NovelToon NovelToon
DIKIRIM KE PESANTREN, MALAH JATUH CINTA PADA ANAK KYAI

DIKIRIM KE PESANTREN, MALAH JATUH CINTA PADA ANAK KYAI

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:912
Nilai: 5
Nama Author: putra ilham

Reno Wijaya, CEO muda yang tampan, kaya, dan sangat dingin. Baginya, semua perempuan itu sama saja: matre dan cuma mengincar hartanya. Karena keras kepala dan selalu menolak dijodohkan, Ayah menghukumnya dengan mengirim Reno masuk ke Pesantren Al-Falah di pedalaman Kalimantan.

Awalnya Reno benci sekali, menganggap tempat ini neraka dan isinya orang kampung semua. Sikapnya masih sombong, angkuh, dan meremehkan semua orang. Sampai ia bertemu Zahrana, anak Kyai yang cantik sederhana, lembut, dan tulus. Untuk pertama kalinya, Reno bertemu perempuan yang sama sekali tidak peduli siapa dirinya dan apa kekayaannya.

Perlahan rasa benci berubah jadi penasaran, lalu tumbuh jadi cinta yang mengubah hidupnya total. Reno belajar menjadi rendah hati, berprinsip, dan setia. Meski kembali memimpin perusahaan besar dan dikelilingi banyak wanita cantik, hatinya tetap utuh hanya untuk Zahrana.

Dulu dikirim sebagai hukuman karena sifat buruknya, ternyata justru di sanalah Reno menemukan jati dirinya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon putra ilham, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 17

Perjalanan pulang dari Pesantren Al-Falah menuju kota besar tempat Reno dibesarkan memakan waktu hampir seharian penuh. Mobil mewah yang mengantarnya melaju mulus membelah jalanan beraspal, perlahan meninggalkan kehijauan dan kesunyian desa, beralih memasuki wilayah yang makin ramai, makin padat, dan makin bising oleh klakson kendaraan serta hiruk-pikuk aktivitas manusia. Pemandangan di luar jendela berubah drastis; pohon-pohon besar dan hamparan sawah berganti dengan gedung-gedung pencakar langit, papan iklan berwarna-warni, dan jalanan yang penuh sesak kendaraan. Seolah ia sedang melintasi batas antara dua dunia yang bertolak belakang: satu dunia yang mengajarkannya arti hidup, dan satu dunia tempat ia harus membuktikan arti hidup itu.

Di dalam mobil itu, suasananya senyap. Reno duduk di kursi belakang, menatap kosong ke luar kaca, namun pandangannya tak benar-benar melihat apa pun yang ada di depannya. Pikirannya, hatinya, dan seluruh jiwanya masih tertinggal di belakang sana, di tepi sungai, di bawah pohon beringin, di dalam senyum teduh milik seseorang yang kini menjadi pusat dunianya. Di sana ia tinggalkan dunia yang sederhana, damai, penuh ketulusan, dan tempat di mana hatinya bersemi serta tumbuh menjadi dewasa. Di depan sana, menantinya dunia yang bising, penuh persaingan, kemewahan, dan jutaan godaan yang dulu sempat membuatnya hancur, kosong, dan kehilangan arah.

Namun yang paling terasa menyesakkan dada Reno bukanlah ketakutan menghadapi masa depan, melainkan rasa itu. Rasa yang sama yang menghantuinya sejak hari-hari terakhir di pesantren, rasa yang makin tajam seiring setiap kilometer yang ia tempuh menjauh: Rasa Kurang.

Reno meraba dada kirinya, tempat di mana tersimpan erat kain sarung tenun pemberian Zahrana yang sudah dilipat rapi dan dibungkus plastik bersih, diletakkan di bagian paling dalam tasnya, seolah-olah itu adalah barang paling berharga yang ia miliki, jauh melebihi harga mobil yang ia tumpangi maupun seluruh aset perusahaan ayahnya. Setiap kali jari-jarinya menyentuh tekstur kasar namun hangat itu, samar-samar ia masih bisa mencium aroma khas tanah, hutan, dan aroma wangi bunga yang selalu melekat pada diri Zahrana. Aroma yang menjadi satu-satunya penenang di tengah kekosongan yang mulai menganga lebar di dadanya.

“Masih kurang, Zahra. Rasanya aku belum cukup memelukmu, belum cukup mendengar suaramu, belum cukup duduk diam menatap wajahmu sampai puas. Sekarang aku makin jauh, makin terpisah, dan rasa kurang ini makin menggerogoti setiap inci napasku. Rasanya separuh jiwaku tertinggal di sana, menempel pada batang pohon beringin, mengalir bersama arus sungai, dan bersembunyi di balik senyummu. Aku merasa miskin, Zahra, sungguh miskin tanpa kehadiranmu. Tapi aku janji… rasa kurang inilah yang akan menjadi bahan bakarku untuk membangun segalanya, supaya nanti saat kita bertemu lagi, aku bisa berkata padamu: 'Sudah lunas. Semua rasa kurangku telah kubayar dengan perjuangan dan kesetiaan ini.'”

Menjelang sore, mobil itu akhirnya melaju masuk ke gerbang besar kompleks perumahan elit di pusat kota. Jalanan lebar, bersih, rapi, dan dipenuhi pohon-pohon besar yang tertata apik. Rumah-rumah di sana bukan lagi sekadar tempat berteduh, melainkan istana-istana megah yang memancarkan kekayaan dan status sosial. Sampailah mobil itu di halaman kediaman besar Bapak Wijaya. Sebuah bangunan mewah bergaya klasik modern yang luasnya seolah tak bertepi, dengan halaman rumput hijau yang terawat sempurna, kolam air mancur yang memancar indah, dan pagar tinggi besi tempa yang kokoh.

Dulu, bagi Reno, tempat ini adalah surga dunia. Tempat di mana ia bisa mendapatkan apa saja hanya dengan jentikan jari. Tempat di mana ia hidup tanpa kekurangan satu apa pun, namun hatinya justru paling miskin dan kosong. Tapi sekarang, saat ia memandang bangunan itu, hatinya tak lagi melonjak gembira atau penuh rasa bangga. Ia justru merasa asing, merasa sempit, dan merasa dingin. Rumah ini megah, penuh perhiasan, dan benda berharga, tapi rasanya tak ada nyawanya dibandingkan gubuk kayu pesantren yang sederhana namun hangat penuh kasih sayang dan doa. Di sini, semuanya terlihat sempurna, namun terasa hambar.

Pintu mobil terbuka. Reno melangkah turun. Kakinya menginjakkan tanah aspal yang halus dan dingin, berbeda dengan tanah gembur dan hangat yang biasa ia pijak setiap hari selama setahun ini. Ia berdiri tegak, sorot matanya tajam namun teduh, postur tubuhnya gagah dan berwibawa, memancarkan aura yang jauh berbeda dari sosok manja yang dulu pergi dari sini setahun lalu. Kulitnya yang kini sawo matang, otot yang padat, dan raut wajah yang tenang menjadi bukti nyata perubahan yang telah terjadi.

Di depan pintu utama, Bapak Wijaya sudah berdiri menunggu bersama beberapa kerabat dekat dan staf kepercayaannya. Wajah Bapak Wijaya tampak campur aduk antara gembira, lega, namun juga masih takjub melihat perubahan drastis pada anak tunggalnya itu. Matanya menatap Reno dari ujung kaki hingga kepala, seolah tak percaya pemuda tegap di depannya ini adalah anak yang dulu selalu membuatnya pusing dan kecewa karena kelakuan manja dan pemarahnya.

“Reno… kamu sudah pulang, Nak,” sapa Bapak Wijaya dengan suara bergetar, segera melangkah mendekat dan merangkul tubuh tegap anaknya itu erat-erat. Pelukan yang hangat, penuh kasih sayang seorang ayah yang merindukan putra satu-satunya dan merasa lega karena buah hatinya telah kembali selamat dan berubah menjadi jauh lebih baik.

Reno membalas pelukan itu dengan sama eratnya. Ia mencium tangan ayahnya dengan rasa hormat yang begitu dalam, sesuatu yang dulu hampir tak pernah ia lakukan dengan tulus.

“Iya Ayah. Reno sudah pulang. Maafkan Reno yang dulu durhaka, yang dulu menyusahkan Ayah dengan kelakuan bodoh, keras kepala, dan tak tahu diri. Lihatlah… Reno pulang membawa diri yang baru, diri yang sudah dibersihkan, ditempa, dan disadarkan. Tapi percayalah, Ayah… rasanya hati ini belum penuh sepenuhnya. Rasanya masih kurang, masih ingin kembali ke sana, ke tempat yang mengajarkan saya arti menjadi manusia yang sesungguhnya. Rasanya dunia ini terasa terlalu kecil kalau dibandingkan luasnya hati yang saya temukan di sana.”

Bapak Wijaya melepaskan pelukannya, menatap wajah anaknya lekat-lekat, mengusap pipi yang kini kasar dan berkulit gelap itu dengan air mata yang mulai menggenang di pelupuk matanya.

“Benar-benar luar biasa… Ayah hampir tak mengenalimu. Kamu bukan lagi anak kecil yang manja dan pemarah itu. Kamu sudah berubah menjadi laki-laki sejati. Ayah bangga sekali, Nak. Sangat bangga. Dan rasa 'kurang' yang kau rasakan itu, Ayah mengerti. Itu tandanya hatimu sudah penuh dengan kebaikan, sampai-sampai tempat ini terasa kurang untuk menampungmu. Tempatmu sekarang bukan hanya di sini, tapi di mana pun kebaikan itu berada.”

Malam itu, jamuan makan malam disiapkan secara mewah dan megah di ruang makan utama yang besar. Meja panjang marmer itu penuh sesak dengan berbagai macam hidangan lezat, makanan impor, dan minuman mahal yang dulu merupakan makanan sehari-hari Reno. Para pelayan berjalan mondar-mandir dengan sopan dan senyum terukir. Suasana yang dulu dianggapnya sebagai puncak kemewahan dan kenikmatan.

Namun, saat semua orang sibuk memuji hidangan dan menikmati makanan itu dengan lahap, Reno justru duduk diam, menatap makanan di piringnya dengan perasaan yang aneh. Makanan ini enak sekali, lembut, gurih, sempurna rasanya. Tapi di lidah dan di hatinya, rasanya tak ada bedanya, bahkan terasa kurang dibandingkan nasi jagung hangat, sayur daun singkong, dan ikan asin sederhana yang dulu ia makan dengan lahap bersama teman-teman santri. Karena dulu ia makan dengan hati yang penuh rasa syukur, penuh rasa kebersamaan, dan penuh bayang-bayang senyum Zahrana. Di sini, makanannya mewah, tapi suasananya dingin, kaku, penuh formalitas, dan hanya dipenuhi pembicaraan tentang uang, bisnis, dan status sosial.

“Kenapa tidak makan, Reno? Kurang enak? Atau ada yang membuatmu tak nyaman?” tanya Bapak Wijaya yang melihat anaknya hanya diam melamun, sendok dan garpunya tak bergerak sama sekali.

Reno tersenyum tipis, menggeleng pelan.

“Bukan, Ayah. Rasanya luar biasa enak dan sempurna. Cuma… lidahku sepertinya sudah berubah. Aku jadi paham sekarang, rasa enak itu bukan karena mahal atau mewahnya bahan, tapi karena apa yang ada di hati saat memakannya. Di sana, makan seadanya rasanya jadi makanan paling enak sedunia karena hatiku sedang bahagia dan bersyukur. Di sini, makanan paling mewah pun rasanya biasa saja, bahkan terasa hambar, karena hatiku sedang merasa kurang. Kurang suasana itu, kurang orang-orang itu, dan kurang dia yang menjadi alasanku tersenyum.”

Semua orang di meja itu terdiam, saling pandang dengan takjub. Kata-kata Reno bukan lagi kata-kata anak muda, tapi kata-kata orang bijak yang sudah mengerti hakikat kehidupan dan rasa cinta yang murni. Bapak Wijaya hanya tersenyum tipis, paham betul bahwa di dalam hati anaknya kini bersemai satu cinta yang suci dan kuat, yang menjadi sumber kekuatan terbesarnya.

Malam makin larut. Reno masuk ke kamarnya sendiri. Ruangan yang dulunya menjadi tempat favoritnya, seluas gedung pertemuan, ber-AC dingin, perabotan kayu mahoni, kasur selembut awan, dan fasilitas lengkap yang bisa membuat orang betah seumur hidup. Tempat yang dulu dianggapnya surga pribadi.

Namun begitu pintu tertutup dan ia sendirian, Reno langsung merasakan kesepian yang tiba-tiba menyeruak, jauh lebih sunyi dan lebih menyakitkan dari yang ia bayangkan. Di pesantren, malam hari dipenuhi suara jangkrik, suara aliran sungai, suara teman-teman mengaji atau mengobrol ringan sampai lelap. Di sini, hanya ada keheningan mencekam yang menyesakkan dada, seolah dinding-dinding besar ini sedang menahan napasnya.

Reno duduk di pinggir kasur empuk itu. Ia melepas sepatu, membuka tasnya, dan mengeluarkan benda-benda kesayangannya: sandal anyaman buatan tangan Zahrana, catatan-catatan kecil tulisan tangan Kyai Ahmad, dan tentu saja kain sarung tenun yang paling berharga itu. Ia memeluk kain sarung itu erat-erat, menempelkannya ke dada dan wajahnya, seolah sedang memeluk sosok yang dicintainya itu.

“Zahra… sekarang aku sudah ada di tempat megah yang dulu aku impikan. Aku sudah punya semuanya. Rumah besar, kasur empuk, makan enak, pelayan banyak. Tapi aku miskin, sayang. Aku miskin sekali. Aku miskin karena tak ada kamu di sini. Aku miskin karena setiap detik rasanya aku sedang kurang. Kurang senyummu, kurang tawamu, kurang pandangan matamu yang selalu menguatkanku. Tapi sabar ya… aku sedang mulai perjuangan yang sesungguhnya sekarang. Aku harus membuktikan kalau aku mampu menjaga diriku, menjaga prinsipku, dan mengelola amanah ini supaya rasa kurang ini terbayar lunas saat aku datang menjemputmu nanti.”

Malam itu Reno sulit tidur. Kasur yang terlalu empuk membuat punggungnya sakit, karena selama setahun ia terbiasa tidur di atas tikar anyaman yang datar dan keras. Ia bangun, duduk bersila di tepi jendela yang terbuka, menatap langit malam kota yang remang karena tertutup polusi cahaya. Ia mencari rasi bintang yang sama yang biasa ia lihat bersama Zahrana di pinggir sungai dulu. Ia yakin, di sana, di pesantren yang jauh itu, Zahrana juga sedang menatap langit yang sama, memeluk bantalnya, dan merasa hal yang sama: Kurang.

Keesokan harinya, Reno memulai babak baru kehidupannya secara resmi. Sesuai janji dan kesepakatan, ia mulai masuk ke kantor pusat perusahaan Bapak Wijaya. Gedung pencakar langit yang megah, kaca-kaca berkilauan, lift cepat, udara ber-AC dingin, dan ribuan karyawan yang sibuk berlalu-lalang. Suasana yang dulu hanya dipandangnya sebagai tempat mencari uang dan kekuasaan semata.

Saat melangkah masuk ke lantai pimpinan, semua mata tertuju padanya. Para direktur dan manajer yang dulu mengenalnya sebagai anak muda yang manja, pemalas, dan suka memerintah seenaknya, kini menatapnya dengan mata tak percaya. Yang masuk ke ruangan itu bukan lagi 'Tuan Muda Reno' yang mereka kenal dulu. Yang masuk adalah seorang pemuda gagah, berwibawa, tatapan matanya tajam namun teduh, berjalan tegap namun rendah hati, berpakaian rapi namun sederhana, dan senyumnya ramah menyapa siapa saja dari staf kebersihan sampai manajer senior.

Pertemuan evaluasi besar pun dimulai. Di sana, duduklah para orang tua, para ahli, dan orang-orang berpengalaman yang menguasai bidang bisnis ini puluhan tahun. Dulu, Reno kalau bicara hanya mengandalkan emosi, marah-marah kalau tak sesuai mau, dan bicara sembarangan tanpa ilmu.

Kini, saat Reno bicara, seluruh ruangan hening mendengarkan. Ia berbicara dengan data yang akurat, logika yang tajam, namun cara penyampaiannya lembut, adil, dan penuh pertimbangan. Ia mengakui kesalahan masa lalu, mendengarkan masukan orang lain dengan rendah hati, dan memberikan keputusan yang tegas namun bijaksana, persis seperti cara Kyai Ahmad dan cara ia memimpin santri di pesantren dulu. Ia mengajukan ide-ide baru yang sederhana namun mendasar: mensejahterakan karyawan paling bawah, menjaga kejujuran transaksi, dan memberi manfaat bagi lingkungan sekitar. Hal-hal yang tak pernah dipikirkan oleh pemimpin bisnis pada umumnya.

“Pak Wijaya Muda… sungguh luar biasa. Perubahan ini ajaib. Ide-ide Bapak segar, jernih, dan sangat bermanfaat. Kita tak menyangka setahun di sana mengubah Bapak jadi sehebat ini,” puji salah satu direktur senior dengan wajah kagum tak terhingga.

Bapak Wijaya yang duduk di kursi utama hanya tersenyum bangga sampai matanya berkaca-kaca. Ia tahu, harta terbesar yang ia miliki sekarang bukanlah aset perusahaan, melainkan anaknya yang sudah kembali menjadi manusia utuh dan mulia ini.

Namun tantangan sesungguhnya baru dimulai. Di hari-hari dan minggu-minggu berikutnya, Reno mulai diuji dengan hal-hal yang dulu menjadi kelemahannya parah. Rekan bisnis yang mengajak bersenang-senang ke tempat hiburan malam, rekan yang ingin memberi suap demi keuntungan cepat, orang-orang yang mau memuji berlebihan demi kepentingan sendiri, dan godaan wanita-wanita cantik yang dulu selalu mengelilinginya seolah tak ada hari esok.

Suatu sore, seorang rekan bisnis lama yang sudah lama tak bertemu, mengajaknya ke klub malam elit, tempat hiburan yang dulu hampir jadi rumah kedua baginya.

“Ayo lah Reno! Kamu sudah pulang, sudah selesai masa hukuman. Sekarang saatnya menikmati hasil. Kita minum-minum, bersenang-senang, ada gadis-gadis cantik semua di sana.

1
Rima R P
katanya anak kiyai dan pesantren ko ga pake hijab ka di liatin cowo bukan nya buru" nyari hijab ini santuy aja 🤣
T28J
baiklah 👍👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!