Anya Anandita tidak pernah menyangka hidupnya akan sekacau ini. Di tengah himpitan utang medis mendiang ayahnya dan ancaman kehilangan tempat tinggal, ia justru dipertemukan lewat insiden memalukan dengan Devan Alfarezel CEO muda berhati dingin, arogan, dan perfeksionis yang paling dihindari semua karyawan di perusahaannya. Pertemuan pertama mereka berjalan buruk, menyisakan kekesalan mendalam di hati masing-masing.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Royo Ekek, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kebenaran di Balik Jurang
Kata-kata Devan barusan terasa seperti hantaman ombak raksasa yang meruntuhkan seluruh fondasi ketenangan Anya. Langkah kakinya otomatis mundur dua langkah, menjauh dari pria yang beberapa menit lalu begitu ingin ia peluk. Ruangan penthouse yang mewah ini mendadak terasa mencekam, seolah-olah bayangan masa lalu yang kelam merayap keluar dari sudut-sudut dinding marmernya.
"Kau... kau mengejarnya?" suara Anya bergetar hebat, hampir menyerupai bisikan yang tertahan di tenggorokan. "Jadi, semua tuduhan itu benar? Kau menyembunyikan ini dariku, Devan?"
Devan melihat ketakutan yang nyata di mata Anya ketakutan yang ditujukan langsung pada dirinya. Pemandangan itu menggores hati Devan jauh lebih dalam daripada tusukan belati mana pun. Ia melangkah maju, mencoba meraih jemari Anya, namun Anya dengan cepat menarik tangannya kembali, menolak sentuhannya.
Devan menurunkan tangannya dengan lemas. Ia menghela napas panjang, sebuah suara yang sarat akan keputusasaan pria yang terpojok oleh dosanya sendiri.
"Aku mengejarnya, Anya. Tapi bukan untuk mencelakainya," ucap Devan, suaranya terdengar serak dan hancur, kehilangan seluruh wibawa seorang CEO Alfarezel Group. "Malam itu... malam sebelum kecelakaan, aku mengetahui sebuah fakta mengerikan. Clara bukan wanita seperti yang kupikirkan selama ini. Dia bekerja sama dengan faksi Karina dan sindikat bisnis hitam lama untuk menjebakku."
Anya tertegun, namun matanya tetap memancarkan keraguan yang besar.
"Menjebakmu bagaimana?"
Devan berjalan menuju meja bar, menuangkan air putih ke dalam gelas dengan tangan yang sedikit bergetar, lalu meminumnya hingga tandas. Ia bersandar pada meja, menatap lantai dengan pandangan menerawang jauh ke masa enam tahun lalu.
"Clara mendekatiku atas perintah mereka. Tugasnya adalah menyusup ke dalam sistem operasional pribadiku, menyalin dokumen-dokumen penting, dan menanamkan bukti palsu seolah-olah aku melakukan penggelapan dana siber senilai ratusan miliar," lanjut Devan, rahangnya mengetat menahan emosi. "Malam itu, aku memergokinya sedang mengunduh data dari laptop pribadiku di apartemen lama. Ketika dia tahu penyamarannya terbongkar, dia panik. Dia mengambil kunci mobilnya dan berlari keluar seperti orang kesurupan."
Anya mendengarkan dengan napas yang tertahan di dada. Cerita ini mulai bergeser dari narasi mengerikan si penelepon misterius, namun ketegangannya tidak berkurang sedikit pun.
"Dia membawa flashdisk yang berisi data krusial perusahaan yang jika bocor, akan menghancurkan Alfarezel Group dalam semalam. Aku mengejarnya dengan mobilku hanya untuk menghentikannya, untuk mengambil kembali data itu, dan menuntut penjelasan mengapa dia tega mengkhianati kepercayaanku," Devan mendongak, menatap langsung ke dalam manik mata Anya. Ada kilat kepedihan yang murni di sana. "Jalanan malam itu sangat licin karena hujan badai, persis seperti malam ini. Aku terus membunyikan klakson, memintanya untuk menepi melalui lampu sorot mobilku."
"Lalu... tentang telepon darurat itu?" tanya Anya, suaranya mulai melunak, meskipun kewaspadaannya belum sepenuhnya turun.
"Clara menelepon nomor darurat kepolisian dalam kondisi panik dan histeris. Dia memutarbalikkan fakta, mengatakan bahwa aku mencoba membunuhnya untuk menutupi kejahatanku. Dia sengaja melakukan itu agar polisi datang dan melindunginya dari kejaran eksekutifku," Devan mengepalkan tangannya.
"Aku melihat dengan mata kepalaku sendiri, Anya. Saat kami berada di jalur menikung tajam di daerah Puncak, mobil Clara tiba-tiba melesat lurus, menghantam pembatas jalan, dan terjun ke jurang. Aku langsung menghentikan mobilku, berlari ke pinggir jurang di tengah badai, mencoba mencarinya... tapi semuanya sudah terlambat."
Keheningan kembali menyelimuti penthouse. Anya bisa merasakan ketulusan sekaligus luka yang mendalam dari setiap kata yang diucapkan Devan. Pria ini tidak sedang menyusun kebohongan korporat; ia sedang menelanjangi trauma terbesarnya yang selama enam tahun ini ia kunci rapat-rapat dari dunia luar.
"Lalu, mengapa Kakek Bramanta menghapus rekaman suara itu dari server kepolisian?" tanya Anya lagi, mencari potongan teka-teki terakhir.
"Karena Kakek tahu, jika rekaman suara Clara yang histeris dan penuh tuduhan palsu itu bocor ke publik atau ke tangan faksi Karina, opini publik akan langsung menghakimiku sebagai pembunuh sebelum persidangan bahkan dimulai. Alfarezel Group akan hancur, dan karierku akan mati sebelum sempat dimulai," jawab Devan lirih.
"Kakek menggunakan kekuasaannya untuk menghapus rekaman itu demi melindungiku, dan tim forensik independen kemudian membuktikan bahwa mobil Clara memang mengalami sabotase rem bukan olehku, melainkan oleh sindikatnya sendiri yang ingin melenyapkannya setelah tugasnya selesai, agar dia tidak bisa bernyanyi di depan polisi jika tertangkap."
Devan melangkah perlahan mendekati Anya. Kali ini, ia tidak mencoba menyentuh wanita itu. Ia hanya berdiri di hadapannya, menundukkan kepalanya yang kokoh dengan kepasrahan mutlak.
"Sekarang kau tahu segalanya, Anya. Masa laluku dipenuhi oleh darah, pengkhianatan, dan konspirasi kotor. Penelepon misterius itu adalah sisa-sisa dari sindikat lama yang tahu tentang rekaman yang dihapus itu, dan mereka menggunakan itu untuk menghancurkan apa yang paling berharga dalam hidupku sekarang... yaitu kau."
Devan mengangkat wajahnya, menatap Anya dengan mata yang berkaca-kaca karena ketakutan yang teramat sangat ketakutan akan kehilangan wanita yang dicintainya. "Jika setelah mendengar ini kau merasa aku adalah pria yang berbahaya... jika kau ingin mundur dari pernikahan ini dan pergi... aku tidak akan menahanmu. Keselamatanmu dan kedamaian hidupmu adalah yang utama bagiku."
Anya menatap Devan lama. Retakan di dinding kepercayaannya yang sempat tercipta akibat teror telepon tadi, kini perlahan menutup kembali, menyatu jauh lebih kuat dan kokoh dari sebelumnya. Ia melihat seorang pria yang telah memikul beban tuduhan kejam selama enam tahun dalam kesendirian, seorang pria yang bersedia melepaskan kebahagiaannya sendiri demi keselamatannya.
Anya melangkah maju, menghapus jarak yang tersisa di antara mereka. Ia mengulurkan kedua tangannya, melingkarkannya di sekeliling leher Devan, lalu menarik pria itu ke dalam pelukan yang erat dan hangat.
"Aku tidak akan pergi, Devan," bisik Anya tepat di telinga Devan, air matanya perlahan menetes membasahi kemeja pria itu. "Aku tahu siapa pria yang berdiri di hadapanku sekarang. Kau bukan monster. Kau adalah pelindungku, dan malam ini, giliran aku yang akan berdiri di sampingmu untuk menghadapi hantu masa lalumu."
Tubuh tegap Devan seketika bergetar. Ia membalas pelukan Anya dengan kekuatan penuh, mendekap wanita itu seolah-olah ia adalah satu-satunya jangkar yang menahannya di tengah badai kehidupan yang ganas. Di luar, suara guntur masih menggelegar, namun di dalam ruang sunyi itu, dua hati telah benar-benar menyatu, siap menghadapi perang terakhir yang sesungguhnya.