"Aku akan menanggung semua kebencian di dunia ini sendirian."
Kalimat itu lahir saat dadamu ditembus cahaya.
Duniaku runtuh seketika tanpa suara,
Meninggalkan kepal tangan yang mengutuk semesta.
Kau adalah detak jantung dari raga yang pincang,
Satu-satunya alasan bagi sepasang kaki untuk pulang.
Kini, kau terbujur kaku di bawah langit yang menghitam,
Membuat seluruh kenyataan ini tak lagi berarti untuk dipandang.
Dunia yang membiarkanmu mati adalah dunia yang salah,
Maka biarlah sejarah kukoyak hingga menyerah.
Aku akan membangun surga di atas puing yang bersimbah,
Tempat di mana bayangmu tak akan pernah lagi berdarah.
Dunia sihir ini tidak akan bisa dihancurkan hanya dengan kegelapan yang ada di dalamnya. Sebelum mencapai tahap kedua di mana dunia terbebas dari siklus kebencian, seseorang harus menjadi target bagi dunia.
"Seseorang harus memikul semua rasa sakit dan dendam itu sendirian, dan akulah orangnya."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ilfar Aksara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 12 - Nightmare
Gelap ini begitu jujur
Membungkus dunia dengan jubah gelap terikat
Detak jantung terdengar lambat
Dingin merayap ke ujung jari
Di malam sunyi yang membeku, hanya ada aku dan sepi.
Ashura mencoba membuka matanya, namun pemandangan pertama yang ia lihat adalah daratan es yang membeku.
"Kau sudah bangun, bocah manusia?" sosok cahaya berwarna putih dihadapan Ashura bersuara.
"Sepertinya kau kebingungan ya? Baiklah, aku akan memperlihatkan sesuatu yang menarik..." Suara wanita kembali terdengar dan kali ini serpihan es berterbangan di udara.
Ashura menjaga jarak saat cahaya itu terlihat semakin terang. Ingin bersuara, namun Ashura terkejut karena dirinya tidak dapat mengatakan apapun, seperti ada yang mencengkik lehernya hingga tak dapat mengeluarkan suara.
"Bagaimana kabarmu, Ashura?"
Kedua mata Ashura melebar melihat sosok dihadapannya. Yang ada dihadapannya ini adalah sosok orang yang tidak pernah menginginkan dirinya.
Ashura terlihat mengatakan sesuatu namun tidak ada suara yang terdengar dari mulutnya.
Sosok itu pun menjentikkan jarinya, seketika Ashura dapat mengatakan sesuatu.
"Eparat-"
Suara Ashura tercekat, karena ia terkejut dapat kembali bersuara.
"Freeze Freeze Freeze, kau sangat mudah terprovokasi!" ujar sosok itu dengan suara tawanya yang aneh. Suaranya terdengar seperti suara perempuan dewasa yang tegas dan dingin.
"Aku akan menghajarmu!" Ashura berniat menyerang sosok yang mengambil wujud Ayahnya.
"Sadari dirimu, bocah!" Sosok itu mengeluarkan suara wanita kembali dan menatap Ashura dingin.
Ashura terkejut saat sosok itu merubah wujudnya dan mengambil wujud Kakaknya yang telah tiada.
"Kau..." Ashura mengepalkan tangannya dan menatap sosok itu tak percaya, "Kau sebenarnya siapa?!"
"Jangan menggunakan wujud orang yang kucintai!"
"Aku mohon padamu..."
Sosok itu menghembuskan nafas kearah Ashura dan membuat tubuhnya membeku.
"Sejak dirimu lahir, aku tersegel di dalam tubuhmu. Aku adalah roh yang membekukan segalanya. Orang-orang bodoh diluar sana memanggilku Frost." Sosok itu memberitahu dan membuat Ashura mengerti.
"Padahal namaku yang sebenarnya bukanlah Frost. Manusia adalah makhluk yang sangat egois dan rakus."
"Tolong, jangan gunakan wujud itu!" Ashura memohon, namun Frost tertawa cekikikan mengejek.
"Kau adalah orang yang menyebabkan kematianku! Kau telah membunuh Ibu dan Bibi Asuna!" ujar Frost yang mengambil wujud Fuyumi dan itu membuat Ashura trauma dan depresi.
"Hentikan... Kumohon tolong hentikan!"
"Melihat dirimu yang selalu dilindungi membuatku muak! Apakah kau tidak sadar jika dirimu itu sama sekali tidak diinginkan oleh siapapun!" ujar Frost dengan wujud Fuyumi.
"Kakak..." Ashura meneteskan air mata dan dipenuhi rasa bersalah.
"Apa kau melupakanku, Ashura? Sebenarnya apa yang ingin kau lakukan?" ujar Frost yang berniat memanipulasi perasaan Ashura.
"Aku... Aku akan membalaskan dendam kematian mu, Kakak Fuyumi!"
Melihat Ashura yang dipenuhi rasa bersalah membuat Frost tersenyum.
"Sekarang bangun dan bunuh semua orang yang mengkhianatimu!" Frost menatap Ashura tajam.
Selang beberapa detik kemudian, tubuh Frost yang mengambil wujud Fuyumi menjadi serpihan es yang menuju ke arah Ashura.
"Aku akan memberikanmu kekuatan untuk membekukan dunia ini dan membunuh siapapun yang meremehkanmu!"
"Datang saja padaku, saat kau menginginkan kekuatanku..." Bayangan wajah Frost yang mengecup pipi Ashura menghilang setelah mengatakan itu.
Setelah itu Ashura terbangun dan menemukan dirinya berada di sebuah gua yang diterangi obor api.
Ia dikelilingi tiga orang yang sedang duduk di depan api unggun, mereka semua terlihat tidak mempedulikan keberadaan dirinya yang sudah terbangun.
"Apa kau sudah mendapatkan laporan dari Yang Mulia Leywin?" Salah satu penyihir bertanya kepada penyihir lainnya.
"Kita tunggu informasi dari Yuna..." ucap penyihir yang suaranya tidak asing di telinga Ashura.
"Serlin Migesta?" Ashura mencoba bangkit, memegang dadanya yang terasa sakit.
Sosok itu pun menoleh ke Ashura karena menyadari Ashura telah terbangun.
"Kau sudah bangun, Ashura?" Penyihir wanita itu melepaskan topeng diwajahnya.
"Sebaiknya kau tenangkan dirimu dulu, Ashura." Penyihir wanita yang tak lain adalah Serlin memberitahu.
Ashura menatap waspada dan memperhatikan topeng yang dipakai Serlin. Topeng yang dibuat dari Batu Obsidian itu memiliki bentuk yang aneh, hanya ada dua lubang mata, hidung dan ekspresi tersenyum sinis tepat dibagian mulutnya.
"Kami berada dipihakmu. Ada seseorang yang mencoba menjebakmu, Ashura." Penyihir yang lain mencoba menenangkan Ashura yang bersikap waspada.
Ashura menatap penyihir yang menggunakan topeng dengan ekspresi datar tersebut.
"Ini dimana?" Ashura bertanya.
"Kita berada di wilayah paling ujung Flameheart dan berbatasan langsung dengan Earthborn." Penyihir dengan topeng ekspresi datar menjelaskan.
"Jadi hubungan kalian berdua apa, Serlin?" Penyihir itu bertanya kepada Serlin.
"Aku pernah menjadi pengajar di Akademi Sihir Flameheart. Aku pikir dia seharusnya memanggilku Guru hehehe..." Serlin memberitahu dan tersenyum tipis karena Ashura masih bersikap waspada.
"Guru dan murid ya? Jadi Yuna adalah teman sekelas Ashura." Penyihir itu menatap penyihir terakhir yang daritadi hanya mengamati.
"Aku mengenalnya. Dia adalah teman sekelasku, seingatku dia akrab dengan bocah bernama Saga dan Ark." Penyihir yang menggunakan topeng tanpa ekspresi berkata.
Ashura menatapnya tajam dan bertanya, "Apa kau juga pernah menjadi murid akademi?"
Penyihir itu melempar batu ke wajah Ashura dan membuatnya meringis kesakitan.
"Aku lebih tua darimu, bocah! Jadi panggil aku Senior Yuna! Namaku Yuna Starfell!" Penyihir itu membuka identitasnya kepada Ashura.
"Yuna Starfell?" Ashura mencoba mengingat nama tersebut.
"Oh, aku mengingatnya..." Ashura bergumam dan berniat mencari celah untuk melarikan diri.
Namun penyihir pria berdiri dihadapannya dan mengulurkan tangannya kepada Ashura.
"Namaku Onyx. Mulai hari ini kau bergabung dengan kami Ashura karena telah mengetahui identitas kami." Penyihir bernama Onyx memberitahu.
"Bukankah kalian sendiri yang membuka identitas kalian dihadapanku!" Ashura jelas tidak setuju.
"Ashura!" Serlin menatap tajam Ashura dan memusatkan mana pada ujung jari tangannya.
Kemudian Serlin menulis sesuatu di udara dan membuat Ashura mengerutkan keningnya.
"Apa kau tidak penasaran dengan orang yang menuduhmu sebagai pelaku yang membunuh Tetua Vipera?" ujar Serlin dan membuat Ashura mengepalkan tangannya.
"Serlin, apa kau mengetahuinya?"
Serlin tersenyum dan kembali menulis sesuatu di udara. Kali ini Ashura lebih terkejut karena Serlin memberitahu orang yang telah membunuh Vipera adalah Vipera sendiri.
"Apa maksudmu orang yang membunuh Tetua Vipera adalah dirinya sendiri?!" Ashura bertanya.
"Jika kau ingin mengetahuinya, maka kau harus bergabung dengan kami Ashura."
Suara dari sosok yang tidak asing muncul dibelakang Ashura, tanpa Ashura rasakan kedatangannya, sosok itu muncul dengan senyum khasnya kearah Ashura.
"Kaira?!" Ashura menatapnya waspada dan menjaga jarak.
"Tenang, Ashura. Aku adalah orang yang menyuruh mereka. Mereka bertiga adalah Nightmare. Melindungi Kerajaan Flameheart dari bayang-bayang."
Kaira memakai topengnya setelah memberitahu dan berjalan melewati Ashura.
"Jika kau ingin mengetahui kebenarannya, bergabunglah dengan Nightmare, Ashura." Kaira melirik Ashura yang berdiri dibelakangnya.
"Keputusan ada ditanganmu..." Kaira melangkahkan kakinya keluar goa dan mematikan obor api satu persatu menggunakan sihirnya.
"Ashura, sampai nanti." Lalu disusul Serlin yang memakai topengnya dan meninggalkan Ashura.
"Tunggu! Aku akan ikut dengan kalian! Tapi hanya sampai aku membunuh orang yang menuduhku! Setelah itu, aku akan pergi meninggalkan Kerajaan ini!" ujar Ashura mengambil jubah hitam dan topeng tanpa ekspresi yang tergeletak.
Kaira tersenyum melihat Ashura, kemudian menatap langit malam yang dipenuhi bintang.
"Kita akan menemui Raja Sihir Keempat!" ujar Kaira memimpin mereka.
"Yang Mulia Magus Magnus!"