Berawal dari pertemuan di sebuah pernikahan menjadi kisah cinta yang rumit. Kisah antara Devika Nala Arutala dengan Raditya Arya Wijaya. Bagi Arya, Nala bukan hanya masa kini namun juga masa lalu. Masa lalu yang tak mungkin bisa ia lupakan begitu saja.
Berawal dari pertemuan tanpa sengaja di sebuah pernikahan. Sekian lama kembali bertemu, Arya mengetahui sebuah rahasia tentang kisah mereka di masa lalu, membuat tekadnya yang padam menjadi membara.
Pertemuan mereka bukanlah hanya sebuah kebetulan, namun takdir. Bertemu kembali, mengulang kisah. Jika dahulu berakhir menyedihkan, maka kini haruslah indah. Air mata yang dulu tumpah haruslah berganti menjadi pelangi.
Waktu mungkin saja berjalan, namun hati selalu tahu tempat mereka pulang. Bunga yang layu mampu kembali mekar, sama seperti manusia. Ada saatnya kita layu untuk merenung dan mekar untuk bersinar. Cinta sejati tidak pernah benar-benar mati, ia hanya layu untuk mengajarkan kita cara merawatnya dengan lebih baik.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anyelir 02, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 6 - Bangun
Ruang rawat Nala, RS Azalea
Pagi datang, matahari menyingsing dengan membawa sinar kehangatan. Dipta yang sejak semalam terjaga, terlihat tertidur sambil memegang tangan adiknya. Dipta yang awalnya tertidur kembali terbangun saat merasakan gerakan di tangannya. Tangan Nala bergerak, tanda bahwa Nala telah sadar.
“Nala. Nala, dek!” panggil Dipta
Kemudian segera memencet tombol untuk memanggil dokter atau perawat yang berjaga. Dokter dan perawat datang, memeriksa keadaan Nala.
“Tenang saja, pak. Pasien sudah mulai sadar dan suhu tubuhnya sudah mulai menurun. Mungkin setelah ini, pasien akan segera sadar.”
“Terima kasih dok!”
“Sus, ganti cairan infusnya dan ubah kecepatannya. Oh iya pak, untuk obatnya anda bisa ambil di bagian obat.”
“Baik dok!”
Dipta merasa lega. Kondisi Nala yang membaik, sungguh kabar yang baik. Dirinya segera memberitahu istri serta keluarga mertuanya. Mereka pasti menunggu kabar ini.
...****************...
Maya yang baru saja menyelesaikan shiftnya melihat ke ponselnya. Pesan sang suami beberapa jam yang lalu, belum sempat ia buka. Senyum Maya tampil saat selesai membaca pesan dari suaminya. Kabar Nala mulai membaik, sungguh kabar yang menggembirakan. Jam kerjanya telah selesai, ia segera berlari menuju ruang rawat Nala. Adik ipar sekaligus sahabatnya membaik, mana mungkin ia tak menjenguk. Apalagi masih berada di rumah sakit yang sama, tentu saja dia harus kesana bukan.
Sesampainya di ruangan Nala, tempat itu sudah cukup ramai. Disana sudah ada 2 sahabat yang lain beserta pasangan mereka. Tak lupa orang tua Maya pun sudah duduk di sofa yang tersedia di ruang rawat Nala.
“Wah lihat, putri tidur sudah bangun rupanya!”
Nala yang masih lemas, hanya bisa merespon tersenyum. Kehadiran Maya, menambah kehangatan dalam ruang rawatnya.
“Gini-gini gue adik ipar yang ngangenin kan!” canda Nala
Semua tertawa melihat begitu akrabnya kedua ipar itu. Dipta yang baru saja keluar dari kamar mandi, menyadari kehadiran istrinya.
“Baru selesai shiftnya, May?”
“Iya, mas. Baru saja. Tadi selesai jam kerja aku langsung kesini.” Maya mendekat ke arah suaminya dan menyaliminya. Tak lupa juga ia menyalimi kedua orang tuanya.
“Nduk, lapar? Ini mama tadi bawa bubur buat kamu. Sekalian buat Nala dan Dipta tadi.”
Maya mendekat ke tempat ibunya. Melihat bubur ayam yang tampak menggoda itu. Harumnya begitu menggelitik hidungnya, membangunkan cacing perut untuk berdisko.
“Wah, mama tau aja kalau Maya lagi lapar!”
Maya melihat satu kotak lagi yang beluk terbuka. Menyadari bahwa makanan itu untuk dirinya, Nala dan suaminya. Dirinya melihat kotak makan itu di nakas dekat brankar Nala, menandakan Nala telah memakan bubur. Satu kotak untuknya, maka kotak itu berarti—
“Mas, kamu belum makan?” tanya Maya memastikan dugaannya.
Dipta menggeleng. Dirinya memang belum memakan apapun sejak pagi tadi. Bubur yang disiapkan mertuanya belum ia sentuh. Setelah menyuapi Nala tadi, dirinya tak berselera untuk makan. Sibuk mengurusi Nala, tak sempat melakukan apapun. Bahkan ke kamar mandi, baru sempat ia lakukan. Dirinya tak mungkin membiarkan Nala sendirian tanpa penjagaan.
Maya menyadari bahwa suaminya terlalu mengkhawatirkan Nala. Maya tau Nala adalah keluarga yang tersisa. Nala adalah adik kesayangannya. Perjuangan Dipta dalam menjaga Nala, dia adalah saksinya.
“Abang belum, May. Ajak abang makan ya. Mungkin abang nunggu kakak ipar biar makan bareng.”
Maya melihat ke arah Nala. Nala segera mengode Maya dengan mengedipkan matanya menunjuk ke arah kakaknya.
Maya segera menarik Dipta keluar sambil membawa kotak makan miliknya dan suaminya.
“Kita makan di kantin.” ajak Maya
“Tapi—“
“Tenang bang, Nala banyak yang jaga. Lihat ada Mama Ayu, Papa Fajar, Zara, Citra sama Arsyad dan Agas. Abang bisa makan dengan tenang sama Maya, oke?” Nala tau kakaknya terlalu mengkhawatirkan dirinya hingga melupakan dirinya sendiri. Jika tak dipaksa begini, mungkin kakaknya tak akan segera makan.
“Iya mas, Nala banyak yang menjaganya. Sekarang giliran mas yang beristirahat. Kalau mas ikut sakit, yang jaga Nala nanti siapa. Yang jaga aku sama Bayu juga siapa kalau mas ikutan sakit, hm?” bujuk Maya. Tak lupa tatapan memohon yang tak mungkin di tolak Dipta.
“Baiklah. Mas mana mungkin menang kalau kamu udah kayak begini dek!”
“Nala, abang makan dulu. Jangan kemana-mana, jangan lakuin yang aneh-aneh. Tetap di tempat tidur, jangan makan junkfood dulu, mengerti?”
“Siap! Tapi jangan lupa bawakan teh hangat untuk Nala. Yang manis!”
“Iya abang bawakan nanti.” Dipta mengelus kepala adiknya dengan sayang.
“Ma, pa. Kami ke kantin dulu.” pamit Dipta
“Iya, sana. Makan yang banyak, bersantailah sejenak. Mama dan papa yang jaga Nala. Kamu nggak usah khawatir, le!”
“Iya, ma. Dipta titip Nala.”
...****************...
Brak!!
“Sebenarnya bagaimana kinerja kalian! Mengerjakan laporan aja nggak becus!”
Suasana dalam ruangan begitu mencekam. Semua karyawan gang mendengar teriakan amarah sang bos seketika menjadi takut. Bahkan karyawan yang diluar ikut merinding mendengar gebrakan di ruangan sang bos.
“Kevin, suruh mereka mengerjakan ulang. Semuanya. Periksa dengan teliti sebelum diberikan. Mengerti?!”
“Baik bos!”
Sebagai asisten sekaligus sekretaris dari seorang Raditya Arya Wijaya, Kevin tak mungkin menolak sebuah perintah yang diberikan. Apalagi kondisi bosnya yang sedang tak stabil.
“Keluar semuanya!”
Semuanya serempak keluar dari ruangan, tanpa menunggu perintah untuk yang kedua kalinya. Mereka sudah merasa tertekan dengan aura dominan dari bos mereka. Meskipun hal ini sering terjadi, namun mereka tetap saja merasa takut saat amarah mereka sedang meledak.
“Pak Kevin, ada apa dengan bos? Kenapa dia hari begitu marah?” tanya seseorang karyawan yang penasaran. Memang bosnya hampir setiap hari marah, melontarkan kalimat tajam bahkan tatapannya pun mampu menghunus. Namun hari ini terlihat berbeda.
“Tidak ada masalah. Kalian daripada kepo, mending kerja yang bener biar nggak kena marah seperti hari ini.”
“Eh, Pak Kevin nggak mau bocorin, nih!”
“Sana pada balik!” usir Kevin. Kevin sangat tau alasan bosnya yang emosional jari ini. Ini adalah akibat acara keluarga kemarin. Semua menyinggung pasal pasangan dan perjodohan. Sedangkan dalam hati bosnya sudah tersemat sebuah nama yang tak mungkin tergantikan. Dan hari ini adalah anniversary mereka sekaligus hari dimana si perempuan menghilang tiba-tiba.
Tap
Tap
“Pak Kevin, saya membawa laporan terkait ‘dia’.” Kevin menerima laporan itu dan membacanya. Tak ia sangka, mereka berhasil menemukannya setelah mencari sekian lama. Bahkan ‘dia' sangat dekat dengan sang bos.
“Pergilah. Pantau ‘dia' terus. Jangan sampai ada yang tau.”
“Baik, pak!”
Kevin sekarang di serang kebimbangan. Dia ingin melaporkan hal ini, namun suasana sang bos sedang tak mendukung. Apalagi, berdasarkan laporan yang diterima bahwa wanita itu sedang berada di rumah sakit. Jika bosnya tak mampu menahan dan bersikeras untuk bertemu, suasana akan sangat runyam. Selain itu, kemungkinan hubungan lain yang terjalin akan putus karena masalah ini.
“Kenapa bisa baru diketahui kalau dia adalah adik beliau?” Kevin sangat tak memahami apa yang sebenarnya terjadi.