Klan Jenderal Cang yang agung berdiri di ujung jurang kehancuran. Titah rahasia Kaisar Yan telah turun, mengincar nyawa setiap anggota keluarga yang memegang kendali militer. Sebagai pewaris tunggal, Cang Qixuan memilih jalan yang paling dibenci dunia demi menyelamatkan klannya: menjadi sampah. Ia menenggelamkan diri dalam lautan arak, judi, dan wanita, menghamburkan emas kekaisaran seolah debu. Di balik cemoohan rakyat dan tawa meremehkan musuh-musuhnya, Qixuan merajut Jaring Bayangan. Setiap keping emas yang ia lempar di rumah bordil adalah investasi intelijen; setiap aib yang ia ciptakan adalah perisai pelindung. Berawal dari kultivasi yang hancur, ia memanjat kembali dari dasar jurang kekuasaan, menelan penghinaan untuk kelak menelan seluruh Kekaisaran Yan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝐍𝐞𝐳𝐮𝐤𝐨 i, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 33 bayangan naga baja dan kebangkitan empat dewa purba
Bayangan raksasa merayap perlahan melintasi hamparan zamrud Benua Tengah, menelan cahaya matahari yang selama puluhan ribu tahun selalu menyinari tanah para dewa tersebut. Dua ribu armada kapal terbang *Fatamorgana Emas*, yang kini telah dilapisi baja hitam pekat dari ujung haluan hingga buritan, bergerak dengan keheningan mematikan. Suara deru mesin spiritual yang ditenagai oleh Inti Matahari Buatan beresonansi di frekuensi yang sangat rendah, menggetarkan cairan di dalam tubuh setiap makhluk hidup di bawahnya.
Di kota-kota pelabuhan dan lembah-lembah giok Benua Tengah, jutaan kultivator lokal menatap ke langit dengan mulut terbuka lebar. Mereka adalah makhluk-makhluk yang memandang diri mereka berada di puncak rantai makanan semesta. Selama ini, cerita tentang Benua Timur hanyalah mitos tentang daratan gersang tempat manusia fana merangkak di atas lumpur. Kenyataannya, lumpur itu telah bangkit, menempa dirinya menjadi taring-taring baja, dan kini datang untuk merobek langit mereka.
Di atas anjungan kapal bendera utama, Cang Qixuan berdiri tegak menyerupai patung dewa kematian yang dipahat dari ketiadaan. Jubah sutra hitamnya berkibar tenang. Sepasang mata amber-emasnya menyapu pemandangan sungai-sungai spiritual yang memancarkan pendaran energi keabadian di bawah sana.
"Benua yang sangat makmur," Qixuan berbicara pelan, suaranya memecah kesunyian di antara para jenderalnya. "Kepadatan energi alam di sini seratus kali lipat lebih tinggi dibandingkan ibukota Jinling kita. Pegunungan mereka terbuat dari kristal murni. Sungai mereka mengalirkan embun abadi."
Putri Yan Ling, yang berdiri tidak jauh darinya sambil memeluk gulungan laporan logistik, mengangguk setuju. "Kekayaan alam mereka tidak masuk akal, Tuanku. Jika kita bisa mencaplok satu provinsi saja dari benua ini, pendapatan Kamar Dagang Katak Emas akan melampaui total gabungan seluruh benua bawah selama satu milenium."
"Mencaplok satu provinsi?" Qixuan melirik mantan putri mahkota itu dengan seulas senyum meremehkan. Kipas giok di tangannya terbuka dengan bunyi *klik* yang renyah. "Yan Ling, kau harus membuang mentalitas pengemis yang mencari sisa makanan. Kita tidak membawa mesin perang termahal sepanjang sejarah hanya untuk memotong seiris kue. Kita datang untuk mengambil alih pabrik kuenya, mengusir koki lamanya, dan menjual kuenya kembali kepada mereka dengan harga monopoli absolut."
Hong Lian yang sedang memeriksa panel suhu laras meriam utama tertawa buas. "Tuan Muda selalu tahu cara memotivasi pekerja kasarnya! Kapan kita mulai meratakan gunung-gunung giok itu? Jari-jariku sudah gatal ingin menarik tuas kiamat ini lagi!"
"Simpan amunisimu, Hong Lian," Qixuan menutup kipasnya. "Sekte Titah Langit bukanlah sekte pinggiran yang bisa dihancurkan tanpa perlawanan. Kaisar Surgawi Taiyi sedang membunyikan lonceng keputusasaan. Indera *Jiwa Baru*-ku bisa merasakan empat fluktuasi energi kuno yang luar biasa menjijikkan sedang merangkak naik dari dasar bumi di ujung cakrawala sana. Mereka sedang membangunkan fosil-fosil tua untuk menyambut kita."
Tepat di jantung Benua Tengah, di bawah fondasi Ibukota Titah Langit, terdapat sebuah tempat yang disebut Makam Bintang. Tempat ini bukanlah kuburan biasa, melainkan ruang stasis yang dibangun dari jutaan ton es spiritual murni. Waktu membeku secara absolut di dalam ruangan ini.
Dentang *Bel Penggugah Leluhur* bergema menembus lapisan es tersebut. Gelombang suaranya membawa frekuensi kepanikan yang langsung menghancurkan segel tidur lelap dari empat sarkofagus raksasa yang terbuat dari meteorit emas.
*KRAAAAAKKK!*
Sarkofagus pertama meledak dari dalam. Hawa dingin yang sanggup membekukan lautan menyapu seluruh ruangan bawah tanah. Sesosok pria tua kurus dengan jubah perak melangkah keluar. Matanya berwarna putih tanpa pupil. Ini adalah Kaisar Purba Cangming, entitas yang telah hidup selama lima ribu tahun dan menguasai hukum Dao Samudra Ketiadaan.
*BLAAARRR!*
Tiga sarkofagus lainnya hancur secara bersamaan. Kaisar Purba Yanxing yang dikelilingi api hitam abadi, Kaisar Purba Guxuan yang tubuhnya memancarkan pendaran huruf-huruf kutukan kuno, dan terakhir, Kaisar Purba Baidi—sang Dewa Pembantai yang auranya membuat udara di sekitarnya berubah menjadi tetesan darah kental.
Keempat entitas ini adalah pilar sejati dari Sekte Titah Langit. Mereka adalah individu-individu yang telah menyentuh batas absolut dari ranah *Kaisar Langit (Heavenly Emperor)*. Satu langkah lagi, mereka akan menembus batas fana sepenuhnya dan naik ke Alam Ilahi yang sesungguhnya. Mereka memilih untuk tidur panjang semata-mata karena alam fana tidak lagi memiliki cukup energi untuk menopang umur mereka.
Di ambang pintu masuk Makam Bintang, Kaisar Surgawi Huangpu Taiyi berlutut dengan dahi menempel di lantai es. Meskipun ia sendiri adalah penguasa benua, di hadapan empat monster purba ini, ia hanyalah seorang junior.
"Taiyi menyapa Keempat Leluhur Surgawi," suara Sang Kaisar bergetar, menahan tekanan gravitasi dari empat aura mematikan yang tidak terkendali tersebut.
Kaisar Baidi, sang Dewa Pembantai, mendengus kasar. Setiap hembusan napasnya menciptakan bilah angin berdarah yang menggores dinding es di sekitarnya.
"Huangpu Taiyi," suara Baidi terdengar seperti dua bongkahan besi berkarat yang digesekkan. "Kami tidur untuk mengawetkan sisa seratus tahun umur kami demi menghadapi Kesengsaraan Langit. Kau berani membunyikan lonceng kebangkitan? Apakah gerbang neraka telah terbuka? Ataukah ras Naga Purba kembali menyerang daratan kita?"
"Bukan ras naga, Leluhur," Taiyi masih menunduk. "Sebuah armada dari Benua Timur fana telah menembus *Jaring Pembakar Langit*. Mereka membawa puluhan ribu meriam yang menembakkan hukum pemusnah. Lima belas petinggi sekte kita telah berkhianat, melumpuhkan formasi pertahanan ibukota. Musuh kini berjarak kurang dari seratus li dari gerbang istana kita."
Keempat kaisar purba itu terdiam. Kesunyian merayap, bukan karena ketakutan, melainkan karena kebingungan yang luar biasa.
"Manusia fana dari Benua Timur?" Kaisar Guxuan memiringkan kepalanya, aksara kutukan di kulitnya berpendar. "Seorang manusia tanpa garis keturunan dewa melumpuhkan sekte kita dan memaksamu membangunkan kami? Taiyi, kau adalah aib terbesar dalam silsilah keluarga Huangpu. Kau gagal mengelola seekor cacing tanah hingga cacing itu bermutasi menjadi naga raksasa."
Wajah Taiyi memerah menahan rasa malu, ia tidak berani membantah. "Pemuda itu bernama Cang Qixuan. Dia tidak berkultivasi dengan cara normal. Dia menggunakan kekayaan ekstrem untuk membeli kesetiaan, dan menggunakan hukum *Pertukaran Setara* tingkat dewa untuk menenagai senjatanya. Hamba memohon para Leluhur turun tangan sebelum dia meratakan ibukota ini menjadi debu!"
"Hukum Pertukaran Setara?" Kaisar Yanxing mendengus meremehkan, api hitam di tangannya berkobar. "Trik sulap kelas rendahan. Di hadapan kekuatan mutlak yang merobek ruang dan waktu, kekayaan tidak ada artinya. Ayo, Saudara-saudaraku. Mari kita renggangkan tulang-tulang tua ini. Kita akan menenggelamkan kapal-kapal mainan itu, lalu menjadikan tulang rusuk pemuda fana itu sebagai tusuk gigi sehabis makan malam kita."
Keempat sosok purba itu menghilang dari ruang bawah tanah, meninggalkan jejak vakum di udara. Taiyi segera bangkit, menyeka darah yang menetes dari hidungnya akibat tekanan aura barusan, lalu melesat menyusul mereka menuju langit ibukota. Perang sesungguhnya baru saja dimulai.
Di langit perbatasan Ibukota Titah Langit, armada baja hitam *Fatamorgana Emas* memperlambat lajunya. Dua ribu kapal raksasa itu membentuk formasi bulan sabit yang mengepung kota dari atas. Moncong lima puluh ribu *Meriam Kiamat Timbangan Surga* bersinar merah kehitaman, siap memuntahkan kehancuran absolut hanya dengan satu hentakan tangan dari sang komandan artileri.
Di tengah-tengah formasi, kapal bendera utama melayang tenang. Cang Qixuan berjalan ke langkan haluan, menatap hamparan istana pualam dan menara-menara giok yang memenuhi ibukota.
Tiba-tiba, ruang angkasa di depan armada itu terdistorsi hebat. Lima pilar cahaya—satu berwarna emas murni milik Taiyi, dan empat lainnya memancarkan warna purba yang mengerikan—menjulang dari pusat istana, membelah awan dan menembus atmosfer.
Lima sosok muncul di udara kosong, melayang sejajar dengan haluan kapal Qixuan. Lima ahli ranah *Kaisar Langit (Heavenly Emperor)*. Kemunculan mereka secara bersamaan membuat hukum alam Benua Tengah menjerit. Kilat menyambar tanpa awan. Hujan darah turun rintik-rintik dari langit yang cerah, fenomena anomali yang dipicu oleh aura pembunuh Kaisar Baidi.
Pasukan Naga Hitam di atas geladak kapal-kapal Qixuan langsung jatuh berlutut, memuntahkan darah segar. Formasi pelindung mental yang dipasang oleh Jaring Bayangan hancur layaknya kaca tipis. Bahkan Wakil Jenderal Leng Yue harus menancapkan pedang esnya ke lantai kayu kapal agar tidak jatuh tersungkur. Hanya Mo Chen, Hong Lian, dan Shen Feiyan yang mampu berdiri di belakang tuannya, menahan tekanan yang rasanya seperti ditimpa ribuan gunung batu.
Cang Qixuan berdiri tidak bergeming. Jubah hitamnya sama sekali tidak berkibar. Area dalam radius sepuluh meter di sekelilingnya menjadi ruang hampa absolut, di mana hukum gravitasi dan tekanan spiritual dari kelima kaisar itu ditolak mentah-mentah oleh *Inti Emas Kegelapan*-nya yang berputar gila-gilaan.
"Pemandangan yang cukup berlebihan untuk menyambut seorang tamu bisnis," Qixuan mengibaskan kipas gioknya, tatapannya menyapu kelima entitas purba tersebut satu per satu. "Satu direktur utama yang tidak kompeten, dan empat dewan komisaris tua yang baru saja bangun dari tidur siang mereka. Sekte Titah Langit benar-benar mempraktekkan nepotisme birokrasi yang klasik."
Kaisar Baidi menyipitkan matanya. Hawa membunuh meledak dari tubuhnya, membentuk proyeksi lautan darah di belakangnya.
"Bocah fana," suara Baidi bergema layaknya palu godam. "Lidahmu cukup tajam untuk seekor serangga. Kau membawa tumpukan besi tua ini ke rumah kami, mengira bahwa mainan pandai besimu bisa mengintimidasi dewa sejati?"
"Besi tua?" Qixuan tertawa pelan. "Kakek, 'besi tua' yang kau sebutkan ini baru saja menguapkan *Jaring Pembakar Langit* kebanggaan kalian tanpa sedikit pun hambatan. Kalian selalu membanggakan kultivasi kalian yang memakan waktu ribuan tahun. Kalian duduk di puncak gunung, menyerap qi alam layaknya parasit, mengira diri kalian sebagai pusat alam semesta. Kalian menolak berinovasi, menolak berdagang secara adil, dan memonopoli segalanya menggunakan ancaman."
Pemuda itu melipat lengan jubahnya. Tatapannya berubah menjadi sangat dingin, menusuk langsung ke jiwa kelima kaisar tersebut.
"Aku tidak datang untuk mengintimidasi. Aku datang untuk melakukan pemutusan hubungan kerja paksa (layoff). Era dewa-dewa yang hidup menyendiri telah berakhir. Mulai hari ini, alam semesta akan diatur oleh neraca saldo, industri massal, dan efisiensi modal. Dan kalian berlima... adalah pengeluaran yang tidak lagi diperlukan dalam pembukuanku."
Kaisar Cangming tidak bisa menahan tawanya. "Kesombongan yang luar biasa bodoh! Taiyi, apakah ini badut yang kau takutkan? Dia bahkan belum sepenuhnya menyentuh ranah *Domain Bumi*, apalagi *Kaisar Langit*. Dia hanyalah semut yang berdiri di atas tumpukan emas. Biarkan aku menenggelamkan seluruh armadanya ke dalam lautan ketiadaan!"
Kaisar Cangming mengangkat tongkat peraknya. Area langit dalam radius seratus kilometer di sekitar armada Qixuan mendadak berubah wujud. Udara kehilangan sifatnya, digantikan oleh air laut berwarna hitam kelam yang luar biasa padat. Ini bukan air biasa; ini adalah *Domain Samudra Ketiadaan*. Air ini memiliki sifat melarutkan segalanya, bahkan besi bintang sekalipun akan meleleh menjadi bubur spiritual jika tersentuh.
Kapal-kapal di barisan depan mulai berderit ngeri. Lempengan baja pelindung mereka mendesis mengeluarkan asap putih saat bersentuhan dengan air hitam tersebut.
"Tuanku! Perisai korosi kita terkikis dengan kecepatan ekstrem!" teriak Shen Feiyan dari belakang Qixuan, wajahnya memucat melihat cairan pembunuh yang mengepung mereka dari segala arah.
Qixuan tidak menoleh. Ia hanya menjentikkan jarinya ke arah udara kosong.
"Hong Lian. Mulai proses likuidasi aset tahap pertama."
"DENGAN SENANG HATI, TUANKU!" raungan antusias Hong Lian terdengar dari seluruh saluran komunikasi armada.
Di dalam ruang pembakaran di lambung dua ribu kapal terbang, operator penembak menarik tuas Koin Timbangan Surga. Lima ratus kapal di barisan terdepan tidak membidik kelima kaisar itu, melainkan mengarahkan moncong meriam mereka ke atas dan ke bawah, membidik lautan ketiadaan yang mengepung mereka.
*DZHUUUUUUUUMMMMM!!!*
Sepuluh ribu laras *Meriam Kiamat* memuntahkan sinar pemusnah secara serempak. Sinar hitam kemerahan yang ditenagai oleh Inti Matahari Buatan itu bertabrakan langsung dengan Domain Samudra Ketiadaan milik Kaisar Cangming.
Tabrakan antara hukum air absolut dari seorang Kaisar Langit melawan hukum panas dan ketiadaan industri kapitalis meledakkan fenomena alam yang mustahil dijelaskan dengan kata-kata.
Sinar meriam itu tidak dibelokkan. Sebaliknya, air hitam milik Kaisar Cangming *mendidih* dengan kecepatan yang melanggar hukum fisika. Panas dari pecahan matahari buatan itu sangat ekstrem. Dalam hitungan detik, lautan ketiadaan selebar seratus kilometer itu menguap total, berubah menjadi awan uap beracun yang tebal dan membutakan.
"Mustahil!" Kaisar Cangming memuntahkan seteguk darah emas. Domain adalah ekstensi dari jiwa seorang kultivator. Menguapkan domainnya berarti membakar jiwanya secara langsung. Pria tua itu terhuyung mundur, matanya dipenuhi teror absolut. "Api apa itu?! Bahkan Api Matahari Ilahi tidak memiliki kepadatan penghancur seperti itu!"
"Itu adalah api yang dibeli dengan investasi penuh dan tidak pernah mengeluh karena tidak digaji," Qixuan menjawab dengan nada datar dari balik uap tebal.
Kaisar Yanxing dan Kaisar Guxuan menyadari bahwa pemuda ini bukanlah ancaman kosong. Keduanya bergerak serentak.
"Jangan serang senjatanya! Bunuh pemiliknya!" teriak Kaisar Yanxing. Tubuhnya meledak menjadi ribuan gagak api hitam yang melesat menembus uap tebal, mengincar kepala Qixuan.
Di saat yang bersamaan, Kaisar Guxuan merapal mantra kutukan purba. Aksara-aksara raksasa berukuran sebesar gunung muncul di udara, membentuk rantai karma yang langsung melilit kapal bendera Qixuan, bertujuan mengunci pergerakan pemuda itu dan menyegel Dantiannya dari jarak jauh.
Qixuan berdiri tegak di tengah badai serangan dua kaisar purba tersebut. Ia sama sekali tidak memanggil pusaka pelindung.
"Mo Chen," panggil Qixuan ringan.
Dari dalam bayangan Qixuan, kegelapan mutlak menggenang dan meletus keluar. Mo Chen melesat ke udara. Sang Pengawal Bayangan telah menyerap tuntas energi dari *Inti Jiwa Kegelapan* dan berbekal pedang yang ditempa khusus menggunakan hukum *Pertukaran Setara*.
*Domain Bayangan Mutlak: Pemutus Takdir.*
Mo Chen mengayunkan pedangnya. Tebasan itu tidak mengeluarkan energi pedang berbentuk fisik, melainkan menciptakan robekan ruang hampa berwarna hitam di lintasan ayunannya. Robekan itu menyedot semua gagak api hitam milik Kaisar Yanxing sebelum burung-burung itu sempat menyentuh Qixuan. Gagak-gagak itu lenyap ke dalam dimensi ketiadaan tanpa meninggalkan sisa abu sedikit pun.
Bersamaan dengan itu, Qixuan menghentakkan kaki kirinya ke lantai kapal. *Inti Emas Kegelapan*-nya berdenyut, memancarkan resonansi elemen Bumi purba.
Rantai karma bertuliskan aksara raksasa milik Kaisar Guxuan yang melilit kapalnya tiba-tiba bergetar hebat. Qixuan menggunakan hukum gravitasi absolut untuk menekan rantai tak kasat mata itu. Aksara-aksara kutukan yang seharusnya mengikat jiwa Qixuan dihancurkan berkeping-keping oleh kepadatan elemen bumi yang sepuluh kali lipat lebih berat dari pada bintang padat.
"Hanya itu?" Qixuan mengangkat bahunya kecewa. "Empat kaisar kuno dan satu kaisar aktif, berkolaborasi menyerang seorang pebisnis muda, dan kalian tidak bisa menembus sekretarisku atau menggores sepatuku. Pembukuan sejarah kalian benar-benar penuh dengan manipulasi data."
Kaisar Baidi, dewa pembantai yang paling beringas, telah kehilangan sisa-sisa kesabarannya. Ia tidak menggunakan domain elemen. Ia mencabut sebuah pedang raksasa yang terbuat dari tulang naga purba berwarna merah darah.
"Aku akan membelahmu beserta seluruh mesin rongsokanmu ini menjadi dua bagian!" raung Baidi. Ia melompat menembus udara, kecepatannya melampaui batas pandang mata telanjang. Dalam sekejap mata, dewa pembantai itu sudah berada tepat di atas kepala Qixuan, mengayunkan pedang tulangnya dengan kekuatan fisik murni ranah *Kaisar Langit*.
Satu ayunan pedang itu membelah ruang dimensi, menciptakan celah hitam legam yang meluncur lurus ke arah dahi Qixuan.
Kematian jarak dekat ini tidak bisa dihindari oleh tembakan meriam, tidak pula bisa ditahan oleh pedang bayangan Mo Chen yang masih berada di udara.
Yan Ling dan Shen Feiyan memejamkan mata, menjerit ngeri.
Namun Qixuan bahkan tidak berkedip. Ia mengangkat lengan kirinya, menangkis bilah pedang tulang naga purba itu hanya menggunakan punggung tangannya yang polos.
*TRAAANNNNGGGG!!!!*
Dentuman suara benturan logam melawan logam bergema hingga memecahkan kaca-kaca di istana Titah Langit yang berjarak belasan kilometer di bawah sana. Gelombang kejutnya meratakan awan sisa uap di sekitar kapal.
Kaisar Baidi membelalakkan matanya yang berwarna merah darah. Rahangnya jatuh. Pedang tulang naga kelas dewa miliknya... tertahan. Bukan oleh perisai gaib, bukan oleh artefak, melainkan oleh kulit fana pemuda di depannya. Tidak ada setetes darah pun yang keluar dari punggung tangan Qixuan.
Di bawah lengan baju Qixuan, kulit tangannya memancarkan pendaran keemasan samar. Qixuan tidak mengandalkan kulit fananya. Ia telah menggunakan Koin Timbangan Surga untuk menukar kekuatan fisik pasifnya dengan energi pertahanan absolut menggunakan sisa cadangan urat bumi Benua Atas yang ia simpan di ruang dimensinya. Pertukaran itu membuat lengan Qixuan sesaat memiliki kepadatan massa setara dengan seluruh benua.
"Kau terlalu memaksakan diri, Kakek tua," bisik Qixuan, matanya yang sedingin es menatap lurus ke arah Baidi yang masih mematung karena syok. "Tulang punggungmu sudah lapuk."
Qixuan memutar pergelangan tangannya dengan gerakan kilat, mencengkeram bilah pedang tulang naga itu erat-erat. Sebelum Baidi sempat menarik senjatanya kembali, tangan kanan Qixuan yang diselimuti oleh gabungan *Api Inti Bumi* dan *Air Kegelapan (Yin)* menghantam tepat di tengah dada sang dewa pembantai.
*KRAAAK!*
Zirah pertahanan spiritual milik Baidi hancur berantakan. Dadanya penyok ke dalam. Gabungan panas ekstrem dan dingin mematikan langsung menginvasi meridian jantungnya, mematikan laju peredaran qi purbanya.
Baidi memuntahkan darah yang bercampur dengan serpihan es hitam, tubuh raksasanya terlempar melesat mundur ke angkasa layaknya bola meriam, jatuh menabrak salah satu menara pengawas di batas ibukota dengan ledakan yang menghancurkan seluruh area tersebut.
Satu kaisar purba telah dilumpuhkan dalam pertarungan fisik satu lawan satu melawan pemuda yang tidak menggunakan senjata apa pun.
Huangpu Taiyi, Kaisar Cangming, Yanxing, dan Guxuan terdiam mematung di udara. Kengerian murni akhirnya merayapi benak mereka. Selama ini mereka menganggap kekuatan Qixuan murni berasal dari armada artilerinya dan harta kekayaannya. Mereka tidak menyadari fakta yang paling mengerikan: Sang Dewa Kekayaan sendiri adalah sebuah mesin pembunuh biologis yang menelan hukum Dao untuk sarapannya.
Qixuan menurunkan tangannya, menepuk-nepuk lengan bajunya yang sedikit berdebu. Ia mengalihkan pandangannya ke arah sisa empat kaisar yang kini berdiri gemetar dalam formasi bertahan.
"Evaluasi kinerja selesai," Qixuan mengumumkan dengan nada tanpa emosi yang absolut. "Kalian tidak memiliki aset tersisa untuk ditawarkan, tidak memiliki kekuatan tempur yang layak dibeli, dan menolak untuk menyerah."
Pemuda itu memutar tubuhnya, berjalan kembali ke arah kursinya di tengah anjungan kapal. Ia menjentikkan jari kanannya tinggi-tinggi di udara.
"Hong Lian. Putaran kedua. Jangan bidik lalat-lalat tua ini. Arahkan kelima puluh ribu meriam itu langsung ke arah istana di bawah sana. Ratakan ibukota Titah Langit hingga rata dengan tanah. Kita akan membangun pasar malam besar-besaran di atas puing-puing singgasana mereka."
"DITERIMA DENGAN JELAS, PANGLIMA TERTINGGI!"
Raungan mesin di dua ribu kapal kembali mendengung. Moncong-moncong perak kehitaman itu tidak lagi membidik para dewa di udara, melainkan miring ke bawah, mengunci setiap istana pualam, paviliun giok, dan asrama sekte di ibu kota.
Wajah Huangpu Taiyi berubah menjadi seputih kertas. Ibukota itu adalah jantung kekaisarannya. Jika hancur, garis keturunan Sekte Titah Langit akan terhapus selamanya dari buku sejarah alam semesta.
"J-JANGAN!" Taiyi menjerit putus asa, kehilangan seluruh kewibawaan surgawinya. "Kami menyerah! Kami akan membayar upeti! Ambil separuh dari Benua Tengah!"
Qixuan duduk di kursinya, menyandarkan kepalanya dan memejamkan mata menikmati hembusan angin.
"Penawaran ditolak. Aku tidak pernah melakukan diskon pada perusahaan yang sudah kunyatakan bangkrut."
Satu detik kemudian, langit Benua Tengah runtuh. Hujan sinar pemusnah membakar segalanya, menghapus milenium keagungan surgawi, dan meresmikan kekuasaan absolut sang tiran dari Benua Timur. Monopoli sejati dunia kultivasi tidak dinegosiasikan; monopoli itu dipahat di atas lautan api kiamat.