ARIYA WINANDA: 🫡🫡🫡🫡🫡
total 1 replies
Novi Prihartono
up lagiiiiiiiiiiiiiii
EGGY ARIYA WINANDA: 🫡👍👍👍👍
total 1 replies
EGGY ARIYA WINANDA
Bantu like dan komentar untuk mendukung cerita ini agar terus berlanjut 🫡🫡
Fajar Fathur rizky
thor ini wuxuan jika nunjukin ranah kultivasi apakah dunia bakal hancur thor
Fajar Fathur rizky
di tunggu updatenya thor novel satunya bab 393 dan bab 394 thor
Zzzz
jejak dulu 👣👣
Zzzz
semoga dapat retensi ya/Determined//Determined/semangattt 🔥🔥🔥
Zzzz
/Slight/
Zzzz
/Hunger/
Zzzz
/Proud/
Zzzz
semangat 🔛🔥
Zzzz
/CoolGuy/
Zzzz
🤧bisa dong
Fajar Fathur rizky
cepat naikin level wuxuan
ABSOLUTE [2]
aaaaaaaaahhhhhhhh, lagi seru-seru nya baca malah abis
EGGY ARIYA WINANDA: Teknik marketing 🤭🤭
total 1 replies
Zzzz
👣
Zzzz
/Grimace/
Zzzz
/Slight//Proud/
Zzzz
/Frown/
Zzzz
/Determined/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!