NovelToon NovelToon
Kontrak Cinta Sang Kepala Pelayan

Kontrak Cinta Sang Kepala Pelayan

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Crazy Rich/Konglomerat / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:4.9k
Nilai: 5
Nama Author:

Punya ijazah S1 Akuntansi dengan predikat Cum Laude ternyata tidak berguna di hadapan tagihan rumah sakit yang mencapai ratusan juta. Demi menyelamatkan nyawa ibunya, Arini terpaksa membuang gengsinya dalam-dalam dan melamar menjadi kepala pelayan di penthouse mewah milik Adrian—seorang CEO muda kaya raya yang terkenal sedingin es kutub utara.Kerja keras Arini yang super rapi dan cerdas perlahan menarik perhatian sang Kakek pemilik takhta konglomerasi. Salah paham pun terjadi. Demi mempertahankan posisinya sebagai pewaris tunggal, Adrian terpaksa berbohong dan mengenalkan pelayannya itu sebagai calon istri.Sebuah kontrak pernikahan satu tahun akhirnya disodorkan di atas meja marmer.Gaji ratusan juta, seluruh utang lunas, dengan satu syarat mutlak: Dilarang saling jatuh cinta.Mampukah Arini bertahan menghadapi sikap dingin sang konglomerat di bawah satu atap yang sama? Ataukah pernikahan pura-pura ini justru akan mencairkan hati sang es kutub utara yang selama ini membeku?

Bab 32 (Kembali Ke Medan Laga)

Satu tahun setelah kelahiran Arsenio, Arini mulai merasakan kejenuhan yang mendalam di dalam dinding mewah penthouse. Harga diri dan otaknya yang berpredikat cum laude dari universitas ternama seolah berteriak minta digunakan kembali. Setelah melewati perdebatan panjang dan negosiasi yang alot dengan suaminya, Arini akhirnya berhasil mengantongi izin dari Adrian untuk bekerja kembali.

Namun, tentu saja sang CEO tidak akan membiarkan istrinya bekerja di perusahaan orang lain. Adrian menunjuk Arini langsung sebagai Kepala Auditor Keuangan Internal di kantor pusat Wijaya Group.

Pagi itu, gedung pencakar langit Wijaya Group menyambut langkah kaki Arini dengan atmosfer korporat yang sibuk. Arini melangkah anggun mengenakan setelan blazer formal berwarna putih tulang yang melekat pas di tubuh rampingnya, membawa sebuah tas kerja kulit yang tampak elegan. Gelang berlian pemberian Adrian masih setia melingkar indah di pergelangan tangannya.

"Selamat pagi, Bu Arini. Ini adalah ruangan baru Anda," sapa Yudha profesional yang pagi ini sengaja turun langsung dari lantai teratas demi mengantar sang Nyonya Muda ke divisinya. "Seluruh tim audit sudah menunggu di ruang rapat."

"Terima kasih, Pak Yudha. Saya akan langsung beradaptasi," jawab Arini ramah dengan senyuman formal yang manis.

Sebagai Kepala Auditor baru, kehadiran Arini tentu saja memicu desas-desus di kalangan staf muda. Pasalnya, demi keamanan dan privasi publik dari ancaman Baskoro di masa lalu, status pernikahan nyata mereka hanya diketahui oleh jajaran direksi senior dan Kakek Wijaya. Karyawan biasa di divisi bawah hanya mengetahui bahwa Arini adalah seorang akuntan jenius berprestasi yang direkrut khusus oleh kantor pusat.

Rapat perdana divisi audit berjalan dengan sangat intensif. Di ujung meja rapat, seorang manajer audit muda berpenampilan necis bernama Kevin tampak terus-menerus mencuri pandang ke arah Arini sejak presentasi dimulai. Kevin terpesona bukan hanya oleh paras ayu Arini, melainkan oleh ketegasan dan kecerdasan Arini saat menganalisis neraca keuangan yang rumit.

"Analisis Anda sangat tajam, Bu Arini," ujar Kevin seusai rapat, sengaja melangkah mendekati meja kerja Arini sembari membawa selembar berkas. "Malam ini tim kami berencana mengadakan makan malam sambutan untuk Anda di restoran bawah. Apakah Bu Arini berkenan hadir berdua saja dengan saya terlebih dahulu untuk membahas beberapa detail proyek?"

Arini menghentikan ketikannya di laptop, menatap Kevin dengan tatapan profesional yang datar. "Terima kasih atas undangannya, Pak Kevin. Tapi untuk urusan proyek, kita bisa membahasnya di ruangan ini sekarang juga."

Kevin tidak menyerah, ia justru mencondongkan tubuhnya sedikit lebih dekat, menyunggingkan senyum tegap yang biasa ia gunakan untuk memikat para staf wanita di kantor. "Ini bukan sekadar urusan proyek, Arini. Saya rasa tidak ada salahnya jika kita saling mengenal lebih dekat di luar jam kantor. Wanita secerdas Anda tidak boleh melewatkan makan malam yang menyenangkan."

Tanpa disadari oleh Kevin maupun Arini, pintu kaca ruangan itu mendadak terbuka dengan kasar. Atmosfer di dalam ruangan seketika mendingin secara drastis hingga mencapai titik beku.

Adrian melangkah masuk dengan setelan jas hitam tiga potongnya yang luar biasa berwibawa. Aura mengintimidasi dan kemarahan yang pekat menguar hebat dari tubuh tegap sang CEO utama. Di belakangnya, Yudha mengekor dengan wajah yang sudah memucat menahan napas. Adrian yang sedang melakukan inspeksi mendadak ke divisi keuangan langsung naik pitam saat melihat dari balik dinding kaca ada seorang pria asing yang berani berdiri sedekat itu dengan belahan jiwanya.

"Ada yang bisa saya bantu, Pak CEO?" tanya Kevin refleks menegakkan posisi berdiri, mendadak gemetar merasakan tatapan mata elang Adrian yang seolah siap mengulitinya hidup-hidup.

Adrian tidak memedulikan keberadaan Kevin. Langkah kakinya yang berat bergaung di dalam ruangan sunyi tersebut, melangkah langsung menuju ke belakang meja kerja Arini. Tanpa memedulikan tatapan syok dari Kevin, Adrian menyurukkan tangan besarnya untuk merangkul posesif pinggang ramping Arini, menarik tubuh istrinya hingga menempel erat pada dada bidangnya.

"Urusan proyek apa yang harus diselesaikan di luar jam kantor dengan istriku, hah?" tanya Adrian dengan nada suara yang sangat rendah, berat, dan sedingin es kutub utara. Tatapan matanya berkilat penuh rasa cemburu dan kepemilikan mutlak yang begitu telanjang.

Kevin seketika membelalakkan matanya tidak percaya, lututnya mendadak lemas saat menyadari bahwa wanita yang baru saja ia goda adalah Nyonya Besar pemilik dinasti bisnis tempatnya bekerja. "I-istri? Maaf, Pak CEO! Saya tidak tahu kalau Bu Arini adalah—"

"Yudha!" potong Adrian tajam, suaranya sarat akan otoritas mutlak tanpa bantahan. "Pindahkan pria ini ke kantor cabang kita di pelosok Kalimantan sore ini juga. Dan pastikan dia tidak akan pernah diizinkan kembali ke Jakarta selama sisa masa kerjanya!"

"Baik, Pak. Segera dilaksanakan," jawab Yudha cekatan, langsung memberi isyarat agar pengawal keamanan menyeret Kevin yang ketakutan keluar dari ruangan.

Setelah ruangan kembali sepi, Arini mendongak, menatap wajah suaminya yang masih mengeras menahan amarah cemburu yang luar biasa. Ia menggelengkan kepalanya gemas, lalu mencubit pelan pipi tegas Adrian. "Mas Adrian... sifat posesifmu ini selalu keluar di tempat yang salah. Ini kan di kantor."

Adrian tidak membalas gurauan itu. Ia justru menundukkan kepalanya, mengunci pergerakan Arini di antara kursi kerja dan tubuh bidangnya, lalu menyatukan bibir mereka dalam sebuah lumatan dalam yang sangat intens, panas, dan posesif selama beberapa menit, mengklaim kembali hak kepemilikan mutlaknya di bawah saksi keheningan ruang kantor siang itu.

"Aku tidak peduli ini di kantor atau di mana pun, Sayang," bisik Adrian seksi di depan bibir Arini yang tampak memerah. "Siapa pun pria yang berani menatapmu lebih dari tiga detik, dia harus menanggung akibatnya."

1
sakura
baguss banget goks abizzzz
sakura
Hallow guys xixi mimin minta maaf karna seminggu ga update tapi tenang aja udah sekarang updatenya doble”. jangan lupa like,komen, dan share yaa cinta-cintaku🫶🏻
sakura
jangan lupa kasih like nya ya manteman,biar authornya ini jadi semangat buat nulisnya xixi😗🫶🏻🙆🏻‍♀️
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!